The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 109 - Balas Dendam


__ADS_3

Setelah melewati pertarungan alot selama kurang lebih 2 jam, kami akhirnya berhasil menumbangkan 35 orang dari kelompok incaran kami tanpa membunuh satu pun mereka.


Aku dan Akito kemudian mulai mengikat mereka semua menggunakan tali berlapis force yang sudah kami persipakan sebelumnya. Lalu, mengumpulkan mereka di satu tempat.


Setelah itu, kami kembali ke markas mereka dan mengeledah semua ruangan, berniat membebaskan para budak yang ditahan di sana.


Setelah menggeledah ke seluruh markas, kami berhasil membebaskan 20 orang yang tengah ditahan di sana.


Setelah membebaskan semua tahanan, aku kembali keluar markas dan berniat membawa semua orang yang berhasil kami lumpuhkan ke ruang penyiksaan.


Aku ingin menyiksa mereka hingga tewas sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat padaku dan pada semua orang yang telah mereka bunuh ataupun yang mereka perjual belikan sebagai budak.


Aku kemudian menjambak dan menyeret mereka satu per satu ke ruang penyiksaan, sama persis seperti yang mereka lakukan padaku sebelumnya.


Setelah keempat puluh orang itu selesai kukumpulkan di ruang penyiksaan, aku kemudian menjejerkan mereka untuk menunggu giliran mendapat siksaan hingga mati.


Aku menarik orang pertama dan mulai memaku tangan dan kakinya ke tiang berbentuk silang menggunakan paku besi besar.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa ...." Orang pertama pun langsung menjerit sejadi jadinya saat tangan dan kakinya tertancap paku besar.


39 orang lainnya juga mulai nampak pucak saat melihat orang pertama yang tengah kusiksa habis habisan.


Aku sengaja mengumpulkan mereka semua dalan satu ruangan bukan tanpa alasan. Selain berniat menyiksa fisik mereka, aku juga berniat menyiksa mental mereka dengan mempertontontakan penyiksaan kejam yang kulakukan.


Aku menjejer mereka sesuai urutan tertentu.


Orang yang jarang menyiksaku kutaruh dalam antrian depan. Sedangkan orang yang paling sering menyiksaku kutaruh dalam antrian paling belakang.


Orang dengan antrian paling belakang akan mendapat tekanan paling besar. Karena selain mengetahui bahwa dia akan disiksa hingga mati, dia juga harus melihat penyiksaan dan mendengar teriakan orang lain terlebih dahulu sebelum sampai pada gilirannya.


Aku menyiksa orang pertama hingga orang ke 30 dengan siksaan beragam. Sesuai dengan apa yang mereka lakukan padaku.

__ADS_1


Selesai mengeksekusi 30 orang di antrian paling depan, akhirnya sampai pada giliran 10 orang yang paling sering menyiksaku.


Aku berniat memberikan mereka siksaan khusus karena kesepuluh orang tersebut adalah orang orang yang paling sering menyiksaku.


Aku kemudian mulai memaku tangan dan kaki orang pertama dari kesepuluh orang tersebut ke tiang berbentuk silang.


*Orang pertama yang saya maksud adalah orang pertama dari 10 orang yang tersisa. Jadi, jangan sampai salah paham*


Aku berniat menyiksa kesepuluh orang terakhir itu dengan siksaan paling kejam yang bisa kupikirkan.


*Siksaanya tak bisa saya sebutkan karena bab ini sudah berkali kali ditolak.*


"Aaaaaaaaaaargh! Tolong ampuni aku!" Orang pertama pun terus menjerit kesakitan saat mendapat siksaanku.


"Bagaimana? Menyenangkan bukan? Seperti inilah yang setiap hari kurasakan!" kataku pada orang tersebut sambil terus menyiksanya secara perlahan.


Dengan air mata berlinang sambil merintih kesakitan, orang tersebut berkata, "To-Tolong ... tolong ampuni aku ... tolong jangan siksa aku."


