
Aku mulai memaku lengan dan kaki pria yang merupakan pemimpin dari kelompok incaranku ke tiang berbentuk silang.
Kemudian, mengulitnya sedikit demi sedikit, lalu motong jarinya perlahan, hingga mencincangnya hidup hidup.
Berbeda dengan orang orang sebelumnya, pria itu tidak berteriak sama sekali saat aku menyiksanya dengan siksaan yang lebih kejam dari pada orang orang sebelumnya.
1 jam kemudian, pria itu akhirnya tewas dengan tubuh tak berbentuk. Dan dengan begitu, misi balas dendamku telah selesai.
Setelah menghabiskan waktu selama 10 jam menyiksa 40 anggota dan pemimpin kelompok incaranku, aku akhirnya berhasil menumpas kelompok tersebut dan membalas perbuatan yang mereka lakukan padaku dan banyak orang lainnya.
Aku kemudian memandang ke langit langit ruangan sambil meneteskan air mata. "Sialan! Rasanya menyakitkan! Entah kenapa? Hatiku rasanya sangat sakit!"
"Aku yakin saat kau menyiksa mereka, kau terus memasang topeng gilamu. Padahal, jauh di dalam hati kau sedang ikut menderita! Wajar jika kau merasakan hal semacam itu! Justru, akan aneh jika kau tidak merasakan sakit sama sekali! Karena hanya manusia rusak yang bisa membunuh manusia lain tanpa rasa penyesalan!" kata Akito yang berusaha menenangkanku.
"Aaaaaaaaaaargh!" Aku berteriak lantang sambil berderai air mata.
Setelah berhasil membalaskan dendam, bukannya senang, aku justru malah merasakan sebuah penyesalan dan rasa sakit yang membekas di hatiku, seolah itu bukan hal yang kuinginkan. Tapi, aku juga tidak bisa memberikan mereka kematian mudah karena mereka telah banyak menghadirkan rasa sakit untuk banyak orang, termasuk diriku sendiri.
Dengan baju berlumur darah, aku kemudian mulai berjalan menuju ke arah bekas selku dulu. Dan saat sampai di sana, aku mulai mengingat kenangan masa lalu.
Saat berdiri di dekat pintu sel, aku mulai mengingat segala penderitaan dan rasa sakit yang kualami kala itu. Dan yang lebih membuatku emosional adalah kenangan tentang Firli dan orang tuaku yang entah kenapa mulai membanjiri otakku.
__ADS_1
Aku pun memasuki sel beraroma busuk itu, lalu berbaring di pojokan, tempat yang biasa kugunakan untuk tidur.
Sambil meringkuk dan meneteskan air mata, aku mulai mengingat mimpi yang selalu datang hampir setiap malam saat aku masih dikurung di sana. Dan entah kenapa, aku tidak pernah memimpikan hal tersebut setelah dikeluarkan dari sel itu.
Jika bukan karena mimpi itu, entah bagaimana nasibku saat ini. Jika bukan karena mimpi itu, mungkin saat ini aku sudah kehilangan akal. Jika bukan karena mimpi itu, aku tidak akan sanggup mempertahankan harapan. Dan jika bukan karena mimpi itu, nasibku tidak akan pernah berubah.
Aku tidak menyesali apa pun. Karena bagaimana pun juga, aku tidak akan bisa menjadi seperti ini jika bukan karena segala hal yang telah kulewati.
Dari segala macam penderitaan yang kualami, aku mendapat sesuatu yang berharga. Dari segala macam penderitaan yang kualami, aku belajar banyak hal. Dan dari segala macam penderitaan yang kualami, aku bisa memahami banyak hal.
Walaupun ada banyak hal yang ingin kurubah, tapi aku tidak menyesali apa pun. Bahkan jika diberi kesempatan untuk mengulang waktu, aku tetap akan menjalani kehidupanku sebagai mana mestinya tanpa berniat merubah apa pun. Karena jika aku merubahnya, bukan hanya nasibku sendiri yang akan berubah. Tapi, hal itu mungkin akan mempengaruhi hal yang jauh lebih besar lagi.
