The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 70 - Takdir


__ADS_3

Setelah beristirahat sementara waktu di bangunan tua di dekat perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero, kelompok Rudi dan kelompok Andre berserta puluhan orang yang mereka selamatkan, langsung bergerak perlahan menuju markas rahasia kelompok Andre.


...***...


2 hari setelah insiden pertempuran melawan kelompok Nero, Rudi akhirnya sadar.


Markas kelompok Nero. Tengah malam.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Akito yang selalu menemani saat Rudi sedang pingsan.


"Di mana ini?" tanya Rudi yang baru sadarkan diri.


"Kita ada di markas rahasia kelompok Andre," jawab Akito.


"Bagaimana dengan misinya? Apa kita gagal?" tanya Rudi.


"Kita menang. Lihatlah ini. Fotomu dipajang di halaman depan semua surat kabar," kata Akito sambil menunjukkan surat kabar kepada Rudi.


"Untunglah kalau begitu," sahut Rudi lega.


"Lalu, di mana yang lainnya?" tanya Rudi pada Akito.


"Lihatlah sekitarmu," kata Akito.


Rudi kemudian melihat ke sekitar ruangan itu.


Di ruangan itu, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, sedang tertidur lelap di samping ranjang yang Rudi gunakan.


"Untunglah mereka semua selamat," kata Rudi dengan wajah bahagia.


"Soal mode yang kau gunakan ... apa kau baik-baik saja dengan itu? Bukankah dulu kau pernah mengatakan kalau jiwamu terasa terbakar saat menggunakan mode itu?" tanya Akito.


"Entahlah, Akito. Aku masih bingung dengan itu ... apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa aku bertemu dengan seorang pria yang memiliki rupa persis sama denganku di alam bawah sadarku?" tanya Rudi.


"Apa maksudmu?" tanya Akito bingung.


"Pria itulah yang menyadarkanku dari amukanku. Dia juga bilang bahwa dia telah mengganti beberapa tahun masa hidupku yang hilang," jawab Rudi.


Mendengar penjelasan itu, membuat Akito terbelalak.


"Tunggu dulu ... apa maksudmu, saat ini masa hidupmu hanya tinggal beberapa tahun lagi?" tanya Akito dengan wajah terkejut.

__ADS_1


"Entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Pria itu menitipkan satu kalimat sebelum benar-benar menghilang," kata Rudi.


"Apa itu?" tanya Akito.


"Suatu saat, aku akan menanggung sejarah panjang dan nasib umat manusia di punggungku. Dia memintaku memenuhi takdirku sebagaimana aku memilihnya," jawab Rudi dengan senyum tipis di wajahnya.


Mendengar hal itu, membuat Akito sedikit emosional. Di satu sisi, ia tidak ingin melihat sahabatnya mati dalam waktu dekat. Tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa membantu sama sekali.


"Menurutmu, apa itu takdir? Kenapa kita harus terikat dengan sesuatu yang dinamakan takdir? Bukankah takdir itu sangat kejam?" tanya Akito.


"Kau salah, Akito ... menurutku, takdir itu bagai jalan bercabang. Walaupun kita tidak bisa membuat jalan kita sendiri. Tapi, kita bebas menentukan mau melewati jalan yang mana. Kita diberikan kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita ambil. Karena itulah, kita harus mempertanggung jawabkan semua keputusan itu suatu saat nanti," jawab Rudi sambil berbaring di atas ranjang.


"Bukankah Dia sudah mengatur jalannya kehidupan manusia? Bukankah itu artinya Dia telah menetapkan takdir manusia? Jika Dia sudah tau itu semua, kenapa Dia menempatkan kita di dunia? Apa dunia ini hanya panggung pertunjukkan untuk-Nya?" tanya Akito dengan perasaan emosional.


"Kau salah lagi, Akito ... Dia tidak mengatur jalannya kehidupan. Tapi, Dia sudah tau jalannya kehidupan. Dia menempatkan manusia di dunia bukan untuk pertunjukkan. Tapi, agar manusia sadar akan apa yang telah diperbuatnya. Bayangkan jika seorang manusia langsung ditempatkan ke surga. Pasti orang itu akan sangat senang. Tapi, bagaimana jika seorang manusia langsung ditempatkan di neraka? Bukankah orang itu akan protes? Kenapa orang itu langsung ditempatkan di neraka? Apa salahnya? Saat Dia mengatakan bahwa orang tersebut telah membunuh manusia lain, orang itu akan protes. Kapan orang itu melakukannya? Manusia itu bahkan tidak tau kapan ia pernah membunuh manusia lain! Maka dari itu, Dia menempatkan manusia di dunia agar manusia tau apa saja yang telah dijalani. Sehingga, saat hari penghakiman datang, tidak akan ada satu pun manusia yang bisa protes. Mereka justru akan meminta maaf kareka mereka tau konsekuensi dari segala tindakan mereka," jawab Rudi.


