The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 27 - Rudi Melawan Julius


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat pukul 10 pagi. Aku, Akito, dan Kageyama telah sampai di training center.


"Woah ... training center di sini benar-benar luar biasa," kataku saat pertama kali memasuki training center.


"Kaaakakakakakakaka! Ini adalah training center terbaik di seluruh negeri, mungkin benua. Jadi, wajar kalau tempat ini terlihat lebih luas dan megah dari training center di kota Alinstone," kata Kageyama yang berjalan di sampingku.


"Benua? Wow ...," kata Akito yang merasa takjub.


Kami bertiga berjalan pelan menulusuri training center untuk mencari Julius.


"Di mana orang yang kau maksud, Kageyama?" tanyaku.


"Hmm ... entahlah. Si bajingan itu hanya mengatakan akan datang jam 10. Tapi, dia tidak mengatakan ada di arena nomor berapa," jawab Kageyama.


Training center memiliki banyak sekat-sekat yang masing-masing ruangan dipisah berdasarkan nomor.


"Apa dia belum datang?" tanya Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Mungkin saja," jawab Kageyama.


Karena tidak kunjung menemukan Julius di mana pun, kami bertiga memutuskan untuk menunggunya di pintu masuk training center.


20 menit kemudian, Julius datang ke training center.


Kageyama langsung menyambut kedatangan Julius dengan ekspresi marah. Sedangkan Rudi dan Akito tampak biasa saja.


"Bukankah kau yang bilang akan menunggu jam 10?" tanya Kageyama dengan tatapan tajam.


"Maaf, ada beberapa urusan yang harus keselesaikan sebelum datang ke sini," kata Julius sambil membalas dengan tatapan tajam pula.


Kageyama terus menatap tajam ke arah Julius, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua terlihat seperti dua orang yang memiliki konflik. Mereka saling bertatap muka seperti dua predator yang saling bertemu.


Karena tidak ingin ketegangan semakin memanas, aku berusaha mencairkan situasi dengan mengatakan, "Oi, oi. Bukankah kalian ini sahabat?"


"Lupakan saja. Setidaknya kau tidak lupa dengan ucapanmu sendiri," ejek Kageyama pada Julius.


"Maaf soal itu," sahut Julius.


Kageyama dan Julius adalah bangsawan. Bagi seorang bangsawan, waktu adalah uang. Mereka yang tidak bisa menghargai waktu, sama saja dengan sampah.


Setelah ketegangan itu mulai mereda, aku pun berbisik pada Akito. "Oi, Akito. Apa sebenarnya mereka ini musuh?" tanyaku sambil berbisik.


"Entahlah," jawab Akito juga sambil berbisik.


"Apa kau sudah siap bertanding denganku?" Julius bertanya padaku.


"Kenapa tidak?" jawabku singkat.


Sudah diputuskan. Aku dan Julius akan berduel di training center, arena nomor 3.


Aku dan Julius berdiri di arena 3. Kami saling menatap tajam seolah itu adalah pertarungan hidup dan mati.


Akito tampak was-was. Sedangkan Kageyama tersenyum licik seolah sudah tau hasil akhirnya.


Julius menatap Rudi dengan tatapan dingin menusuk tulang. Sedangkan Rudi membalas dengan menatap Julius seolah ia adalah santapan lezat. 

__ADS_1


Pertarungan pun dimulai. 


Light Laser!


Julius langsung membuat bola cahaya di atas telapak tangannya. Dari bola cahaya itu, terpancar laser cahaya berkecepatan tinggi yang menghujam deras ke arahku.


??!!


Aku tertegun sesaat kerena mataku tidak sanggup mengikuti kecepatan laser cahaya itu. Dalam sekejap mata, serangan laser cahaya itu pun telah berada tepat di depan mata kiriku.


Denyut!


Tanpa kusadari, jariku berdenyut. Dan tiba-tiba, serangan laser cahaya Julius menyebar ke segala arah seolah menghantam dinding tak terlihat.


??!!


Julius tersenyum. Ia tidak menyangka kalau serangannya bisa ditahan semudah itu. Mengetahui bahwa lawannya adalah orang yang setara, matanya tampak berbinar seolah mendapat kebahagiaan luar biasa.


Aku kembali tersadar setelah tertegun beberapa saat.


Aku sangat terkejut dengan kecepatan serangan Julius.


"Kecepatannya mengerikan," pikirku.


Serpihan laser cahaya milik Julius menyebar ke segala arah dan menghancurkan segala benda yang di laluinya.


"Apa kau bercanda? Kemampuan macam apa itu? Aku bahkan tidak sanggup melihat datangnya serangan. Lagi pula, kenapa dia bisa menahannya tanpa melakukan apa pun?" Akito bertanya-tanya sambil melihat Rudi dari pinggir arena.


