The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 12 - Monster


__ADS_3

Di medan pertempuranku melawan 4 Jendral Roland, aku sangat kesulitan menghadapi mereka berempat karena kondisi fisikku yang mulai semakin melemah.


Duar!


Aku terkena serangan jendral kedua dan membuatku terpental hingga membentur batu besar.


"Cih ... mereka benar-benar berniat menyiksaku," pikirku sambil menahan rasa sakit.


Saat aku masih berusaha berdiri dan menyeimbangkam tubuh, jendral pertama dan kedua melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku.


Water Ball!


Sambil melesat cepat, jendral pertama menembakkan bola air padat ke arahku.


Ice Wall!


Aku pun membuat diding es untuk menahannya.


Duar!


Benturan kedua atribut itu menimbulkan suara menggelegar.


Karena kondisinya yang sudah sangat menurun, barier es yang Rudi buat hanya sanggup menahan satu serangan saja.


Tanpa berniat mengendorkan serangan, jendral kedua langsung melesat cepat sesaat setelah barier es milik Rudi hancur. Ia saat ini sudah berada tepat di depan Rudi dan bersiap memukulnya dengan keras.


Bem!


Lagi-lagi, Rudi terpental ke belakang karena tidak sanggup menahan pukulan itu dengan sempurna.


Di sisi lain, jendral ketiga dan keempat sudah bersiap di belakangnya untuk kembali memukulnya.


Rudi benar-benar dipermainkan keempat Jendral Roland. Ia yang sebelumnya mempermainkan Jendral Besar Hans layaknya bola ding-dong, kali ini dialah yang dijadikan bola ding-dong oleh keempat Jendral Roland.


Setelah mendapat banyak pukulan telak, Rudi akhirnya bisa keluar dari situasi mematikan itu.


Dengan tubuh berlinang darah, ia masih sanggup berdiri walaupun kakinya tidak bisa berhenti bergetar.


"Tubuhku benar-benar hampir mencapai batas. Jika terus terkena pukulan-pukulan mereka, semua tulangku bisa hancur," pikirku.


"Apa tubuhmu sudah mencapai batas?" tanya jendral pertama.


"Bertahanlah lebih lama. Kami belum berniat membunuhmu. Kau harus merasakan rasa sakit yang lebih besar lagi," kata jendral kedua.


"Rasakanlah penderitaan Jendral Besar Hans," kata jendral ketiga.


"Haaahahahahahaha! Menjeritlah. Penyiksaan ini terasa membosankan jika kau hanya diam saja," kata jendral keempat.


Keempat Jendral Roland berdiri dihadapanku dengan wajah arogan. Mereka benar-benar memandangku dengan tatapan membunuh.


"Apa kalian pikir hal ini layak disebut penyiksaan? Jangan bercanda! Kalian seharusnya mengulitiku hidup-hidup atau semacamnya! Dengan begitu, aku mungkin akan melakukan semua yang kalian katakan!" sahutku sambil tersenyum tipis.


"Jadi ini masih kurang, ya? Baiklah, sesuai permintaanmu. Akan kami hancurkan seluruh tubuhmu hingga ke tulang terkecil," kata jendral kedua.


Jendral pertama dan kedua melesat maju. Sedangkan jendral ketiga dan keempat bersiap melancarkan serangan atribut.


"Haaahahahahahahaha! Sungguh menyenangkan! Benar ... benar ... Inilah yang dinamakan pertarungan! Saat ini, adrenalinku benar-benar telah mencapai puncak! Majulah! Akan kuhandapi kalian dengan semua yang kumiliki!" kataku sambil tersenyum puas.


"Kalau begitu, nikmatilah semua penderitaanmu, bocah!"


Jendral pertama dan kedua telah berada tepat dihadapanku dan siap melepaskan pukulan kuat. Sedangkan jendral ketiga dan keempat bersiap melepaskan serangan atribut mereka dari arah belakang.


Bem!


Aku terkena pukulan telak kedua jendral itu karena reflekku yang mulai menurun.


Saat ia terpental dan berguling ke belakang, serangan dua atribut kedua jendral melesat ke arahnya seperti anak panah yang memburu mangsa.

__ADS_1


Rudi berusaha keras untuk mulai menyeimbangkan tubuhnya yang berguling menghancurkan apapun yang dilewatinya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bisa menghentikan laju tubuhnya dan berdiri tegak sambil bersiap menahan serangan atribut yang mengarah kepadanya.


Duar!


Rudi berhasil menahan serangan kedua atribut itu dengan tangan kosong. Ia pun sedikit menyeringai kesakitan karenanya.


Jendral pertama dan kedua kembali melesat maju. Tapi kali ini, mereka ingin memukul Rudi dari arah yang berbeda.


Dalam sekejap mata, jendral pertama telah berada di sisi kiri Rudi. Sedangkan jendral kedua berada di sisi kanan. Keduanya siap melesatkan pukulan kuat ke arah kepala dan perutnya.


Bem!


"Arg!"


Rudi terkena pukulan telak di perut dan kepalnya. Sehingga membuatnya berputar seperti kipas angin.


Di saat ia masih berputar kencang, serangan 2 atribut telah bersiap menghantamnya.


Duar!


Serangan 2 atribut tepat mengenai perutnya seperti anak panah yang tepat sasaran.


Ia pun kembali terpental jauh ke belakang.


Seolah tidak bisa melawan, membuatnya benar-benar menjadi bulan-bulanan keempat jendral tersebut.


