
"Kau berhasil mengalahkan Hans?" tanya Hendri padaku.
"Oh, maksudmu orang gila yang sudah menghancurkan setegah ibukota? Ya, aku sudah menghajarnya," jawabku sambil mengepalkan tangan.
Hendri tertegun sejenak setelah mendengar jawaban Rudi. Ia benar benar tidak menyangka kalau Rudi sanggup mengalahkan Hans dalam duel terbuka.
"Hans bukanlah orang sembarangan. Bahkan di kancah dunia, ia cukup diakui dan dianggap masuk di Top 1 Persen Elit dunia. Mengingat pertempuran melawanku beberapa waktu lalu, seharusnya bocah ini tidak akan sanggup mengalahkan Hans. Lalu kenapa dia (Hans) bisa kalah oleh bocah yang namanya tidak dikenal? Apa bocah ini menggunakan cara curang?" pikir Hendri.
"Oi, bocah! Katakan padaku, bagaimana caramu mengalahkan Hans?" Hendri bertanya padaku.
"Oh, ayolah. Sampai kapan kita harus berbincang seperti ini? Apa kau tidak melihat semua lukaku ini?Aku tidak mau terus kedatangan orang baru karena aku ingin segera istirahat. Jika kau memang penasaran, kau bisa melihat tayangan ulangnya. Yah, itupun kalau kau bisa keluar dari sini hidup-hidup," jawabku sambil sedikit tersenyum.
"Dasar bocah! Akan kuhancurkan semua tulang-tulangmu itu!" kata Hendri marah.
"Hoho ... sepertinya menarik," jawabku santai.
Dengan emosi memuncak, Hendri memulai serangan dengan membuat badai api raksasa yang sanggup menghanguskan sebuah desa kecil dalam sekejap mata.
Fire Strom!
Hendri melesatkan badai api besar ke arahku dan Akito.
Aku melirik Akito. Sedangkan Akito membalas dengan senyum tipis.
"Ayo selesaikan ini semua," kataku sambil mulai meluncur di dataran es yang kubuat sebelumnya.
"Ya," jawab Akito singkat sambil meluncur di sampingku.
Frezee!
Aku membuat serangan es mirip gelombang tsunami untuk menghalau serangan badai api yang Hendri lepaskan.
Duar!
Gelombang es yang kubuat berhasil menahan badai api tersebut.
Ledakan hebat pun seketika terdengar akibat benturan dua atribut yang saling bertolak belakang.
Karena tidak mau tertinggal dalam pesta, Gary juga melesat maju ke arah Rudi sambil bersiap memukulnya.
Seolah tidak perduli, aku tetap melesat maju dengan mata terfokus pada Hendri yang ada di depanku.
Dalam sesaat, Gary sudah berada tepat di sampingku dan siap memukulku. Tapi, sebelum ia berhasil melakukannya, tiba-tiba ...
Bem!
Akito memukul kepala Gary sesaat sebelum tinjunya menyentuh wajahku.
Gary pun terlempar ke belakang hingga menghantam tanah.
"Akulah lawanmu," kata Akito yang berdiri tegak sambil melihat Gary yang terjerembab ke tanah.
"Cih ... kalian benar-benar kombinasi memuakkan!" gumam Gary.
__ADS_1
Di sisi lain, aku mulai menghunuskan katana bekuku sambil meluncur cepat ke arah Hendri.
Fire Arrow!
Hendri menciptakan puluhan anak panah api dan melesatkannya ke arahku yang sedang meluncur cepat di atas es menuju ke arahnya.
Di bawah hujan puluhan anak panah api itu, aku memotong, menghindar, menangkisnya sambil terus meluncur cepat. Senyum tipis mulai terukir di wajahku sambil tetap bergerak maju, seolah aku tengah mendapatkan kepuasan tertinggi.
Hendri bersiap dengan membuat barier api. Sedangkan aku melesat sambil menghunuskan katana beku di tanganku dengan kecepatan tinggi.
"Majulah, bocah!" teriak Hendri.
"Dengan senang hati!" sahutku.
Slink! Slash!
Aku berhasil menembus barier api itu dan menebas tubuh Hendri.
"Argh!" Hendri muntah darah karena luka tebasan itu cukup dalam.
Hendri berusaha sekuat tenaga untuk tidak tumbang. Dengan semua sisa tenaganya, ia membuat sebuah bola api raksasa seukuran gunung.
Melihat itu, aku pun bersiap dengan mengalirkan semua force ke dalam katanaku.
Mereka berdua tau bahwa serangan itu akan menjadi penentu kemenangan antara keduanya.
"Matilah, bocah!" seru Hendri sambil melesatkan bola api raksasa itu ke arahku.
Saat aku memejamkan mata, udara di sekitarku mulai terasa membeku. Tubuh, katana, dan nafasku juga terasa seperti menguapkan asap dingin.
Saat aku mulai membuka mata, muncul pancaran cahaya tipis berwarna biru dari kedua bola mataku.
Aku pun mulai mengayunkan katanaku dari atas kepala ke arah tanah dengan perlahan.
