
Keesokan harinya, ada 5 pria dan 2 wanita yang menjenguk Julius di ruang perawatannya.
"Tuan Julius, bagaimana keadaanmu?" Salah satu pria bernama Yuta yang menjenguk Julius nampak panik saat pertama kali memasuki ruang perawatan Julius.
"Tenanglah, Yuta. Aku baik-baik saja," jawab Julius.
"Siapa yang sudah membuatmu jadi seperti ini?" tanya pria kedua.
"Namanya Rudi. Dia sekarang adalah pemimpinku," jawab Julius.
"Pemimpin? Apa maksudmu?" tanya pria ketiga.
"Aku sudah memutuskan untuk menjadi anggota kelompoknya," jawab Julius.
"Apa Kageyama tau soal ini?" tanya wanita pertama.
"Justru, Kageyama sudah bergabung dengannya lebih dulu," jawab Julius.
"Apa maksudmu? Apa yang kau maksud Kageyama yang itu? Bukankah dia itu sangat membenci kelompok dan negara? Kenapa orang sepertinya mau bergabung dengan kelompok yang bahkan namanya tidak pernah kudengar?" tanya pria kelima.
"Itulah yang pertama kali kupikirkan. Tapi, sekarang aku tau kenapa Kageyama sampai mau menjadi bawahannya. Yah, walaupun dia tidak benar-benar berperan sebagai bawahan," jawab Julius.
"Lalu, bagaimana dengan kita? Apa kau akan meninggalkan kita begitu saja?" tanya wanita pertama.
"Aku tidak punya pilihan. Maafkan aku. Tapi, aku sudah memutuskan untuk berpetualang bersama mereka. Jadi, kuharap kalian bisa mengerti," jawab Julius.
"Kalau begitu, aku juga akan bergabung denganmu, Tuan Julius. Aku ingin selalu bersama denganmu," kata Yuta.
"Keputusannya bukan di tanganku, Yuta. Jika kau mau bergabung, kau harus meminta langsung padanya," sahut Julius.
"Baiklah, aku mengerti. Lalu, di mana mereka sekarang?" tanya Yuta.
Tidak lama berselang, Rudi, Akito, dan Kageyama mendatangi ruang perawatan Julius.
"Permisi," kataku dengan sopan.
"Apa kami mengganggu kalian?" tanya Akito dengan sopan.
"Kaaakakakakakakaka! Sepertinya kau kedatangan tamu, ya, Julius?" kata Kageyama.
"Apa dia orangnya?" tanya Yuta.
Julius hanya mengangguk tanpa menjawab.
Yuta menghampiri Akito yang baru saja memasuki ruang perawatan Julius.
"Hallo, namaku Yuta. Aku ingin bergabung dengan kelompokmu," kata Yuta dengan arogan.
"Kau seharusnya meminta ke orang di sebelahku," sahut Akito sambil menunjukku.
"Eh, jadi kau bukan Rudi?" tanya Yuta dengan wajah kaget.
"Bukan. Namaku Akito, dan ini Rudi," jawab Akito sambil menepuk bahuku.
"Oh, maafkan aku kalau begitu," kata Yuta.
"Pfttt ... dia terlalu bersemangat," kata pria kedua.
Beberapa orang di sana mencoba menahan tawa mereka karena tingkah Yuta.
"Hei, jangan tertawa!" bentak Yuta pada semua orang.
"Pfttt ... habisnya, kau terlalu bersemangat sampai-sampai tidak bertanya lebih dulu," sahut wanita kedua.
"Kaaakakakakakakaka!" Kageyama tidak berusaha menahan tawanya sama sekali.
__ADS_1
"Pftttt ...." Julius juga mencoba menahan tawanya.
Melihat itu, Yuta pun malu sejadi-jadinya.
"Apa kau ingin bergabung dengan kelompokku?" tanyaku pada Yuta.
"Ya," jawab Yuta.
"Apa kau kuat?" tanyaku.
"Apa maksudmu? Apa kau meremehkanku?" Yuta balik bertanya padaku.
"Bukan begitu, aku hanya ingin memastikannya saja," jawabku.
"Kaaakakakakakakakaka! Tenang saja. Walaupun tingkahnya seperti itu, Yuta adalah lawan seimbang Julius," sahut Kageyama.
"Benarkah?" tanyaku kaget.
"Apa maksudmu, Kageyama! Apa kau mencoba merendahkan Tuan Julius? Bagaimana bisa, aku yang lemah ini setara dengan Tuan Julius?" kata Yuta.
"Kaaakakakakakakaka! Terserahlah," sahut Kageyama.
"Apa kau yang bernama Rudi?" tanya wanita pertama.
"Ya. Apa ada masalah?" tanyaku bingung.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya ingin melihat orang yang telah diakui Julius," jawab wanita itu lagi.
"Rudi, perkenalkan. Mereka ini adalah teman-temanku. Orang yang ada di depanmu namanya Yuta," kata Julius yang mulai memperkenalkan temannya satu persatu.
"Yo," sapa Yuta.
"Lalu yang ini adalah Josep."
"Yo, senang bertemu denganmu!" sapa Josep.
