
Setelah pelelangan berakhir, Kageyama membayar semua barang yang dibelinya menggunakan black card miliknya.
Barang yang telah dibeli, akan langsung dikirimkan ke alamat yang dituju setelah pembayaran dan proses lainnya selesai.
Dalam pelelangan itu, aku dan Akito sama sama mendapat senjata yang kami inginkan.
Keesokan harinya, di rumah Julius.
Ting Tong! Suara bel dipencet.
Julius mendekati pintu.
Setelah membuka pintu, ia melihat ada 5 kurir laki laki yang mengantarkan paket yang sudah dibeli saat pelelangan kemarin.
"Permisi, kami ingin mengantarkan paket Anda," ucap salah satu kurir tersebut.
"Ya, langsung bawa masuk," sahut Julius.
Paket itu terdiri dari 2 katana, 5 budak wanita, 3 budak bocah laki laki, dan 2 budak pria dewasa.
Setelah membawa paket itu ke dalam rumah, kelima kurir itu meminta tanda tangan Julius sebagai bukti penerimaan.
Setelah itu, mereka pun pergi dari sana.
Julius melihat semua paket budaknya dengan wajah dingin. Sehingga, membuat para budak di sana ketakutan.
"Apa sudah sampai?" tanyaku yang baru bangun tidur sambil berjalan mendekat ke arah Julius.
"Hmm ... cepat sekali, kupikir akan makan beberapa hari lagi," kata Akito yang juga baru bangun tidur sambil berjalan di sampingku.
"Lalu, mau kita apakan budak budak ini?" Julius bertanya padaku dan Akito yang sudah berada di sampingnya.
"Kirim mereka ke desaku. Di sana, setidaknya mereka bisa hidup dengan lebih baik," jawabku.
Para budak itu hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani mengatakan apa pun. Mereka terbiasa melakukan itu karena jika mereka berbicara tanpa ditanya, mereka akan selalu dipukuli habis habisan.
Saat melihat ekspresi tertekan di wajah mereka, membuatku berusaha untuk mengajak mereka berbicara.
"Hallo, namaku Rudi. Siapa nama kalian?" tanyaku sambil menjulurkan tangan, berniat mengajak salaman.
Karena tidak terbiasa dengan hal itu, para budak di sana hanya terdiam sambil terus memasang ekspresi tertekan.
Tidak lama berselang, Kageyama dan Yuta juga datang ke sana.
"Sudah sampai?" tanya Yuta sambil berjalan mendekat.
"Kaaakakakakakakaka! Itu lebih cepat dari perkiraan," kata Kageyama yang berjalan di samping Yuta.
Saat Kageyama sudah berada di sana, dia melihat wajah para budak itu terlihat sangar tertekan.
"Apa kau melalukan sesuatu pada mereka?" Kageyama bertanya padaku.
"Tentu saja tidak! Mana mungkin aku macam macam pada mereka. Walaupun jika dilihat lihat lagi, tubuh mereka benar benar sangat menggoda," jawabku sambil memasang ekspresi mesum.
"Jangan aneh aneh!" kata Akito sambil memukul kepalaku.
"Aku tau, sialan! Aku hanya bercanda!" kataku sambil mengusap bekas pukulan Akito.
Aku berniat mengirim para budak itu ke desa Alpen agar mereka bisa terbiasa hidup layak di masyarakat dan tidak lagi menjalani kehidupan bak neraka seperti sebelumnya.
Julius kemudian memanggil semua pengawal kepercayaannya dan meminta mereka mengawal para budak itu hingga ke desa Alpen dengan selamat.
"Apa kalian mengerti? Jaga dan kawal mereka sampai ke tempat tujuan dengan selamat." Julius meminta orang orang kepercayaanya membawa para budak itu ke desa yang dimaksud.
"Siap, Tuan Julius! Kami akan mempertaruhkan nyawa untuk menjaga dan mengantar mereka hingga tujuan!" Para pengawal pribadi Julius menjawab dengan kompak.
