
1 bulan setelah perang besar melawan aliansi kelompok Death Parade, aku dan kelompokku saat ini tengah bersantai sejenak di ibu kota Neverland.
Kami melakukan itu karena tidak punya kegiatan dalam waktu dekat. Telebih, dampak pasca perang juga masih hangat dibicarakan di mana mana. Sehingga, membuat kami kesulitan bergerak karena banyak pihak yang mencoba menjilat kakiku.
Pihak pihak tersebut berasal dari negara negara kelas bawah yang menginginkan untuk bisa beraliansi dengan kelompokku. Mereka bahkan rela memberikan penawaran penawaran tak masuk akal seperti gelontoran dana setiap tahun, hingga segala fasilitan terbaik yang bisa mereka berikan. Dan tentu saja, aku menolak semua itu karena aku tidak tertarik memiliki aliansi yang berkepanjangan.
Lalu, soal negara Roland dan ketiga kelompok yang sebelumnya beraliansi denganku, aku beraliansi dengan mereka hanya untuk membantuku dalam perang melawan aliansi kelompok Death Parade. Dan setelah perang selesai, aku langsung memutus hubungan aliansi tersebut.
Walaupun negara Roland dan ketiga kelompok tersebut mengajukan aliansi berkepanjangan, aku tetap menolaknya karena menurutku hal semacam itu sangatlah merepotkan. Aku juga tidak mau sembarangan menaruh namaku di mana saja karena jika sampai salah tempat, maka hal itu akan berdampak buruk pada citra kelompokku di mata publik.
Bukannya aku perduli pada citraku, tapi di kelompokku ada banyak nama nama besar papan atas dunia, seperti Kageyama, Julius, dan Yuta. Dan jika citra kelompok kami sampai rusak, maka dampaknya juga akan dirasakan oleh mereka yang berada di kasta tertinggi.
Lalu, soal tim Lukman, informan terpercaya dari keluarga Kageyama mengatakan bahwa seluruh anggota tim Lukman berserta keluarga mereka telah dibantai oleh kelompok yang tidak diketahui.
Aku awalnya tidak percaya dengan hal itu. Tapi, setelah Kageyama menunjukan bukti nyata, aku tidak punya pilihan selain mempercayainya.
Aku dan Akito ingin sekali menghabisi seluruh anggota tim Lukman dengan tanganku sendiri. Akan tetapi, kami tidak bisa melakukannya karena mereka telah mati, tepat setelah perang besar 3 All Stars di Benua Timur selesai. Sehingga, memaksaku dan Akito harus merelakan misi balas dendam kami.
.
.
Saat ini, aku, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian tengah berlibur di taman wisata di ibu kota Neverland.
Kami berniat menghabiskan waktu di sana sementara waktu sebelum nantinya kembali ke Benua Tengah untuk menantang kelompok kelompok papan atas dunia.
Tujuanku adalah mencapai puncak tertinggi. Maka dari itu, aku harus bisa mengalahkan banyak orang orang hebat yang saat ini menduduki singgasana tertinggi.
Dan soal membuat dunia lebih baik, aku tidak berniat memaksa dunia berubah. Tapi, aku ingin menginspirasi dunia agar bisa berubah.
Bagaimanapun juga, aku hanyalah 1 di antara jutaan manusia yang saat ini hidup di dunia. Aku tidak akan bisa mengubah mereka dengan kekuatan. Yang bisa kulakukan adalah merubah mereka dengan menujukkan keberadaanku. Agar mereka yang memiliki nasib sepertiku, bisa mulai berfikir dan berusaha untuk mengejar mimpi.
Kami cukup bersenang senang di taman bermain itu.
Kami menaiki banyak wahana ekstrim yang memacu adrenalin. Walaupun sebenarnya, di mataku wahana ekstrim di sana terasa biasa saja karena aku tidak bisa merasakan ketegangan sama sekali.
