
Aku dan kelompokku pergi ke negara Rosso menggunkan pesawat jet pribadi yang kami sewa.
Di dalam pesawat jet pribadi tersebut, kami merundingkan strategi yang akan digunakan untuk melawan kelompok All Stars Nero.
"Kelompok All Stars Nero memiliki wilayah seluas 25 kilometer persegi. Wilayah perbatasannya dijaga banyak pasukan lemah. Tapi, semakin ke dalam penjagaanya semakin kuat. Para eksekutif memiliki wilayah kekuasaan mereka sendiri. Dan pemimpin mereka tinggal di bangunan yang berada di tengah tengah wilayah mereka," kata Kageyama menjelaskan sambil melihat peta.
"Wilayah mereka benar benar mirip seperti miniatur negara. Walaupun begitu, kekuatan tempur mereka setara dengan negara kelas atas," kata Julius.
"Hmm ... apa kita bisa menyelinap masuk ke pusat wilayah mereka?" tanya Akito.
"Bisa ... tapi, setelah itu kita akan terjebak di sana dan terpaksa berhadapan dengan semua pasukan mereka. Akan lebih baik jika menghabisi wilayah demi wilayah sebelum merangsek masuk ke pusat wilayah mereka," jawab Yuta.
"Menghabisi wilayah mereka sedikit demi sedikit akan sangat merugikan. Jika kita memotong ekor ular, maka kepalanya akan menggigit. Kalau kita langsung memotong kepalanya, ada beberapa hal yang harus diperhitungkan. Tenaga, mental, hingga ketajaman pisau adalah pertimbangan yang harus diambil. Kalau kita gagal melakukannya dalam satu kali percobaan, maka pertempuran akan pecah. Kalau pertempuran pecah, kita akan sangat dirugikan karena pertempuran itu tidak akan menjadi pertempuran mudah," kataku.
"Lalu, apa keputusanmu? Apa kita akan langsung memotong kepalanya? Atau menghabisi ekor dan badannya?" Julius bertanya padaku.
"Kita lihat dulu seberapa berbahaya dan kuat ular yang akan kita buru. Jika memungkinkan, langsung potong kepalanya. Jika tidak, kita harus mencari kesempatan untuk membunuhnya dengan sekali serang. Kita hanya punya satu kesempatan, jika sampai gagal, akan sangat sulit untuk memperbaikinya. Dengan kemampuan kelompok kita saat ini, mustahil mengalahkan kelompok All Stars Nero dalam perang terbuka," jawabku.
Kami terus berusaha mencari cara terbaik untuk melawan kelompok All Stars Nero.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku tidak ingin pertempuran besar pecah karena itu akan sangat merugikanku dan kelompokku. Mengingat kemampuan, nama besar, hingga kualitas kelompok All Stars Nero jauh diatas jika dibandingkan dengan para Jendral Roland dan ketiga kelompok besar yang pernah kulawan sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan udara selama 10 jam, kami akhirnya sampai di kota Eden, negara Rosso.
"Huah ... berpetualang memang sangat menyenangkan. Kita bisa melihat tempat tempat baru setiap saat," ucapku dengan wajah kagum saat menjelajahi kota Eden yang berada di bawah kekuasaan negara Rosso.
"Aku setuju denganmu," sahut Akito.
"Oi, Akito! Lihat itu!" Aku menunjuk salah satu penjual makanan yang ada di pinggir jalan.
"Kelihatannya enak," sahut Akito.
"Ayo ke sana. Aku penasaran bagaimana rasanya," kataku.
"Ya, ayo," sahut Akito.
"Hoi, apa kalian lupa dengan misi kita? Kenapa kalian malah bertingkah seperti sedang liburan?" tanya Yuta dengan wajah geram saat melihat tingkahku dan Akito.
"Oh, ayolah. Lagi pula, kita juga tidak akan langsung menyerang mereka, bukan? Sedikit bersenang senang bukanlah hal buruk," jawabku.
"Ya, kenapa kalian terlalu serius? Bersantai bukanlah hal buruk," kata Akito.
__ADS_1
"Mereka ini ...." Yuta mencoba menahan emosinya.
"Kaaakakakakakakakaka! Menurutku, bersantai sebelum pertempuran adalah hal yang bagus," kata Kageyama sambil berjalan mendekatiku.
"Tenang sebelum badai? Ya, tidak buruk," kata Julius sambil berjalan di samping Kageyama.
"Tuan Julius juga? Ya, baiklah, baiklah." Yuta akhirnya menyerah.
Kami berlima menikmati suasana kota Eden sebelum memulai perburuan besar.
Kota Eden adalah kota yang berada di perbatasan negara Rosso. Letaknya tidak terlalu jauh dari wilayah kelompok All Stars Nero. Mungkin, sekitar 50 kilometer. Karena letaknya yang tidak terlalu jauh, para anggota kelompok Nero biasanya sering mendatangi kota tersebut untuk sekedar bersenang senang.
