The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 19 - Jalan-Jalan


__ADS_3

Karena semua urusan di negara Roland sudah selesai, aku, Akito, dan Kageyama melanjutkan perjalanan kami menuju negara terdekat dari negara Roland.


Setelah menempuh perjalanan selama 2 hari, kami akhirnya sampai di kota Alinstone yang berada di bawah kekuasaan negara Lindan.


Negara Lindan sendiri adalah negara yang berbatasan langsung dengan negara Roland.


"Fuoyoo ... kota ini benar-benar luar biasa," kataku saat pertama sampai di kota Alinstone.


"Apa kau pernah ke sini?" tanya Akito kepada Kageyama.


"Tentu saja," jawab Kageyama singkat.


"Ayo pergi ke restoran. Perutku lapar," kataku dengan penuh semangat.


"Ah, yang kau pikirkan hanya makan dan makan." Akito menggerutu.


"Kaaakakakakakakaka! Ayo pergi. Perutku juga lapar," kata Kageyama.


Kami pun mulai berjalan mencari rumah makan terdekat.


Sesampainya di salah satu rumah makan, kami langsung memesan porsi besar untuk mengisi tenaga kembali.


"Ini punyaku."


"Ini bagianku."


"Kalian berdua sudah makan banyak. Ini bagianku."


Aku makan dengan lahap. Akito dan Kageyama juga tidak mau kalah.


Mereka bertiga berebut makanan di atas meja sampai membuat orang-orang di sekitar kehilangan nafsu makan karena melihat kerakusan mereka bertiga.


Setelah puas makan, kami bertiga melanjutkan jalan-jalan menusuri kota.


"Oi, jika tidak salah dengar, bukankah di kota ini ada arena?" tanyaku sambil berjalan santai menulusuri kota.


"Apa kau mau menonton pertandingannya? Atau justru ikut di dalamnya?" Kageyama bertanya padaku.


"Aku tidak tertarik bertarung di arena," jawabku.


"Kaaakakakaakakakaka! Memangnya kenapa? Bukankah arena adalah tempat yang cocok untuk membuat nama kalian dikenal?" tanya Kageyama.


"Aku tidak tau pastinya. Tapi menurut yang kudengar, arena adalah tempatnya para badut. Jadi, aku tidak tertarik bermain di sana," jawabku.


"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama hanya menanggapinya dengan tawa puas.


"Bagaimana pendapatmu tentang arena, Kageyama?" tanya Akito.


"Hmm ... menurutku, pendapat kalian tentang arena tidak terlalu buruk. Sejujurnya, aku juga berfikir hal yang sama. Menurutku, para Ranker yang bertarung di arena tidak lebih dari sekedar badut televisi. Kaaakakakakakakakaka!" jawab Kageyama.


"Kan, bukankah sudah kukatakan? Para Ranker itu hanya sekedar badut arena ... Hei, Kageyama. Apa kau mau kuberitau cerita kecil? Dulu ...." Belum selesai aku menjelaskan, tiba-tiba Akito memotongnya.


"Diamlah! Jangan ungkit-ungkit itu lagi," potong Akito.


"Eh? Sepertinya itu cerita yang menarik. Ayo ceritakan. Kalian membuatku penasaran," kata Kageyama.


"Sebenarnya, dulu ...." Saat aku ingin menjelaskannya lagi, Akito langsung membungkam mulutku.


"Diamlah! Jangan bahas itu lagi!" kata Akito sambil menutup mulutku menggunakan tangannya.


"Ayolah. Kalian membuatku semakin penasaran," kata Kageyama yang terus mendensakku untuk menceritakannya.

__ADS_1


"Sebenarnya ...."


"Diamlah, keparat!" Akito memukul kepalaku karena bersikeras ingin menceritakan hal tersebut.


"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama pun tertawa puas melihat hal itu.


Setelah pertengkaran kecil itu, kami kembali melanjutkan jalan-jalan menelusuri kota.


Saat sedang asik berjalan menelusuri kota, aku melihat ada sekumpulan wanita cantik yang sedang berjalan bersama.


"Lihat itu, Akito!" kataku sambil menunjuk sekumpulan wanita cantik yang sedang berjalan sambil bersenda gurau.


"Bagaimana kalau kita mengajak mereka jalan-jalan bersama?" tanyaku pada Akito dan Kageyama.


"Yosh ... itu ide bagus," jawab Akito dengan santai. Memberi jeda, kemudian melanjutkan ucapannya. "Ja ... mana mau mereka. Apa kau tidak melihat penampilan mereka?" kata Akito sambil memukul kepalaku.


"Apa salahnya kalau dicoba," kataku sambil mengusap bekas pukulan Akito.


"Bandingkan penampilan mereka dengan penampilan kita," kata Akito.


"...." Aku pun melihat penampilanku sendiri.


Pakaian kusam dan kulit tidak terawat, membuatku tampak tidak sebanding dengan penampilan orang-orang di sana.


"Lihat sendiri, kan? Penampilan kita bahkan tidak bisa diban ... eh?" Belum selesai Akito menjelaskan, ia melihat Rudi yang sudah akrab dengan gadis-gadis di sana.


