
Dua minggu kemudian, aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, sedang berada di sebuah lapangan voli.
Kami berniat menunggu waktu diselenggarakannya lelalang sambil bersenang-senang di Ibukota Neverland.
"Apa kalian siap?" tanyaku pada Kageyama dan Julius yang menjadi lawanku.
"Kaaakakakakakakakaka! Tidak perlu sungkan," jawab Kageyama.
"Ayo bersenang-senang," sahut Julius.
"Jangan terlalu berlebihan, ok," ucap Akito.
Kami berempat akan bermain voli 2 lawan 2.
Aku dan Akito akan melawan Kageyama dan Julius. Sedangkan Yuta akan menjadi wasitnya.
Pertandingan pun dimulai.
Aku bersiap melakukan servis.
Bola kulempar, aku melompat, kemudian.
Bem!
Aku melakukan servis dengan pukulan yang sangat keras.
Boom!
Julius berhasil menerima pukulan servisku dengan sempurna. Tapi, karena bola tersebut terlalu kuat, membuat tanah yang ia pijak hancur akibat menahan servis mematikan tersebut.
"Cih ... dia sanggup menahannya," gumamku sambil menatap ke arah Julius.
Julius membalas tatapanku dengan senyum licik.
Kageyama yang menjadi setter, memberikan umpan lambung kepada Julius. Tidak lupa, ia juga melapisi bola itu dengan atribut api miliknya.
Julius melompat dan siap melakukan spike. Dan kemudian ...
Boom!
Aku berhasil menahan spike keras yang Julius lesatkan. Akan tetapi, aku merasa sedikit kesakitan akibat menahan bola yang telah berlapis atribut api dan cahaya milik Kageyama dan Julius.
Bola tersebut melambung tinggi ke udara.
"Berikan Padaku!" Aku berteriak keras pada Akito sambil bersiap melakukan spike.
"Ini." Akito melambungkan bola ke udara.
Aku menatap bola itu sambil bersiap untuk melakukan spike.
Sesaat sebelum melompat, nafasku berubah jadi asap dingin, tanah yang kupijak membeku, mataku mengeluarkan cahaya tipis berwarna biru, dan tekanan udara di sekitar tubuhku pun mulai mengkristal.
"Oi, oi ... apa dia serius?" pikir Kageyama dan Julius kompak saat melihat Rudi yang berniat melesatkan satu pukulan spike.
Aku melompat. Dan ...
Boom!
Spike keras yang kulesatkan menghujam ke tanah dengan sangat amat cepat dan kuat. Sehingga, menimbulkan lubang di sana.
"Yosha!" Aku berteriak senang sambil beradu dada dengan Akito.
"Cih ... mereka tidak bisa santai," kata Julius dengan wajah geram.
__ADS_1
"Kaaakakakakakakakaka! Bukankah pertandingan ini malah jadi seperti pertarungan?" tanya Kageyama.
"Makan itu, Kageyama!" ejekku sambil mengacungkan jari tengah pada Kageyama dan Julius.
"Yeah, makan itu!" Akito juga mengacungkan jari tengahnya.
"Sialah! Akan kubalas berkali-kali lipat. Ayo bermain serius, Julius," ucap geram Kageyama karena tidak terima dengan ejekan tersebut.
"Ya, ayo beri mereka pelajaran," sahut Julius dengan penuh semangat.
Aku kembali melakukan servis. Aku melompat. Dan ...
Boom!
Suara menggelegar kembali terdengar dari pukulan servis yang kulakukan.
Julius berhasil menerima servis itu dengan baik.
Kageyama bersiap memberikan umpan untuk Julius.
Julius mengambil ancang-ancang untuk bersiap melompat. Julius melompat. Dan ...
Bem!
Aku berhasil memblock spike itu dengan sangat baik dan membuat bola menghujam tajam ke lapangan Julius.
"Yeah, beibeh!" ucapku dengan perasaan sangat senang karena berhasil memblock spike Julius.
Julius tersenyum menyeringai ke arahku. Dan aku pun mebalasnya dengan mengacungkan dua jari tengah.
Beberapa orang yang menyaksikan jalannya pertandingan, hanya bisa terdiam sambil menahan nafas karena ini adalah pertama kalinya mereka melihat permainan voli sebrutal itu.
Permainan voli berdarah itu pun telah usai.
"Makan debu itu, sialan!" ejek Kageyama yang melihatku dan Akito seperti pecundang.
"Cih ...." Aku dan Akito hanya bisa menggerutu karena tidak bisa membalasnya.
"Pecundang!" ejek Julius sambil mengacungkan dua jari tengahnya ke arahku dan Akito.
Aku dan Akito yang awalnya memimpin, harus menelan pil pahit di pertengahan babak. Sehingga, membuat kami berdua jadi bulan-bulanan Kageyama dan Julius.
