The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 35 - Target Besar


__ADS_3

Pelelangan terus berlangsung.


Saat semua barang hampir selesai dilelang, panitia penyelenggara lelang memberikan sedikit hiburan kepada semua tamu yang mengikutinya.


"Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Pelelangan hampir selesai. Tapi, sebelum itu kami ingin memberikan sedikit hiburan untuk Anda semua," ucap pembawa acara lelang.


"Hiburan? Apa ada hal semacam itu di pelelangan?" tanya Akito.


"Aku baru tau kalau pelelangan punya hiburan," jawabku.


"Kaaakakakakakakakaka! Inilah yang ingin kutunjukkan pada kalian berdua," sahut Kageyama.


"Kami?" tanyaku dan Akito kompak.


"Cih ... inilah yang paling kubenci dari pelangan dunia bawah!" Yuta menggerutu.


"...." Julius hanya diam sambil menatap layar televisi.


Di layar televisi, ada 3 pria bertopeng sedang membawa 1 bocah laki-laki yang dirantai lehernya ke depan kamera.


"Oi, Kageyama! Apa-apaan itu?" tanyaku dengan nada geram sambil menunjuk layar televisi di sana.


"Ini adalah ciri khas pelelangan dunia bawah. Saat jeda sebelum masuk ke barang utama, akan ada sesi di mana mereka akan menyiksa manusia hingga mati dan menjual beberapa budak," jawab Kageyama.


Mendengar jawaban Kageyama, membuatku dan Akito tersentak kaget.


"Apa maksudnya? Jelaskan lebih detail!" seruku pada Kageyama dengan wajah serius dan nada marah.


"Selain barang-barang berharga, pelelangan dunia bawah juga idientik dengan menjual aksi kekerasan dan penjualan budak. Hal itu selalu terjadi di setiap pelelelangan dunia bawah. Budak-budak itu biasanya dibeli oleh orang-orang berkepribadian menyimpang untuk kepuasan diri sendiri atau menyiksa mereka hingga mati. Bahkan, ada yang sengaja menghadiri lelang hanya untuk menyaksikan penyiksaan semacam ini," jawab Kageyama.


"Apa itu alasanmu membawaku ke sini? Apa kau sengaja menunjukkan hal semacam ini padaku?" tanyaku dengan wajah marah.


"Kaaakakakakakakakaka! Aku hanya ingin kau menyadari betapa busuknya dunia ini. Dunia ini seperti permukaan laut di mana permukaanya terlihat tenang. Tapi, jauh di kedalaman, para predator sedang saling bersaing untuk bertahan hidup dengan memangsa satu sama lain," jawab Kageyama dengan ekspresi serius.

__ADS_1


Aku hanya terdiam setelah mendengar jawaban Kageyama.


Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah layar televisi sambil memasang wajah syok.


"Argh!" Anak yang sedang disiksa di layar televisi, mulai menjerit sejadi-jadinya.


Anak itu dicambuk, dikuliti perlahan, matanya dicongkel satu per satu, hingga jari-jarinya dipotong sedikit demi sedikit.


Penyiksaan tidak manusiawi itu, benar-benar terlihat seperti neraka yang sedang menyiksa manusia di dalamnya.


Mendengar jeritan anak berusia 10 tahun yang sedang disiksa di sana, membuatku tidak sanggup melihatnya.


Aku tidak bisa berbuat apa pun dan hanya bisa mendengar penyiksaan itu dengan perasaan pilu.


Aku pun menggigit bibirku sendiri dan menggenggam tangan hingga berdarah sambil mengalihkan pandangan dari layar televisi raksasa di hadapanku.


Melihat ekspresi itu, membuat Kageyama dan Julius kaget. Mereka berdua mengira bahwa Rudi akan mengamuk dan mencari para bajingan itu. Tapi, ternyata ekspektasi mereka salah besar. Rudi justru malah terlihat sangat tertekan seolah seperti mengerti betul tentang penderitaan yang dirasakan bocah yang sedang disiksa habis-habisan itu.


"Dulu, aku pernah melihat seorang bocah yang selalu disiksa setiap harinya. Walaupun setiap harinya dihabiskan dengan siksaan kejam dan tidak manusiawi, bocah itu tetap memancarkan sorot mata penuh harapan."


Mendengar ucapan Akito, membuat Kageyama, Julius, dan Yuta terkejut.


"Apa maksudmu?" tanya Julius dengan wajah syok.


"Dulu, penduduk desaku dibantai oleh sekelompok orang. Orang-orang itu hanya membunuh para orang tua dan pria dewasa. Sedangkan anak-anak dan wanita muda dibawa ke markas mereka untuk dijual sebagai budak. Saat berada di markas mereka, aku bertemu dengannya, seorang bocah berumur 10 tahun yang memancarkan sorot mata penuh harapan walau hari-harinya dihabiskan dengan penyiksaan. Awalnya aku heran, kenapa bocah itu tidak menyerah saja? Bukankah seharusnya dia memendam kebencian? Bukankah seharusnya mentalnya hancur? Haahahahahahaha! Aneh bukan? Bagaimana bisa bocah 10 tahun bisa menahan semua penderitaan itu tanpa kehilangan harapan sama sekali? Karena penasaran, aku pun bertanya padanya tentang alasanya tetap bertahan. Apa kalian tau apa yang dia katakan? Dia mengatakan bahwa setiap malam, ia bermimpi ada seorang pria yang menyuruhnya untuk terus bertahan sembari menjaga harapan. Dengan begitu, nasibnya pasti akan berubah."


