The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 81 - Emosi Memuncak


__ADS_3

Rudi dan kelompoknya menetap di Ibukota Kansas selama 2 minggu terakhir.


Mereka tidak bisa pergi dari sana sebelum Kageyama menyelesaikan urusan dengan keluarganya.


Selama 2 minggu itu, Rudi dan yang lainnya hanya menghabiskan waktu berlatih di traning center.


...***...


Hotel tempat Rudi dan kelompoknya menginap.


Ting! Tong! Bunyi bel kamar hotel.


Rudi berjalan menuju pintu kamar untuk membuka pintu.


Setelah membuka pintu, Rudi melihat seorang pria pengantar surat yang mendatangi kamarnya.


"Permisi, ada surat untuk Rudi," kata sang pengantar surat.


"Dengan saya sendiri," balas Rudi.


Pengantar surat itu memberikan surat yang dikirimkan kepada Rudi.


"Dari siapa?" tanya Rudi pada pengatar surat itu.


"Saya tidak tau. Saya hanya mengantarnya sesuai alamat yang tertera," jawab sang pengantar surat.


Rudi menerima surat itu dan kembali masuk ke kamarnya. Ia kemudian duduk di atas kasur sambil memegang surat itu.


"Dari siapa?" tanya Akito.


"Entahlah," jawab Rudi sambil membuka surat itu.


"Apa itu dari kekasihmu?" tanya Alvin.


"Jangan bodoh! Mana ada yang mau dengannya?" tanya Yuta, bermaksud mengejek Rudi.


"Mulutmu sangat tajam Yuta. Tapi, aku setuju denganmu," sahut Julius.


"Rudi tidak seburuk itu, kok!" seru Dian yang memecah situasi.


Semua orang melotot ke arah Dian karena Dian salah mengartikan bercandaan mereka.


Dian kemudian menutupi mukanya karena malu.


Di saat anggota lain sedang sibuk berdebat tentang penampilannya, Rudi justru terdiam seribu bahasa saat melihat isi surat itu.


Semua orang di sana sangat keheranan saat melihat ekspresi terkejut di wajah Rudi.


"Ada apa? Apa kekasihmu minta putus?" tanya Alvin.


"Kakak, jangan bercanda. Rudi sepertinya sedang syok," kata Dian memarahi kakaknya.


"Hoi, kenapa wajahnu aneh? Apa ada yang salah dengan isi surat itu?" tanya Akito dengan wajah panik.


Rudi tak mampu menjawab seolah mulutnya terkunci.


Akito kemudian merebut surat itu dari tangan Rudi.


Saat melihat isi surat itu, Akito pun syok berat.


Semua orang yang ada di sana kebingungan kerena tingkah aneh Rudi dan Akito.


Mereka kemudian merebut surat itu dan melihat isinya.


Ternyata, di dalam surat itu, ada beberapa gambar orang yang sedang disiksa dengan sangat kejam.

__ADS_1


Ada yang lengannya dipotong, kepalanya dikuliti, jarinya dipotong, semua giginya dicabut, kulitnya di tempelkan ke besi panas, dan beberapa gambar yang menunjukkan ekspresi menjerit seolah sedang disiksa dengan sangat kejam.


Karena tidak tau apapun, Alvin pun bertanya pada yang lainnya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Alvin pada teman-temannya.


"Kejam sekali," kata Dian yang tak kuasa melihat gambar penyiksaan itu.


"Rudi, Akito, Jangan bilang, kalian mengenal mereka," kata Julius pada Rudi dan Akito dengan wajah panik.


"Apa jangan-jangan, itu warga desa Alpen?" tanya Yuta dengan wajah tercengang.


Mendengar pertanyaan Yuta, membuat semua orang sadar.


Rudi dan Akito tidak akan sampai seterkejut itu jika orang yang sedang disiksa dalam gambar itu bukanlah orang yang tidak mereka kenal.


Setelah menjatuhkan kelompok All Stars Nero, Alvin dan Dian baru mengetahui bahwa Rudi dan Akito dulunya berasal dari sebuah desa bernama Alpen. Sedangkan Julius dan Yuta, sudah mengetahui itu sebelum mereka berangkat ke wilayah kekuasaan Nero.


"Yami ... Linda ... Lusi ... Dale ...," kata Rudi lirih sambil berlinang air mata.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa?" tanya Akito lirih sambil mentupi kedua matanya yang terus mengalirkan air mata.


Rudi dan Akito tak kuasa menahan tangis saat melihat gambar teman-teman dan orang-orang dari desa Alpen disiksa dalam gambar itu.


Mendengar tangisan Rudi dan Akito yang seolah menyayat hatinya, Julius langsung memerintahkan Yuta dan Alvin untuk mengejar si pengantar surat yang telah mengantar surat tersebut.


"Cari si pengantar surat itu. Bawa dia ke sini secepatnya," kata Julius dengan penuh amarah.


Tanpa sepatah kata pun, Yuta dan Alvin langsung bergegas mengejar si pengatar surat tersebut.


Dian berusaha menenangkan Rudi dan Akito yang sedang larut dalam kesedihan mendalam.


Julius mulai berfikir.


...***...


Alvin dan Yuta berlari sekuat tenaga untuk mencari si pengatar surat.


