The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 100 - Akito dan Firli


__ADS_3

Di sepanjang perjalan, Firli terus merawatku dengan penuh kasih sayang. Dia menyuapkan roti, menuangkan minum, hingga membantuku berjalan.


Kondisiku saat ini benar benar menjijikan. Tubuhku penuh darah dan nanah kering, aroma anyir juga mulai menyerebak dari seluruh tubuhku. Walaupun kondisiku benar benar terlihat menjijikan, tapi Firli terlihat tidak terganggu sama sekali.


Sambil membantuku berjalan, Firli bertanya, "Rudi, bagaimana kondisi tubuhmu sekarang? Apa sudah lebih baik?"


"I-Iya ...," sahutku dengan nada pelan.


Sambil sedikit tersenyum, Firli mengatakan, "Syukurlah."


Setelah menempuh perjalanan selama 2 hari 2 malam, rombongan kami akhirnya sampai di sebuah pasar yang terletak di suatu kota.


Pasar itu berbeda dengan pasar pada umumnya karena yang dijual di sana adalah manusia.


Di sisi kiri dan kanan, banyak sekali manusia yang sedang dirantai dan dikurung dalam kerangkeng besi.


Orang orang yang di jual di sana tampak menyedihkan. Pancaran mata mereka seolah menggambarkan sebuah emosi hampa.


"Apa aku akan dijual sebagai budak?" pikirku sambil melihat ke sekitar.


Sambil membantuku berjalan, Firli bertanya, "Rudi, apa kita akan dijadikan budak?"


"Te ... nang ... sa ... ja. A-A ... ku ... pa-s-ti ... a-kan ... me ... lin-du-ngi ... mu!" jawabku dengan suara putus putus karena kondisi rahangku yang belum sepenuhnya sembuh.


"Terimakasih. Kau membuatku tenang!" sahut Firli sambil sedikit tersenyum manis.


Rombongan kami akhirnya berhenti di salah satu bangunan yang terletak di arena pasar tersebut.


Sesampainya di dalam bangunan tersebut, salah satu orang dari kelompok yang telah membantai desaku sedang berbincang dengan seseorang dengan perawakan tubuh gempal yang merupakan seorang pedagang budak.


"Kami ingin menjual mereka!" kata salah satu orang dari kelompok yang sudah membantai desaku.


"Sepertinya kalian mendapat tangkapan besar," sahut si pedangang budak.


"Berapa?" tanya orang dari kelompok yang sudah membantai desaku.


"Biar kulihat dulu," jawab si pedang budak.


Pedang budak tersebut kemudian berjalan di antara kami sambil melihat setiap orang satu persatu.


Saat si pedagang budak tersebut melihatku, dia terlihat seperti memasang wajah jijik.


"Apa ini? Kenapa kalian membawa mahluk menjijikan seperti ini?" tanya si pedagang budak tersebut pada kelompok yang sudah membantai desaku.

__ADS_1


"Apa kau tidak mau membelinya?" tanya salah satu orang yang sudah membantai desaku.


"Mana mungkin aku mau membeli mahluk menjijikan seperti ini!" jawab si pedagang budak.


"Kau bisa membelinya dengan harga berapa pun. Jika semua lukanya sembuh, dia pasti akan laku dengan cepat," sahut orang yang sudah membantai desaku.


"Aku tidak mau. Aku ini pedagang, bukan peternak! Aku tidak punya waktu merawat mahluk menjijikan seperti ini!" kata si pedang budak sambil menendang tubuhku yang sedang tergulai lemas di tanah.


"Baiklah, aku mengerti. Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?" tanya orang yang sudah membantai desaku.


Pedagang budak itu kembali melihat para penduduk desa Alpen satu persatu.


Dan saat ia melihat Firli, pedangang budak itu berkata, "Gadis ini sangat cantik. Kalau saja dia lebih besar lagi, harganya pasti akan sangat mahal."


"Berapa?" tanya orang yang sudah membantai desaku.


"Hmm ... 10.000 gale," jawab si pedagang budak.


"10.000 gale? Itu terlalu sedikit," kata orang yang telah membantai desaku.


"Itu adalah harga yang pantas karena dia masih terlalu kecil," sahut si pedagang budak.


"Kalau begitu, aku akan menjualnya ke pedagang lain," sahut orang yang sudah membantai desaku.


"100.000 gale."


"Apa kau bercanda? Jangan bodoh! 100.000 gale itu terlalu mahal untuk gadis kecil seperti ini!"


"Jika tidak mau, maka aku akan mencari pedagang lain."


"Tunggu sebentar! 50.000 gale! Itu adalah harga tertinggi yang bisa kubayar."


