
"Oi, bersantai seperti ini rasanya membosankan," kataku sambil berbaring di atas kasur hotel tempat kami memginap.
"Aku setuju. Karena sudah terbiasa berlatih setiap hari, bersantai seperti ini rasanya benar-benar membosankan," sahut Akito sambil berbaring di sampingku.
"Bukankah kalian baru saja melakukan pertempuran besar tempo hari? Apa tubuh kalian baik-baik saja?" tanya Kageyama yang duduk di kursi sambil memakan camilan.
"Beberapa luka di tubuhku sudah mengering. Luka lebam juga sudah tidak terasa," jawabku sambil mengusap bekas luka di tubuhku.
"Aku juga," jawab Akito.
"Kaaakakakakakaka! Sepertinya fisik kalian sudah ada di tingkat atas," kata Kageyama.
"Benarkah?"
"Bagi beberapa orang, luka seperti yang kalian derita mungkin butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih. Tapi, kalian bisa pulih dalam hitungan hari. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan kalau tubuh kalian sudah mencapai tingkat atas?" tanya Kageyama sambil terus memakan camilannya.
"Hmm ... benar juga. Mungkin karena kami sering berlatih fisik, jadi metabolisme tubuh kami bisa beregenerasi dengan cepat," jawabku.
"Apa kalian selalu melatih fisik?" tanya Kageyama.
"Ya. Karena sangat sulit untuk melatih aliran force, jadi kami lebih mengutamakan latihan fisik," jawabku.
"Tapi, apa kalian tau? Aliran force adalah yang terpenting dalam konsep kekuatan," kata Kageyama.
"Tentu saja kami tau. Dengan memanfaatkan force, seseorang bisa membuat durabiliti tubuh menjadi lebih kuat, akselerasi lebih cepat, hingga kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar," sahutku.
"Kaaakakakakakakaka! Lalu, kenapa kalian lebih memilih melatih fisik dari pada force?" tanya Kageyama.
"Saat kami pertama kali bisa mengalirkan force di dalam tubuh, kami sadar bahwa kemampuan fisik juga sangat penting. Bukankah fisik itu seperti wadah dan force itu seperti aliran di dalamnya? Jika wadahnya tidak cukup kuat menahan tekanan aliran yang terlalu cepat, maka wadah itu akan hancur. Sedangkan saat alirannya terlalu pelan di saat wadahnya terlalu kuat, itu juga akan sia-sia. Maka dari itu, kami lebih memilih melatih fisik sebelum memaksimalkan force. Mengingat, bahwa melatih fisik itu jauh lebih menyakitkan dan memerlukan waktu yang lama," jawabku.
"Kaaakakakakakakaka! Sepertinya kalian tidak sebodoh yang kukira," balas Kageyama.
"Hei, apa maksud ucapanmu itu?" tanyaku.
"Walaupun kami tidak tau konsep dasar force, tapi kami bisa memahaminya lewat pengalaman berlatih. Jadi, kami tidak sebodoh yang kau kira," sahut Akito.
"Aku setuju denganmu, Akito," kataku.
"Kaaakakakakakakaka! Baiklah, baiklah. Apa kalian mau kujelaskan soal detail mekanikal force?" tanya Kageyama.
"Boleh saja."
"Force adalah energi yang ada di dalam tubuh manusia. Untuk bisa menggunakan force, dibutuhkan yang namanya metode kontrol. Metode kontrol berguna untuk mengalirankan force. Semakin cepat alirannya, maka akan semakin cepat regenerasinya. Bayangkan jika kau punya 10 force dan kecepatan regenerasimu sebanyak 1 force per detik. Jika kau menggunakan 2 force dengan tingkat regenerasi sebanyak 1 force, maka forcemu akan semakin berkurang. Dan pada akhirnya, kau akan kehabisan force dan tidak bisa menggunakannya dalam waktu lama. Untuk meregenerasinya kembali, membutuhkan waktu yang sangat lama. Layaknya memulihkan stamina," jelas Kageyama.
"Lalu, apa perbedaan force dengan stamina? Bukankah keduanya sama saja?" tanyaku.
"Stamina adalah batasan setiap manusia. Secara teori, stamina itu adalah tubuh. Sedangkan force adalah aliran energi di dalamnya. Seperti yang kalian maksud dengan wadah dan aliran," jawab Kageyama.
"Ok, aku mengerti. Jadi bisa disimpulkan kalau force itu bisa digunakan tanpa batas, sedangkan stamina terbatas pada kemampuan fisik seseorang. Begitukah?" tanyaku.