Dari masa lalu, aku benar benar belajar banyak hal. Masa lalu ada bukan sebagai penyesalan, malainkan sebagai pembelajaran untuk masa depan, karena masa lalu adalah guru terbaik dalam kehidupan. Berkat pengalaman di masa lalu, seseorang bisa belajar agar tidak terjerumus di lubang yang sama.
Sama halnya dengan kegagalan, penderitaan juga mengajarkan seseorang banyak hal. Lewat penderitaan, seseorang bisa memahami orang lain. Lewat penderitaan, seseorang bisa berempati pada orang lain. Dan lewat penderitaan, sisi kemanusian akan terbangun.
Sesuai yang Rudi pikirkan. Jika dia tidak pernah mengalami nasib seperti itu, saat ini dia tidak akan pernah bisa membuat kelompok dan diakui sebagai All Stars termuda sepanjang sejarah. Jika dia tidak pernah mengalami nasib seperti itu, dia tidak akan pernah berteman dengan Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian. Jika dia tidak pernah mengalami nasib seperti itu, dia tidak akan pernah memiliki impian besar. Dan jika dia tidak pernah mengalami masa lalu seperti itu, mungkin saja alur dunia akan menjadi jauh berbeda dari yang seharusnya, atau bahkan kehidupan tak ada lagi di bumi.
Saat aku masih meringkuk sambil meneteskan air mata di pojokan sel tersebut, tiba tiba Akito bertanya padaku. "Apa kau menyesali semua yang sudah kau alami?"
"Tidak! Tidak ada sedikit pun penyesalan dalam hidupku! Bahkan jika harus mengulang waktu, aku akan tetap menjalani sebagai mana mestinya!" jawabku.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Firli dan orang tuamu? Jika kau bisa mengulang waktu, kau mungkin bisa menyelamatkan mereka!" kata Akito.
"Akito ... semua manusia pasti akan mati. Yang jadi pertanyaan adalah di mana dan bagaimana? Jika aku bisa mengulang dan kembali ke masa lalu, tidak akan ada yang bisa kurubah! Karena bagaimanapun juga, kita hidup di dunia yang berjalan maju! Kalau pun aku bisa kembali ke masa lalu, aku juga tidak akan tau masa depan macam apa yang akan kuhadapi! Hal itu sama saja dengan mengulang kesedihan dan penderitaanku dari awal!" jawabku.
"Ya, kau benar!" sahut Akito.
Aku kemudian mulai berdiri dan berjalan keluar dari sel tersebut.
Sambil menutup pintu sel, aku bergumam, "Terimakasih untuk segalanya!"
Setelah berhasil menumpas kelompok incaran mereka, Rudi dan Akito tidak berhenti begitu saja. Mereka terus memburu kelompok kelompok kelas bawah yang sering memperjual belikan budak dan menumpas mereka sedikit demi sedikit.
Selain itu, mereka juga mengumpulkan semua orang yang telah mereka selamatkan dalam satu wilayah yang berada jauh dari jaungkauan orang orang.
Saat orang yang tinggal di wilayah tersebut semakin banyak, membuat wilayah tersebut semakin besar hingga membentuk sebuah desa. Dan karena Rudilah yang menjadi poin sentral dalam terbentuknya desa tersebut, membuat semua orang memintanya untuk menamai desa tersebut.
Rudi pun menamai desa tersebut seperti desanya dulu, yaitu desa Alpen.
Dan sejak saat itu, desa Alpen baru mulai terbentuk dan menjadi pemukiman bagi para mantan budak yang Rudi dan Akito selamatkan dari kelompok penjual budak.
Walaupun Rudi dan Akito bisa hidup tenang dan nyaman di sana, tapi mereka berdua tidak mau melupakan tujuan utama mereka.
__ADS_1
Tujuan mereka bukan hanya ingin membuat sebuah desa damai. Akan tetapi, mereka ingin merubah dunia menjadi tempat yang layak untuk setiap orang. Dan demi menggapai impian itu, Rudi dan Akito harus terus berlatih setiap hari sebelum memutuskan untuk memulai perjalanan mereka dalam menggapai mimpi.