
Pergerakan kami begitu cepat. Tekanan udara di sekitar kami mengamuk. Percikan atribut kami berterbangan ke sana ke mari. Hingga membuat arena tempat kami bertarung hancur tak berbentuk dalam sekejap mata.
Pertarungan sengit dan intens yang kami lakoni, terjadi dalam tempo yang sangat tinggi. Puluhan tebasan dan tangkisan terjadi dalam 1 detik di mata orang yang tidak sanggup melihat pergerakan kami berdua.
Hanya dalam waktu 1 detik, stamina kami terkuras deras bagai sebuah aliran air terjun.
Aku dan Julius berhenti menyerang satu sama lain untuk mengambil nafas dan mengontrol force yang sedang mengamuk di dalam tubuh masing-masing.
Tatapan mata kami hanya fokus melihat satu sama lain tanpa memperdulikan area sekitar.
Kami hanya saling pandang selama beberapa detik sembari mengatur nafas.
Light Sword!
Julius melanjutkan pertarungan dengan membuat ratusan pedang cahaya yang bersinar terang bak matahari.
Kemudian melesatkan semua pedang cahaya itu secara bersamaan ke arahku.
Ice Cube!
Seolah tidak mau kalah, aku membuat barier es terkuatku untuk menahan semua serangan Julius.
Boom!
Suara menggelegar bak ratusan petir menyambar, terdengar sesaat setelah ratusan pedang cahaya itu menghantam ke arahku.
Aku berhasil menahan serangan ratusan pedang cahaya Julius. Akan tetapi, aku tidak benar-benar sanggup menahan semua serangan itu dengan sempurna. Sehingga, membuat darah segar mulai mengalir dari sekujur tubuhku akibat terkena goresan serangan pedang cahaya itu.
Pertarungan kami semakin memanas.
Orang-orang yang ada di training center juga mulai menghentikan kegiatan mereka masing-masing. Mereka semua terfokus pada pertarungan intens yang sedang Rudi dan Julius lakoni.
Setiap orang yang ada di sana tau bahwa pertarungan itu tidak akan berakhir sampai salah satu dari mereka tumbang atau tewas. Akan tetapi, tidak ada satupun yang bisa menghentikan pertarungan itu, seolah mereka memang menginginkannya. Mereka seperti telah tersihir oleh pertarungan yang memanjakan mata setiap orang.
Dengan luka menganga di sekujur tubuh, aku tetap berdiri tegak di atas arena, seolah itu hanya luka kecil.
Julius menciptakan pedang cahaya di tangan kanannya dan memegangnya dengan erat.
"Manyenangkan! Ini benar-benar menyenangkan!" Julius berteriak lantang sambil tersenyum puas, seolah tengah merasakan kepuasan tertinggi.
"Kaaakakakakakakaka! Sudah lama aku tidak melihat ekspresi itu!" gumam Kageyama yang melihat pertarungan itu dari pinggir arena.
Melihat ekspresi Julius, membuatku kembali menyeringai seperti predator yang menatap mangsa. Aku pun berdiri tegak dengan wajah dan badan penuh darah yang terus mengalir deras.
__ADS_1
"Matilah!" Aku melesat dengan kecepatan tertinggi ke arah Julius.
"Majulah!" Julius memegang erat pedang cahaya di tangannya sambil memasang kuda-kuda seperti seorang samurai yang siap bertarung habis-habisan.
Aku dan Julius kembali beradu skill berpedang dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seolah kami berdua telah berhasil melewati batas masing-masing.
Arena yang kami gunakan hancur lebur hanya dalam waktu kurang dari 1 detik. Atap, sekat pemisah, hingga lantai arena, berubah menjadi puing-puing dalan sekejap mata, seolah seperti bangunan yang hancur karena gempa dahsyat.
Pertarungan kami masih terus berlanjut.
Aku berhasil memberikan beberapa sayatan dangkal ke tubuh Julius, begitu pula sebaliknya. Sehingga, membuat kami berdua menderita luka sayatan di sekujur tubuh masing-masing.
Dengan tubuh berliang darah, aku tetap berdiri tegak sambil tersenyum tipis.
Tubuh berlinang darah, banyak luka menganga, hingga tekanan aura mencekam, membuatku tidak terlihat seperi manuasia lagi, tapi lebih seperti iblis. Walaupun begitu, sorot mataku tetap memancarkan tekat kuat, seolah ingin mengatakan bahwa ini bukan masalah besar.
