The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 96 - Kejanggalan


__ADS_3

Setelah perang selesai, Ling dan pihak aliansinya mulai meninggalkan bekas medan perang. Sedangkan kelompokku dan kelompok Nero berserta aliansinya masih berada di bekas medan perang.


Aku mengumpulkan 40 anggota kelompok Death Parade yang masih hidup di tanah lapang dengan kondisi tangan dan kaki mereka terikat tali berlapis force.


Aku berniat mengintrogasi mereka untuk mendapat gambaran tentang apa yang telah mereka perbuat terhadap desaku.


"Katakan padaku! Siapa yang menyuruh kalian? Dan kenapa kalian menyiksa mereka dengan kejam?" Aku bertanya pada mereka semua dengan tatapan membunuh.


Seluruh anggota kelompok Death Parade yang berada di sana hanya menunduk sambil terlihat ketakutan untuk menjawab.


"Jawab! Jika tidak, aku akan mengeksekusi kalian di sini!" kataku dengan tatapan membunuh.


"Soal itu ... kami memang ikut serta dalam pembantaian desamu. Tapi, kami tidak tau siapa yang menyuruh kami. Dan kami juga tidak pernah menyik ..."


Belum selesai orang itu menjawab, Nero langsung menyambarnya dan seluruh anggota Death Parade lainnya dengan sambaran petir ganas. Sehingga, membuat keempat puluh anggota kelompok Death Parade di sana pun tewas dengan tubuh hangus terbakar dalam sekejap mata.


Aku sangat terkejut saat melihat tindakan Nero.


Aku kemudian melirik ke arah Nero dengan tatapan penuh amarah.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak ingat kesepakatan kita?" Aku bertanya pada Nero sambil memasang wajah marah.


"Haaahahahahahahahaha! Aku hanya membantumu mengeksekusi mereka. Apa aku salah?" tanya Nero dengan wajah santainya.


"Aku tidak butuh bantuanmu!" jawabku dengan lirikan tajam.


"Hooo ... baiklah, baiklah. Aku mengerti!" jawab Nero.


Nero pun berniat pergi dari sana. Tapi, sebelum mulai melangkah pergi, ia mengatakan, "Karena kau belum punya banyak pengalaman, kusarankan jangan percaya apapun yang dikatakan musuh. Itu akan membuatmu kehilangan jati diri!"


Setelah mengatakan itu, Nero pun mulai meninggalkan tempat itu.


Aku hanya terdiam sambil melihat Nero yang mulai melangkah menjauh.


Aku pun mulai melihat ke arah mayat 40 anggota Death Parade yang telah mati dengan tubuh penuh luka bakar.


"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Akito yang berdiri di sampingku sambil berusaha menahan amarahnya.


"Sepertinya ada yang tidak beres di sini," jawab Kageyama yang juga sedang berdiri di sampingku.


Julius, Yuta, Alvin, dan Dian tidak mengatakan apapun. Mereka hanya melihat ke arah Nero yang mulai berjalan menjauh dengan tatapan penuh kemarahan.

__ADS_1


Aku hanya terdiam sambil memikirkan beberapa hal.


Dalam hati, aku bergumam, "Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kelompok James jelas terbukti bersalah. Tapi, kenapa aku merasa ada yang janggal? Jika Death Parade benar benar tidak menyiksa warga desaku, lalu siapa yang melakukannya?"


1 kilometer dari bekas medan perang, ada 1.000 pasukan elit terbaik negara Neverland yang dipimpin langsung oleh Jendral Besar Napoleon, sedang berjaga di sana.


Saat ini, Jendral Besar Napoleon dan 10 Jendral Neverland yang ditugaskan untuk mengawal perang antara aliansi kelompok All Stars Nero melawan kelompok Death Parade, sedang bersantai sambil bermain kartu.


Saat para petinggi itu sedang asik bermain kartu, tiba tiba ada salah satu prajurit yang ditugaskan mengintai medan perang, datang menemui mereka untuk melaporkan perkembangan terbaru.


"Lapor, Pak! Perang telah dikonfirmasi selesai dengan kemenangan aliansi All Stars Nero," kata sang prajurit pengintai.


"Bagitu rupanya. Jadi, sekarang Nero benar-benar menjadi raja di Benua Timur," gumam Jendral Besar Napoleon.


"Lalu, bagaimana tentang detailnya?" tanya sang jendral besar pada prajurit pengintai yang sedang melapor padanya.


Prajurit itupun mulai menjelaskan tentang detail pertempuran yang terjadi.


Berikut beberapa detail dalam laporannya.


Pertama, All Stars James berserta seluruh anggota kelompok Death Parade telah benar benar musnah.


Kedua, 2 jendral besar dan 8 jendral dari berbagai negara aliansi kelompok Death Parade telah tewas.


