The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 22 - Latih Tanding


__ADS_3

"Woah ... keren!"


Saat pertama kali memasuki training center, aku melihat ada banyak orang yang bertarung satu sama lain. Dan ada juga beberapa yang terlihat sedang berlatih sendiri.


Tiap-tiap arena yang mereka gunakan, dipisah sekat kaca transparan.


"Aku tidak tau kalau ada tempat seperti ini," kata Akito sambil melihat seisi ruangan.


"Kaaakakakakakakaka! Kalian terlalu norak! Training center adalah tempat berlatih terbaik. Mau itu solo atau group, di sini kalian diberikan fasilitas lengkap untuk berlatih sediri atau latih tanding," kata Kageyama.


"Nice, Kageyama! Tapi, bukankan menyewa tempat semacam ini butuh banyak uang?" tanyaku.


"Tidak banyak. Hanya 10.000 gale per jam," jawab Kageyama.


"Apa kau bercanda? 10.000 gale itu cukup untuk biaya makan 1 tahun," kataku dengan wajah terkejut.


"Kaaakakakakakakaka! Tidak perlu khawatir. Aku yang akan membayar semuanya," kata Kageyama.


"Kageyama, apa kau ini seorang bangsawan?" tanya Akito.


"Ya, begitulah," jawab Kageyama.


"Cih ... dasar orang kaya." Aku menggerutu.


"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama menanggapi dengan tawa.


Di ruangan yang telah kami sewa, aku berlatih tanding melawan Kageyama dan Akito secara bersamaan.


"Bersiaplah untuk kalah!" kataku dengan senyum tipis.


"Apa kau pikir kau bisa mengalahkan kami, hah? Sadari posisimu, bajingan!" balas Akito.


"Apa katamu? Akan kukoyak setiap bagian tubuhmu menjadi potongan kecil!" kataku.


"Akan kuhancurkan wajahmu sampai tak berbentuk!" balas Akito.


Aku mulai memancarkan aura membunuh, begitu pula dengan Akito.


"Hoi, bukankah kita hanya ingin latih tanding? Kenapa ekspresi kalian seperti ingin membunuh satu sama lain?" tanya Kageyama yang terlihat keheranan.


"Kami biasa melakukan ini agar terasa seperti sedang berada di pertarungan yang sesungguhnya," jawab Akito dengan wajah datar.


"Apa kau punya masalah dengan itu, Kageyama?" tanyaku dengan wajah polos.


"Tidak ... tidak ada. Ayo lanjutkan," kata Kageyama binggung.


"Kemarilah, bajingan!" bentakku.


"Majulah, keparat!" seru Akito.


"Akan kusobek mulut kotormu itu!" bentakku.


"Hah? Akan kuhancurkan bola betismu itu!" seru Akito.


"Hoi, bukankah kita akan bertarung dengan kekuatan? Kenapa dari tadi kalian hanya bertarung dengan mulut?" tanya Kageyama yang terlihat semakin heran.


"Heeehehehehehehe ... ini adalah cara kami berlatih agar terbiasa dengan musuh yang banyak bacot!" kataku.

__ADS_1


"Heh? Begitukah? Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara kalian berlatih selama ini," kata Kageyama dengan wajah binggung.


Aku memulai pertarungan dengan melancarkan puluhan pukulan per detik.


Kageyama dan Akito pun terlihat kesusahan untuk menahan setiap serangan yang kulancarkan.


Akito melakukan serangan langsung dengan memanfaatkan kecepatan dan kekuatannya. Sedangkan Kageyama menyerang dengan tembakan-tembakan laser api dari arah belakang.


Aku merasa kesulitan menghindar dan menangkis serangan kombinasi mereka berdua.


Pertarunganku melawan Kageyama dan Akito pun terasa sangat intens.


Di sisi lain, ada banyak orang yang mulai melihat pertarungan kami bertiga. Ada yang merasa kagum, dan ada juga yang merasa biasa saja. Tetapi, pada akhirnya pertarungan kami bertiga berhasil menyedot banyak mata.


Pertarungan masih terus berlanjut.


Akito mulai melapisi tubuhnya menggunakan force, hingga membuatnya terasa seperti mengeluarkan aura mencekam.


Melihat itu, Kageyama tidak mau kalah. Ia mengeluarkan aura kuat yang terasa sangat mengintimidasi. Dari kedua tanganya, tiba-tiba muncul bola api raksasa. Penampilan Kageyama saat ini benar-benat terlihat seperti iblis yang mengerikan.


Aku pun mulai tersenyum puas saat melihat mereka berdua yang mulai menggunakan kemampuan penuhnya.


"Majulah!" Aku berteriak lantang seolah menandakan pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai.


Akito langsung melesat ke arahku dengan kecepatan kilat. Ia berusaha memukul kepalaku dengan tinju berlapis forcenya.


Aku menghindar dengan sedikit menggeser kepalanku ke samping, kemudian bersiap menyerang balik dengan tinjuku. Tapi, lagi-lagi laser api Kageyama dengan cepat telah berada tepat di depan mataku.


Aku pun harus sedikit molompat ke samping untuk menghindari laser api Kageyama.


Sesaat setelah kakiku menginjak tanah, Akito langsung melancarkan pukulan kilatnya lagi.


Kami berdua silih berganti bertukar tinju dan tangkisan.


Di sisi lain, Kageyama juga terus menghujaniku dengan laser apinya dari arah belakang.


Aku benar-benar dipaksa bertahan dan hanya bisa menghindar sambil terus menangkis serangan kombinasi mereka berdua.


Akito yang terus-terusan melancarkan pukulan cepat dan mematikan, mulai terlihat melambat.


