
"Di mana ini?" gumamku sambil melihat ke sekitar.
Saat ini, aku tengah berada di sebuah tempat yang sepenuhnya putih dan nampak tak berujung.
Di saat aku masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi, tiba tiba muncul 3 orang yang tak asing lagi bagiku. Mereka adalah Ayah, Ibu, dan Firli.
Aku sangat bahagia saat melihat mereka bertiga muncul di depanku. Rasanya ingin menangis, tapi segan karena ada Firli di sana.
"Rudi, apa kau sudah menyerah?" tanya Firli.
"Menyerah? Apa maksudmu?" Aku bertanya balik dengan perasaan bingung.
"Apa kau sudah menyerah dengan hidupmu?" tanya Firli lagi.
"Menyerah dengan hidupku? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan," jawabku dengan perasaan bingung.
Seketika itu, ingatan tentang hidupku mulai membanjiri otakku hingga membuatku meneteskan air mata kesedihan.
"Apa ini? Apa ini adalah ingatan semasa hidupku? Apa aku benar benar telah menjalani kehidupan seperti itu?" tanyaku pada diri sendiri sambil melihat kedua tangan dan berlinang air mata.
"Benar, Nak. Itu adalah ingatan semasa hidupmu. Kau sudah menjalani kehidupan bak di neraka. Dengan segala perjuangan yang kau lakukan, apa kau mau menyerah begitu saja? Apa kau mau membuang semua perjuanganmu begitu saja?" tanya ibuku sambil melihat ke arahku dengan air mata berlinang.
"Maafkan kami kerena tidak bisa meringankan bebanmu. Sungguh ... Ayah minta maaf!" kata ayahku sambil berderai air mata.
Itu adalah kali pertama aku melihat ayahku menangis. Ayahku adalah orang yang sangat kuat dan tegar dalam menjalani hidup. Dan tidak pernah sekali pun aku mendengarnya mengeluh tentang apa pun.
__ADS_1
"Ibu, Ayah!" Aku terduduk saat mendengar ucapan menyayat hati yang dilontarkan ayah dan ibuku.
Aku tidak terlalu mendengarkan ucapan mereka karena yang saat ini yang mengusik pikiranku adalah rasa rinduku pada mereka.
"Rudi, aku tidak menyesal sedikit pun telah membelamu. Justru, aku sangat bahagia karena telah melakukan itu," Firli menghentikan ucapannya sebentar, kemudian melanjutkan sambil berderai air mata, "tolong ... tolong jangan pernah menyerah apa pun yang terjadi. Kau adalah lentera yang akan menyinari dunia. Jika kau menyerah di sini, maka akan ada milyaran manusia yang dipertaruhkan karena kau memegang peran besar dalam jalannya peradaban."
Setelah mendengar ucapan Firli, aku sedikit tertunduk sambil terisak dalam tangis.
Aku kemudian bertanya, "Apa aku harus terus mengalami semua siksaan semacam itu sepanjang hidupku? Apa kalian berniat menyuruhku harus selalu kuat menghadapi segala siksaan yang menghacurkan fisik dan mentalku? Apa ... apa aku harus menahan semua itu lagi dan lagi? Aku sebenarnya ingin tetap berjuang, tapi semua penderitaan yang kualami terasa sangat menyakitkan hingga seolah memaksaku untuk menyerah!"
Aku pun mulai larut dalam tangis kesedihan sambil menundukkan pandangan.
Saat tangisku mulai terasa mencekik leher, tiba tiba Ayah, Ibu, dan Firli merangkulku dengan lembut.
Sambil memelukku lembut, ayahku juga berkata, "Kau adalah anak yang kuat! Kau adalah kebanggan Ayah! Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa menggantikan peranmu di mata Ayah! Ayah tau penderitaanmu tidak mudah. Tapi, percayalah. Suatu saat nanti, nasibmu akan berubah. Yang harus kau lakukan adalah tetap kuat dalam menjalani kehidupan. Karena bagaimanapun juga, dunia adalah panggung yang disiapkan untuk pembuktian!"
Firli juga membisikkan suara lembut saat memelukku erat. "Rudi, percayalah bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa menandingi sinarmu. Aku adalah matahari bagi dunia. Jika sinarmu padam, maka dunia juga akan hancur."
Mendengar semua itu, membuatku menangis sejadi jadinya karena aku tidak bisa lagi menahan luapan emosi yang mengalir dalam pikiranku.