__ADS_1
"Yap, dengan catatan. Agar bisa menggunakan force tanpa batas, dibutuhkan metode kontrol yang sempurna. Metode kontrol setiap orang biasanya akan berbeda-beda tergantung karakteristik force masing-masing. Mungkin kalian bisa membayangkan seperti karakteristik setiap orang. Walaupun seseorang dikatakan kembar idientik, sebenarnya ada banyak perbedaan diantara mereka. Entah itu dari sifat, wajah, postur tubuh, hingga DNA. Hal itulah yang mempengaruhi karakteristik force seseorang. Itulah alasannya kenapa satu metode kontrol tidak bisa digunakan oleh banyak orang," jawab Kageyama.
"Oh, jadi itulah kenapa metode yang kupakai tidak bisa digunakan Akito," kataku.
"Apa kalian pernah mencoba menggunakan metode yang sama?" tanya Kageyama.
"Ya, tepatnya saat kami pertama kali bisa mengalirkan force," jawabku.
"Lalu, apa kau tau kenapa setiap orang punya atribut yang berbeda-beda? Bahkan ada yang tidak memilikinya," tanya Akito.
"Atribut adalah bentuk manifestasi force. Sebenarnya, tidak semua orang memilikinya. Tapi, walaupun begitu hal tersebut tidak terlalu berpengaruh dalam tingkatan kekuatan. Contohnya saja, Kaisar Richard. Dia tidak tidak memiliki atribut sama sekali. Tapi, dia adalah orang yang sangat ditakuti. Jika harus bertarung 1 lawan 1, maka tidak ada siapa pun yang sanggup menumbangkannya," jawan Kageyama.
"Apa Kaisar Richard sehebat itu?" tanyaku.
"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja. Bagaimanapun juga, dia adalah Kaisar yang sangat ditakuti dan disegani banyak orang," jawab Kageyama.
"Tapi, bukankah kemampuan atribut sangat diunggulkan dalam pertempuran?" tanya Akito.
"Untuk skala besar, iya. Tapi, untuk skala kecil, tidak," jawab Kageyama.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Haah ... apa aku harus menjelaskannya lebih detil?" tanya Kageyama.
"Ayolah. Kau tau sendiri kalau kami tidak pernah belajar apapun tentang ini," sahutku.
"Ya, ya, baiklah. Anggap saja begini. Jika kalian punya 10 daya hancur, dan musuh kalian punya 10 durabiliti. Menurut kalian, mana yang lebih baik? Menyerang 1 target, atau 10 target?" tanya Kageyama.
"Salah. Jika kalian hanya punya 10 daya hancur, maka kesepuluh daya hancur itu akan dibagi merata kepada 10 targer. Dengan kata lain, masing-masing target hanya mendapat 1 daya hancur. Lalu, karena durabiliti kesepuluh target kalian adalah 10. Kira-kira, berapa kali kalian harus menyerang untuk menghabisi semuanya?" tanya Kageyama.
"Hmm ... entahlah," jawabku.
"Cih ... aku lupa kalau kalian tidak bisa berhitung." Kageyama menggerutu.
"Begini. Jika kalian punya 10 daya hancur dan musuh kalian punya 10 durabiliti, maka kalian harus menyerang mereka sebanyak 10 kali agar semua lawan kalian tumbang. Hal itu juga sama saja saat kalian menyerang singgle target. Kalian tetap butuh 10 kali serangan untuk menghabisi 10 musuh. Dalam kasus ini, singgel target jauh lebih diuntungkan karena setiap satu serangan, ia bisa menumbangkan 1 musuh. Sedangkan multi target butuh 10 kali serangan untuk menumbangkan semuanya. Lalu, jika kalian harus berhadapan 1 lawan 1 dengan orang yang jauh lebih kuat atau setara, menurut kalian mana yang lebih baik? Single target atau multi target?" tanya Kageyama.
"Tentu saja single," jawabku.
"Binggo! Benar sekali. Dalam pertarungan head to head, kemampuan force adalah yang terbaik. Sedangkan untuk pertempuran one versus army, kemampuan atribut jauh lebih baik. Dengan catatan, pasukan yang kalian hadapi berada di level yang jauh lebih lemah," jelas Kageyama.
"Tapi, bukankah atribut juga bisa digunakan untuk serangan single target?" tanya Akito.