"Akito, siapa yang sedang kau bicarakan?" Kageyama bertanya dengan wajah syok.


Tanpa memperdulikan pertanyaan Kageyama, Akito terus melanjutkan perkataanya.


"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran anak itu. Kenapa dia bisa mempercayai mimpi konyol seperti itu? Jika itu aku? Aku pasti akan memendam kebencian mendalam hingga mengakar ke dalam jiwaku. Setiap hari, aku melihatnya disiksa. Tapi bukanya menjerit, anak itu malah tertawa. Orang-orang itu sangat suka menyiksanya karena mereka ingin membuat anak itu frustasi. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Anak itu tetap kuat dalam menjaga harapannya. Berharap suatu saat nanti, hidupnya bisa berubah. Berharap suatu saat nanti, nasibnya berubah. Berharap suatu saat nanti, ada secercah cahaya yang menyinari hidupnya. Dan lihatlah dia sekarang," kata Akito sambil melihat ke arah Rudi yang sedang tertekan melihat penyiksaan di hadapannya.


Semua orang pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Rudi. Mereka semua tidak menyangka bahwa Rudi punya masa lalu sekelam itu.

__ADS_1


"Apa bocah yang kau maksud itu adalah Rudi?" tanya Kageyama dengan wajah syok.


"Benar. Selama ini, dia terus menjaga harapan itu untuk mewujutkan mimpi dan tujuannya. Mimpi dan tujuan yang hanya dianggap sebagian besar orang hanyalah omong kosong belaka. Tapi, tidak bagiku. Aku telah melihat dan merasakan sendri bahwa saat seseorang tetap tegar dalam menjalani hidup, pasti hidupnya akan berubah. Hidup itu bagai roda yang berputar. Tidak mungkin selalu di bawah, dan sebaliknya. Semakin lambat roda berputar, semakin lama posisi yang kau dapat. Saat di atas, itu akan sangat menyenangkan. Tapi saat di bawah, itu akan terasa sangat menyakitkan. Dan untuk menggerakkanya, dibutuhkan kerja keras dan perjuangan yang sepadan. Aku yakin bahwa Rudi pasti akan mencapai semua impian dan tujuannya. Karena aku tau bahwa dia bukan orang yang akan menyerah walaupun harus melewati jalan terjal berduri sekalipun," jawab Akito.


Akito adalah saksi hidup peejuangan Rudi di masa lalu. Ia tau betul penderitaan yang harus Rudi tahan selama ini.


Karena hal itu pula, ia akhirnya memutuskan untuk membantu Rudi meraih semua mimpi dan tujuannya.


Akito tidak mau suatu saat nanti ia hanya menjadi baban bagi Rudi. Ia ingin menjadi pijakan saat Rudi menapaki jalan berlumpur. Ia ingin menjadi tangga saat Rudi menghadapi tembok besar. Ia ingin menjadi jembatan saat Rudi menghadapi jurang. Ia ingin menjadi sayap saat Rudi dihadapkan jalan buntu. Ia tidak mau menjadi ransel yang membebani saat Rudi harus menghadapi rintangan di hadapannya. 


Akito sadar betul bahwa Rudi punya tujuan yang hampir mustahil diraih seorang rakyat jelata dari desa miskin dan terpencil.


Baginya, Rudi seperti obor yang terus menerangi jalan. Rudi mampu membuat banyak hal yang dianggap mustahil menjadi mungkin. Rudi mampu menghadapi segala rintangan yang ia hadapi. Rudi mampu menahan semua itu dengan baik. Sehingga, membuatnya percaya suatu saat nanti, Rudi akan menjadi angin segar bagi dunia yang sudah mulai mebusuk ini. 


Sampai saat itu tiba, ia ingin terus ada di sampingnya untuk menyaksikan jalan hidup yang Rudi ambil. Ia ingin suatu saat nanti bisa menceritakan kepada generasi selanjutnya tentang kisah perjalanan seorang anak dari desa miskin dan terpencil berjuang meraih impian dan tujuannya.


Impian dan tujuan sebesar apa pun bisa digapai saat orang itu sanggup menahan semua rasa sakit dan penderitaan dalam proses meraihnya.


Karena hasil besar hanya bisa didapat dari proses menyakitkan.


Selesai Akito menjelaskan, Yuta tersenyum tipis, Julius memasang ekspresi menakutkan, dan Kageyama tertawa puas sambil menutup wajahnya dengan tangan kanan.


"Aku terkesan dengan itu," kata Yuta sambil tersenyum tipis.


"Rudi, apa kau ingin memburu mereka?" tanya Julius padaku dengan ekspresi menakutkan.


"Jadi, begitu ... begitu rupanya. Sekarang aku mengerti. Kaaakakakakakakakaka!" Tawa Kageyama menggema ke seluruh ruangan.


Aku yang sebelumnya terlihat tertekan, mulai melirik tajam ke arah layar televisi sambil mengatakan, "Ayo musnahkan mereka hingga ke akar!"


Semua orang di sana tanpa keraguan langsung menjawab, "Dengan senang hati, Pemimpin!"


Rudi, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta telah menetapkan target mereka selanjutnya. Mereka ingin memburu broker terbesar di Benua Timur dan berniat memusnakan mereka tanpa sisa.

__ADS_1


__ADS_2