Di saat aku dan kelompokku asik berwisata kuliner di restoran pinggir jalan, kami melihat segerombolan orang yang menggunakan baju berlambang kelompok Nero.
"Lihat, itu adalah lambang kelompok Nero," kata Kageyama sambil mengunyah makanannya.
"Apa mereka orang terkenal?" tanyaku yang juga sedang asik makan.
"Entahlah. Mungkin saja mereka hanya anggota biasa," jawab Kageyama.
"Para keroco seperti mereka sangat suka memamerkan lambang kelompok besar mereka. Padahal, di kelompoknya mereka tidak lebih dari sekedar pesuruh rendahan," kata Yuta.
"Mulutmu tajam sekali, Yuta," kata Julius.
Akibat teriakan itu, membuat beberapa orang di sana mulai memperhatikanku dan kelompokku.
"Ya, ya. Lupakan saja," sahut Julius.
Karena teriakan itu juga, para bawahan Nero mulai mendekati tempat kami bersantai.
"Aku belum pernah melihat wajah kalian sebelumnya, apa kalian pendatang baru?" tanya salah satu bawahan kelompok Nero yang menghampiriku dan teman temanku.
"Ya, kami baru saja datang ke kota ini," jawabku sambil terus asik makan. Aku bahkan tidak melihat wajah pria itu sama sekali karena asik menyantap makanan di meja makan.
"Kau punya nyali rupanya. Apa kau tau siapa namaku?" tanya pria itu lagi.
"Kenapa? Apa orang tuamu tidak memberitahumu?" jawabku dengan santai.
Orang orang yang mendengar jawaban polos itu, berusaha menahan tawa mereka. Tapi, tidak dengan kelompokku. Mereka terang terangan tertawa terbahak bahak karena jawabanku.
"Kaaakakakakakakakaka! Mungkin saja, selama ini dia sedang mencari orang yang tau siapa namanya," ejek Kageyama.
__ADS_1
"Pfttt ... aku kasihan padanya," ejek Akito.
"Pfttt ... kalian seharusnya membantunya mencari identitasnya, bukan malah mengejeknya," ejek Yuta.
"Pftt ...." Julius tidak berkomentar dan berusaha menahan tawa agar tidak memuntahkan makanan di mulutnya.
Orang orang di sekitar juga berusaha keras untuk menahan tawa mereka, mengingat kejadian semacam itu sangat jarang terjadi, atau bahkan belum pernah terjadi sebelumnya.
Karena merasa sangat malu, pria tersebut langsung membentakku.
"Bajingan sialan! Berani sekali kau mengejekku! Akan kupatahkan semua tulang tulangmu itu dasar bajingan!" bentak pria itu dengan nada marah.
"Maaf ... ini, patahkan saja." Sambil meminta maaf, aku menyodorkan lenganku pada pria tersebut.
Karena sudah terbakar emosi, pria itu langsung mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke kepalaku.
Dor! Suara tembakkan pistol.
Kepalaku tersentak ke belakang karena hantaman peluru itu.
"Makan itu, bajingan!" kata pria itu.
Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta tidak memperdulikan hal itu sama sekali. Mereka lebih memilih terus menyantap makanan mereka dari pada memperdulikan Rudi yang tertembak tepat di keningnya.
"Oi, oi. Jika kau ingin melubangi kepalaku, seharusnya kau lapisi pelurumu dengan force. Kalau begini, kau hanya membuat keningku gatal," kataku sambil memberikan peluru yang telah menghantam keningku pada pria tersebut.
"Siapa kau sebenarnya?" Pria itu bertanya padaku dengan wajah gugup.
"Aku? Aku adalah orang yang akan melampaui para Kaisar," jawabku dengan tegas sambil memancarkan aura intimidasi.
Beberapa saat kemudian, aku dan kelompokku melanjutkan wisata kami.
"Haah ... sepertinya rencana kita akan benar-benar berantakan," kata Akito sambil menghela nafas.
"Mau bagaimana lagi, mereka yang mencari gara-gara," sahutku.
"Jangan berkata seolah itu bukan salahmu, bajingan! Karena kau telah menghajar mereka habis habisan, kelompok mereka pasti akan mencari kita," kata Akito dengan emosi.
"Kaaakakakakakakaka! Sedari awal, memang mustahil menghadapi kelompok All Stars diam diam. Jika sudah begini, maka kita tidak punya pilihan selain mendobrak dari pintu depan," kata Kageyama.
"Kupikir, tidak akan seburuk itu, Kageyama! Walaupun identitas kita diketahui, tujuan kita masih aman," kata Julius.
__ADS_1
"Aku setuju dengan Tuan Julius," sahut Yuta.