Tapi anehnya, saat melihat banyak orang yang bermain di wanaha ekstrim itu, mereka terus saja berteriak seolah tengah berada di ambang kematian.
Sambil melihat orang orang yang berteriak saat menaiki wahana ekstrim di sana, aku berkata, "Cih ... lemah sekali!"
Mendengar ucapanku, membuat Kageyama berkata, "Kaaakakakakakakakaka! Bagimu, itu terasa seperti mainan anak anak. Tapi bagi mereka, itu terasa mengerikan!"
"Dasar bodoh! Jangan bandingkan mereka denganmu!" kata Akito padaku.
"Haaah?" Aku berteriak pada Akito, kemudian melanjutkan, "Maaf saja! Tapi, di mataku semua wahana yang ada di sini sangat membosankan!"
"Tentu saja, dasar bodoh! Mayat hidup sepertimu tidak akan bisa merasakan ketenganan di sini!" Akito mengejekku.
"Apa? 'Mayat hidup sepertiku' kau bilang?" teriakku pada Akito.
__ADS_1
"Apa ucapanku salah?" seru Akito sambil memasang wajah galak.
"rararararara! tatatatatata! gagagagagaga!" Aku dan Akito pun terus berdebat.
Karena melihat aku dan Akito yang terus berdebat, membuat Dian nampak sedikit ketakutan.
Dengan wajah takut dan nada sedikit bergetar, Dian berkata, "Hentikan kalian berdua ... jangan bertengkar terus."
Saat melihat Dian yang nampak ketakutan, membuat Alvin marah, lalu membentakku dan Akito.
Sambil memukul kepala kami berdua, Alvin berteriak, "Hentikan! Kalian membuat adikku takut!"
Aku dan Akito kemudian langsung memegangi bekas pukulan Alvin sambil melihat wajah marah Alvin dengan wajah bersalah.
"Minta maaf sekarang juga!" Alvin menyuruhku dan Akito untuk meminta maaf pada Dian.
Dengan wajah bersalah, aku dan Akito meminta maaf pada Dian. "Dian, maaf. Kami tidak bermaksud menakutimu."
"Hmm hmm ...," Dian menggelengkan kepalanya, kemudian berkata dengan nada lemah lembut, "Jangan bertengkar terus. Bukankah kalian itu sahabat sejak kecil?"
"Sahabat?" seruku dan Akito dengan kompak sambil melihat satu sama lain dengan wajah galak.
"Cih! Siapa yang sudi punya sahabat sepertinya!" kataku sambil mendengus dan mengalihkan pandangan dari Akito.
"Siapa juga yang mau punya sahabat sepertimu?" kata Akito sambil menyilangkan tangan dan mengalihkan pandanganya dariku.
"Kaaakakakakakakakaka! Sudahlah! Kuberitahu satu hal. Di sini, ada satu wahana yang sangat ekstrim dan bisa membuat kalian menjerit ketakutan," kata Kageyama.
Dengan wajah penasaran, aku pun bertanya pada Kageyama, "Wahana seperti apa itu?"
Dengan tawa khasnya, Kageyama menjawab, "Kaaakakakakakaka! Apa kalian yakin mau tau? Jangan salahkan aku kalau kalian ngompol di celana!"
Aku dan Akito nampak semakin penasaran dengan wahana yang Kageyama maksud.
"Kageyama, apa maksudmu wahana yang itu?" tanya Julius.
"Ya, benar. Wahana itu!" jawab Kageyama.
"Hei, jangan membuatku semakin penasaran! Cepat katakan wahana apa yang kalian maksud!" seruku dengan perasaan yang semakin penasaran.
"Aku punya firasat buruk," kata Yuta sambil melihat tawa jahat di wajah Kageyama.
.
.
"Kyaaaaaaaaaaa!" Aku dan Akito berpelukan sambil berteriak sejadi jadinya saat melihat hantu yang tiba tiba muncul di depan kami.
