
Siaran televisi.
"Hallo, pemirsa! Saat ini, saya sedang menyiarkan langsung dari wilayah kelompok All Stars Nero. Semua pihak aliansi kelompok All Stars Nero saat ini sudah berada di pusat medan pertarungan All Stars Nero melawan pria yang tidak dikenal. Seperti yang bisa kalian lihat, All Stars Nero benar-benar dihajar habis-habisan oleh pria itu. Saya tidak tau siapa pria itu. Tapi satu hal yang pasti. Saat ini, All Stars Nero benar-benar tidak berkutik di hadapan pria itu. Para pasukan aliansi yang datang ke sini juga tidak ada yang berani masuk dalam pertarungan itu karena satu alasan. Mereka takut jika harus menghadapi nasib sama dengan All Stars Nero," kata sang reporter yang menyiarkan langsung.
Puluhan reporter dari seluruh penjuru negara, berkumpul di sana untuk menyiarkan langsung pertempuran besar itu ke berbagai negara di Benua Timur.
Bagi para reporter, berita semacam itu adalah ladang emas.
Di sisi lain, jutaan orang yang melihat siaran langsung pertempuran di wilayah All Stars Nero, tidak bisa berkata-kata karena tidak percaya bahwa sang All Stars bisa dihajar habis-habisan hingga tak sanggup membalas.
...*** ...
Saat ini, Rudi masih belum sadarkan diri. Ia terus menghajar sang All Stars Nero dengan sangat ganas.
Rudi memukul, menebas, menyatat tubuh Nero tanpa ampun. Setiap serangannya tidak bisa dibendung oleh Nero karena perbedaan kekuatan mereka saat ini sangatlah jomplang.
Nero yang saat ini tak ubahnya boneka lembut yang tak memiliki tulang. Tubunya terbang ke sana ke sini bagai kapas ditiup angin. Ia benar-benar tak berkutik menghadapi amukan Rudi.
Rudi melesatkan satu tebasan kuat ke arah Nero.
Nero berusaha menahannya. Tapi, usahanya sia-sia. Ia tidak bisa menahan tebabasan itu. Sehingga, membuat dadanya terkoyak.
Nero pun tersungkur ke tanah karena luka parah di dadanya.
Di saat Nero sudah tergulai lemas tak berdaya, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, mulai memasuki medan pertarungan itu.
Mereka berusaha menghentikan pergerakan Rudi dengan berbagai cara. Mulai dari menjagalnya, melilitnya menggunakan tali berlapis Force, hingga menyerangnya tanpa ampun.
"Cepat jagal tangan dan kakinya!" teriak Kageyama sambil melemparkan tali berlapis Force.
"Julius, pegang talinya sekuat tenaga!" teriak Akito.
"Aku tau!" teriak Julius.
"Berhenti mengamuk dasar bodoh!" teriak Yuta sambil menahan pergerakan Rudi menggunakan atribut anginnya.
"Rudi, sadarlah!" teriak Alvin yang menahan tubuh Rudi.
"Cepatlah! Aku tidak bisa menahannya lebih lama dari ini!" teriak Dian yang mengurung Rudi menggunakan barier airnya.
Tali yang dipegang Akito, Kageyama, dan Julius, putus.
Tekanan angin yang dibuat Yuta, hancur.
Alvin yang menahan tubuh Rudi, terlempar.
Barier air yang Dian gunakan untuk mengurung tubuh Rudi hancur.
Mereka semua melakukan segala cara untuk menghentikan amukan Rudi. Tapi, semua usaha yang mereka lakukan sia-sia. Rudi terus mengamuk tanpa henti.
Semua pihak aliansi kelompok Nero dan para reporter yang melihat itu, hanya bisa berdiam diri sambil terus mengamati medan pertempuran.
...*** ...
Tempat kelompok Edgar.
__ADS_1
Edgar sedikit terkejut karena melihat kejadian di depan matanya.
"Siapa mereka? Apa mereka temannya?" tanya Egdar yang kebingungan karena melihat beberapa orang berusaha menahan pergerakan Rudi.
"Hmm ... mungkin," jawab eksekutif pertama yang berdiri di samping Edgar.
...*** ...
Tempat kelompok Lisa.
"Dari mana datangnya bocah-bocah itu? Apa yang ingin mereka lakukan di sana?" tanya Lisa, sang pemimpin kelompok.
"Mungkin ... mereka berniat menghentikan amukan bocah itu," jawab eksekutif kedua Lisa yang berdiri di samping Lisa.
...*** ...
Tempat kelompok Barnes.
"Apa kita perlu ke sana?" tanya eksekutif pertama Bernes.
"Tidak. Biarkan saja dulu. Jika Nero bisa sampai dihajar seperti itu, kita tidak punya kesempatan melawan bocah yang sedang mengamuk itu," jawab Barnes, sang pemimpin kelompok.
