
"Makan itu, Morgan!"
"Haaahahahahahahaha! Dengan begini, dendam kami akhirnya terbalaskan!"
"Sayang, aku berhasil membalaskan dendam kalian!"
Seluruh anggota kelompok Andre yang masih selamat, langsung bersorak gembira saat melihat Morgan akhirnya bisa dikalahkan.
Setelah Morgan dikalahkan, saat ini hanya ada 6 eksekutif Nero yang tersisa. Walaupun rencana yang Rudi siapkan tidak berjalan lancar, tapi situasinya masih terkendali.
Aku menghampiri Andre yang sedang tergulai lemas di tanah karena mendapat banyak luka dan kehabisan force serta staminanya.
"Bukankah kau bilang bisa mengatasi setidaknya 1 eksekutif? Aku berharap banyak padamu dan kelompokmu. Tapi, pada akhirnya kalian gagal menyelesaikan tugas dengan baik," kataku pada Andre.
Andre dan kelompoknya mendapat tugas memancing 2 atau 3 eksekutif dan mengalahkan mereka. Tapi, ternyata mereka sudah hancur hanya karena menghadapi 1 eksekutif saja. Bahkan, Akito harus turun tangan untuk mengakhiri 1 eksekutif tersebut. Hal itu sangat berpengaruh besar untuk ke depannya karena tugas Rudi dan kelompoknya adalah mengalahkan para komandan satuan, eksekutif, dan pemimpin kelompok lawan yang tersisa. Walaupun Akito tidak sampai bertarung habis habisan, tapi itu jelas menguras banyak stamina miliknya.
"Maafkan aku. Aku berfikir dengan kekuatan kelompokku, setidaknya mampu menghabisi 1 atau 2 eksekutif. Tapi, ternyata mereka jauh lebih kuat dari yang kuperhitungkan," jawab Andre.
"Lalu, bagaimana sekarang? Apa kalian akan mundur?" tanya Andre.
"Mundur? Kita sudah sampai sejauh ini. Jika kami mundur, bukankan semua nyawa anggota kalian akan terbuang sia-sia? Lagi pula, sejak awal kami sudah memperhitungkan hal ini akan terjadi. Saat ini, tidak ada pilihan lain selain perang terbuka. Apapun yang terjadi, kami akan terus maju hingga menjatuhkan Nero dan seluruh kelompoknya," jawabku.
Andre dan seluruh anggotanya yang tersisa, hanya bisa tertunduk sambil merenung. Mereka benar benar merasa bersalah karena gagal menuntaskan peran mereka dengan baik.
"Cepat obati mereka yang terluka. Kalian juga harus berjaga di sini dan memantau situasi. Kalau ada pihak lain yang akan ikut campur, berikan tanda menggunakan benda ini." Aku memberikan benda kotak kecil pada Andre, benda itu mirip dengan Walkie Talkie.
Aku kemudian berdiri tegak di depan semua anggotaku.
"Ayo berpesta!" kataku dengan tegas pada seluruh anggotaku.
"Kaaakakakakakakakaka! Seharusnya kita lakukan ini sejak awal!" sahut Kageyama.
"Yah, ini tidak buruk! Setidaknya, kita bisa sedikit mengurangi beban!" sahut Julius.
"Waktunya bersenang senang!" kata Yuta.
"Ayo lakukan," sahut Akito.
Kami sudah tidak punya pilihan. Rencana pengalihan untuk membuka jalan telah gagal. Tapi, setidaknya kami bisa sedikit mengurangi jumlah musuh kuat yang harus ditangani.
Malam itu, aku dan kelompokku sudah bersiap untuk melakukan pesta berdarah.
__ADS_1
Sebelum kami berangkat, pria misterius yang ssebelumnya telah dihajar Morgan, mencoba menghentikan kami.
"Tunggu! Aku ikut dengan kalian!" Saat sedang diobati oleh anggota Andre, pria misterius itu berteriak padaku dan kelompokku.
Aku yang mendengar teriakan pria itu, langsung menoleh ke belakang.
"Apa kau tidak melihat kondisimu? Dengan tubuh seperti itu, kau tidak akan bisa bertarung lagi," sahutku.
"Aku tidak perduli! Tolong bawa aku bersama kalian! Aku ingin menyelamatkan adikku yang sedang di sandra para bajingan itu," kata pria misterius itu.
"Siapa namamu?" tanyaku.
"Alvin! Namaku Alvin!" jawab pria misterius itu.
"Alvin, kau bisa mencari adikmu setelah kami menghancurkan Nero dan kelompoknya. Kami tidak bisa membawa beban bersama kami," kataku.
