The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 102 - Nafas Terakhir


__ADS_3

Aku dimasukan ke dalam ruangan sel yang sangat kecil dan pengap. Saking kecilnya, hingga membuatku kesulitan bergerak, seolah semua sisi ruangan sedang menghimpit tubuhku.


Di dalam sel tersebut, tidak ada sedikit pun cahaya matahari yang bisa menembus masuk.


Sudah hampir 1 minggu lamanya sejak aku dikurung di sana tanpa diberi kesempatan keluar sama sekali.


Aku pun terpaksa kencing, berak, hingga tidur dan makan dalam satu ruangan yang sama.


Walaupun harus sambil menahan bau yang tidak sedap, aku tetap harus kuat karena tidak punya pilihan selain terus bertahan.


Aku hanya diberi makan 1 kali sehari. Makanan yang diberikan padaku bukanlah makanan yang layak. Karena makanan tersebut adalah makanan sisa yang sesekali dicampur tanah atau puntung rokok.


Aku memang tidak disiksa secara fisik. Akan tetapi, penyiksaan mental yang kuterima saat ini terasa jauh lebih menyakitkan dari pada penyiksaan fisik yang kualami sebelumnya.


Di dalam sel itu, aku terus membayangkan detik detik terakhir sebelum kematian Firli. Selain itu, aku juga belum bisa melupakan insiden pembantaian desaku yang mengakibatkan kematian kedua orang tuaku.


Hari demi hari terus kulalui sambil memupuk dendam di dalam hati.


Aku ingin menguatkan dan menancapkan dendam itu di dalam hati hingga mengakar ke dalam jiwaku.


Aku bertekat terus bertahan hidup agar suatu saat bisa menghabisi Morlan dan seluruh anggota kelompok yang menahanku saat ini, demi membalas semua perbuatan yang telah mereka lakukan padaku dan orang orang yang kusayangi.


1 minggu kemudian, ada 5 orang yang mulai membuka pintu selku.


Aku menatap kelima orang itu dengan tatapan penuh kebencian mendalam.


"Lihatlah bocah itu! Betapa menyedihkannya dia sekarang!" kata orang pertama sambil menyeringai saat melihatku.


"Baunya sangat busuk!" kata orang kedua sambil menutup hidung dan mengibaskan tangan, berniat menepis aroma busuk yang ada di sekitar.


Kelima orang itu kemudian menyeretku keluar. Lalu mengikat tangan dan kakiku ke tiang berbentuk silang.


Salah satu dari mereka kemudian menyemprotku menggunakan air panas bertekanan tinggi.


Saat air tersebut mengenai kulitku, aku langsung tertawa lantang. Aku melakukan itu bukan karena senang, melainkan untuk menahan dan mengalihkan rasa sakit yang kualami.


"Mandilah! Baumu terlalu busuk!" kata orang pertama sambil memegang selang yang menyemprotkan air panas bertekanan tinggi ke arahku.


"Bagaimana? Apa air hangat itu terasa nikmat?" tanya orang kedua sambil melihatku yang sedang meronta ronta dan terus tertawa lantang.

__ADS_1


"Dia sepertinya sudah gila! Bukannya menjerit, dia malah tertawa!" kata orang ketiga sambil melihatku dengan wajah keheranan.


"Mungkin, dikurung di ruangan itu membuat otaknya rusak!" sahut orang keempat sambil melihat ke arahku.


Berbeda dengan keempat orang lainnya, orang kelima justru nampak kasihan saat melihatku harus mengalami penderitaan yang jauh lebih menyakitkan dari pada kematian.


"Haaahahahahahahahahaha!"


Walaupun kulitku mulai melepuh, tapi aku terus tertawa lantang, seolah menikmati penderitaan itu.


Setelah selesai dimandikan, aku dikembalikan ke dalam sel tempatku dikurung.


Saat melihat ke dalam, aku mendapati selku nampak lebih buruk dari yang sebelumnya.


Selku saat ini seperti habis diguyur air dan membuat seisi ruangan menjadi jauh lebih kacau dari yang sebelumnya. Bau busuk juga semakin tercium karena kotoran dan segala macam hal yang ada di sana menjadi basah dan menyatu jadi satu.


Aku tidak ingin kembali ke sana, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku ingin melawan dan memberontak, tapi aku juga tidak bisa melakukannya. Yang bisa kulakukan saat ini hanya menerima keadaan.


Hingga 6 bulan lamanya, siksaan fisik dan mental terus kudapat tanpa henti.


