
3 hari kemudian, Rudi dan Akito asik berkeliling kota Trebol.
Di sepanjang jalan, banyak orang yang terus menyapa mereka berdua tanpa henti. Orang-orang itu menganggap Rudi dan Akito layaknya superstar.
Hal itu disebabkan oleh prestasi besar yang baru saja mereka torehkan.
Orang-orang itu berani menyapa Rudi dan Akito dengan sapaan ramah karena mereka berdua tidak punya catatan kriminal atau sebagainya. Sehingga, membuat banyak orang yang menjadikan Rudi dan kelompoknya sebagai panutan mereka.
Saat mereka berdua sedang asik menikmati indahnya kota. Tiba-tiba, ada seorang anak kecil yang menabrak Rudi.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rudi pada anak laki-laki yang menabraknya.
"Aku baik-baik saja," jawab anak itu, kemudian berlari menjauh.
Anak itu berlari kencang menjauh.
Sesampainya di sebuah gang sempit, anak itu memeriksa dompet yang telah ia curi saat menabrak Rudi sebelumnya.
"Waaah ... aku dapat tangkapan besar," kata anak itu dengan wajah gembira.
Di saat anak itu masih larut dalam kegembiraannya. Tiba-tiba, Rudi dan Akito sudah ada di sana.
"Kembalikan," kata Rudi kepada anak yang sudah mencuri dompetnya.
"Se-Sejak kapan?" tanya anak itu bingung. Ia tidak sadar kalau ternyata, Rudi dan Akito telah berada di sana.
"Kembalikan. Jika kau butuh uang, seharusnya kau mencari cara yang lebih baik. Jangan mencuri," kata Rudi pada anak itu.
Karena panik, anak itu tidak mendengarkan ucapan Rudi dan memilih berlari menjauh.
Anak itu berlari sekuat tenaga agar bisa meloloskan diri dari kejaran Rudi dan Akito.
Saat anak itu sampai di gang lain, Rudi dan Akito sudah ada di sana lebih dulu.
Anak itu kembali berlari ke arah yang berbeda. Tapi, ke mana pun ia pergi, Rudi dan Akito selalu selangkah lebih dulu.
"Baik, ini," kata anak itu sambil memberikan dompet yang telah ia curi.
Rudi mengambil dompet itu. Kemudian bertanya pada anak itu.
"Kenapa kau mencuri?" tanya Rudi pada anak itu.
"Kenapa aku mencuri? Tentu saja untuk bertahan hidup! Kalian yang dibesarkan dengan uang melimpah tidak akan pernah mengerti penderitaanku yang harus berjuang hidup tanpa ada yang mau membantu," jawab anak itu.
Rudi dan Akito diam sejenak.
Rudi kemudian mengatakan sesuatu.
"Carilah perkerjaan lain. Mencuri itu tidak baik," kata Rudi sambil bersiap pergi dari sana.
"Tidak baik? Aku tau itu, dasar bodoh!" balas anak itu.
Rudi dan Akito kemudian pergi meninggalkan anak itu.
"Hoi, apa kau berfikiran sama denganku?" tanya Akito yang berjalan di samping Rudi.
"Ya, ayo kita ikuti anak itu," balas Rudi.
Mereka berdua pun mengikuti anak itu diam-diam.
Mereka terus mengikuti anak itu hingga sampai di sebuah bangunan tua di pinggir kota.
__ADS_1
Di dalam bangunan itu, ada sekitar 10 anak kecil dan 5 pria dewasa.
Anak yang sudah gagal mencuri dompet milik Rudi, sedang melapor kepada 5 pria dewasa yang sedang asik bermain kartu.
"Mana setorannya?" tanya salah satu laki-laki di sana kepada anak itu.
"Maaf, Bos. Saya tidak dapat apapun hari ini," jawab anak itu dengan wajah takut.
Laki-laki di itupun marah karena anak itu kembali tanpa membawa uang setoran.
"Kalau begitu, pergi dari sini dan jangan pernah kembali sebelum kau membawa uang setoran!" bentak pria itu sambil mendorong tubuh anak kecil itu.
Kelima pria itu terus memarahi anak kecil itu sambil memukulinya.
Anak-anak lain terlihat sangat ketakutan saat melihat bocah itu sedang dihajar habis-habisan.
Rudi dan Akito langsung muncul di sana karena tidak tahan melihat perlakukan kasar para pria di sana.
"Hentikan," kata Rudi pada sekumpulan orang-orang yang sedang menghajar bocah laki-laki itu.
"Siapa kalian? Berani sekali masuk ke sini seenaknya," kata salah satu pria di sana.
"Tidak perlu memperdulikan siapa kami. Kalian seharusnya tidak memperlakukan anak kecil seperti itu," sahut Rudi.
"Kuberitahu padamu, bocah! Di sini bukan tempat bermain. Jika kalian ingin bermain, sebaiknya lakukan di tempat lain," kata salah satu pria di sana.
"Kau pikir aku perduli?" tanya Rudi dengan tatapan tajamnya.
"Bos, jika diperhatikan lagi. Wajah bocah itu sepertinya tidak asing," kata pria kedua.
"Apa kau mengenalnya?" tanya pria pertama.
"Hahahahahahaha! Dia? Jangan bercanda!" sahut pria pertama sambil tertawa lepas.
Pria kedua kemudian berlari menjauh untuk mengambil surat kabar beberapa hari lalu yang tergeletak di meja.
