The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 84 - Lempar Batu Sembunyi Tangan


__ADS_3

Rudi dan kelompoknya mulai bergerak dari desa Alpen menuju bandara Ibukota Roland, kemudian menuju Ibukota Rosso menggunakan transportasi udara, baru setelah itu menuju wilayah kekuasaan kelompok Nero.


Perjalanan dari negara Roland menuju negara Rosso memakan waktu sekitar 12 hari jika menggunakan transportasi darat. Tapi, waktu perjalanan itu bisa ditempuh dengan jauh lebih cepat jika menggunakan transportasi udara.


...*** ...


2 hari kemudian, Rudi dan kelompoknya sampai di Ibukota Roland.


Saat pertama kali memasuki ibukota, Rudi dan kelompoknya dihadang pasukan militer negara Roland.


"Apa-apaan ini?" tanya Rudi pada puluhan pasukan yang menghadangnya.


"Ikut kami," kata salah satu pasukan di sana.


"Saat ini, emosiku sedang memuncak. Jika kalian berniat menghambat kami, kalian pasti akan membayar mahal," kata Rudi dengan tatapan tajamnya.


"Kami diminta Jendral Besar Hans untuk membawa kalian ke istana negara. Ini terkait pembantaian desa Alpen," kata salah satu prajurit di sana.


Rudi dan yang lainnya sangat terkejut saat mendengar hal itu.


"Kalau begitu, cepat bawa kami ke sana," kata Rudi.


"Ikuti kami," kata salah satu prajurit di sana.


Rudi dan kelompoknya mengikuti prajurit itu dari belakang.


Sesampainya di dalam istana negara, Rudi dan kelompoknya langsung disambut seorang bangsawan pria paruh baya.


"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda secara langsung, Tuan Muda Kageyama," kata bangsawan itu sambil menunduk hormat, khas seorang bangsawan.


Di dalam istana itu, hanya ada satu orang saja, yaitu si bangsawan yang menyambut Rudi dan kelompoknya.


"Siapa kau?" tanya Kageyama.


"Nama saya Kiri Kobayashi, dari keluarga Kobayashi," jawab bangsawan itu.


Keluarga Kobayashi adalah salah satu keluarga bangsawan yang memiliki koneksi langsung dengan keluarga Arinto.


"Oh, kobayashi, kah. Ada urusan apa kau di sini? Bukankah keluarga kalian itu tinggal di negara Drail?" tanya Kageyama.


Negara Drail adalah salah satu negara tetangga Roland.


"Keluarga kami mendapat perintah dari divisi intelijen keluarga Arinto untuk memberikan kabar soal penyelidikan yang Anda minta," jawab Kiri Kobayashi.


"Jadi, pengirim suratnya sudah ditemukan?" tanya Kageyama.

__ADS_1


"Saya tidak tau pastinya. Hanya saja, pihak divisi intelijen keluarga Arinto meminta saya untuk menyampaiakan kepada Anda bahwa surat itu dikirim dari negara Greek kepada keluarga Saputra, baru diteruskan ke hotel tempat kelompok Anda menginap," jawab Kiri Kobayashi.


Rudi dan kelompoknya sangat terkejut saat mendengar penjelasan itu.


"Oi, apa informasi itu benar adanya?" tanya Rudi pada bangsawan itu.


"Itulah yang saya terima dari pihak divisi intelijen keluarga Arinto," jawab Kiri Kobayashi.


"Oi, Kageyama, apa informasi itu bisa dipercaya?" tanya Rudi.


"Rudi, jika informasi ini berasal dari pihak intelijen keluargaku, maka tidak ada keraguan. Ini jelas ulah para Badut Arena itu," kata Kageyama dengan wajah penuh amarah.


"Bajingan! Jadi, merekalah pelakunya," kata Akito geram.


"Karena telah dipermalukan di depan jutaan orang, mereka sampai melakukan tindakan seperti ini untuk balas dendam? Sungguh tindakan pengecut," kata Julius geram.


"Tidak bisa dimaafkan," kata Yuta dengan wajah penuh amarah.


"Ayo beri mereka pelajaran," kata Alvin jengkel.


"Kenapa mereka bisa setega itu?" tanya Dian dengan perasaan miris.


"Sialan! Jadi, mereka melakukan ini untuk balas dendam? Aku tidak bisa menerimanya," kata Rudi dengan penuh amarah.


"Itu artinya, pelaku pembantaian desa Alpen adalah kelompok Death Parade, bukan? Selain dikenal sebagai kelompok bayaran, mereka juga punya basis besar di negara Greek," kata Alvin.