Semua orang yang melihat pertarungan Rudi dan Julius, benar-benar dibuat terpana. Pertarungan mereka bagai sebuah marterpice yang dipajang di aula pertunjukan, dan membuat setiap mata tidak sanggup berkedip melihatnya.
Saat ini, nafas kami mulai terasa berat, stamina kami sudah berada pada titik penghabisan. Tapi, semangat kami semakin membara bagai api unggun yang disiram bensin.
Kami belum mau mengakhiri pertarungan itu.
Dengan tubuh gemetar, kami berdua masih tetap berdiri tegak seraya memandang satu sama lain.
Semua orang yang melihat itu, seperti dipaksa menahan nafas sembari menunggu salah satu dari mereka untuk bergerak.
Aku dan Julius kembali melanjutkan pertarungan kami.
Light Sword!
Julius membuat 1.000 pedang cahaya yang melayang di udara, seolah berniat menghabiskan seluruh force dan staminanya untuk satu serangan penghabisan.
Aku bersiap dengan melapisi senjata dan tubuhku dengan atribut es milikku sembari membuat barier berlapis-lapis, tepat di atas kepalaku.
Aku juga berniat menggunakan seluruh force dan staminaku untuk menahan serangan terakhir Julius.
"Terima ini!" teriak Julius sambil melesatkan satu persatu pedang cahaya ke arahku.
"Huaaa!" teriakku sambil menangkis, memotong, dan menghindari satu persatu pedang cahaya yang menyerangku dengan kecepatan tinggi.
Aku benar-benar mempertaruhkan segalanya demi menahan serangan terakhir Julius.
Duar! Dem! Krak!
__ADS_1
Aku menebas, menghindar, menangkis, hingga bergerak ke sana ke mari demi menghindari serangan itu.
Di mata orang-orang, Rudi terlihat seperti sedang menari indah di bawah hujan 1.000 pedang cahaya milik Julius, hingga membuat setiap mata terpukau karenanya.
1.000 pedang cahaya yang Julius lesatkan, berhasil ditahan oleh Rudi.
Saat ini, mereka berdua telah kehabisan force dan stamina mereka.
Julius tumbang karena lelah yang mendera tidak biasa ditahan lagi. Tubuhnya telah benar-benar mencapai batas. Sedangkan Rudi, masih tetap berdiri tegak seolah ingin menegaskan bahwa ialah pemenangnya.
Tanpa diketahui siapapun, Rudi sebenarnya telah pingsan sesaat setelah berhasil menghindari serangan terakhir Julius. Tapi, ia tetap berdiri tegak karena tekat yang tetap berkobar dalam dirinya.
Rudi pun akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang dalam pertarungan berdarah itu.
"Woaah! Keren!"
"Apa-apaan mereka itu?"
"Pertarungan yang keren, sobat!"
"Kyaa! Keren sekali."
Orang-orang yang menonton pertarungan mereka, tidak henti-hentinya bersorak. Mereka semua benar-benar dimanjakan dengan pertarungan yang jarang bisa mereka lihat dengan santai.
Akito dan Kageyama langsung berlari ke arah mereka berdua untuk memastikan kondisi.
Kageyama membantu Julius. Sedangkan Akito membantu Rudi.
Akito menempelkan telinganya di dada Rudi untuk memastikan kondisinya.
Deg! Deg! Deg!
Akito langsung merasa lega setelah mendengar detak jantung sahabatnya baik-baik saja. Ia kemudian melihat wajah sahabatnya yang sedang terbaring pingsan.
"Sialan! Kau benar-benar luar biasa, sobat!" pikir Akito sambil melihat seutas senyuman yang Rudi untai di bibirnya.
Rudi terkapar di tanah sambil tersenyum tipis. Senyum itu benar-benar menggambarkan sebuah kepuasan tertinggi.
"Kageyama! Bagaimana keadaanya?" Akito berteriak pada Kageyama yang sedang memeriksa tubuh Julius.
"Kaaakakakakakakaka! Dia baik-baik saja," jawab Kageyama.
Rudi dan Julius pun langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Rudi mengalami luka sayatan dan tusukan di sekujur tubuhnya, begitu pula dengan Julius.
__ADS_1
Rudi berhasil memenangkan pertarungan melawan salah satu Top 1 Persen Elite Dunia dengan kemenangan tipis. Walaupun begitu, kemenangan tetaplah kemenangan.