
3 hari berlalu dengan cepat.
Saat ini, aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, tengah menggunakan setelan tuxedo lengkap dan parfum kualitas tinggi untuk menghadiri pelelangan yang hanya bisa dihadiri para bangsawan kelas atas.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Julius.
"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja," jawab Kageyama.
"Ugh ... aku tidak terbiasa dengan pakaian seperti ini," sahut Akito.
"Dasar kampungan," ejek Yuta.
"Ayo segera berangkat," kataku.
Dengan begitu, kami pun telah siap menghadiri pelelangan akbar yang akan digelar di Town Hall Square.
Kami berangkat dari rumah Julius ke tempat pelelangan dengan mengunakan mobil mewah diiringi banyak pengawal profesional.
Di area Town Hall Square, para media dan warga sipil tengah membanjiri area sekitar untuk mengambil foto dan melihat orang-orang yang akan mengikuti pelelangan tersebut. Sehingga, membuat acara lelang tersebut bak acara megah bertabur para bintang papan atas.
Acara pelelangan itu bahkan disiarkan secara langsung di beberapa negara besar di seluruh Benua Timur.
Sesampainya di area Town Hall Square, aku melihat karpet merah yang digelar di depan pintu masuk.
"Apa-apaan ini? Kenapa acara pelelangan bisa jadi semegah ini?" Saat pertama kali keluar dari mobil, aku benar-benar dibuat tercengang melihat banyak sekali media yang meliput dari segala penjuru.
"Kaaakakakakakakaka! Bukankah sejak awal sudah kukatakan? Ini adalah pelelangan kelas atas. Tentu saja akan ada banyak wartawan yang hadir untuk sekedar mewawancarai tokoh-tokoh terkemuka dari seluruh penjuru dunia," jawab Kageyama yang berdiri di sampingku.
"Aku tidak menyangka akan jadi semegah ini," ucap Akito sambil memasang wajah berbinar.
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri," kata Yuta pada Akito.
"Ya, aku tau," sahut Akito.
"Nikmatilah. Jangan terlalu kaku," kata Julius sambill membenarkan jasnya.
Kami berlima berjalan dengan gagah di atas karpet merah yang sudah dipersiapkan.
.
.
"Selamat pagi pemirsa. Saat ini, saya sedang melaporkan langsung dari Town Hall Square Ibukota Neverland. Di sini, ada beberapa orang penting yeng terlihat mulai berdatangan. Para bangsawan kelas atas dari segala penjuru dunia juga kabarnya akan menghadiri acara pelelangan ini. Entah kapan terakhir kali saya melihat banyak tokoh-tokoh hebat berkumpul dalam satu tempat seperti yang saya lihat saat ini," ucap salah satu pembawa acara yang menyiarkan langsung ke seluruh penjuru negeri.
Di area Town Hall Square, beberapa wartawan yang melihat Julius, mulai heboh dan bergegas ke arahnya.
"Lihat itu. Bukankah itu Julius Aubert?" salah seorang pihak media menunjuk ke arah Julius.
__ADS_1
"Benar. Itu Julius Aubert dari keluarga Aubert," sahut orang lainnya.
Setelah mengetahui bahwa Julius juga mengikuti lelang tersebut, semua media langsung mendekatinya untuk mewawancarainya. Tentu saja, mereka tidak bisa terlalu dekat karena area karpet merah dibatasi menggunakan tali pengaman dan dijaga sangat ketat.
Cekrek! Cekrek! Suara lampu flash kamera.
"Tuan Julius. Tolong berikan satu atau dua patah kata!"
"Apa alasan Anda mengikuti pelelangan ini?"
"Tuan Julius, kenapa Anda datang ke sini bersama orang orang yang terlibat dalam insiden di Ibukota Roland? Apa Anda punya hubungan dengan mereka?"
Cekrek! Cekrek! Suara lampu flash kamera.
Para media terus memberondong Julius dengan berbagai macam pertanyaan sambil terus mengambil fotonya.
Julius sendiri tidak menjawab apa pun yang ditanyakan para media dan memilih terus berjalan menuju pintu masuk bangunan Town Hall Square.
"Oi, Julius. Apa kau tidak berniat menjawab pertanyaan mereka?" tanyaku sambil melihat gerombolan media di sana.
"Itu hanya akan menghabiskan banyak waktu," jawab Julius sambil terus berjalan di depanku.
"Kaaakakakakakakakaka! Bukankah kau hanya terlalu untuk malas menanggapi mereka?" tanya Kageyama yang berjalan di samping Julius.
"Mungkin saja!" jawab Julius.
"Kaaaakakakakakakaka!" Kageyama tertawa lebar.
Sesampainya di dalam gedung, kami langsung disambut dengan arsitektur bangunan abad pertengahan yang terlihat sangat elegan dan memukau mata.