Dan yang terakhir, pihak yang menjadi kunci kemenangan dalam perang itu adalah kelompok beranggotakan 7 orang yang dipimpin oleh seorang bocah berusia 18 tahun bernama Rudi.


Napoleon sedikit terkejut saat mendengar tentang detail terakhir.


"Kelompok Rudi? Bukankah itu kelompok yang telah mengalahkan kelompok Nero beberapa waktu lalu?" tanya Napoleon pada bawahannya.


"Benar, Pak! Mereka adalah kelompok yang telah mengalahkan All Stars Nero beberapa waktu lalu," jawab sang bawahan.


"Haaahahahahahahahahaha! Begitu rupanya! Aku mengerti sekarang!" Napoleon tertawa lebar sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Salah satu Jendral bernama Begi keheranan saat melihat Napoleon tertawa lebar. Ia pun bertanya, "Kenapa kau tertawa seperti itu? Apa ada yang salah?"


Napoleon kemudian menjawab, "Tidak, tidak! Tidak ada yang salah. Justru, sekarang semuanya menjadi masuk akal."


"Apa maksudmu?" tanya Begi yang masih belum mengerti.


"Apa kau tau tantang anggota kelompok Rudi yang bernama Kageyama?" tanya Napoleon.

__ADS_1


"Hmm ... jika tidak salah, dia adalah bocah yang akhir-akhir ini mendapat julukan Iblis Api Kageyama, kan?" jawab Begi.


"Bukan itu yang kumaksud. Apa kau tau nama lengkapnya?" tanya Napoleon lagi.


"Entahlah," jawab Begi.


Sambil memasang wajah serius, Jendral Besar Napoleon menjawab, "Nama lengkapnya adalah Kageyama Arinto. Dia adalah anak sulung sekaligus pewaris utama keluarga Arinto."


Mendengar hal itu, membuat Begi dan para jendral lain yang berada di sana tersentak. Mereka tidak menyangka kalau pewaris utama keluarga Arinto bisa berada di sana. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah kenapa orang seperti Kageyama mau bergabung dengan kelompok kecil yang bahkan belum punya nama.


"Apa itu artinya ...."


"Benar! Hal itulah yang menjadi alasan para Kaum Langit (Bangsawan Elit Global) meminta negara kita mengawal perang ini," jawab Napoleon sambil tersenyum tipis.


"Astaga! Aku benar-benar tidak menyangka kalau keluarga Arinto membiarkan pewaris utama mereka berkeliaran di dunia luar. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa mereka membiarkannya ikut dalam perang semacam ini? Apa mereka tidak takut kalau pewaris utama mereka tewas atau cacat seumur hidup?" tanya salah satu jendral Neverland bernama Gillard.


"Aku yakin, mereka pasti punya alasan kuat tentang ini. Mungkin hal ini terkait tentang sesuatu yang selama ini mereka sembunyikan dari publik," jawab Napoleon.


"Disembunyikan? Apa maksudmu?" tanya jendral bernama Lifus.


"Entahlah ... aku juga tidak tau," jawab Napoleon.


Setelah mengkorfirmasi perang telah usai, Jendral Besar Napoleon pun memerintahkan semua pasukannya untuk kembali karena tugas mereka untuk mengawal perang telah usai.


Di sisi lain, Nero berserta aliansinya juga telah meninggalkan bekas medan pertempuran.


Dalam perjalanan pulang, Nero menemui sekelompok orang secara rahasia.


"Selamat atas kemenangan Anda, Tuan Nero!" ucap salah satu orang yang menemui Nero untuk mewakili yang lainnya.


"Bagaimana? Apa kalian sudah membereskan mereka?" tanya Nero pada sekumpulan orang yang menemuinya.


"Kami sudah melakukan sesuai tugas yang Anda berikan," jawab salah satu orang di sana.


Sambil tersenyum lebar, Nero berkata, "Bagus! Dengan begini, tidak ada kelompok manapun yang bisa bersaing denganku! Haaahahahahahahahaha!"


Selama bertahun-tahun, Death Parade selalu membayangi kelompok Nero. Dan setelah insiden kekalahan kelompok Nero dari kelompok Rudi, membuat kelompok Death Parade semakin mengancam posisinya sebagai penguasa dunia bawah di Benua Timur.


Tapi, dengan musnahnya kelompok Death Parade, kini tidak ada satu pun kelompok yang bisa bersaing dengan kelompok Nero.


Hal itu jelas membuat Nero sangat senang karena pada akhirnya, ia bisa menyingkirkan lawan terberatnya dalam perebutan kekuasaan di wilayah Benua Timur.

__ADS_1


"Membunuh dua burung dengan satu lemparan batu? Tidak buruk! Haaahahahahahahahaha!" gumam Nero dengan wajah penuh kepuasan.


__ADS_2