Dengan lengan bercururan darah, kaki gemetar, dan mulut penuh darah, Rudi lagi dan lagi sanggup bangkit dan berdiri tegak seolah semua penderitaan itu bukanlah apa-apa untuknya.


"Haaahahahahahaha! Apa hanya ini yang bisa kalian lakukan? Jika begini saja, kalian tidak akan sanggup membuatku berteriak kesakitan."


Walaupun rasa sakit di tubuhku hampir tak tertahan, tapi aku masih sanggup berdiri tegak sambil tersenyum lebar.


Melihat ketangguhan dan semangat juangnya yang luar biasa, membuat keempat Jendral Roland mulai memikirkan satu hal.


"Dia benar-benar monster!"


Di sisi lain, sang reporter terus meliput perterungan mereka dari kejauhan.


"Lihat itu pemirsa! Keempat Jendral Roland benar-benar menghajar bocah itu habis-habisan. Sebagai penonton, saya benar-benar miris melihatnya. Tapi, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa," kata sang reporter.


"Bagus! Hajar dia habis-habisan."


"Jangan berikan kematian yang mudah."


"Tolong hentikan. Saya tidak sanggup melihatnya."


"Bertahanlah, bocah! Kau pasti bisa!"


"Mama aku takut!"


"Tenang, Sayang. Mama ada di sini!"


"Bangkitlah, bocah! Aku mendukungmu!"


Para penonton yang menyaksikan pertarungan itu dari televisi, mulai terpecah menjadi dua. Ada yang mendukung Rudi, dan ada yang menginginkan kematiannya.


Pertarungan Rudi dan keempat Jendral Roland semakin memanas. Dengan mengerahkan semua yang dimiliki, Rudi mulai bisa memperbaiki situasi tersebut. Ia yang sebelumnya hanya menjadi samsak keempat jendral, sekarang mulai bisa melesatkan serangan-serangan balik dan menghindari serangan telak mereka.


Jendral pertama melesatkan pukulan, aku menghindar.


Jendral kedua melesatkan pukulan, aku menangkis.


Jendral ketiga dan keempat melesatkan serangan atribut, aku menahannya.


Pertarungan berat sebelah, akhirnya mulai terasa seimbang.


Ice Lance!

__ADS_1


Aku melesatkan tombak es ke arah jendral pertama.


Jendral pertama berusaha menahan. Tapi, serangan yang Rudi lancarkan terlalu kuat untuk ia tahan. Sehingga, membuat sang jendral pertama terlempar ke belakang karena tidak sanggup menahan serangan itu sepenuhnya.


Melihat jendral pertama terlempar, membuat jendral kedua langsung melesat ke arah Rudi sambil bersiap memukulnya.


Aku berhasil menghindari serangan itu dan mulai melesatkan serangan balik.


Ice Thorn!


Aku membuat duri-duri es tajam ke arah jendral kedua.


Crash!


Jendral kedua gagal menghindar dan menyebabkan tubunya tergores es tajam milikku.


Aku pun melesat cepat ke arah jendral kedua sambil memegang pedang es beku di tangan.


"Sial!" pikir sang jendral kedua saat melihat pedang es yang Rudi gunakan hampir menyentuh lehernya.


Saat hendak menebas tubuh sang jendral, tiba tiba ... aku melihat ada serangan yang mengincarku dari kejauhan.


Aku pun melompat mundur untuk menghindari serangan itu. Sehingga, membuatku gagal menebas leher jendral kedua.


Saat kakiku hendak menginjak tanah, jendral pertama sudah berada tepat di sampingku dan siap memukulku.


Aku memutar tubuhku ke belakang untuk mengindari pukulan itu sambil berniat menyerang balik menggunakan kaki.


Bem!


Aku berputar dan berhasil menendang kepala bagian belakang jendral pertama. Sehingga, membuat kepala sang jendral menghantam tanah dengan sangat keras.


"Apa-apaan bocah itu? Kenapa dia masih bisa bertarung dengan tubuh seperti itu?" gumam jendral keempat yang merasa heran saat melihat Rudi yang masih bisa mengimbangi keempat jendral dengan tubuh penuh luka.


Aku mulai melirik tajam ke arah jendral keempat, berniat menghabisinya.


"Mati saja kau, bocah!" teriak jendral keempat sambil melesatkan gumpalan tanah raksasa yang ia buat.


??!!


Saat hendak menghindar, aku menyadari sesuatu.


Ternyata, dari kejauhan, ada sebilah katana yang dilemparkan ke arahku.


Aku pun sedikit melompat mundur untuk bersiap menangkap katana yang mengarah padaku dengan kecepatan tinggi.


Tap!


Aku berhasil menangkap katana itu menggunakan tangan kanan.


"Gunakan itu," teriak Akito dari kejauhan.


"Terimakasih, Akito," gumamku dalam hati sembari sedikit tersenyum.


Aku langsung mengalirkan force dan atribuku ke dalam katana yang kupegang.


Katana yang kupegang langsung membeku sambil mengeluarkan asap dingin.


Aku mengayun. Dan ...


Slash!


Aku berhasil membelah gumpalan tanah raksasa seukuran bukit kecil yang sedang jatuh ke arahku dengan sebuah potongan rapi.


Duar!


Gumpalan tanah raksasa itu terbelah menjadi dua dan jatuh menghantam tanah hingga menimbulkan suara menggelegar.

__ADS_1


__ADS_2