Sambil terus menyeringai penuh kebahagiaan, aku bertanya, "Apa kalian mengampuniku saat aku memohon? Apa kalian melepaskanku saat aku menangis? Apa kalian mengasihaniku saat aku menjerit? Tidak! Kalian bahkan menikmatinya! Selama 1 tahun lebih, kalian terus menyiksaku hingga membuatku gila! Apa kau pikir penyiksaan ini bisa dibandingkan dengan apa yang sudah kalian lakukan padaku? Tentu saja tidak! Jangan cengeng hanya karena luka goresan kecil!"


Semakin kuat dia memberontak, maka rasa sakit yang dia rasakan juga akan semakin kuat. Karena jika terus memaksa memberontak, tangan dan kaki yang terpaku di tiang silang bisa saja putus.


Aku terus melanjutkan penyiksaan itu sambil memasang senyum manis di wajahku, seolah seperti mendapat kebahagian tertinggi.


Di sisi lain, kesembilan orang yang sedang menunggu giliran mereka masing masing, terus mencoba memohon ampun agar mereka tidak mengalami penyiksaan seperti orang pertama.


"Aku minta maaf ... Tolong jangan perlakukan aku seperti itu (maksudnya seperti orang pertama dari 10 orang yang tersisa) ... Jika kau berniat membunuhku, penggal saja leherku ... Aku tak sanggup jika harus mengalami penderitaan semacam itu," ucap salah satu dari 9 orang yang sedang menunggu giliran.


Aku tidak menggubris semua itu dan memilih terus bersenang senang dengan menyiksa orang pertama.


Di sisi lain, Akito yang juga berada di sana mulai tak kuasa saat mendengar rintihan menyanyat hati yang terucap dari mulut kesembilan orang yang tengah menunggu giliran.

__ADS_1


Ia sebenarnya tidak ingin Rudi melakukan hal semacam itu. Tapi, ia juga tidak bisa mencegahnya karena jika dibandingkan dengan penyiksaan yang Rudi terima, penyiksaan itu belumlah apa apa.


Aku kembali menyiksa orang pertama dengan siksaan paling kejam yang bisa kupikirkan.


Setelah mengalami siksaan selama 1 tahun lebih, aku benar benar tau tentang bagaimana rasa sakit berkerja. Sehingga, membuat siksaan yang kuberikan pada mereka benar benar terasa sangat menyakitkan.


*Lagi lagi harus saya skip karena alasan adegan terlalu sadis.*


Selesai dengan orang pertama, aku langsung melanjutkan ke orang kedua dan seterusnya.


Aku menyiksa mereka dengan siksaan yang berbeda beda.


*Tidak bisa saya sebutkan siksaan macam apa yang mereka terima karena alasan penolakan.*


Mereka terus berteriak, memohon ampun, hingga menangis tersedu sedu saat aku mulai memyiksa mereka satu per satu. Akan tetapi, aku tidak memperdulikan hal itu sama sekali.


Setelah selesai mengekseskusi kesepuluh orang tersebut, akhirnya sampai pada giliran orang terakhir, yaitu pria yang telah beberapa kali menolongku dan merupakan pemimpin kelompok tersebut.


Aku kemudian mendekati pria yang sering menolongku, kemudian bertanya padanya. "Kenapa? Kenapa kau sering menolongku?"


Pria itu terdiam beberapa saat, kemudian menjawab, "Entahlah! Aku tidak tau!"


"Aku sangat berterimakasih padamu. Jika bukan karenamu, saat ini aku pasti sudah mati. Tapi, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Bagaimanapun juga, kau adalah pemimpin kelompok ini dan merupakan dalang dari segala tindakan kejam mereka," kataku.


"Aku tau! Jika kau mau membunuhku, lakukan saja!" ucap pria tersebut.


"Walaupun kau sudah berbaik hati padaku, tapi aku tidak akan memberimu perlakuan khusus! Kau tetap akan mendapat siksaan sama seperti anggota kelompokmu yang lainnya, atau bahkan lebih pedih. Sebagai seorang pemimpin, kau adalah orang yang paling bertanggung jawab atas segala macam tindakan anggota kelompokmu!" kataku.


"Lakukan yang kau mau!" sahutnya.


......................

__ADS_1


Note :


Bab ini telah ditolak sebanyak 3 kali karena alasan : Mengandung adegan kekerasan berlebih. Maka dari itu, saya terpaksa menghilangkan adegan adegan tersebut dari bab ini.


__ADS_2