"Lalu, kenapa Dia tidak menempatkan semua manusia di surga? Kenapa Dia harus memberikan ujian semacam ini?" tanya Akito.


"Akito ... kebijakan-Nya tidak akan bisa dipahami manusia. Bayangkan seperti ini, Akito. Aku akan memberimu siksaan selama 1 detik. Jika kau bisa menahannya, maka semua yang kau inginkan akan kuberikan, tanpa terkecuali. Tapi, jika kau tidak bisa menahan 1 detik siksaan itu, maka aku akan memberikan siksaan yang jauh lebih pedih dari yang sebelumnya. Jika aku memberikanmu dua pilihan itu, kira-kira, pilihan mana yang akan kau ambil?" tanya Rudi.


"Tentu aku akan mengambil sisaan 1 detik itu," jawab Akito.


Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, sebenarnya sudah bangun sejak pertama kali Rudi dan Akito mulai berbincang. Mereka sengaja tetap berpura-pura tidur karena tidak ingin mengganggu pembicaraan itu.


...***...


Keseokan harinya.


Ruangan kelompok Rudi.


Walaupun semua luka yang Rudi derita belum sembuh. Tapi, ia sudah bisa bergerak dengan bebas.


"Bagaimana kondismu?" tanya Julius.


"Seperti yang kau lihat. Tubuhku baik-baik saja. Yah, walaupun luka-luka ini masih terasa sangat menyakitkan," jawab Rudi.


"Kakakakakaka! Sebaiknya jangan memaksakan diri," kata Kageyama.


"Tenang saja. Ini bukan masalah besar. Kalian seharusnya mengkhawatirkan diri sendiri," jawab Rudi.


Hampir seluruh tubuh Rudi, saat ini sedang dibalut perban. Begitu pula dengan anggotanya yang lain.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang kita selamatkan? Di mana mereka?" tanya Rudi.


"Mereka sedang sarapan di halaman depan," jawab Akito.


"Soal itu, apa rencanamu pada mereka?" tanya Alvin.


"Aku akan mengirim mereka semua ke Desa Alpen, desa asalku dan Akito," jawab Rudi.


Saat Rudi dan anggotanya masih sibuk berbincang, Andre datang ke ruangan itu.


"Apa kau sudah sadar?" tanya Andre pada Rudi.


"Aku baik-baik saja. Terimakasih atas semua bantuannya," jawab Rudi.


"Kau tidak perlu berterima kasih. Justru, akulah yang seharusnya berterima kasih. Karena bantuanmu dan kelompokmu, kami akhirnya bisa membalas dendam kepada para bajingan itu," jawab Andre.


"Aku minta maaf ... karena rencana burukku, banyak anggotamu yang harus kehilangan nyawa," kata Rudi.


"Tidak perlu merasa bersalah. Sejak awal, kami sudah tau kalau hal ini akan terjadi," sahut Andre.


"Lalu, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?" tanya Rudi pada Andre.


"Entahlah ... setelah berhasil menghabisi para bajingan itu, aku dan kelompokku tidak tau akan melakukan apa," jawab Andre.


"Apa kalian berniat berpetualang?" tanya Rudi.


"Kami tidak tertarik dengan petualangan. Kami mungkin akan menetap di suatu kota atau desa dan membangun kehidupan baru di sana," jawab Andre.


"Bagaimana jika kalian menetap di Desa Alpen? Desa Alpen adalah desa asalku dan Akito. Kalian mungkin bisa membangun kehidupan baru di sana," kata Rudi.


"Itu terdengar menarik," sahut Andre.


...***...


Setelah beristirahat selama 3 hari di markas itu, kelompok Rudi dan kelompok Andre berserta orang-orang yang sudah mereka selamatkan, bersiap meninggalkan markas itu.


"Hati-hati di jalan," kata Rudi pada rombongan Andre.


"Tenang saja. Kalian juga hati-hati," balas Andre.


Andre dan kelompoknya membawa orang-orang itu menuju Desa Alpen, desa asal Rudi dan Akito. Sedangkan Rudi dan kelompoknya, berniat menuju Negara Boreas, salah satu negara terdekat dari sana.

__ADS_1


__ADS_2