
"Memangnya, force itu apa?" tanyaku.
"Entahlah. Aku tidak tau detailnya. Yang kutahu force itu adalah kemampuan untuk memperkuat tubuh. Dengan mengendalikan force, kau bisa bergerak lebih cepat, memiliki kekuatan dahsyat, dan punya kemampuan membuat elemen," jawab Akito.
"Jadi begitu rupanya," kataku.
"Apa kau tidak pernah diberitahu apa pun soal force?" tanya Akito.
"Tidak. Orang tuaku dan orang orang di desaku tidak pernah memberitahu apa pun soal force!" jawabku.
Setelah mengatakan hal itu, aku kemudian melanjutkan, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau mau kabur bersamaku? Kau mungkin bisa mendapat kehidupan yang jauh lebih baik jika berhasil kabur dari sini!" kataku dengan nada antusias.
Akito yang awalnya nampak bahagia, sekarang mulai kembali murung. "Aku tidak mau! Aku mungkin bisa kabur dari sini. Akan tetapi, tidak ada jaminan bahwa aku akan mendapat kehidupan yang lebih baik di masa depan. Mungkin saja, aku akan kembali ditangkap oleh kelompok lain dan kembali berakhir sebagai budak!"
Aku sangat marah saat mendengar ucapan Akito.
Aku kemudian menamparnya, lalu mengatakan, "Apa kau ingin menjalani kehidupan semacam ini terus menerus? Apa kau tidak mau mendapat kehidupan yang lebih baik di masa depan? Kehidupanmu tidak akan pernah berubah jika kau bahkan tidak menginginkannya. Jika kau hidup hanya sekedar hidup, maka monyet di hutan juga hidup. Yang membedakan manusia dan binatang adalah impian dan harapan. Hewan tidak punya impian. Oleh karena itu, mereka hidup hanya untuk memikirkan hari ini saja. Tapi, manusia berbeda. Kita hidup bukan hanya memikirkan hari ini saja. Tapi juga masa depan yang menanti. Jika kau bahkan tidak berani bermimpi, kau tidak berbeda dengan kera yang hidup di hutan."
Setelah mendengar ceramahku, Akito nampak tersentak dan terdiam beberapa saat sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparanku.
Tidak berselang lama, Akito kemudian mulai berkata, "Dunia ini dipenuhi ketidak adilan yang membuat sebagian orang harus terpaksa menjalani kehidupan bak monyet di hutan. Dunia itu tidak dirancang untuk mereka yang lemah. Dunia ini hanya diperuntukan bagi mereka yang kuat dan berkuasa. Dengan segala macam hal yang ada, apa kau berfikir bahwa orang orang lemah di luar sana hidup dengan cara seperti itu atas keinginan mereka sendiri? Takdirlah yang memaksa mereka menjalani kehidupan bak monyet di hutan."
"Jika memang seperti itu, maka hanya ada satu jalan keluar, yakni menjadi kuat dan berdiri di puncak tertinggi. Saat dikurung di dalam sel, aku sudah memikirkan banyak hal tentang yang kau katakan. Demi merubah itu semua, aku bertekat untuk menjadi yang terkuat dan berdiri di puncan tertinggi untuk mulai merubah dunia ini menjadi tempat yang jauh lebih baik ke depannya. Aku bertekat tidak boleh mati apa pun yang terjadi sebelum berhasil menggapai mimpiku itu. Aku akan menunjukkan pada dunia bahwa setiap orang punya kesempatan jika mereka mau berusaha. Penderitaan paling menyakitkan pun bisa berubah menjadi keberhasilan memuaskan jika orang itu tetap teguh dalam menjalani proses meraihnya. Di dunia ini, proses tidak akan menghianati hasil, selama orang tersebut tetap teguh dalam menjaninya. Karena hasil besar hanya bisa diraih melalui proses panjang dan menyakitkan," kataku dengan nada emosional.
Akito kembali tertegun setelah mendengar jawabanku. Ia kemudian mulai tersenyum tipis sambil bertanya, "Apa kau benar benar akan meraihnya?"
"Tentu saja! Apa pun yang terjadi, aku pasti akan meraihnya!" jawabku dengan tegas.