__ADS_1
Para pengawal itu langsung membawa para budak ke dalam mobil untuk segera diantar ke desa Alpen.
Selesai dengan para budak, sekarang waktunya mengetes katana baru senilai 1 milyar gale.
"Saatnya mengetes katana baru," kataku sambil mengusap tangan karena tidak sabar untuk segera memegang katana tersebut.
"Hmm ... jika dilihat langsung, katana ini tampak sangat menawan," kata Akito.
"Apa kau yakin bisa menggunakannya?" tanya Julius.
"Kaaakakakakakakaka! Jangan buang uangku percuma," kata Kageyama.
"Tarik nafas dulu sebelum memegangnya," kata Julius.
Aku menatap katana itu dengan perasaan gugup.
"Oi, aku tidak berani memegangnya. Bagaimana kalau aku tidak bisa mengangkatnya? Aku takut, sialan!" kataku dengan perasaan gugup.
"Jangan bercanda! Kau pasti bisa," kata Akito.
"Kaaakakakakakakaka! Seharusnya aku tidak membelinya," kata Kageyama.
"Percaya dirilah," kata Julius.
"Haah ...." Yuta hanya menghela nafas.
Dengan tangan gemetar, aku perlahan memegang katana itu.
Saat tanganku sudah memegangnya, tiba-tiba ....
"Argh!" Aku berteriak lantang sambil mencengkram kepala.
"Hoi! Apa yang terjadi?" tanya Akito panik.
Semua orang di sana panik saat melihat Rudi yang terus menggeram kesakitan sembari memegangi kepalanya sendiri.
"Argh!" Aku terus mencengkram kepalaku karena rasa sakit yang luar biasa.
.
.
"Di mana ini?" tanyaku dengan perasaan bingung.
Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan keberadaanku. Akan tetapi, sejauh mata memandang, aku hanya mendapati kegelapan yang dipenuhi kesunyian tak terbatas.
Di sana, hanya ada kesunyian yang membuat telingan berdengung. Waktu juga terasa seperti berhenti. Tempat itu benar benar sepenuhnya terasa seperti ruang hampa tak berujung.
"Di mana? Di mana aku sekarang?" Aku benar benar kebingungan dengan kejadian yang kualami.
Tidak lama berselang, tempat yang hanya dipenuhi kegelapan abadi mulai berubah.
Di sana, aku mulai melihat banyak sekali mahluk yang tak pernah kulihat sebelumnya. Para mahluk itu sedang berperang satu sama lain dan menghadirkan kehancuran yang mengerikan. Sejauh mata memandang, aku hanya melihat kehancuran di mana mana.
Di sana, aku juga melihat ada banyak mayat bergelimpangan di mana mana. Mayat dari para mahluk yang tak kukenali dan juga mayat dari para manusia, terlihat seperti lautan mayat yang tak terhitung jumlahnya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas dalam benakku bahwa ada sekitar 2 milyar lebih mayat yang saat itu menjadi korban.
Aku tidak bisa membayangkan perang semacam apa yang bisa menimbulkan korban sebesar itu.
Di saat aku tengah kebingungan dengan kejadian yang sedang kulihat tepat di depan mata, tiba-tiba ada sebuah ledakan dahsyat tidak jauh dari tempatku berdiri.
Aku ingin sekali melihat pertarungan yang sedang terjadi. Tapi, aku tidak bisa bergerak sedikit pun dari tempatku berdiri saat ini.
Aku pun terus menfokuskan mata ke ke arah tempat pertarungan yang sedang berlangsung karena rasa penasaranku terasa semakin menggila.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi di sana?" gumamku sembari terus menatap tajam ke arah pertarungan yang sedang berlangsung.
Setelah cukup lama mengamati medan pertempuran dari kejauhan, tiba-tiba ada mahluk raksasa setinggi 10 meter yang sedang mengarah padaku.
Mahluk tersebut seperti sedang terlempar karena terkena serangan telak.
Aku pun langsung memantung setelah melihat mahluk yang ada di hadapanku, tubuhku juga mulai gemetar akibat rasa takut yang mendalam.
