
Aku dan Akito berhasil melarikan diri dari markas rahasia kelompok yang telah menahan kami dengan cukup mudah.
Setelah berhasil melarikan diri dari sana, kami berdua pergi ke hutan yang terletak tidak jauh dari markas kelompok tersebut.
Kami masuk jauh ke dalam hutan agar keberadaan kami tidak terlacak oleh kelompok tersebut.
Kami mendirikan rumah sederhana di sana sebagai tempat berteduh.
Untuk bertahan hidup, kami biasa berburu binatang yang ada di sana.
Di dalam hutan itu, kami terus berlatih dan berlatih tanpa henti.
Kadang, kami menjadikan hewan buas seperti harimau, serigala, singga, hingga ular yang ada di sana sebagai bahan latihan.
Selama berlatih mengendalikan force, aku dan Akito menghadapi banyak kesulitan besar. Tapi, kami tidak pantang menyerah dan terus berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengontrol aliran force dalam waktu singkat.
Setelah berlatih selama 1 tahun penuh, kami akhirnya mulai mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan kepada kelompok yang dulu sudah mengurung dan menyiksa kami.
"Akito! Bukankah sekarang sudah waktunya?" tanyaku.
"Ya, ayo lakukan!" jawab Akito.
Aku dan Akito sudah cukup yakin dengan kemampun masing masing karena kontrol force kami sudah jauh meningkat pesat dari 1 tahun lalu.
Setelah semua persiapan selesai, malam itu kami mulai berangkat menuju markas kelompok yang dulu telah mengurung dan menyiksa kami.
Kami sengaja melakukan penyerangan malam hari agar lebih mudah menyusup tanpa diketahui.
Sesampainya di dekat markas kelompok incaran kami yang berada di pinggiran kota, kami melihat ada 5 pria yang berjaga di luar markas.
"Akito, apa kau siap?" Aku bertanya pada Akito dengan berbisik.
"Ayo lakukan!" jawab Akito dengan berbisik.
Kami berdua kemudian mulai berlari ke arah kelima orang tersebut.
Saat kelima tersebut menyadari keberadaan kami, mereka langsung bersiap sambil memegang senjata masing masing.
__ADS_1
"Siapa kalian?" tanya orang pertama pada kami berdua sambil menodongkan senjatanya.
Tanpa menjawab satu kata pun, aku dan Akito tetap berlari kencang ke arah mereka berlima, berniat menjatuhkan kelimanya.
Hanya dalam beberapa gerakan saja, kami berhasil mengahkan kelima orang itu tanpa masalah besar, hingga membuat mereka terkapar tak sadarkan diri.
Saat kelima orang tersebut tengah terkapar tak sadarkan diri, aku dan Akito kemudian mengikat tubuh mereka menggunakan tali berlapis force yang sudah kami persiapkan sebelumnya.
"Apa mereka ini sering menyiksamu?" Akito bertanya padaku sambil melihat ke arah kelima pria yang sedang terikat tak sadarkan diri.
"Sepertinya tidak, karena aku tidak terlalu mengingat wajah mereka," jawabku sambil melihat kelima pria tersebut.
Aku dan Akito kembali melanjutkan misi, yaitu menghancurkan kelompok yang telah menahan kami.
Kami pun mulai memasuki markas dengan sehati hati mungkin agar keberadaan kami tidak menarik banyak perhatian.
Sesampaimya di bagian dalam markas, kami melihat ada 10 orang yang sedang asik bersantai. Dan 6 diantara mereka, sudah tidak asing lagi bagiku karena keenam orang tersebut merupakan orang yang paling sering menyiksaku.
Aku dan Akito langsung berlari ke arah 10 orang tersebut, berniat menjatuhkan mereka sebelum mereka menyadari keberadaan kami. Tapi, 10 orang tersebut bisa langsung menyadari keberadaan kami dengan cepat. Sehingga, membuatku dan Akito terpaksa terlibat pertarungan cukup sengit melawan 10 orang tersebut.
Sambil terus bertarung, orang pertama bertakata, "Hoho ... siapa ini? Apa kalian kembali ke sini untuk mengantar nyawa?"
"Haaahahahahahahaha! Jangan bercanda, bocah! Apa kalian pikir kalian cukup kuat untuk mengalahkan kelompok kami?" tanya orang pertama sambil tertawa puas.