"Beban? Aku tidak akan menjadi bebanmu! Aku akan menjaga diriku sendiri. Jadi, kalian tidak perlu khawatir. Aku juga tidak meminta kalian menjagaku. Jika aku tidak sanggup mengikuti kalian, kalian bisa meninggalkanku," kata Alvin sambil berusaha berdiri dengan tubuh gemetar.
Aku melihat ke arah anggotaku. Sedangkan mereka hanya diam seolah menyerahkan semua keputusan padaku.
"Cih ... sialan! Aku benci momen seperti ini! Baiklah, baiklah. Kau bebas mengikuti kami. Tapi, kami tidak akan membantumu sama sekali!" kataku pada Alvin.
"Ya, itu sudah cukup! Aku akan bertanggung jawab dengan nyawaku sendiri," balas Alvin, si pria misterius.
"Apa ini?" tanya Alvin.
"Morfin! Setidaknya, itu bisa mengurangi rasa sakitmu," jawab Kageyama.
"Terimakasih," balas Alvin kemudian menelan obat itu.
.
.
Di sisi lain, Eliot saat ini sedang mendatangi markas Morgan.
"Di mana bajingan itu?" tanya Eliot yang mendatangi markas Morgan.
Eliot adalah salah satu eksekutif Nero.
"Apa yang Anda maksud adalah Tuan Morgan?" tanya salah seorang bawahan Morgan yang ada di sana.
__ADS_1
"Memangnya siapa lagi? Di mana bajingan itu sekarang?" tanya Eliot kesal.
"Tuan Morgan belum kembali. Beliau juga belum memberi kabar," jawab si bawahan.
Eliot terdiam sesaat.
"Lalu, bagaimana dengan wilayah perbatasan barat?" tanya Eliot.
"Komandan satuan yang berjaga di sana, telah dikalahkan oleh kelompok Andre. Kami berhasil menyandra beberapa orang dari kelompok Andre yang masih tertinggal di sana. Kami juga berusaha mengorek informasi tentang mereka. Tapi, mereka tidak mau mengatakan apapun dan malah mengatakan bahwa Tuan Morgan sudah tewas," jawab si bawahan.
"Morgan tewas? Apa maksudnya?" tanya Eliot bingung.
"Kami juga tidak mengerti. Mereka hanya mengatakan itu terus menerus walaupun kami terus menyiksa mereka," jawab bawahan itu lagi.
Mendengar hal itu, Eliot mulai berfikir.
"Apa jangan-jangan si bodoh itu benar-benar tewas? Jika iya, penyerangan ini pastilah bukan penyerangan biasa. Mungkin ada dalang yang sengaja memancing Morgan menuju jebakan mereka. Cih ... walaupun dia itu bodoh, kupikir dia tidak akan sebodoh itu sampai-sampai jatuh dalam tipu daya musuh," pikir Eliot.
Di saat Eliot sedang berfikir, tiba tiba ada seorang bawahan yang datang ke sana.
"Gawat! Tu-Tuan ... Tu-Tuan ...." Bawahan itu tidak bisa mengucapkan kalimat dengan baik karena sedang terah engah dan panik.
"Tenanglah! Katakan dengan benar!" bentak Eliot.
"Tu-Tuan Morgan ... Tuan Morgan telah tewas!" kata bawahan tersebut.
Mendengar berita itu, Eliot sangat terkejut. Ia tidak menyangka kalau Morgan telah tewas.
Diantara para eksekutif, Morgan adalah yang terkuat kalau dalam hal fisik. Eksekutif lain sering menjulukinya Monster Otot karen ia adalah tipe petarung yeng mengandalkan kemampuan fisiknya. Walaupun begitu, Morgan bukan orang yang bisa dikalahkan dengan mudah. Bahkan, jendral besar suatu negara kelas bawah hampur tak sebanding dengannya.
"Siapa yang sudah melakukannya?" tanya Eliot dengan wajah marah.
"Kami tidak tau. Baru beberapa saat lalu, seorang penjaga perbatasan barat yang selamat, membawa kepala Tuan Morgan ke sini," jawab bawahan itu lagi.
"Bawa kepala Morgan ke sini!" seru Eliot dengan penuh amarah.
Bawahan itu bergegas pergi untuk mengambil kepala Morgan.
Saat kepala Morgan sudah diletakkan di hadapan Eliot, membuat Eliot merasa marah sekaligus gembira.
Eliot melihat wajah Morgan yang tampak bahagia. Walaupun Morgan kalah, tapi Eliot yakin bahwa Morgan kalah dengan terhormat.
__ADS_1
"Akan kubunuh siapapun yang sudah menganggu kelompok kami!" pikir Eliot sambil berjalan meninggalkan markas Morgan.