
Dampak dari pertarungan kedua kelompok di hutan barat mulai semakin meluas hingga perbatasan barat ibukota.
Puing-puing batu, kayu, dan tanah mulai berterbangan sampai ke sana. Sehingga, memaksa para tentara untuk segera mengevakuasi penduduk menjauh dari perbatasan barat.
Sebagian pasukan ibukota berusaha mengamankan warga sipil agar tidak terkena dampak pertarungan itu. Sedangkan sebagian lainnya, bersiap untuk terjun dalam pertempuran.
"Jendral besar sudah datang!" teriak salah seorang tentara kota.
"Bagaimana situasinya?" tanya sang jendral besar yang baru saja sampai di perbatasan barat.
"Beberapa rumah penduduk hancur karena terkena serpihan kayu, batu, dan tanan yang berterbangan, Pak!" jawab salah satu prajrit di sana.
"Persiapkan prajurit! Kita berangkat!" perintah sang jendral besar.
Jendral Besar Negara Roland bersama 500 pasukan elit negara mulai bergerak ke pusat pertempuran.
Di dalam markasnya, Ciel telah mendengar berita tentang Jendral Besar Roland yang akan segera berangkat ke medan pertempuran kelompok Rudi melawan kelompok Hendri.
"Haaahahahahahaha! Jadi, sang jendral besar sudah bergerak?" tanya Ciel sambil duduk di kursinya dan memakan apel.
"Benar ... karena dampak pertarungan yang semakin meluas, mereka tidak bisa membiarkannya terus berlangsung," jawab eksekutif pertama kelompok Ciel.
"Ayo berangkat! Kita harus manfaatkan situasi ini untuk menjatuhkan kelompok Hendri. Aku tidak tau siapa kedua bocah nekat itu. Tapi berkat mereka, kita bisa mendapatkan kesempatan untuk membalas kekalahan kita dari kelompok Hendri," kata Ciel yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Apa kau benar-benar ingin ikut dalam pertempuran itu? Di sana juga ada pihak militer. Kita tidak akan bisa menangani 2 musuh sekaligus," kata eksekutif kedua kelompok Ciel.
"Jangan bodoh! Pertarungan ini bukan hanya 2 sisi saja. Akan ada banyak pihak yang saling bertarung di sana. Dengan memanfaatkan kekacauan itu, kita bisa mengambil keuntungan dan menghabisi kelompok Hendri," balas Ciel.
"Lalu, bagaimana dengan pihak militer? Apa mereka akan melepaskan kita begitu saja?" tanya eksekutif ketiga kelompok Ciel.
"Yang menyebabkan kerusakan di ibukota adalah kelompok Hendri dan 2 bocah itu. Jadi, tidak ada alasan untuk mereka menangkap kita. Kita datang ke sana hanya untuk megawasi situasi. Jika memungkinkan, kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin," jawab Ciel.
"Baiklah, itu ide yang bagus," kata ekekutif pertama.
Ciel berserta 10 eksekutifnya mulai berangkat ke medan pertempuran.
Di dalam markasnya, Gary juga telah mendengar tentang pergerakan pihak militer Roland dan kelompok Ciel.
"Bos, pihak militer sudah bergerak! Dan menurut informasi, kelompok Ciel juga mulai bergerak," kata salah satu bawahan Gary.
"Cih ... apa-apaan ini? Kenapa pertarungan dua kelompok malah berakhir dengan perang habis-habisan?" pikir Gary.
"Apa yang harus kita lakukan, Bos?" tanya si bawahan.
"Cepat perintahkan semua eksekutif untuk bersiap. Kita juga akan pergi ke sana," jawab Gary.
"Baik, Bos!" sahut bawahan itu.
"Aku tidak bisa membiarkan kelompok Ciel untuk mengambil keuntungan dari insiden ini," pikir Gary.
Gary berserta 10 eksekutifnya bersiap untuk ikut dalam pertempuran itu.
Di hutan barat, pertarungan kelompok Rudi melawan kelompok Hendri masih terus berlanjut.
Duar!
Akito menghantam keras ke tanah setelah terkena pukulan telak dari eksekutif keenam kelompok Hendri.
"Aku benar-benar kesulitan menghadapi kombinasi mereka bertiga!" gumam Akito.
Akito menoleh ke arah Rudi.
__ADS_1
"Dia harus menghadapi 9 eksekutif dan sang pemimpin kelompok. Tapi, dia sanggup mengimbangi mereka semua. Sedangkan di sini, aku dibuat kesulitan hanya dengan menghadapi 3 dari mereka. Aku benar-benar payah!" pikir Akito saat melihat pertarungan Rudi melawan Hendri berserta 9 eksekutifnya dari kejauhan.
"Apa kau sudah selesai?" tanya eksekutif kesembilan kelompok Hendri pada Akito.
"Apa aku terlihat begitu?" Akito balik bertanya.
Akito pun mulai berusaha berdiri dengan kondisinya yang tidak lagi sebugar sebelumnya.
Kaki, tangan, dan badannya mulai bergetar karena lelah dan rasa sakit yang semakin menumpuk. Darah segar juga mulai mengalir tipis dari pelipis dan lengannya.
Saat Akito masih berusaha menyangga tubuhnya, tiba-tiba Rudi terlempar dan mendarat tepat di dekatnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Akito padaku.
"Mereka benar-benar menghajarku habis-habisan," jawabku sambil berusaha berdiri.
"Bangunlah." Akito mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
"Terimakasih." Aku pun meraih tangan itu dengan senyum tipis terukir di wajahku.
"Ayo pertaruhkan segalanya di sini. Jika kita tidak bisa mengalahkan mereka, impian kita hanya akan jadi omong kosong belaka," kata Akito.
