
Di saat Nero sedang dihajar habis-habisan oleh Rudi, semua pihak aliansi kelompok Nero akhirnya telah sampai di pusat medan pertempuran.
Mereka semua tercengang dengan pemandangan yang mereka lihat saat itu. Bagaimana tidak, seorang raja tangguh yang hampir menguasai sebagian besar Benua Timur, bisa dihajar habis-habisan oleh orang yang bahkan tidak punya nama.
Sambil melihat medan pembulian itu, Edgar berkata, "Apa aku sedang bermimpi? Apa ini nyata? Siapa bocah itu? Kenapa dia bisa mempermainkan All Stars Nero seperti ini?" tanya Edgar kepada semua anggotanya.
"Entahlah, Bos. Aku juga tidak tau," sahut salah satu eksekutif Edgar dengan wajah tercengang.
Tidak hanya Egdar. Tapi, seluruh pasukan militer Negara Rosso, Negara Fuze, Negara Grandbell, kelompok Lisa, kelompok Barnes, hingga kelompok Harden yang sudah tiba di sana, tercengang dengan pemandangan di depan mata mereka.
Bukan hanya dalam hal kekuatan. Tapi, mereka semua juga sangat merinding saat merasakan aura dan melihat penampilan bocah yang sedang menghajar Nero habis-habisan.
...***...
Di sisi lain, semua anggota kelompok Rudi sudah sampai di dekat medan pertarungan Rudi melawan Nero.
Dari kejauhan, Akito memandang penampilan Rudi saat ini, dengan kaki gemetar. Penampilan itu seolah mengingatkannya dengan insiden berdarah di masa lalu. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes tanpa sebab, seolah merasa bahwa itu adalah perpisahan dengan sahabat yang sudah menemaninya sejak kecil.
Melihat ekspresi Akito, membuat Kageyama dan yang lainnya sedih.
Mereka semua sedih karena tidak tau bagaimana cara menyadarkan Rudi yang saat ini sedang mengamuk.
Dengan kemampuan mereka, ditambah kondisi mereka saat ini, hampir mustahil bisa mendekati Rudi yang sudah sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Jika terus dibiarkan, Rudi pasti akan mati karena jiwa dan masa hidupnya terus berkurang. Setiap detik seolah terasa semakin mencekam.
"Sialan! Apa akan berakhir seperti ini? Seharusnya sejak awal, kita tidak melakukannya!" teriak Kageyama dengan air mata berlinang.
"Aku tidak mau hanya berdiam di sini. Tapi, aku juga tidak bisa melakukan apapun di sana. Aku tidak pernah merasakan rasa putus asa semacam ini sebelumnya," kata Julius dengan nada penuh kesedihan.
Yuta mengalihkan pandangannya karena tidak kuat menahan tangis.
Sambil menggenggam tangannya, Yuta berkata, "Cih ... kenapa si bodoh itu malah menggunakan mode semacam itu? Jika memang mustahil mengalahkan Nero, kenapa dia tidak mundur saja? Kenapa ... kenapa ... sialan!" kata Yuta sambil berusaha menahan air matanya.
Alvin dan Dian tidak bisa berkata-kata. Mereka berdua hanya melihat Rudi yang sedang menghajar Nero habis-habisan dengan wajah berlinang air mata.
Di tengah kesedihan semua orang, tiba-tiba Akito mengatakan sesuatu.
"Itulah yang paling kubenci darinya. Dia bukan tipe orang yang mau mundur saat menghadapi rintangan. Saat ada dinding besar menghadang, ia akan mengahancurkannya walau tangannya akan hancur. Saat ada jalan penuh duri, ia akan menapakinya walau kakinya berdarah. Saat dihadapkan dengan jurang besar, ia akan tetap melompat walau tubuhnya hancur. Ia adalah laki-laki yang akan menerjang semua rintangan di hadapannya tanpa pikir panjang. Baginya, melarikan diri adalah tindakan pengecut. Aku sangat membenci kebiasaan itu. Aku sangat membenci itu ...," kata Akito dengan wajah tegap berurai air mata.
"Kalau memang harus berakhir begini, maka ayo kita akhiri dengan berusaha. Aku tidak mau hanya membiarkan ini berakhir begitu saja," kata Kageyama yang berusaha tegar.
__ADS_1
"Benar. Aku tidak mau membiarkan sang pemimpin tewas begitu saja. Jika memang harus berakhir, maka ini adalah akhir dari kita semua," sahut Julius.
"Ayo lakukan!" sahut Yuta.
"Walaupun aku baru bergabung. Tapi, sebuah kehormatan bisa menjadi bagian dari kelompok ini," sahut Alvin.
"Kakak, aku juga ikut," sahut Dian.
Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, berniat menyadarkan Rudi apapun yang terjadi. Bagi mereka, membiarkan sang pemimpin sekaligus sang lentara kelompok tewas, sama saja dengan aib besar.
...***...
Di sisi lain, saat ini, jiwa Rudi tengah berada di sebuah ruangan putih tak berujung.
"Ah, benar juga. Saat ini, aku pasti sudah mati," pikir Rudi yang sedang terjebak di ruangan putih tak berujung.