"Tuan-Tuan, tolong ikuti kami."
Saat aku dan kelompokku masih sibuk mengagumi arsitektur banguan Town Hall Square, tiba-tiba ada 5 pria menggunakan pakaian rapi serba hitam yang menghampiri kami.
Tanpa banyak bicara, kami semua langsung mengikuti kelima pria tersebut dari belakang.
Kami di arahkan untuk menuruni tangga hingga ke ruang bawah tanah.
Ruang bawah tanah itu hanya selebar 5 x 5 meter persegi. Walaupun kecil, tapi segala fasilitas yang disuguhkan di sana sangat lengkap. Ada juga layar televisi raksasa yang tertempel di salah satu sisi ruangan.
"Kenapa kita ke sini?" tanyaku sambil melihat seisi ruangan.
"Kita akan mengikuti pelelangannya dari sini," jawab Julius.
"Kenapa tidak di atas sana? Bukankah tempat pelelangannya di sana?" tanya Akito.
"Kaaakakakakakakaka! Tenanglah. Di atas sana hanya tempat pelelangan biasa. Di sinilah tempat pelelangan yang sebenarnya berada," jawab Kageyama.
__ADS_1
"Cih ... aku tidak menyangka kalau kau membawa kita ke pelalangan bawah tanah, Kageyama!" sindir Yuta.
"Kaaakakakakakakaka! Bersantailah. Sebentar lagi, pelelangannya akan segera dimulai," ucap Kageyama sambil duduk dan meminum bir yang disediakan.
Tanpa kuketahui, ternyata Kageyama mengajakku untuk menghadiri pelelangan dunia bawah terbesar di seluruh benua yang diselenggarakan langsung oleh broker terbesar di Benua Timur.
"Oi, apa ini tidak masalah? Bukankah hal semacam ini harusnya dilarang?" tanyaku.
"Dilarang? Hal semacam ini adalah hal yang umum dilakukan para broker kelas atas. Mereka biasanya selalu menggelar pelelangan akbar semacam ini setiap tahunnya," jawab Yuta.
"Lalu, bagaimana cara kita mengetahui barang apa yang sedang dilelang kalau kita berada di ruangan tertutup seperti ini?" tanya Akito.
"Lihatlah layar televisi raksasa itu." Julius menunjuk layar televisi yang tertempel di salah satu sisi ruangan.
"Apa pelelangannya akan ditayangkan di sana?" tanya Akito lagi.
"Benar. Kita bisa melakukan penawaran menggunakan alat ini." Julius menunjukkan benda kotak mirip ponsel.
"Bukankah akan lebih mudah jika menghadirinya secara langsung? Kenapa harus dengan cara seperti ini?" tanya Akito.
"Tentu saja untuk menjaga identitas para penjual dan pembeli yang mengikuti acara ini," jawab Julius.
"Kaaakakakakakakakaka! Tenang saja. Di sini, kau bisa mendapatkan senjata yang kau inginkan. Jadi, nikmati saja," kata Kageyama.
Aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, mulai menikmati semua makanan dan minuman yang disediakan di sana.
Setelah sekitar 30 menit kemudian, tiba-tiba layar televisi di sana mulai menyala. Di layar itu, terlihat ada satu orang yang menjadi pembawa acara. Pembawa acara itu menggunakan topeng untuk menutupi identitasnya.
"Hohoho ... selamat datang, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Sayalah yang akan memandu acara pelelangan kali ini," sambut sang pembawa acara lelang.
"Pelelangan kali ini, memiliki banyak sekali barang istimewa yang akan segera dilelang sebentar lagi. Silahkan nikmati waktu Anda dan bersantailah," imbuh sang pembawa acara lelang.
Pelelangan itu pun mulai berjalan.
Barang pertama yang dijual dalam pelelangan itu adalah katana berwarna hitam dengan strip merah darah di tengahnya.
"Penawaran katana ini akan dibuka dengan harga 100.000 gale," ucap sang pembawa acara lelang.
Saat pertama kali melihat katana itu, aku langsung mengatakan, "Aku mau katana itu."
Mendengar hal itu, Kageyama tampak sedikit ragu.
"Apa kau yakin? Katana itu hanya pajangan saja. Itu bukan benda yang cocok untuk digunakan bertarung," kata Kageyama.
"Katana itu seperti memanggiku," sahutku sambil melihat katana yang ditampilkan di layar televisi.
Mendengar hal itu, Kageyama, Julius, dan Yuta, nampak terkejut bukan main.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar bisa merasakan kalau katana itu memanggilmu?" tanya Julius dengan wajah serius.
"Ya, aku bisa merasakannya," jawabku sambil terus menatap katana di layar televisi tersebut.