Orang-orang yang melihat pertandingan voli mereka berempat, masih termenung melihat lapangan voli yang hancur tak berbentuk akibat sebuah pertandingan voli.
"Hey, apa kau pernah melihat pertandingan voli semacam ini?"
"Tidak."
"Apa mereka benar-benar manusia?"
"Entahlah ... aku tidak yakin."
Orang-orang itu masih terlihat syok. Sedangkan Rudi, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, mulai beranjak pergi sambil terus mengejek satu sama lain.
.
.
Selama beberapa minggu terakhir, aku dan kelompokku memutuskan untuk tingga sementara di rumah Julius sambil menunggu diselenggarakannya lelang.
3 hari sebelum diselenggarakannya lelang, ada seorang pria misterius yang mengantarkan undangan ke rumah Julius. Undangan itu digunakan sebagai hak akses mengikuti lelalang.
Di dalam rumah Julius, aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, sedang berkumpul dalam satu ruangan.
__ADS_1
"Kita sudah mendapat undangan untuk menghadiri lelangnya," kata Julius.
"Keren! Undangannya bahkan dilapisi emas!" kata Akito dengan wajah takjub.
"Apa kita harus menggunakan ini agar bisa mengikuti lelang?" tanyaku sambil menunjuk undangan tersebut.
"Kaaakakakakakakakaka! Tentu saja. Tanpa ini, kita tidak akan bisa mengikutinya," jawab Kageyama.
"Aku pernah mengikuti banyak lelang. Tapi, aku tidak ...." Belum selesai Yuta berbicara, Kageyama dan Julius langsung membungkam mulutnya.
Mereka berdua menatap Yuta seolah ingin mengatakan, "Jangan katakan apa pun. Atau kau akan mati!" Begitulah kira-kira.
Aku dan Akito pun keheranan saat melihat tingkah aneh Kageyama dan Julius.
"Apa ada yang salah?" tanyaku.
"Tidak! Tidak ada!" jawab Julius dengan wajah panik.
"Kaaakakakakakakakaka! Tidak ada yang aneh. Jadi, abaikan saja," jawab Kageyama yang juga memasang wajah panik.
Di sisi lain, Yuta yang mulut serta hidungnya dibungkam, wajahnya mulai memerah karena tidak bisa bernafas.
"Oi, sepertinya Yuta akan mati," kataku sambil menunjuk Yuta.
Mendengar hal itu, Julius dan Kageyama baru sadar kalau tangan mereka sedang membungkam mulut dan hidung Yuta. Mereka berdua pun melepas tangan mereka.
"Huah! Apa kau ingin membunuhku, Kageyama!" bentak Yuta.
"Apa maksudmu? Kenapa kau hanya marah padaku?" tanya Kageyama heran.
"Tentu saja, itu karena salahmu! Tuan Julius itu orang yang tidak pernah salah!" bentak Yuta lagi.
"Hah? Orang sepertinya?" tanya Kageyama kesal sambil menunjuk-nunjuk Julius.
"Singkirkan tanganmu dari wajah Tuan Julius, Kageyama!" bentak Yuta lagi.
"Grrrrrrrrrrr!"
"Shaaaaaaaaa!"
Kageyama dan Yuta pun terus berdebat.
"Oh, lalu di mana tempat diselenggarakannya?" tanyaku yang tidak meperdulikan perdebatan Kageyama dan Yuta.
"Hmm ... tunggu sebentar," jawab Julius sambil membaca isi undangan tersebut.
"Acara lelangnya akan diselenggarakan di Town Hall Square," imbuhnya.
"Kaaakakakakakakakakaka! Sepertinya rumor tentang adanya barang super langka yang dilelang di sana, memang benar adanya," sahut Kageyama.
"Apa kau tertarik dengan itu?" tanya Julius pada Kageyama.
"Tidak! Aku tidak tertarik dengan benda pajangan mahal," jawab Kageyama.
"Tunggu sebentar. Bukankah Town Hall Square itu adalah tempat lelang paling terbatas? Kenapa kalian ingin mencari barang di sana?" tanya Yuta kaget.
"Kami ingin mencari senjata terbaik untuk mereka bedua," jawab Kageyama sambil menunjukku dan Akito.
"Oi, Akito. Sepertinya aku punya perasaan tidak enak soal lelang ini," bisikku pada Akito.
"Yah, aku juga. Sepertinya uang kita akan habis tak tersisa kalau kita membeli barang dari sana," bisik Akito balik.
Hari pelelangan yang kami tunggu, tinggal sebentar lagi.
__ADS_1
Saat mulai mendekati hari diselenggarakannya lelang, aku merasa semakin gelisah, seolah ada hal yang menggangu pikiranku.