Saat ia menyadari bahwa itu adalah kematiannya, tanpa sadar, air matanya mulai mengalir.
"Maafkan aku Akito. Aku gagal mewujudkan mimpiku. Aku ini benar-benar pecundang! Maafkan aku Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, Dian. Aku sudah mengecewakan kalian. Aku ini pemimpin yang bodoh. Aku benar-benar bodoh!" pikir Rudi dengan perasaan campur aduk.
Rudi benar-benar menyesali semua hal. Satu penyesalan terbesarnya ialah karena gagal mencapai mimpi dan tunjuannya. Mimpi membuat dunia yang lebih baik. Tujuan menjadi yang terkuat. Tujuan mengukir namanya dalam sejarah. Semua mimpi dan tujuan itu sekarang hanya menjadi omong kosong belaka.
"Hahahahahahaha! Sangat menggelikan melihat diri sendiri menangis seperti itu," kata pria misterius yang memiliki rupa persis dengan Rudi.
Rudi sangat kaget saat pertamakali melihat pria itu.
"Siapa kau? Kenapa penampilanmu sama persis denganku?" tanya Rudi.
"Aku? Aku adalah kau," jawab pria itu.
"Ah, benar juga. Aku ini sudah mati. Apa kau adalah perwujutan jiwaku?" tanya Rudi.
"Bisa iya, bisa tidak. Yang pasti, aku ini adalah kau. Dan kau adalah aku," kata pria misterius yang memiliki wujud persis dengan Rudi.
"Jangan membuatku binggung. Katakan apa maksudmu? Apa kau yang bertugas membimbingku ke alam baka?" tanya Rudi.
"Hahahahahaha! Jangan bodoh! Kau belum mati. Saat ini, kita sedang berada di alam bawah sadarmu. Aku datang ke sini untuk menyadarkanmu," jawab pria misterius itu.
"Heh? Lalu, dari mana kau datang?" tanya Rudi.
__ADS_1
"Lihat tangan kananmu," kata pria itu sambil menunjuk tangan kanan Rudi.
Rudi melihat tangan kanannya.
Entah karena tidak sadar atau bagaimana. Tiba-tiba, tangan kanannya sudah memegang katana berbilah hitam dengan strip merah darah di tengahnya.
"Sejak kapan aku memegangnya?" pikir Rudi binggung.
"Aku bisa masuk ke alam bawah sadarmu karena katana itu. Katana itu jugalah yang membuatmu bisa mengontrol aliran Force menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yah, bisa dibilang, katana itu adalah kunci dari segalanya," kata si pria misterius.
"Apa katana ini istimewa?" tanya Rudi.
"Hahahahahahaha! Istimewa? Tentu saja. Kau akan menyadari betapa pentingnya peran katana itu di masa depan," jawab si pria misterius.
Rudi menatap katananya dengan wajah bingung.
"Dengar! Jangan pernah gunakan mode ini lagi. Aku hanya bisa membantumu sekali saja. Jika kau sampai menggunakannya lagi, maka kau akan benar-benar mati. Bukankah kau punya teman-teman dan sahabat yang bisa diandalkan? Kau seharusnya lebih memikirkan itu dari pada keegoisan diri sendiri. Ketahuilah. Di masa depan, kau akan menanggung sejarah panjang dan nasib seluruh umat manusia di punggungmu. Sampai saat itu tiba, jangan pernah menggunakan mode ini lagi. Kau hanya boleh menggunakan mode ini saat waktunya telah tiba. Waktu di mana kau akan menanggung nasib seluruh umat manusia," kata si pria misterius.
"Menanggung nasib seluruh umat manusia di punggungku? Apa maksudmu?" tanya Rudi bingung.
"Aku ingin memberitahumu segalanya. Tapi, aku tidak bisa. Kau akan tau segalanya saat waktunya tiba. Sampai saat itu tiba, jangan pernah berfikir untuk menggunakan mode ini. Apapun yang terjadi," jawab pria misterius itu.
"Lalu, bagaimana dengan umur dan jiwaku yang sudah berkurang? Apa aku masih punya kesempatan hidup?" tanya Rudi.
"Bukankah sudah kubilang? Aku datang ke sini untuk menyadarkanmu. Selain itu, aku juga akan mengganti beberapa tahun masa hidupmu dengan masa hidupku yang tersisa," jawab pria misterius itu.
Pria yang memiliki perawakan serupa dengan Rudi, mulai mendekati Rudi dan menyentuh dahinya.
Pria itu sedang mengirim sisa masa hidup yang ia miliki kepada Rudi.
Setelah beberapa saat, akhirnya pria itu selesai mengirim semua sisa masa hidupnya.
Karena masa hidupnya telah habis, wujud pria itu perlahan mulai menghilang.
Sambil perlahan menghilang, pria itu meninggalkan satu kalimat terakhir.
"Hahahahahahaha! Tidak ada penyesalan dalam hidupku. Penuhilah takdirmu sebagaimana kau memilihnya. Jangan salahkan siapa pun karena inilah jalan yang kau ambil," kata terakhir pria itu sebelum sepenuhnya menghilang.
Rudi hanya diam saat melihat wujud pria misterius yang sepenuhnya mirip dengannya, mulai perlahan menghilang.
__ADS_1