Saat aku menganyunkan katana, waktu seolah berhenti.
Ice of Divide Dimension!
Aku berhasil membelah dimensi dan membuat apapun yang ada dalam lintasan serangku terbelah tanpa terkecuali.
Slink!
Bola api raksasa seukuran gunung pun terbelah menjadi dua. Tidak berhenti sampai di situ, tangan kanan Hendri yang berada dalam lintasan serangku juga ikut terpotong.
Duar!
Bola api raksasa itu meledak hingga menimbulkan suara menggelegar. Efek ledakannya bahkan sanggup menimbulkan gelombang kejut yang terasa hingga 100 meter jauhnya.
"Apa-apaan ini?" pikir Akito sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlempar.
"Ledakan macam apa ini?" pikir Gary yang juga berusaha menahan gelombang kejut tersebut.
"Uaaa ... bertahanlah!" teriak sang reporter yang sedang meliput dari kejauhan dan berusaha bertahan agar tidak terlempar.
__ADS_1
"Kenapa ledakannya bisa sekuat ini?" tanya sang kameramen yang juga berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlempar.
Para penonton yang melihat ledakan itu, benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang sedang mereka lihat. Ada yang menahan nafas, berkeringat dingin, hingga terbelalak karenanya.
Aku berusaha menahan dampak ledakan itu dengan membuat dinding es.
Sesaat setelah dampak ledakan mulai mereda, aku melihat seluruh area seluas 1 kilometer persegi, telah berubah menjadi hamparan tanah lapang.
Bola api raksasa yang telah terbelah dan meledak itu menimbulkan kawah raksasa super massive di sana.
Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah tubuh Hendri yang sudah tergeletak di atas tanah. Lalu berjalan mendekati tubuhnya yang sudah tergulai tidak berdaya. Tangan kanannya juga telah hilang entah ke mana.
"Argh! ... Kau benar-benar monster," kata Hendri lirih. "Cepat bunuh aku," imbuhnya dengan mulut penuh darah.
"Aku tidak berniat membunuhmu," kataku singkat sambil mulai berjalan meninggalkan tubuh Hendri yang tergulai lemas.
Aku meninggalkan Hendri bergitu saja karena aku berniat mencari Akito yang sedang bertarung melawan Gary.
Setelah mencari cukup lama, aku akhirnya menemukan Akito yang tengah berdiri sambil memegang kerah Gary yang telah tergulai lemas.
"Apa kau sudah selesai?" tanyaku yang sedang berdiri di belakang Akito.
"Ya, bagaimana denganmu?" Akito balik bertanya tanpa melihat ke arahku. Matanya tetap fokus menatap Gary yang sudah tergulai lemas di hadapannya.
"Haaahahahahahahaha! Seperti yang kau lihat," jawabku santai.
"Lagian, apa-apaan itu? Kenapa tiba-tiba ada ledakan sedahsyat itu? Apa kau yang melakukannya?" tanya Akito yang mulai menghadap ke arahku.
"Hmm ... mungkin iya, mungkin juga tidak," jawabku sambil mengalihkan pandangan.
Dengan begitu, aku dan Akito telah resmi keluar sebagai pemenang dalam perang tersebut.
Di sisi lain, sang reporter terus berbicara di depan kamera untuk memberikan gambaran perihal perkembangan pertempuran di Ibukota Roland.
"Sepertinya, pertempuran ini sudah berakhir dengan kemenangan kelompok bocah yang tidak dikenal. Ini benar-benar luar biasa. Kelompok yang hanya beranggotakan 2 orang mampu menumbangkan kelompok yang jauh lebih besar dan para petinggi militer negara Roland sekaligus. Saya benar-benar tidak tau harus mengatakan apa. Tapi satu hal yang pasti, calon superstar baru telah terlahir. Kita sungguh beruntung karena bisa melihat kelahiran Super Rookie yang baru saja memulai debutnya," kata sang reporter yang melaporkan langsung dari lokasi pertempuran.
Di sisi lain, orang-orang yang sedang menyaksikan dari televisi, mulai gempar karena mengetahui bahwa kelompok beranggotakan 2 bocah tak dikenal berhasil mengalahkan para monster yang berkuasa di negara Roland.
"Ahh ... kenapa? Kenapa kalian kalah?"
"Siapa sebenarnya kedua bocah itu?"
"Yeah! Kerja bagus, bocah!"
"Hendri ... hiks ... hiks ...."
"Makan itu Ciel."
Mendengar narasi sang reporter, membuat semua orang yang menyaksikan akhir dari pertempuran itu larut dalam berbagai macam emosi. Ada yang suka, benci, bahagia, sedih, menangis, tertawa, dan membuat semua emosi itu bercampur jadi satu.
Sang kamramen pun terus menyorot wajah Rudi dan Akito dari kejauhan.
Dalam pertempuran yang melibatkan Jendral Besar dan ketujuh Jendral Roland, kelompok Gary, kelompok Hendri, kelompok Ciel, dan kelompok Rudi, akhirnya dimenangkan mutlak oleh kelompok Rudi.
__ADS_1