Sosok mahluk raksasa setinggi 10 meter yang ada di hadapanku, terlihat mirip dengan yang sosok yang kulihat saat pelelangan kemarin. Monster yang hanya ada di dalam legenda, saat ini berada tepat di hadapanku.
"Apa apaan ini sebenarnya? Kenapa ada monster di sini?" gumamku dalam hati.
Tidak lama berselang, ada sesosok mahluk menyerupai manusia yang mulai mendekat ke arah mahluk bersayap tersebut dengan sebuah langkah pelan sembari memancarkan aura yang sanggup membuat siapa pun pingsan seketika karena aura yang ia pancarkan terasa sangat menekan dan menusuk tulang.
Mahluk yang menyerupai manusia tersebut berjalan sembari memegang bilah pedang besar di tangannya. Dari pancaran mata mahluk tersebut, seolah ingin mengatakan bahwa ia akan membunuh siapa pun yang ada di hadapannya.
2 mahluk tersebut kembali bertarung dengan dahsyat.
Pertarungan jutaan mahluk di sana sanggup membelah daratan, menghancurkan daratan, hingga menciptakan daratan, seolah seluruh dunia terus menerus berubah ubah karena pertarungan para mahluk superior tersebut.
Dari tempatku berdiri, aku hanya bisa mematung ketika melihat kekuatan mutlak yang sedang saling beradu tepat di hadapanku.
Gunung gunung berterbangan bagai sebuah kapas tertiup angin, lautan bergejolak seperti air dalam ember yang sedang diaduk aduk, hingga daratan lama musnah dan daratan baru tercipta, membuat dunia seolah menjerit kesakitan karena harus menahan dampak pertarungan dari 2 mahluk superior yang tengah bertarung.
"Apa-apan ini? Apa ini benar-benar bumi?" gumamku dalam hati dengan wajah tercengang dan masih tidak percaya dengan tragedi yang ada di depan mataku.
Melihat semua kegerian itu, membuatku merasa tidak sanggup lagi jika harus melihat pemandangan yang tepat berada di depan mataku.
Aku tidak sanggup melihat milyaran mayat manusia terkoyak dan tercabik cabik akibat terkena dampak pertarungan tersebut.
Emosiku juga seolah hancur ketika melihat kengerian yang terjadi dengan jelas tepat di depan kedua mataku sendiri.
.
.
"Hoi, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Akito bertanya padaku yang baru sadarkan diri.
"A-apa yang terjadi padaku?" tanyaku bingung.
"Kau pingsan setelah terus mengerang kesakitan," jawab Akito.
"Hmm ... sepertinya, kau tidak akan bisa menggunakan katana itu," kata Julius.
Aku kemudian melihat katana yang membuatku melihat pemandangan mengerikan tersebut.
Tanpa kusadari, keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhku. Dan tanganku juga gemetar saat mengingat kejadian sebelumnya.
Aku mencoba menenangkan pikiranku yang sedang kacau setelah melihat kejadian yang amat mengerikan di dalam alam bawah sadarku.
Aku terus mencoba berfikir tenang dan mencerna semua informasi yang kumiliki.
"Apa kalian tau? Aku baru saja menyaksikan sebuah pembantaian massal," kataku dengan wajah pucat.
"Pembantaian massal? Apa maksudmu?" tanya Kageyama dengan wajah bingung.
"Abad Kehancuran ... seoertinya, aku baru saja melihat tragedi di Abad Kehancuran!" kataku.
Saat mendengar ucapanku, membuat semua orang tampak tersentak kaget.
Peristiwa yang menakjubkan sekaligus mengerikan, meninggalkan banyak sekali pertanyaan di benakku.
Aku tidak bisa memastikan apakah itu hanya ilusi atau kejadian nyata. Tapi, satu hal yang pasti, jika itu adalah kejadian nyata, maka jawabanya pastilah Abad Kehancuran.
Abad Kehancuran adalah peristiwa besar yang hampir memusnahkan segala mahluk hidup di muka bumi.
__ADS_1