"Tidak. Aku hanya akan menjualnya dengan harga 100.000 gale."


"Terserah kalau begitu. Tidak akan ada pedagang lain yang mau membayar dengan harga segitu!"


Setelah transaksi selesai, aku dan Firli tidak dibeli karena alasan berbeda. Aku tidak dibeli karena kondisiku yang menjijikan. Sedangkan Firli tidak dibeli karena harganya terlalu mahal.


Kami berdua kemudian dibawa ke sebuah bangunan yang terletak tidak jauh dari pasar tersebut. Rupanya, bagunan tersebut adalah markas dari kelompok yang telah membantai dan menjual warga desaku.


Di sana, aku dan Firli dikurung di sebuah kerangkeng besi bersama 1 orang anak laki laki yang sudah berada di sana lebih dulu.


Firli beberapa kali mencoba mengajak anak laki laki itu berbicara. Akan tetapi, anak laki laki itu tidak mau menanggapinya sama sekali.

__ADS_1


Hari demi hari kujalani dengan penuh penderitaan.


Semakin lama aku ditahan di sana, kondisiku semakin memburuk karena luka lukaku mulai membusuk. Dan alhasil, tubuhku mulai mengeluarkan aroma menyengat bak aroma mayat.


Firli yang melihat kondisiku semakin memburuk, mulai terlihat sedih dan pasrah.


"Rudi, bagaimana kondisimu?" Firli bertanya padaku dengan wajah penuh kesedihan.


Aku sama sekali tidak menjawab dan hanya mengedipkan mata perlahan.


Firli pun mulai larut dalam tangisannya.


Saat melihat Firli yang menangis tersedu sedu, bocah laki laki yang sedang ditahan bersama kami pun mulai berbicara, "Kenapa kau menangis? Akan jauh lebih menyakitkan jika dia harus hidup dengan kondisi seperti itu. Menurutku, kematian jauh lebih baik dari pada harus menanggung penderitaan semacam itu."


Mendengar hal tersebut, membuat Firli berhenti menangis dan melihat ke arah bocah laki laki tersebut.


"Siapa namamu?" tanya Firli.


"Tidak penting siapa namaku!" jawab bocah laki laki itu.


Sambil berteriak penuh emosi, Firli bertanya, "Katakan! Siapa namamu?"


Bocah itu terdiam sesaat sambil memeluk lututnya, kemudian menjawab, "Akito ... namaku Akito."


Firli kemudian berdiri dan menampar Akito.


"Rudi sangat kuat! Dia tetap ingin hidup! Dia berjanji akan melindungiku! Jadi, jangan pernah mengatakan hal semacam itu lagi!" seru Firli sambil terisak.


Akito kemudian melihat ke arah Firli sambil bertanya, "Apa kau tega melihatnya menderita seperti itu? Semua luka di tubuhnya pasti terasa sangat menyakitkan. Jujur saja, aku bahkan tidak bisa membayangkan rasa sakit semacam apa yang harus ia tanggung saat ini. Jika aku jadi kau, aku akan lebih senang jika harus melihatnya mati dari pada harus melihatnya menderita seperti itu!"


Firli kemudian menjawab, "Jangan remehkan Rudi! Dia itu kuat! Jika dia memang ingin mati, dia tidak akan bertahan hingga saat ini!"


Akito tersentak saat mendengar perkataan Firli. Kemudian bertanya, "Untuk apa dia terus bertahan hidup? Jika dia hidup pun, dia pasti hanya akan berakhir sebagai budak. Masa depan yang menunggunya hanyalah penderitaan dan penderitaan yang lebih besar lagi."


"Tidak! Kau salah! Ayahku pernah mengatakan bahwa kehidupan tidak akan pernah berubah jika kita hanya berpangku tangan! Jika kita yakin, kita pasti akan mendapat jalan keluar atas permasalahan yang kita hadapi!" bentak Firli dengan air mata berlinang.


"Lalu, di mana ayahmu sekarang? Bukankah itu hanya omong kosong belaka?" tanya Akito sambil menundukkan pandangannya.


Firli menunduk sambil menangis dan tidak menjawab pertanyaan Akito.


Karena tidak tahan melihat Firli menangis, aku pun memaksakan diri untuk mengatakan, "Ja-gan ... me-na-gis ... a ... ku ... pas-ti ... a-kan ... ber-ta ... han ...da-n ... mem-buk-ti-kan ... bah-wa ... u-ca-pan ... a-ayah-mu ... ti-dak ... sa-lah."


Firli langsung berhenti menangis saat mendengar ucapanku. Sedangkan Akito langsung melihat ke arahku dengan wajah terkejut.

__ADS_1


__ADS_2