Setelah 10 menit mencari, mereka akhirnya menemukan seorang pria yang menggunakan seragam pengantar surat.


"Apa dia yang sedang kita cari?" tanya Alvin.


"Mungkin," jawab Yuta.


Yuta dan Alvin langsung menghampiri sang pengantar surat dan menanyakan beberapa hal.


"Hoi, apa kau baru saja mengantar surat ke hotel?" tanya Yuta pada si pengatar surat itu.


"Benar, apa ada yang salah?" tanya si pengatar surat.


"Ikut kami," kata Yuta dengan nada dingin.


"Maaf, aku punya banyak surat yang harus diantar," jawab sang pengantar surat.


Yuta dan Alvin terus memaksa sang pengantar surat untuk mengikuti mereka. Tapi, sang pengatar surat terus menolak dan malah berteriak minta tolong.


Yuta dan Alvin kemudian menghajar si pengantar surat itu dan menyeretnya dengan paksa.


Alvin dan Yuta kembali ke hotel tempat mereka menginap sambil membawa sang pengantar surat yang sudah babak belur karena mereka hajar.


Alvin menjambak rambut sang pengatar surat dan menyeretnya ke hadapan Rudi.


Rudi duduk di sebuah kursi bak seorang raja yang duduk di atas singgasananya sambil menatap tajam sang pengatar surat itu, seolah seperti malaikat kematian yang sedang menatap targetnya.


Dian mulai ketakutan karena melihat Rudi yang memasang ekspresi menakutkan, ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Julius dan Akito berdiri di samping kiri dan kanan Rudi bagai seorang pengawal raja. Sedangkan Yuta dan Alvin, berdiri di depan Rudi bagai seorang algojo.


"Katakan padaku, siapa yang mengirim surat ini?" tanya Rudi dengan tatapan membunuh kepada sang pengantar surat.


"A-A-Aku ... aku tid ... aku tidak tau," jawab sang pengantar surat yang sudah babak belur dan tubuhnya penuh darah akibat dihajar habis-habisan oleh Alvin dan Yuta sebelumnya.


Rudi terus memberikan pertanyaan yang sama berkali-kali. Tapi, sang pengantar surat juga tetap dengan jawabannya.


Walaupun sedang dibakar emosi, Rudi tetap bisa berfikir jernih dan akhirnya melepaskan si pengatar surat itu.


Si pengantar surat lari terbirit-birit meninggalkan kemar itu.


Julius kemudian bertanya pada Rudi.


"Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?" tanya Julius.


"Ayo pergi ke desa Alpen. Aku ingin tau kebenarannya," kata Rudi sambil berusaha menahan air mata.


Rudi dan yang lainnya berniat pergi ke desa Alpen untuk memastikan kebenaran gambar yang mereka terima.


Walaupun Rudi tau bahwa itu adalah kenyataan. Tapi, ia masih memiliki sedikit harapan bahwa gambar itu tidak nyata. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menolak kenyataan itu.


...***...


Sebelum Rudi dan yang lainnya pergi ke desa Alpen, mereka mengirimkan pesan pada Kageyama.


Kageyama saat ini sedang berada di sebuah ruangan mewah bersama Presius. Mereka berdua sedang melakukan pertemuan khusus untuk membahas soal tingkah Kageyama yang dianggap aneh oleh Presius.


Di saat Kageyama dan Presius masih sibuk berbincang, ada seorang pelayan Keluarga Arinto yang memberikan pesan yang dititipkan Rudi.


"Tuan Muda, ada pesan untuk Anda," kata si pelayan.


"Dari siapa? Kalau dari bangsawan lain, bakar saja. Aku tidak tertarik membacanya," sahut Kageyama.


"Tingkahmu benar-benar tak mencerminkan seorang bangsawan kelas atas, Kageyama," kata Presius.


"Kaaakakakakaka! Apa kau pikir aku perduli?" tanya Kageyama santai.


"Tuan Muda, ini dari teman-teman Anda," kata si pelayan.


Kageyama pun membaca surat itu karena mengetahui bahwa surat itu berasal dari Rudi dan yang lainnya.


Kageyama membaca perlahan.


"Apa maksudnya ini?" tanya Kageyama syok.


Setelah selesai membaca surat itu, Kageyama syok dan berniat pergi menyusul teman-temannya.


Karena melihat tingkah aneh Kageyama, membuat Presius keheranan.


"Kenapa kau ini? Apa itu terlalu penting hingga membuatmu terburu-buru?" tanya Presius saat melihat Kageyama berniat pergi dari sana.


"Diamlah! Ini lebih penting dari apapun," kata Kageyama sambil bersiap meninggalkan ruangan itu.


Kageyama pun pergi dari ruangan itu dan meninggalkan surat tersebut di lantai.


Presius merasa sangat penasaran dengan isi surat yang baru saja Kageyama baca. Ia pun mengambil surat yang tergeletak di lantai dan mulai membacanya.


Di dalam surat itu tertulis.


Kami akan pergi sementara untuk membantai suatu kelompok tertentu.


Presius sangat kaget setelah membaca surat itu.


"Apa maksudnya ini?" tanya Presius heran.

__ADS_1


__ADS_2