"Kalau begitu, apa kau tidak keberatan jika aku terus mengikutimu hingga kau meraih mimpimu itu? Aku ingin menceritakan secara langsung pada dunia tentang perjuangan bocah yang setiap harinya dihabiskan dengan siksaan tidak manusiawi yang berusaha meraih mimpi!" kata Akito dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Justru, aku sangat senang jika kau mau membantuku meraih mimpiku!" sahutku.
Akito adalah saksi hidup perjuangan yang Rudi lakukan hingga saat ini.
__ADS_1
Hampir setiap hari, ia melihat Rudi diseret dari selnya menuju ke ruang siksaan dan mendengar tawa gilanya saat sedang disiksa habis habisan oleh orang orang dari kelompok yang menahan mereka.
Ia juga sudah melihat buah dari keteguhan yang Rudi tunjukkan selama 1 tahun lebih. Di matanya, Rudi benar benar tidak terlihat seperti manusia. Karena hampir mustahil jika manusia bisa tetap bertahan sambil menjaga harapan di tengah segala penderitaan yang tak masuk akal.
Dan sejak saat itu pula, Akito telah bersumpah setia untuk terus mengikuti Rudi ke mana pun ia pergi, bahkan jika harus melompat ke dalam sumur sekali pun.
Setelah dipindakan ke dalam kerangkeng besi bersama Akito, aku tidak lagi menerima siksaan seperti sebelumnya. Hal itu membuat luka luka di tubuhku mulai membaik dan hampir sepunuhnya sembuh.
Selama 1 bulan terakhir, aku menghabiskan waktu dengan melatih force.
Aku juga mengajari Akito bagaimana cara mengalirkan force ke seluruh tubuh.
Selama 1 bulan itu, perkembanganku sudah jauh lebih meningkat dari sebelumnya.
Akito yang awalnya kesulitan mengalirkan force, kini juga mulai bisa mengontrolnya dengan baik.
Walaupun mengontrol aliran force terasa sangat sulit dan menyakitkan, tapi kami tidak patah arang dan terus mencoba sekuat tenaga.
"Apa kita akan kabur sekarang?" Akito bertanya padaku dengan berbisik.
"Ayo lakukan. Jika lebih lama lagi, mungkin rencana pelarian kita bisa ketahuan," jawabku dengan berbisik.
Aku dan Akito kemudian terus menunggu hingga situasi menjadi jauh lebih sepi.
Di ruangan tempatku dan Akito dikurung dijaga oleh 3 orang dari pagi hingga malam.
Aku dan Akito berlatih mengontrol force setiap malam hari saat para penjaga sudah pergi dari sana agar tidak ketahuan.
Saat malan tiba, kami bersiap untuk segera melarikan diri dari sana.
Aku kemudian mulai membengkokkan jeruji besi yang menahan kami.
Jeruji besi yang sebelumnya terasa sangat kuat dan mustahil kubengkokkan, kini terasa sangat lembek, seperti bukan apa apa.
__ADS_1
Kami pun perlahan mulai keluar dari jeruji besi yang mengurung kami.
Kami berjalan perlahan mendekati pintu ruangan sambil terus waspada.
Saat berada tepat di dekat pintu, aku mulai menempelkan telingaku di sana, berniat mengecek kondisi di luar melalui suara.
Karena tidak mendengar sedikit pun suara dari balik pintu, aku kemudian berusaha membuka pintu tersebut secara perlahan dengan sehati hati mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Saat pintu mulai terbuka, aku dan Akito sedikit mengintip keluar untuk kembali memastikan situasi di luar ruangan.
Dan saat dirasa aman, kami pun berjalan pelahan keluar dari ruangan tersebut.
Gubrak!
Baru beberapa langkah, kami mendengar suara dari sisi sebelah kiri.
Aku dan Akito terkejut setengah mati.
Kami pun langsung mengarahkan pandangan ke arah suara tersebut.
"Meong!"
"Cih ... kucing sialan! Kau membuatku jantungan!" kataku dengan berbisik.
"Husss ... pergi sana!" kata Akito dengan berbisik sambil mengusir kucing itu menggunakan kedua tangannya.
"Meong!"
Kucing itu pun mulai berjalan pergi dengan santainya.
Melihat hal itu, membuatku sangat iri.
"Enak sekali dia! Bisa ke mana mana dengan santainya! Sialan! Kenapa aku tidak terlahir sebagai kucing saja?" pikirku sambil terus berjalan pelan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1