...*** ...
Tempat pasukan militer Negara Rosso.
"Jendral besar, bukankah ini waktu yang tepat untuk menolong Nero?" tanya salah satu Jendral Negara Rosso kepada sang jendral besar.
"Jangan bergerak sedikit pun dari sini. Kita amati dulu situasinya," jawab sang Jendral Besar Negara Rosso.
...*** ...
"Bidik kepala bocah itu," perintah sang Jendral Besar Negara Fuze kepada para sniper.
"Baik," jawab serempak para sniper militer Negara Fuze.
...*** ...
Tempat pasukan militer Negara Grandbell.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya sang Jendral Besar Negara Grandbell.
"Pasukan negara dan kelompok lain sepertinya belum berniat bergerak. Menurut saya, kita juga harus menunggu untuk melihat situasi," jawab salah satu Jedral Negara Grandbell.
...*** ...
Semua pihak aliansi belum berniat bergerak karena ingin mengamati situasi terlebih dahulu. Jika mereka nekat masuk ke medan pertempuran, bisa-bisa mereka hanya akan membuang nyawa percuma. Masuk ke medan pertempuran dengan kondisi saat ini sama saja dengan anak ayam yang berniat masuk ke kandang singa dewasa yang sedang kelaparan. Tentu, mereka tidak mau melakukan itu. Maka dari itu, mengamati adalah pilihan terbaik yang bisa diambil semua orang.
...*** ...
Medan pertempuran Rudi melawan Nero.
Di sana, Akito dan anggota lainnya terus berusaha menghentikan amukan Rudi.
Karena tidak tau harus bagaimana, mereka mencoba segalanya untuk kembali menyadarkan Rudi.
__ADS_1
Dari kejauhan, Kageyama bersiap melancarkan satu serangan kuat.
Sun Flare!
Kageyama memadatkan bola api raksasa berbentuk seperti matahari menjadi seukuran bola sepak.
Ia kemudian menembakkan bola api hitam super padat itu ke arah Rudi.
"Sadarlah, bodoh!" teriak Kageyama sambil melesatkan serangannya.
Akito, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, melesat menjauh agar tidak terkena dampak serangan milik Kageyama.
Boom!
Bola api itu mengenai kepala Rudi dan meledak dengan dahsyat seperti bom nuklir yang dijatuhkan.
Hempasan angin bertekanan tinggi mulai terasa hingga ratusan meter jauhnya akibat dampak serangan itu.
Area pusat ledakan terbakar hingga membuat tanah di sana memerah seperti lava.
Dari pusat ledakan, Rudi berjalan pelan seolah ledakan itu tidak mempengaruhinya sama sekali.
Rudi berjalan dengan tubuh mencair dan menguapkan asap dingin, seperti es yang dipanaskan.
Setiap bagian tubuhnya mencair, bagian itu kembali normal seperti air yang membeku dalam sekejap.
Rudi berjalan terhuyung-huyung ke arah Kageyama.
Matanya menyala dengan cahaya biru terang. Setiap ia melangkah, ada bekas kristal es yang ia tinggalkan. Nafasnya juga terlihat seperti menguapkan asap dingin. Penampilannya saat ini benar-benar terlihat sangat mengerikan di mata setiap orang yang memandangnya.
Kageyama berdecak kesal karena semua usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Cih ... sampai kapan kau mau terus mengamuk? Apa kau benar-benar berniat mati di sini?" decak Kageyama kesal.
Di sisi lain, Rudi masih berjalan pelan menuju ke arah Kageyama. Dan dalam sekejap mata. Tiba-tiba, ia sudah berada tepat di depan Kageyama dan berniat menebas tubuh Kageyama.
Dalam waktu yang seolah melambat, Kageyama berfikir.
"Sialan! Aku lengah!" pikir Kageyama.
Slash!
Rudi mengayunkan katananya ke arah tubuh Kageyama. Akan tetapi, Kageyama tidak terluka sedikit pun karena bantuan Dian.
Tepat sebelum katana milik Rudi menyentuh tubuh Kageyama, Dian berhasil menyelimuti seluruh tubuh Kageyama menggunakan barier airnya.
Mata Kageyama terbelalak karena tidak menyangka bahwa ia masih hidup. Ia pun menyadari bahwa nyawanya telah diselamatkan oleh Dian.
"Terimakasih, Dian!" teriak Kageyama sambil melompat menjauhi Rudi.
Dengan nafas terengah-engah, Dian tetap bisa berkonsentrasi penuh di tengah kondisi mencekam itu.
Walaupun Dian bukan tipe petarung hebat. Tapi, kemampuannya dalam mensupport anggota lain sangatlah luar biasa.
"Jangan lengah!" teriak Dian dengan nafas beratnya.
__ADS_1
Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, terus mencoba menyadarkan Rudi dari amukannya.