"Salam kenal," sapa Andrew.
"Dia Mason."
"...." Mason hanya mengangkat tangan kanannya sebagai tanda perkenalan.
"Dia Jerry."
"Hallo," sapa Jerry.
"Dia Nina."
"Itu namaku," kata Nina sambil menunjuk dirinya sendiri sebagai tanda perkenalan.
"Dan yang itu Bianca," Julius selesai memperkenalkan semua orang.
"Yohalo, namaku Bianca," sapa Bianca ramah.
"Ya, senang bertemu kalian semua. Namaku Rudi, ini sahabatku, Akito. Dan itu Kageyama." Aku juga memperkenalkan anggotaku.
"Hallo," sapa Akito singkat.
"Kaaakakakakakakaka! Apa kalian ingin aku ikut menyapa?" tanya Kageyama.
"Tidak," jawab semua orang kompak.
"Kaaakakakakakakak!" Kageyama menanggapi dengan tawa.
"Hoi, lalu bagaimana dengan permintaanku tadi? Apa kau menerimaku menjadi anggotamu?" tanya Yuta kesal.
__ADS_1
"Oh, soal itu ...." Aku melirik ke arah Akito dan Kageyama.
"Tenang saja. Walaupun kelakuannya minus, orang ini pasti akan berguna. Setidaknya dia bisa jadi tumbal kalau sedang dibutuhkan. Kaaakakakakaka!" kata Kageyama.
"Jaga bicaramu, Kageyama bajingan!" bentak Yuta geram.
"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama menanggapi dengan tawa.
"Ya, baiklah. Aku akan menerimamu menjadi bagian kelompokku," kataku.
Mendengar itu, Yuta pun langsung menghampiri Julius yang sedang duduk di atas kasurnya.
"Apa Anda dengar itu, Tuan Julius? Aku sekarang ada di kelompok yang sama dengan Anda," kata Yuta dengan wajah berseri seri.
"Ya, ya." Julius agak malas menanggapinya.
"Oi, dia benar-benar pria yang aneh," kataku saat melihat tingkah Yuta.
"Kaaakakakakakakaka! Bukankan sudah kubilang, sifatnya sangat minus. Dia itu hanya akan bersikap seperti itu pada Julius. Kau akan sangat terkejut dengan perubahan sikapnya saat sedang berbicara dengan orang lain," jelas Kageyama.
"Mungki ada yang salah dengan kepalanya," sahut Akito.
"Kageyama. Apa kau benar-benar bergabung dengan mereka?" tanya Josep.
"Apa ada yang salah dengan itu?" Kageyama bertanya balik.
"Tidak. Hanya saja ... sangat aneh rasanya melihat orang sepertimu mau bergabung dengan suatu kelompok," jawab Josep.
"Aku masih tidak percaya bahwa seorang Kageyama mau mengikuti orang lain," kata Mason.
"Ya, sejujurnya, aku juga masih tidak percaya," sahut Nina.
"Benarkah? Kaaakakakakakakaka!" sahut Kageyama.
Mendengar hal itu, membuatku dan Akito sedikit kebingungan.
Di mata kami, Kageyama adalah orang yang sangat baik dan ramah. Tapi, kenapa orang-orang itu sampai bisa berkata demikian? Apakah ada hal yang disembunyikan dari kami? Atau ada hal yang tidak kami ketahui?
Aku dan Akito pun akhirnya menyerah dengan semua pertanyaan itu dan lebih memilih mempercayai Kageyama yang kami kenal.
Aku dan semua orang yang ada di sana terus berbincang sampai beberapa jam lamanya.
.
.
"Kami pamit dulu, Julius. Semoga kau cepat sembuh," kata Nina.
"Terimakasih karena sudah berkunjung," sahut Julius.
Josep, Andrew, Mason, Jerry, Nina, dan Bianca, pergi dari sana. Sedangkan Yuta, tetap tinggal untuk menemai Julius.
Saat ini, yang tersisa di ruangan itu hanyalah aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta.
Saat teman-teman Julius masih ada di sana, Rudi dan Akito lebih banyak diam, seolah sedang menunggu mereka semua pergi. Julius yang menyadari bahwa mereka ingin mengatakan sesuatu, akhirnya mulai membuka obrolan setelah semua teman-temanya, kecuali Yuta, pergi dari sana.
"Maaf soal teman-temanku tadi. Apa kalian ke sini karena ada sesuatu?" tanya Julius padaku dan Akito.
"Tidak masalah. Sebenarnya ... aku ke sini untuk bertanya soal kemampuanmu dalam mengompres atribut. Apa kau mau menjelaskannya sedikit?" tanyaku pada Julius.
"Bukankan hal semacam itu adalah hal biasa?" Julius bertanya balik.
"Bagiku, tidak. Dulu ... aku pernah mencoba mengompres atributku agar lebih padat dan merusak. Tapi, aku tidak bisa melakukannya dengan baik karena hal semacam itu membutuhkan konsentrasi yang sangat intens," jawabku.
"Bukankah kau sudah bisa melakukannya?" tanya Julius heran.
__ADS_1
"Benarkah? Aku tidak tau sama sekali," jawabku bingung.