"Death Parade adalah salah satu dari 4 All Stars di Benua Timur. Dengan meninggalkan petunjuk palsu, mereka bisa membuat kita berfikir bahwa pelakunya adalah kelompok Nero. Aku yakin, mereka sengaja melakukan ini untuk menyingkirkan kelompok All Stars Nero tanpa perlu terlibat langsung," kata Julius.


"Cih ... jadi, mereka pikir bisa lempar batu sembunyi tangan? Sungguh tindakan yang licik," kata Yuta.


Lempar batu sembunyi tangan adalah pribahasa yang berarti telah melakukan sesuatu perbuatan, kegiatan, dan sebagainya. Tetapi, kemudian berdiam diri, seolah–olah tidak tahu. Menyembunyikan perbuatannya. Dan Akhirnya, yang menjadi korban adalah orang lain, orang yang tidak tahu-menahu, kena getahnya.


"Tunggu sebentar. Bukankah itu artinya, kemungkinan yang sebaliknya juga bisa terjadi?" tanya Rudi pada semua orang.


Semua orang terkejut.


"Benar sekali. Walaupun semua bukti mengatakan bahwa pelakunya adalah tim Lukman dan kelompok Death Parade. Tapi, bagaimana jika ternyata kelompok Nerolah yang lempar batu sembunyi tangan? Bagaimana jika ternyata kelompok Nero sengaja melakukan ini agar kita berfikir bahwa pelakunya adalah kelompok Death Parade? Kelompok Nero saat ini sedang melemah setelah insiden tempo hari. Sehingga, membuat banyak kelompok lain saling bertarung memperebutkan kekuasaan tertinggi. Bisa saja, Nero sengaja melakukan ini untuk menyingkirkan saingan terbesar mereka yaitu Death Parade," kata Kageyama.


"Itu masuk akan," kata Akito.


"Cih ... ini semakin rumit saja," kata Yuta.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Alvin.


"Ayo temui Nero secara langsung untuk mendapat titik terang," jawab Rudi.

__ADS_1


Rudi berserta seluruh anggotanya kemudian meninggalkan negara Roland dan menuju negara Rosso menggunakan pesawat terbang.


Sesampainya di Ibukota Rosso, Rudi dan kelompoknya langsung bergerak menuju wilayah kekuasaan kelompok Nero.


...*** ...


Markas utama Nero.


"Tuan, kelompok Rudi sedang berada di perbatasan barat. Mereka bilang, ingin bertemu dengan Anda secara langsung," kata salah satu bawahan Nero.


"Mau apa lagi mereka?" gumam Nero geram.


"Bawa mereka ke sini. Dan juga, panggil semua eksekutif ke sini," kata Nero pada bawahannya.


"Baik, Tuan," sahut si bawahan, kemudian berlalu pergi.


...*** ...


Di perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero, kelompok Rudi sedang dihadang oleh ratusan anggota kelompok Nero.


Semua anggota kelompok Nero melihat Rudi dan kelompoknya dengan tatapan marah. Tapi, Rudi dan yang lainnya tidak memperdulikan hal itu sama sekali.


Tidak lama berselang, utusan Nero datang ke sana.


"Tuan Nero meminta saya mengantar kalian ke markas pusat. Silakan ikuti saya," kata sang utusan pada kelompok Rudi.


Rudi dan kelompoknya mulai mengikuti utusan itu dari belakang.


Saat mereka mulai memasuki wilayah kekuasaan Nero, banyak anggota kelompok Nero yang melihat kelompok Rudi dengan mata penuh dendam.


Rudi dan kelompoknya tidak memperdulikan semua tatapan orang-orang di sana dan memilih tetap berjalan mengikuti sang utusan.


Sesampainya di depan markas utama kelompok Nero, sang utusan berkata, "Silakan masuk. Tuan Nero sudah menunggu di dalam."


Rudi kemudian membuka pintu markas utama kelompok Nero.


Saat pertama kali membuka pintu, mereka merasakan tekanan aura mencekam yang terpancar dari dalam bangunan markas.


Rudi dan kelompoknya mulai berjalan menelusuri lorong mengikuti sumber aura itu.


Sesampainya di ruangan Nero, Rudi dan kelompoknya langsung disambut dengan tatapan mata mencekam.


Nero, Lando, Bojas, Hugo, dan Killian, duduk di atas sofa sambil menatap tajam ke arah kelompok Rudi. Sedangkan Rudi, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, mulai memasuki ruangan dan duduk di sofa berseberangan.


Kelompok Rudi dan Kelompok Nero sedang berada di satu ruangan dan duduk dalam satu sofa melingkar, seperti sekumpulan mafia yang sedang berunding.

__ADS_1


Kedua kelompok saling tatap seolah seperti ingin menghabisi satu sama lain.


__ADS_2