"Benar sekali. Tapi, daya rusaknya sama dengan serangan pukulan yang dilapisi force. Keunggulannya hanya ada di jaraknya yeng lebih jauh. Dengan memanfaatkan atribut, seseorang bisa menyerang dari jarak jauh. Hanya saja, kontrolnya juga sangat susah. Mungkin seperti memanah sambil berkuda di medan terjal. Goncangan, perubahan posisi, jarak, hingga tekanan angin sangat mempengaruhi akurasinya," jawab Kageyama.
"Aku tau betul soal itu. Aku selalu kesulitan saat ingin membidik lawan yang bergerak. Kadang serangan esku juga sering melesat jauh dari target. Ditambah, harus membidik lawan yang bergerak cepat sambil terus bergerak dan berkonsentrasi itu rasanya sangat sulit," kataku.
"Kaaakakakakakaka! Itulah kenapa, orang-orang cenderung menggunakan atribut untuk serangan berbasis area. Karena menggunakan atribut untuk serangan single target itu sama saja dengan membidik sayap lalat yang terus bergerak ke sana ke mari. Itu benar-benar menyulitkan," sahut Kageyama.
"Bukankah kalian seharusnya mengerti soal itu semua?" Kageyama bertanya padaku dan Akito.
__ADS_1
"Walaupun kami tau dan paham bagaimana cara kerjanya, tapi kami tidak tau tentang penjelasannya. Mungkin mirip seperti bisa menggunakan pistol, tapi tidak tau bagaimana cara kerjanya," jawabku.
"Kaaakakakakakakaka! Begitukah?" tanya Kageyama.
"Oh, iya. Aku pernah melihat orang yang bisa memanipulasi tubuhnya menjadi elemental. Dan saat ada di mode itu, tubuhnya sama sekali tidak bisa diserang. Bukankah itu sangat curang?" tanya Akito.
"Oi, Akito. Apa kau menyindirku, hah?" tanyaku dengan perasaan marah.
"Apa kau merasa tersindir?" tanya Akito dengan wajah acuh.
"Tunggu sebentar. Apa kau bilang Rudi bisa memanipulasi tubuhnya menjadi elemental?" tanya Kageyama dengan wajah kaget.
"Ya, aku bisa menggunakannya. Hanya saja, aku tidak bisa mengontrolnya saat masuk dalam mode itu. Apa ada yang salah?" tanyaku.
Mendengar hal itu, Kageyama terbelalak. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Dengan wajah pucat dan tangan gemetar, Kageyama bertanya padaku.
"Apa kau tau? Kemampuan memanipulasi tubuh menjadi elemental adalah tingkatan tertinggi yang tidak bisa dicapai sembarang orang," kata Kageyama dengan wajah pucat.
"Heh, benarkah?" tanyaku dengan wajah kaget.
"Ya, kalau tidak bisa digunakan, bukankah itu sama saja bohong?" sindir Akito.
"Aku bisa menggunakannya, dasar bodoh!" sahutku dengan perasaan geram.
Seolah tidak percaya, Kageyama masih terpaku dengan wajah tercengang.
"Apa ada yang salah, Kageyama?" tanyaku.
"Tidak ... tidak ada. Aku hanya berfikir, mungkin saja, kau bisa menjadi monster mengerikan di masa depan," jawab Kageyama.
"Benarkah?" tanyaku dengan wajah polos.
"Ya, dalam angan-anganmu. Haaahahahahahaha!" ejek Akito.
"Diamlah, Akito! Kau merusak suasana!" sahutku dengan perasaan jengkel.
Saat melihat pertengkaran mereka berdua, Kageyama hanya terdiam sambil memikirkan satu hal.
"Sepertinya, aku sedang melihat calon monster masa depan," pikir Kageyama dengan seringai tipis di wajahnya.
"Bagaimana kalau kita berlatih di training center sebentar? Di sana, kalian bisa berlatih sepuasnya," kata Kageyama.
"Training center? Apa itu?" tanyaku.
"Training center adalah fasilitas umum berbayar. Di training center, ada banyak ruangan yang dipisah oleh sekat kaca. Walaupun begitu, durabiliti sekat yang memisah setiap ruangan sangat luar biasa, bahkan mampu menahan segala macam kerusakan," jawab Kageyama.
"Hmm ... sepertinya itu ide bagus. Ayo ke sana!" kataku.
__ADS_1
"Ya, aku ingin sedikit melemaskan ototku," sahut Akito.
Kami bertiga pun langsung beranjak dari hotel untuk mencari training center terdekat.