Saat ini, aku, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, sedang berada di dalam wahana rumah hantu.
__ADS_1
Dengan wajah puas saat melihatku dan Akito ketakutan setengah mati, Kageyama berkata, "Kaaakakakakakakaka! Bukankah sudah kubilang?"
"Sialan, kau, Kageyama! Kau seharusnya bilang dari awal kalau yang akan kita masuki adalah wahana rumah han ... kyaaaaaaaaa!" Belum selesai aku berbicara, lagi lagi aku dikejutkan oleh hantu yang tiba tiba muncul di depanku.
Aku dan Akito pun terus terusan berteriak seperti perempuan.
Walaupun kami tidak takut dengan semua wahana ekstrim di sana, tapi rumah hantu adalah hal berbeda.
Dari kami berjutuh, hanya aku dan Akito yang terus terusan berteriak tanpa henti setiap melihat hantu yang tiba tiba muncul.
Dian yang seorang perempuan bahkan tidak menjerit ataupun memasang wajah takut sama sekali, seolah hantu hantu di sana bukan masalah besar untuknya.
Setelah berhasil keluar dari rumah hantu tersebut, aku dan Akito akhirnya bisa bernafas lega.
"Rudi, Akito, apa kalian baik baik saja?" tanya Dian dengan wajah polosnya.
Dengan nafas terengah engah, aku menjawab, "Bu-Bukan masalah besar!"
"Benarkah? Wajah kalian berdua nampak pucat sekali," kata Dian sambil melihat wajahku dan Akito.
"Tenang saja. Kami sudah terbiasa dengan hal semacam ini," jawab Akito.
"Terbiasa? Kalian bahkan menjerit sekuat tenaga setiap melihat hantu yang muncul," ejek Yuta padaku dan Akito.
"Kupikir kalian kuat dalam segala hal! Ternyata, kalian sangat lemah kalau harus berurusan dengan hantu," ejek Alvin padaku dan Akito.
"...." Seperti biasa, Julius hanya terlihat seperti menahan tawanya untuk menjekku dan Akito.
"Lagian, kenapa kalian bisa tidak teriak sama sekali? Apa kalian tidak takut?" tanyaku pada yang lainnya sambil masih berusaha mengatur nafas.
"Untuk apa takut? Hantu di sana adalah manusia! Mereka hanya berpakaian dan berdandan seperti hantu," jawab Alvin.
"Aku tau itu! Tapi, itu tetap saja mengerikan!" kataku sambil terduduk di tanah dan mencoba mengatur nafas.
"Benar! Walaupun aku tau mereka manusia, tapi rasanya tetap menakutkan," sahut Akito sambil memegangi lututnya dan mencoba mengatur nafas.
"Kalian saja yang penakut!" ejek Yuta pada kami berdua.
Selesai senam jantung di wahana rumah hantu, kami pergi ke restoran dan makan di sana sebelum pulang.
Setelah puas menyantap makanan, kami pulang dengan perut kenyang. Dan sesampainya di depan gerbang masuk rumah Julius, kami melihat ada puluhan orang yang tengah berkerumun di depan gerbang.
"Siapa mereka? Apa mereka kenalanmu?" Aku bertanya pada Julius.
"Entahlah ... Aku tidak mengenal mereka sama sekali," jawab Julius.
Kami pun mulai mendekati kerumunan itu. Dan saat kerumunan itu menyadari kedatangan kami, mereka langsung menoleh ke arah kami.
Di antara kerumunan itu, ada beberapa orang yang sudah tidak asing lagi bagiku dan Akito.
__ADS_1
Seketika itu juga, aku dan Akito tertegun saat melihat beberapa orang yang kami kenal. Meraka adalah beberapa anak dari desa Alpen dan 2 eksekutif kelompok Andre.
Dengan wajah syok dan tak percaya, aku bertanya pada mereka. "Bu ... bu ... bukankah kalian? Bukankah kalian sudah mati?"