Dengan tangis menyayat hati, aku bertanya pada mereka. "Tapi ... bagaimana? Aku bahkan sudah mati! Bagaimana caraku tetap bertahan jika aku sudah mati?"
Ayah, Ibu, dan Firli kemudian melepaskan pelukan mereka. Dan tidak lama berselang, mereka tiba tiba mulai menghilang sambil meninggalkan satu pesan terakhir. "Dia akan memberimu kesempatan kedua!"
"Ayah! Ibu! Firli! Mau ke mana kalian?" Aku langsung berteriak lantang saat melihat Firli dan kedua orang tuaku yang mulai menghilang.
__ADS_1
Tidak lama berselang, aku mulai merasakan sebuah hawa kehadiran yang tak sanggup dijelaskan dengan kata kata.
Perasaan tenang dan menyegarkan juga mulai membajiri otakku saat sosok yang bahkan tidak bisa kulihat mulai terasa nyata.
"Apa kau akan menyerah atau tetap berjuang?" tanya sosok misterius yang kehadirannya sedang kurasakan.
"Siapa? Siapa itu?" teriakku sambil melihat ke segala arah.
"Kami akan memberimu kesempatan kedua jika kau ingin tetap berjuang. Tapi jika tidak, maka Kami akan menghilangkan segala macam kehidupan yang ada di dunia, termasuk keberadaanmu dan semua orang yang kau kenal!" kata sosok misterius tersebut.
"Apa? Apa maksudnya?" teriakku sambil melihat ke atas karena aku merasa bahwa suara yang kudengar berasal dari atas.
"Pilih dan putuskan! Apakah kau merasa bahwa manusia tetap layak untuk ada, atau kau ingin memusnahkan mereka dan mengahiri segala bentuk kehidupan di dunia? Semua itu berada di tanganmu!" tanya sosok misterius itu lagi.
"Kenapa? Kenapa Kau memberiku pilihan semacam itu? Kenapa manusia rendahan sepertiku harus memilih pilihan sesulit itu?" teriakku.
"Semua manusia memiliki pilihan yang sama, yang membedakan hanya situasi dan kondisi yang mereka hadapi dalam menjalani kehidupan masing masing. Kami tidak menetapkan pilihan itu untukmu, tapi kau sendiri yang membuat dirimu berada dalam pilihan itu. Jika kau menempatkan dirimu dalam pilihan sulit, maka itu sepenuhnya dalam kendalimu. Karena itulah, setiap manusia harus mempertanggung jawabkan pilihan yang mereka ambil. Karena dari setiap tindakan, memiliki konsekuensi yang sepadan," jawab sosok misterius itu.
"Kenapa Kau membuat kami (para manusia) berada dalam situasi sulit seperti itu? Kenapa Kau tidak memberi kami satu hal yang lebih mudah? Apa Kau membenci kami?" tanyaku.
"Kalian sendirilah yang memilih jalan kalian. Kami sudah memberi kalian banyak pilihan bahkan sejak kalian belum terlahir. Kami tidak membeci kalian. Justru, kami sangat menyangi kalian melebihi yang kalian tau," jawab sosok misterius itu.
"Aku bahkan tidak ingat pernah memilih jalan semacam ini! Jika Kau benar benar menyangi kami (para manusia), lantas kenapa Kau harus menyiksa kami dengan siksaan pedih yang tak sanggup dibayangkan?" tanyaku.
"Kau tidak ingat karena segala macam ingatan sebelumnya sedang dikunci. Saat kau telah melewati masa pembuktian diri, maka segala hal akan terungkap. Dan saat hari itu tiba, kalian tidak akan bisa mengelak. Karena bagaimanapun juga, segala pilihan ada di tangan kalian sendiri tanpa adanya ikut campur pihak mana pun! Kami sangat menyayangi kalian lebih dari apa pun! Seorang balita tidak akan pernah bisa memahami kasih sayang orang tuanya, bahkan jika dia adalah balita paling jenius sekalipun! Kadang, orang tua akan membentak dan menghukum anaknya hanya karena hal kecil. Tapi, percayalah! Kasih sayang Kami pada kalian tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang manusia paling penyayang yang ada di dunia. Kalian tidak akan pernah bisa mengerti tentang betapa sayangnya Kami pada kalian sampai waktunya tiba. Sama halnya seperti anak yang baru akan mengerti tentang kasih sayang orang tuanya jika mereka sudah berada di posisi sebagai orang tua!" jawab sosok misterius itu lagi.
__ADS_1