Saat pria kedua melihat foto yang dipajang di halaman paling denpan surat kabar, seketika, tubuhnya gemetar karena takut.
"Bos ... di-dia ... di-dia ... dia benar-benar bocah yang sudah mengalahkan All Stars Nero. Lihat ini," kata pria kedua sambil menunjukkan gambar wajah Rudi yang dipajang di halaman depan surat kabar.
Keempat pria lain terdiam. Mereka semua mulai berkeringat dingin.
Mereka melihat gambar wajah di surat kabar, kemudian wajah Rudi. Mereka melihat wajah Rudi, kemudian gambar wajah di surat kabar.
Saat mengetahui bahwa gambar wajah di surat kabar sama dengan wajah orang di hadapan mereka, kelima pria itupun langsung bersujut sambil meminta maaf.
"To-Tolong maafkan kami atas kelancangan kami. Kami tidak bermaksud menyinggung Anda," kata pria pertama dengan nada bergetar karena takut.
Rudi mulai menghunus katananya. Tapi, belum selesai Rudi menghunus katananya. Tiba-tiba, anak-anak di sana langsung berteriak histeris.
"Jangan! Jangan bunuh mereka! Kami mohon jangan bunuh mereka!" teriak salah satu anak di sana.
Rudi menghentikan gerakannya, gerakan menghunus katana, saat mendengar teriakan anak-anak di sana.
"Kenapa?" tanya Rudi pada anak-anak di sana.
"Walaupun Bos Aldi sangat kejam kepada kami. Tapi, kami sudah menganggapnya seperti orang tua kami sendiri. Jika bukan karena Bos Aldi, kami tidak akan bisa bertahan hidup sampai saat ini," jawab salah satu anak di sana.
Rudi kembali menyarungkan katananya dan mengurungkan niatnya untuk menghabisi kelima pria itu setelah mendengar penjelasan salah satu anak di sana.
Rudi kemudian bertanya kepada para pria di sana.
__ADS_1
"Oi, apa kalian dengar itu? Anak-anak itu menganggap kalian seperti orang tua mereka sendiri. Kalian seharusnya memperlakukan mereka dengan baik," kata Rudi pada kelima pria di sana.
"Maafkan kami! Kami berjanji akan memperlakukan mereka dengan lebih baik," kata pria pertama sambil bersujud di depan Rudi dan Akito.
"Kuberikan kalian kesempatan. Jika kalian tetap memperlakukan anak-anak ini dengan kejam, kalian akan membayarnya," kata Rudi.
"Kami berjanji," sahut kelima pria di sana.
"Tapi sebelum itu, aku akan menghajar kalian karena telah memperlakukan anak-anak itu dengan buruk," kata Rudi.
Bruk! Brak! Plak! Cepak! Jeder!
Rudi dan Akito menghajar kelima pria itu hingga babak belur.
Rudi kemudian mendekati anak-anak di sana.
"Hei, jangan mencuri lagi. Ini, kuberikan 100.000 gale. Kalian bisa menggunakan uang itu untuk mulai membangun usaha yang lebih baik," kata Rudi pada anak-anak di sana sambil memberikan uang yang tersimpan di tabungannya.
*NOTE: 100.000 gale jika di rupiahkan, setara dengan 1.5 milyar Rupiah. Per satu gale setara dengan 15.000 Rupiah. Hanya untuk informasi.*
Rudi juga tidak lupan memberikan pin tabungannya agar mereka bisa mengambil uang di tabungan itu.
"Te-Terimakasih, Tuan. Kami berjaji akan menggunakan uang ini untuk membangun usaha yang lebih baik," sahut salah satu anak di sana dengan rasa bahagia.
Rudi kemudian kembali menatap kelima pria di sana.
"Dan untuk kalian. Pastikan kalian memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak ini. Jika aku mendengar kalian memanfaatkan atau bahkan menyiksa anak-anak ini, akan kukuliti kalian sedikit-demi sedikit hingga merasakan neraka yang sesungguhnya," kata Rudi pada kelima pria di sana dengan tatapan membunuh.
"Ka-Kami berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka, Tuan," sahut kelima pria di sana dengan tubuh babak belur.
Rudi dan Akito kemudian pergi dari gedung tua itu.
...***...
Rudi dan Akito berjalan menuju hotel tempat mereka menginap.
"Apa mereka bisa dipercaya?" tanya Akito sambil berjalan di samping Rudi.
"Hanya ini yang bisa kita lakukan. Jika kita menghabisi kelima pria itu. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anak itu?" tanya Rudi sambil terus berjalan menuju hotel tempat mereka menginap.
"Ya, kau benar juga. Jika kita menghabisi orang-orang itu, secara tidak langsung, kita juga akan menyiksa anak-anak itu," sahut Akito.
Rudi dan Akito melanjutkan perjalanan mereka menuju hotel tempat kelompok mereka menginap.
...***...
Sesampainya di kamar hotel, Kageyama dan yang lainnya sudah menunggu Rudi dan Akito di sana.
Kamar hotel.
"Ke mana saja kalian?" tanya Julius.
"Kami hanya sedikit jalan-jalan," jawab Rudi.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Akito.
"Soal itu ...." Julius menghentikan ucapannya.
"Oi, jangan membuatku tegang. Katakan ada apa?" tanya Rudi pada semua orang di sana.
Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, hanya terdiam sambil menatap ke bawah.
__ADS_1