Aku berniat memanfaatkan celah tersebut untuk melesat ke arah Kageyama.


Dalam sekejap mata, pukulanku sudah tepat berada di depan wajah Kageyama. Akan tetapi, Kageyama malah tersenyum licik.


Sebelum pukulanku hampir mengenai wajah Kageyama, tiba-tiba Akito sudah berada di sampingku dan langsung memukul wajahku.


Aku pun terkena pukulan telak di bagian wajah dan terlempar cukup jauh ke belakang. Walaupun begitu, aku berhasil mengurangi kerusakan yang kuterima dengan membuat perisai es kecil tepat sebelum pukulan Akito mengenai wajahku.


"Ah, sial! Kalian menjebakku," kataku sambil mengelap darah yang keluar dari bibirku.


"Kaaakakakakakakaka! Ini namanya strategi. Bukan begitu, Akito?" Kageyama tersenyum licik.


"Ya, benar." Akito tertawa tipis.


"Ah, jadi begitu ... kalau begitu, ayo kita mulai ronde keduanya." Aku menyeringai penuh gairah.


Aku, Akito, dan Kageyama mulai melanjutkan pertarungan kami.

__ADS_1


Hampir semua orang yang ada di training center, sedang melihat pertarungan mereka bertiga.


Orang-orang yang sedang menonton pertarungan tersebut merasa sangat terhibur saat melihat sebuah pertarungan instens dan menegangkan. Bahkan ada beberapa dari mereka yang bersorak seolah sedang melihat pertarungan para Ranker.


Pertarungan Rudi melawan Akito dan Kageyama mulai terasa sangat berat, mengingat stamina mereka bertiga sudah sangat terkuras.


Setelah bertarung intens selama 1 jam, pertarungan berakhir dengan kemenangan Rudi.


Ia berhasil menumbangkan Akito dan Kageyama dengan serangan atributnya. Orang-orang yang menonton pertarungan mereka bertiga, mulai bersorak atas kemenangan Rudi. Mereka bahkan menganggapnya sebagai seorang Ranker.


"Huft ... huft ... kekuatanmu sungguh curang!" Akito duduk sambil menyangga tubuhnya.


"Huft ... huft ... haha ... bagaimanapun, ini kemenanganku." Aku tertunduk sambil memegang lutut.


"Huft ... huft ... ke-kenapa kalian masih bisa mengobrol dengan tenang? A-Apa kalian tidak capek?" Kageyama terlentang dengan nafas berat.


"Kau hanya hanya menyerang dari belakang, tapi kenapa kau malah terlihat lebih lelah dari kami?" Aku menatap Kageyama dengan wajah kelelahan.


"Ah, sial! Aku terus-terusan menggunakan teknik kuat. Dan itu sangat menguras staminaku!" Kageyama berteriak lantang dengan tubuh lemas.


"Kemampuanmu benar-benar mengagumkan, Kageyama," kataku.


"Kaaakakakakakakakak! Benarkah?" tanya Kageyama.


"Sujujurnya, aku berfikir kau tidak benar-benar bertarung dengan serius. Mungkin jika kau melakukannya, kami tidak akan bisa mengimbangimu," jawabku.


"Ya, aku juga merasakannya. Kau seperti menurunkan levelmu agar sebanding dengan kami," kata Akito sambil melihat Kageyama.


"Kaaakakakakakakaka! Itu hanya perasaan kalian saja," sahut Kageyama.


Aku dan Akito melihat Kageyama dengan wajah curiga.


"Ngomong-ngomong. Bukankah kalian ini pengguna pedang?" tanya Kageyama yanh berusaha mengalihkan topik.


"Ya, kami terbiasa berlatih menggunakan pedang kayu, kami lebih nyaman bertarung dengan pedang," jawab Akito.


"Lalu, kenapa kalian tidak membawa pedang?" tanya Kageyama.


"Itu karena harga pedang sangat mahal. Kami tidak bisa membuatnya sendiri. Jadi, mau tidak mau, kami harus membelinya jika ingin memilikinya," jawab Akito.


"Kenapa tidak beli yang murah saja? Bukankah ada banyak di toko pengerajin?" tanya Kageyama.


"Aku tidak bisa menggunakan pedang biasa. Saat aku mulai mengalirkan force dan atributku, pedang yang kugunakan tidak bisa bertahan lama. Pedang itu selalu hancur saat selesai digunakan. Jadi, dari pada membuang-buang uang, kami lebih memilih menggunakan ranting atau semacamnya," jawabku.


"Kaaakakakakakakaka! Begitu rupanya. Kalau begitu, ayo ke pelelangan. Ada banyak senjata berkualitas yang dilelang di sana," kata Kageyama.


"Pelelangan? Bukankah yang dijual di sana sama saja dengan yang ada di toko pengerajin?" tanyaku.


"Kaaakakakakakakaka! Kita akan pergi ke pelelangan kelas atas. Itu adalah tempatnya orang-orang kaya mencari barang yang mereka inginkan. Jadi, itu benar-benar berbeda dengan pelelangan yang kalian tau," jawab Kageyama.


"Bukankah akan banyak makan uang?" tanya Akito.


"Kaaakakakakakakakaka! Tidak usah khawatir. Aku yang akan menanggung semua biayanya," jawab Kageyama.


"Tidak! Kami tidak mau terus bergantung padamu. Lagi pula, kami punya tabungan di rekening. Kami akan membayar sendiri harga barang yang kami beli. Bukankah begitu, Akito?" tanyaku.


"Benar. Kami akan membayar semuanya sendiri. Kau tidak perlu selalu mengeluarkan banyak uang untuk kami," jawab Akito.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kalian. Kaaakakakakakakaka!" sahut Kageyama.


__ADS_2