"Oi, oi ... sepertinya wanita di sini butuh kacamata," ucap Akito yang merasa keheranan saat melihat anomali di hadapannya.


"Kaaakakakakakakakaka! Aku sutuju denganmu," sahut Kageyama.


Beberapa saat kemudian, kami pun kembali melanjutkan jalan-jalan kami.


"Huah ... tangan gadis-gadis itu benar-benar wangi. Jika aku punya istri seperti mereka, aku pasti akan bahagia." Aku tidak memperdulikan ucapan Akito dan memilih terus mencium tangan yang kugunakan bersamalan dengan gadis-gadis sebelumnya.


"Anak ini sudah gila. Aku tidak menyangka kalau kota ini lebih berbahaya dari dugaanku," pikir Akito sambil melihat tampang bahagia yang Rudi ukir di wajahnya.


"Kaaakakakakakakaka! Kalian selalu membuatku tertawa puas!" kata Kageyama.


"Huah ...." Aku berbunga-bunga saat mencium tanganku sendiri.


"Hentikan itu, bodoh!" teriak Akito dengan wajah geram.


"Hoho ... apa kau iri denganku? Jika kau mau, aku bisa membaginya denganmu." Aku menawarkan Akito untuk ikut menikmati aroma wangi yang masih menempel di tanganku.


"Glup." Mendengar tawaran itu, Akito pun bimbang. Di satu sisi, ia tau kalau itu adalah hal konyol. Sedangkan di sisi lain, ia juga ingin sekali menciumnya.


"Baiklah, karena kau memaksa, sepertinya aku tidak punya pilihan lain." Akito berlagak seperti korban.


Aku mengarahkan tanganku ke hidung Akito dengan perlahan. Semakin dekat ... semakin dekat ... semakin dekat ... dan ...


Plak!


"Rasakan itu, Tuan Jual Mahal." Aku menampar pipi Akito dengan tanganku yang lain.


"Bajingan!" Akito marah sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparanku.


"Kaaakakakakakakakakaka!" Kageyama hanya bisa tertawa puas melihat hal itu.


Karena kejadian itu, aku dan Akito pun berkelahi di tengah kota untuk memperebutkan aroma gadis-gadis yang masih tertinggal di tangan kananku.


"Biarkan aku menciumnya sekali saja," kata Akito sambil menarik tangan kananku.

__ADS_1


"Tidak, Lepaskan aku!" Aku berusaha memberontak.


"Ayolah, sekali saja!"


"Tidak!"


Perkelahian mereka pun membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka.


"Apa yang mereka lakukan?"


"Mama, ada orang aneh!"


"Jangan dilihat, Sayang." sambil menutup mata anaknya.


Karena banyak orang yang mulai memperhatikan, mereka berdua pun menghentikan perkelahian dan pergi dari sana agar tidak semakin malu.


Aku dan Akito kembali melanjutkan jalan-jalan kami sambil terus mengerutu.


"Gara-gara ulahmu, kita dianggap orang aneh."


"Itu ulahmu sendiri, dasar bodoh!"


"Apa katahu, hah?"


"Ngajak ribut lagi, hah?"


Kami berdua saling beradu kepala.


"Cih ...."


Kami menggerutu di saat yang sama dengan gerakan yang sama pula, gerakan memalingkan wajah.


Kami berdua terus berjalan menelusuri kota sambil mengalihkan pandangan satu sama lain. Sedangkan Kageyama hanya tertawa sambil mengikuti dari belakang.


Setelah berjalan cukup lama, kami pun sampai di showroom mobil.


"Fouyoo ... mobil itu keren! Ayo beli satu!" kataku sambil melihat mobil yang dipajang di sana.


"Kau pikir membeli mobil semudah membeli kacang, hah?" tanya Akito.


"Kita kan punya banyak uang. Bukankah mobil semacam itu harusnya bisa kita beli?" tanyaku.


"Kaaakakakakakakaka! Itu adalah showroom mobil sport mewah. Setidaknya harga mobil termurah yang dijual di sana ada di kisaran 10 juta gale," jelas Kageyama.


Mendengar hal itu, aku dan Akito melongo karena terkejut setengah mati.


"Se-se-sepulu juta? Mobil macam apa yang bisa dijual semahal itu?" tanyaku dengan wajah pucat.


"Memangnya ada yang mau beli mobil semahal itu?" tanya Akito yang juga memasang wajah pucat.


"Kaaakakakakakakakaka! Tentu saja. Di kalangan para bangsawan, 10 juta adalah harga yang sangat murah," jawab Kageyama.


"Be-benarkah?" tanyaku tidak percaya.


"Tentu saja. Kaaakakakakakakaka!" jawab Kageyama penuh tawa.


"Para bangsawan itu menakutkan," kataku tidak percaya.


"Mungkin uang mereka tidak berseri," ucap Akito dengan wajah pucat.


"Kaaakakakakakakakak!" Kageyama tertawa puas saat melihat ekspresi kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2