The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 39 - Pria Misterius


__ADS_3

Di salah satu markas kelompok Nero, orang yang Rudi hajar sewaktu di kota Eden sedang melapor kepada salah satu komandan satuan kelompok Nero.


"Siapa yang berani menghajar kalian?" tanya komandan satuan kelompok Nero.


"Kami tidak tau, Bos! Sepertinya mereka itu orang baru! Mereka menghinaku dan menghina Bos Nero. Selain itu, mereka juga menginjak injak lambang kita. Mereka berkata bahwa kelompok Nero hanya sekumpulan sampah," jawab pria yang sudah Rudi hajar saat di kota Eden.


Pria itu berbohong agar komandan tersebut mau menghabisi Rudi dan kelompoknya.


"Ayo antarkan aku padanya! Akan kuhajar para bajingan itu!" perintah komandan itu lagi.


"Baik, Bos," sahut pria itu.


"Kalian tamat, bocah bocah tengik!" pikir pria itu sambil tersenyum licik.


Kelompok Nero memiliki 4 tingkatan. Anggota, komandan satuan, eksekutif, dan pimpinan besar. Anggota adalah yang terbawah.


Di kota Eden, aku dan kelompokku berniat mencari informasi mengenai aktivitas terbaru kelompok Nero.


"Sebaiknya kita berpencar agar bisa mendapat informasi lebih cepat," kata Julius.


"Itu ide bagus. Aku akan mencari ke sana," kataku sambil menunjuk ke suatu arah.


"Baiklah, aku akan ke sana," kata Akito sambil menunjuk ke suatu arah.


"Kaaakakakakakakakaka! Kalau begitu, aku ke sana," kata Kageyama sambil menunjuk ke suatu arah.


"Aku bersama Tuan Julius," kata Yuta.


"Kau ke sana, Yuta! Kita harus berpencar," kata Julius sambil menunjuk ke suatu arah.


"Eh? Tapi ...." Yuta nampak kecewa.


Kami pun berpencar ke seluruh penjuru kota agar pencarian informasi berjalan lebih cepat, efisien, dan tidak menarik banyak perhatian.


Saat aku sampai di salah satu gang sempit di sudut kota, aku melihat gadis berusia sekitar 15 tahun yang sedang dicabuli 3 pria dewasa.


Melihat kejadian itu, membuatku sangat marah dan langsung menghajar ketiga pria itu hingga sekarat.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku pada gadis tersebut.


"Aku baik-baik saja," jawab gadis itu, kemudian berlari menjauh.


Melihat gelagat aneh gadis itu, membuatku merasa sangat curiga.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan kota ini," pikirku.


Aku pun mulai mengikuti gadis itu dari kejauhan.


Sampai pada akhirnya, aku melihat gadis itu masuk ke sebuah panti asuhan.


Aku menyelinap masuk lewat pintu depan.


Aku bergerak dengan sangat cepat dan senyap agar keberadaanku tidak diketahui.


Saat berada di dalam panti, aku melihat banyak pria berseragam militer yang sedang mencabuli gadis gadis muda. Ada juga yang sedang mempermainkan para bocah laki laki seperti hewan. Mereka benar benar menjadikan anak anak penghuni panti sebagai mainan mereka.


Aku sangat marah hingga tidak bisa lagi mengontrol emosi.


Aku pun mulai menghunus katanaku sambil melesat cepat dan menebas semua orang berseragam militer satu persatu.

__ADS_1


Darah orang orang itu mengucur deras seperti air mancur.


Anak anak panti di sana nampak syok saat melihat pancuran darah yang mulai membasahi tubuh mereka.


Panti asuhan itu pun seketika berubah menjadi penuh darah dan beraroma anyir.


Aku berdiri dengan tubuh penuh darah sambil melirik ke belakang.


Anak anak panti yang melihatku, hanya bisa tertegun sambil berharap cemas.


Dengan tubuh penuh cipratan darah, aku bertanya pada anak anak panti di sana. "Apa kalian baik baik saja?"


"Ka-Kami ... kami baik baik saja," jawab salah satu anak di sana sambil gemetar ketakutan.


Tanpa memperdulikan perasaan syok anak anak itu, aku melangkah menuju arena yang lebih dalam karena aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di bagian dalam panti.


Saat sudah masuk lebih dalam, aku melihat ada pintu rahasia yang berada di lantai.


Aku kemudian membuka pintu itu. Dan ternyata, pintu itu memiliki tangga yang mengarah ke bawah.


Tap ... Tap ... Tap ... 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah.


Aku melangkan menuruni setiap anak tangga sambil tetap waspada.


Sesampainya di ruang bawah tanah, aku tercengang karena melihat ada banyak anak anak yang dirantai di bagian leher, tangan, dan kaki mereka.


Mereka semua melihatku dengan tatapan datar seolah emosi mereka sudah hancur.


Saat perhatianku masih tertuju pada anak anak tersebut, tiba tiba ada seorang pria yang muncul.


"Siapa kau?" tanya pria misterius yang berjalan mendekat ke arahku sambil membawa lilin kecil di tangannya.


"Memangnya kenapa? Apa kau punya masalah dengan itu?" tanya pria misterius itu.


Tanpa berniat berbicara lebih jauh, aku langsung melesat ke arah pria misterius itu, berniat menebas tubuhnya.


Ting!


Pria misterius itu menangkis tebasan katanaku dengan belati kecilnya.


Secara repon, aku sedikit melompat mundur. Entah kenapa, instingku mengatakan bahwa aku harus melakukannya.


"Hmm ... sepertinya kau punya insting tajam," kata pria itu dengan nada santai.