"Kaaakakakakakaka! Menarik ... sungguh menarik. Seperti dugaanku. Dia benar-benar calon monster masa depan," pikir Kageyama sambil menyeringai penuh hasrat.


Melihat 10 bola cahaya yang Julius ciptakan, membuatku langsung menyeringai penuh hasrat.


"Apa kau serius? Hahahaa ... baiklah, ini akan menjadi pertarungan hidup dan mati. Jika aku tidak sanggup bertahan, maka semua impianku hanya akan menjadi omong kosong belaka. Aku akan bertarung hingga batas yang kumiliki!" gumamku dalam hati. 


"Majulah!" teriakku dengan lantang. 


Mata Julius berbinar. Senyum tipis mulai terukir di wajahnya hingga membuatnya terlihat seperti seorang yang haus darah. 


Light Laser!


Laser cahaya super cepat kembali melesat ke arahku.


Aku memegang erat pedang kayu di tanganku sambil bersiap mengayunkannya untuk membelah laser penghancur itu menjadi dua.


Slash!


Serangan laser cahaya itu pun terbelah seperti air terjun yang sedang dipotong.


Krak! Duar!


Pedang kayu yang kupegang langsung hancur hanya dengan menahan 1 serangan laser cahaya Julius.


Julius tidak ingin mengendorkan serangan. Kali ini, ia melesatkan 5 laser cahaya secara bersamaan.


Pedang kayu yang kupegang telah hancur. Aku sudah tidak memiliki senjata apa pun untuk menahan 5 pancaran laser cahaya Julius.

__ADS_1


"Ambil ini!" teriak Akito dari pinggir arena.


Dari luar arena, Akito melempar pedang yang tersedia di luar arena ke arahku.


Tap!


Aku pun sedikit tersenyum sembari mengambil pedang yang Akito lempar. Aku memegang erat pedang itu dengan kedua tangan. Kemudian mengalirkan atribut milikku ke dalam pedang tersebut.


Warna pedang itu pun seketika berubah menjadi warna putih kebiruan dan memancarkan aura pekat. Suhu udara juga mulai terasa dingin.


Semua orang yang melihat pertarungan itu, termasuk Julius, mulai bergidik karena merasakan aura milik Rudi.


Aku mengayunkan pedangku perlahan, dari atas ke bawah. 


Slash!


Aku berhasil membelah 5 laser cahaya penghancur yang dilesatkan bersamaan dengan sangat sempurna.


Duar!


Sekat kaca yang memisahkan antar arena, mulai terlihat retak dan hampir hancur sepenuhnya.


Pertarungan masih terus berlanjut.


Rudi dan Julius seolah tidak memperdulikan area sekitar mereka. Saat ini, yang ada di pikiran mereka hanyalah lawan yang ada di depan mata.


Duar!


Aku melesat kuat hingga membuat lantai arena yang kupijak retak karena hentakan yang tercipta.


Light Laser!


Julius membuat 4 laser cahaya dan melesatkannya ke arahku. Ia seperti berniat menyerangku habis-habisan menggunakan keempat laser tersebut.


Potong, hindar, tebas, tangkis. Aku benar-benar dibuat susah payah menangkis dan menghindari keempat serangan laser itu karena mustahil untuk menghindari kecepatannya yang tak masuk akal.


Baju dan celana yang kukenakan mulai compang camping akibat terkena tekanan kecepatan setiap laser yang berhasil kutebas.


Ice Lance!


Aku melesatkan tombak es raksasa yang kubuat, tepat ke arah kepala Julius.


Duar!


Julius membuat barier cahaya untuk menahan serangan itu. Tapi, bariernya tidak cukup kuat untuk menahan serangan itu sepenuhnya.


Matanya melebar, wajahnya nampak kaget, ia benar-benar seperti tak percaya bahwa bariernya bisa ditembus oleh serangan semacam itu.


Julius pun terpaksa sedikit melompat ke samping untuk menghindari serangan tombak es tersebut. Walaupun sudah berusaha menghindar, ia tidak bisa sepenuhnya menghindari serangan itu. Sehingga, membuat lengan kanannya sedikit tergores dan mengeluarkan darah.


Aku melanjutkan serangan dengan melesat ke arah Julius dengan kecepatan tertinggiku, hingga membuat pijakanku hancur.


Light Sword!


Julius menciptakan pedang dari cahaya, kemudian menangkis tebasan pedangku.

__ADS_1


Aku dan Julius pun akhirnya terlibat dalam pertarungan langsung.


__ADS_2