"Haaahahahahahaha! Kau benar. Ayo kerahkan segalanya," sahutku.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Hendri yang sudah berada di hadapan kami berdua.
"Apa kau pikir kami sudah selesai?" Aku bertanya balik.
"Hei, apa kalian masih sanggup bertarung dengan tubuh seperti itu?" tanya eksekutif kedua pada kami.
"Yah, ayo kita lihat," jawabku santai.
Aku melirik Akito sambil tersenyum, Akito pun melakukan hal yang sama.
Aku membuat pedang es di tangan kiri. Sedangkan Akito memegang ranting berlapis Force di tangan kanan.
Frezee!
Aku membekukan area seluas 500 meter persegi dengan kemampuan atributku.
Akito meluncur di atas dataran es itu seperti sebuah torpedo berkecepatan tinggi, menuju ke arah eksekutif pertama sambil mengayunkan rating di tangannya.
Slash!
Eksekutif pertama tidak sanggup menghindari serangan Akito karena kakinya masih terjebak di es.
Si eksekutif pertama pun harus terkena serangan telak yang Akito lesatkan. Dan membuatnya terpental hingga menghantam tanah, pohon, dan batu di belakangnya.
"Akito!" teriakku meminta Akito menghindari serangan lawan.
"Aku tau!" balas Akito sambil menghindari serangan cepat eksekutif kedua yang menyerangnya dari titik buta.
Ice Lance!
Sambil berseluncur di atas es, aku melesatkan tombak es tajam ke arah eksekutif kedua untuk membantu Akito.
Eksekutif kedua berhasil menghindari seranganku. Akan tetapi, dari arah sebaliknya, Akito sudah siap menyerangnya saat ia mengindari tombak es milikku.
Akito pun mengayunkan ranting berlapis force yang ia pegang ke arah perut sang eksekutif kedua.
Ranting pohon berlapis force yang Akito pegang, menghantam telak ke perut eksekutif kedua kelompok Hendri.
__ADS_1
Karena terkena serangan telak di perut, eksekutif kedua pun terlempar jauh ke belakang hingga menghantam batu besar.
Dari belakang, Hendri menyadari bahwa kombinasi serangan Rudi dan Akito terasa semakin tajam.
"Apa mereka sudah terlatih bertarung bersama? Saat mereka bersama, kombinasi serangan mereka jadi jauh lebih tajam dari sebelumnya," pikir Hendri.
"Kalian semua! Cepat habisi mereka!" Hendri berteriak kepada 9 eksekutifnya yang masih berdiri.
Ekesekutif ketiga dan keempat mulai menyerangku secara bersamaan.
Aku pun terus menghindari serangan keduanya sambil sesekali menyerang balik.
Eksekutif ketiga melesatkan pukulan ke wajahku, dan aku pun berhasil menghindarinya dengan menunduk.
Saat sang eksekutif ketiga fokus menyerangku, tiba-tiba Akito datang dan menghantam kepala eksekutif ketiga dengan rantingnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Akito padaku.
"Haaahahahahaha! Ini jadi semakin menarik," jawabku dengan perasaan riang.
Kombinasi keduanya semakin menggila.
Rudi dan Akito saling melengkapi saat menyerang dan bertahan.
Satu, dua, tiga, empat eksekutif kelompok Hendri pun mulai berjatuhan satu per satu karena tidak bisa membendung kombinasi keduanya.
Melihat keadaan yang mulai berbalik, Hendri selaku pemimpin kelompok tidak bisa diam saja. Ia pun mulai mengerahkan segala kemampuannya untuk menjatuhkan 2 bocah ingusan yang hampir mengalahkan para eksekutifnya.
Sedangkan di sisi lain, Rudi dan Akito semakin tak terhentikan. Mereka terus menggila di saat kondisi mereka sudah berada di ujung tanduk. Bahkan, di tengah tekanan pertarungan yang sangat intens, mereka malah tersenyum lebar seperti mengambarkan kepuasan tertinggi.
"Apa-apaan kedua bocah ini? Bukankah tubuh mereka sudah mencapai batas? Kenapa mereka malah tersenyum seperti itu?" pikir Hendri sambil terus melancarkan serangan-serangan mematikan ke arah keduanya.
"Akito, di belakangmu!" teriakku meminta Akito menghindar.
Mendengar teriakan itu, Akito langsung menoleh ke belakang. Tapi, ia tidak sempat menghindar.
Crash!
Akito terkena tembakan telak di dada kanannya. Karena luka itu, Akito pun tumbang sambil melihat ke arah sahabatnya.
"Akito!" Saat melihat tubuh Akito yang mulai tersukur ke tanah, aku berteriak karena syok.
Sontak, aku berusaha meraih tubuh Akito yang mulai tersungkur karena luka parah terkena tembakan.
Saat aku berhasil meraih tubuh Akito, aku melihat darah segar mengalir deras dari dada kanannya.
"Akito ... oi, Akito ...," kataku lirih.
"Ke-Kenapa, sobat?" tanya Akito lirih.
Aku terus menekan luka di dada Akito agar dia tidak kehilangan banyak darah.
"Maaf, Sobat! Seper ... uhuk! Uhuk!" ucap lirih Akito sambil batuk darah.
"Jangan banyak bicara! Aku akan membekukan lukamu agar pendarahannya bisa berhenti," kataku sambil berusaha menghentikan pendarahan di dada Akito.
Dari kejauhan, sniper yang telah menembak Akito, langsung melaporkan hal itu pada Jendral Besar Negara Roland.
"Satu tumbang," ucap sniper itu lewat radio komunikasi.
"Dimengerti," jawab Jendral Besar Negara Roland lewat radio komunikasi.
__ADS_1
Sniper itu kemudian mulai membidik kepala Rudi. Dan ...