"Kutanya sekali lagi. Apa kau yang sudah melakukan semua ini?" tanyaku sambil menatap tajam pria itu.


"Xiiixixixixixxixixixixi! Benar ... akulah yang sudah melakukan semua ini. Apa kau keberatan dengan itu?" jawab pria itu.


Mendengar jawaban pria itu, membuatku tidak bisa mengontrol emosi lagi.


Aku pun menatap tajam pria itu sambil beniat menebasnya dalam satu serangan.


"Xiiixixixixixixixixixixi! Aku suka ekspresimu, bocah! Kau benar benar terlihat sangat menakutkan," kata pria itu.


Tanpa basa basi, aku langsung melesat ke arah pria itu sambil mengayunkan katanaku.


Ting!


Lagi lagi, pria itu sanggup menahan tebasanku menggunakan belati kecil yang ia pegang.

__ADS_1


Aku tidak bisa menggunakan atributku karena aku sedang berada di ruang tertutup. Ditambah, ada banyak anak kecil yang sedang dirantai di sana. Salah sedikit, aku bisa saja membunuh anak anak itu.


Aku terus mengayunkan katanaku. Akan tetapi, pria itu selalu berhasil menangkisnya.


Pertarungan adu senjata terjadi dengan sangat intens.


Sesekali, aku juga melesatkan atributku ke arah pria itu. Tapi, pria itu bisa menangkisnya dengan sangat baik.


Setiap aku menggunakan atributku, suhu di ruangan itu semakin menurun. Sehingga, membuatku tidak bisa menggunakannya terlalu berlebihan.


"Xiiixixixixixixixixixixixi! Kemampuanmu boleh juga, bocah!" kata pria itu sambil terus menghindari tebasan katanaku.


"Cih ... siapa pria ini? Kenapa dia bisa dengan mudah menghindari semua seranganku?" pikirku yang bertanya tanya soal identitas pria misterius itu.


Walaupun aku tidak bertarung dengan full power, tapi kemampuan fisik dan berpedangku tidak bisa diremehkan. Tapi walaupun begitu, pria yang kuhadapi saat ini benar benar terasa seperti berada di level yang berbeda dari lawan lawanku sebelumnya.


Aku dan pria itu berhenti menyerang satu sama lain.


Kami hanya saling bertatap muka sambil terus waspada.


Aku menatap tajam pria itu. Sedangkan pria itu malah tersenyum tipis ke arahku.


"Apa kau ke sini karena suatu kepentingan? Atau kau hanya sekedar lewat?" tanya pria itu.


"Aku ke sini untuk menghabisi bajingan bajingan sepertimu," jawabku.


"Xiiixixixixixixixixixixi! Begitu rupanya ... sepertinya, kita akan bertemu lagi cepat atau lambat. Aku mengakui kemampuanmu, bocah! Datanglah padaku ... akan kusambut dengan tangan terbuka," kata pria misterius itu, kemudian menghilang di kegelapan.


Aku pun mulai mengendorkan kewaspadaan karena tidak lagi bisa merasakan keberadaan pria tersebut.


Aku kemudian melihat ke arah bocah bocah yang sedang dirantai ke dinding ruangan. Dan melepaskan bocah itu satu per satu dan membawa mereka keluar dari ruang bawah tanah itu.


Sesampainya di ruang dalam panti, aku benar benar terkejut karena anak anak yang kutolong dari tindakan bejat orang orang berseragam militer, malah menodongku dengan pisau.


"Apa apaan ini? Kenapa kalian melakukan ini?" tanyaku pada anak anak tersebut.


"Karena kau sudah membunuh para prajurit, kami pasti akan dihukum. Maka dari itu, menyerahlah. Kami akan membawamu ke pusat kota untuk diadili," ucap salah satu dari anak di sana sambil menodongkan piasu ke arahku dengan tangan gemetar.


"Kalau begitu, kalian pergi saja dari sini. Bukankah itu mudah?" tanyaku pada mereka.


"Kami tidak bisa pergi dari sini! Inilah rumah kami!" jawab anak itu lagi.


"Apa kalian suka menjadi mainan para bajingan itu?" tanyaku dengan wajah serius.


"Kami tidak punya pilihan lain. Jika kami pergi dari sini, Tuan Nero dan walikota pasti akan membunuh kami. Ini adalah satu satunya cara kami bertahan hidup."


"Jadi begitu ... apa kalian tau kalau ada banyak anak yang disiksa di ruang bawah tanah?" tanyaku sambil melihat anak anak yang sedang bersamaku.


"Mereka itu adalah anak anak yang membangkang. Karena itu, mereka dipenjara di bawah tanah. Kami tidak mau bernasib sama dengan mereka," kata salah satu dari mereka.


"Jadi, kalian rela melakukan apa pun demi bertahan hidup? Sungguh perjuangan yang luar biasa! Tapi, percayalah. Perjuangan kalian tidak akan berguna jika kalian menyia nyiakannya seperti ini. Jika kalian mau, aku bisa membantu kalian mendapat kehidupan yang jauh lebih baik," kataku pada anak anak di hadapanku.


"Pergilah ke neraka!" ucap salah satu anak itu sambil mencoba menusukkan belati kecil ke perutku.


Ting!


Aku menepis tusukan anak itu.


"Oi, bocah. Aku paling benci dengan orang yang hanya bisa berpangku tangan seperti kalian," kataku pada anak tersebut dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Aku kemudian membawa bocah bocah yang kuselamatkan dari ruang bawah tanah dan meninggalkan bocah bocah yang kuselamatkan dari tindakan bejat prajurit militer begitu saja.


__ADS_2