Selama 6 bulan terakhir, kebencianku benar benar telah mencapai puncak, hingga membuatku kesulitan berfikir jernih.


Saat mendapat siksaan kejam bukannya menagis dan menjerit, aku malah tertawa dengan wajah penuh kebencian dan amarah mendalam.


Setiap selesai disiksa secara fisik, aku dikembalikan ke dalam sel yang tidak pernah dibersihkan selama 6 bulan terakhir untuk menyiksa mentalku.


Hal itu terus terulang lagi dan lagi, hari demi hari, hingga 1 tahun lamanya sejak aku pertama kali mulai dikurung di sana.


Saat ini, aku sedang meringkuk di pojok sel sambil menatap tembok dengan tatapan kosong.


Mentalku sudah benar benar hancur. Aku bahkan tidak ingat lagi dengan kebencian dan dendamku karena pikiranku sudah kacau akibat menahan semua penderitaan yang kualami.


"Jangan menyerah!"


Di saat aku ingin menyerah, tiba tiba aku mendengar sebuah bisikan lembut yang mulai memasuki telingaku.


"Siapa itu? Haaahahahahahahaha! Hantu? Cepat ke sini! Temani aku bermain!" Aku tertawa dan berteriak seperti orang gila.


"Jangan menyerah!"

__ADS_1


Suara itu sayup sayup kembali terdengar dengan nada lembut menengkan hati.


"Siapa? Ayah? Ibu? Firli? Haaahahahahahahaha! Ayo ke sini! Aku kesepian! Temani aku!" Aku tertawa dan berteriak sambil bertepuk tangan seperti orang gila.


"Jangan menyerah!"


Untuk ketiga kalinya, suara tersebut kembali terdengar di telingaku.


"Haaahahahahahahaha! Aku gila! Aku benar benar gila! Haahahahahahahahhaha!" Aku terus tertawa dan berteriak sambil bertepuk tangan seperti orang gila.


1 minggu kemudian, kelima orang yang selalu menyiksaku kembali mengeluarkanku dari sel dan berniat menyiksa fisikku.


Tangan dan kakiku diikat ke tiang berbentuk silang.


Kemudian kelima orang itu mulai mencambukku bergiliran dengan cambuk kawat besi panas.


Setiap cambuk itu menenyentuh tubuhku, kulit yang bersentuhan akan langsung mengelupas dan meninggalkan bekas terbakar.


Ceplak! Ceplak! Ceplak! Suara cambuk yang menghantam tubuhku.


1 cambukan, 5 cambukan, 10 cambukan terus dilayangkan ke tubuhku.


"Haaahahahahahahahaha! Lagi! Ayo lagi! Cambuk aku hingga tubuhku hancur! Haaahahahahahahaha!" Aku terus tertawa setiap cambuk besi panas itu menyentuh kulitku dengan ekspresi tak ubahnya orang gila.


Ceplak! Ceplak! Ceplak! Suara cambuk yang menghantam tubuhku.


"Terus! Teruslah tertawa seperti itu!" seru orang pertama sambil terus mencambukku.


Ceplak! Ceplak! Ceplak! Suara cambuk yang menghantam tubuhku.


"Haaahahahahahahaha! Lagi! Lagi! Cambuk aku lebih keras lagi! Haaahahahahahahahaha!" kataku dengan wajah bahagia namun juga sedih. Di satu sisi, aku tertawa. Tapi di sisi lain, air mataku juga mengalir deras. Sehingga, membuat wajahku seperti memasang dua ekspresi yang saling bertolak belakang dalam satu waktu.


Setelah 2 jam bermain cambuk cambukkan, kelima orang itu menyeret tubuhku dan mengembalikanku ke dalam sel.


Di dalam sel tersebut, aku pun mulai meringkuk dengan tubuh penuh luka bakar dan sedikit berbau gosong.


Sambil meringkuk di pojok ruangan, aku terus tertawa pelan seperti orang yang sudah kehilangan akal.


Tidak lama berselang, mataku mulai tertutup sambil menghembuskan nafas terakhir.

__ADS_1


Setelah mengalami penyiksaan fisik dan mental selama 1 tahun lamanya, Rudi akhirnya menemui ajalnya sambil meringkuk dan tersenyum manis, seolah tidak ada sedikit pun penyesalan dalam hidupnya.


Dengan segala penderitaan yang telah dialami, Rudi akhirnya tumbang karena tubuh dan pikirannya tak mampu lagi menerima semua penderitaan itu.


__ADS_2