Sambil memberikan tatapan tajam, aku menjawab, "Kita tidak akan tau sebelum mencobanya!"
Di saat kami masih bertarung sambil berbincang, tiba tiba muncul 25 orang tambahan.
25 orang tersebut datang ke sana karena mendengar suara pertarungan Rudi dan Akito melawan 10 orang di sana.
Melihat kedatangan 25 orang tambahan dari kelompok tersebut, membuat pertarungan kami terhenti.
Aku dan Akito nampak cukup panik dan terkejut saat melihat kedatangan 25 orang tambahan tersebut. Dan yang mambuatku lebih terkejut, karena di antara 25 tersebut, terdapat pria yang sudah menolongku beberapa kali.
"Ada apa ini? Kenapa di sini berisik sekali?" tanya salah satu dari 25 orang tambahan yang baru saja datang.
"Lihatlah! Kedua bocah yang kabur 1 tahun lalu, telah kembali untuk menyerahkan diri!" kata orang pertama yang sebelumnya berbincang denganku.
__ADS_1
Sambil melihat ke arahku, pria yang sudah beberapa kali menolongku dari kematian, mulai bertanya padaku dan Akito. "Kenapa kalian kembali? Apa kalian ingin merasakan siksaan lagi?"
Sambil menatap tajam ke arah pria tersebut, aku menjawab, "Kami datang ke sini untuk memusnahkan kelompok kalian!"
Mendengar ucapanku, membuat hampir semua orang di sana tetawa geli.
"Haaahahahahahaha! Memusnahkan kami? Jangan bercanda, bocah!" ucap salah satu dari mereka.
Berbeda dengan reaksi orang orang lainnya, pria yang sering menolongku hanya terdiam sambil melihat ke arahku.
Setelah reuni singkat dengan para anggota kelompok tersebut, aku dan Akito mulai terlibat pertarungan sengit melawan mereka semua.
Jual beli serangan terus terjadi hingga menimbulkan rentetan ledakan hebat yang menghancurkan hampir sebagian markas tersebut.
Karena tidak mau menghancurkan markas itu, aku dan Akito berlari ke luar markas.
Jika pertarungan sampai menghancurkan markas tersebut, hal itu akan membuat orang orang yang masih ditahan di dalam sana menjadi korban. Demi menghindari hal tersebut, kami pun sengaja memancing seluruh anggota kelompok tersebut keluar dan menjauh dari markas.
Di luar markas, pertarungan kami terus memanas.
Jual beli serangan, ledakan atribut, hingga rentetan ledakan terus menggema di udara menghiasi langit malam.
Semakin lama bertarung, aku dan Akito berhasil menumbangkan lawan satu per satu berkat kombinasi kami berdua.
Aku dan Akito bertarung saling melengkapi satu sama lain, baik saat bertahan maupun menyerang.
Kombinasi serangan jarak jauh dan jarak dekat juga terus kami pertontontakan dengan indah saat menghadapi puluhan orang di sana.
Setelah hampir 2 jam bertarung, kami berdu akhirmya sanggup menumbangkan seluruh anggota kelompok tersebut.
Walaupun kami berhasil memenangkan pertempuran itu dengan cukup mudah, tapi kami juga menderita beberapa luka serius di sekujur tubuh.
Di antara 35 orang dari kelompok incaran kami, hanya sang pemimpin dari kelompok tersebut yang masih sadarkan diri.
Dengan tubuh tergulai lemas di tanah, pemimpin kelompok tersebut bertanya pada kami. "Kenapa kalian tidak membunuh kami?"
"Aku akan membunuh kalian! Bersantailah dan nikmati waktu terakhir dalam hidupmu!" jawabku dengan nafas berat karena kelelahan.
__ADS_1
Pemimpin kelompok tersebut adalah orang yang telah beberapa kali menyelamatkan dan membantuku lolos dari kematian. Salah satunya adalah saat dia menghentikan tebasan orang yang telah membunuh ayahku.
Rudi dan Akito bisa mengalahkan kelompok incaran mereka dengan cukup mudah karena kelompok tersebut hanya berada di tingkat rendah. Sehingga, tidak sulit untuk menumbangkan mereka dengan kemampuan Rudi dan Akito saat ini.