
Fire Laser!
Pria misterius itu menyerang Jendral Besar Roland dengan laser api bertekanan tinggi.
Duar!
Jendral Besar Roland menahan serangan itu dengan satu tangan. Sehingga, membuat laser itu terpecah seperti air terjun yang menghantam batu besar.
Percikan laser itu sanggup menghanguskan apapun yang disentuhnya.
"Kaaakakakakaka! Jendral besar memanglah sesuatu!" kata pria itu dengan senyum tipisnya.
Pancaran laser api bertekanan tinggi yang pria itu lancarkan, sanggup ditahan sepenuhnya oleh Jendral Besar Roland.
Sesaat kemudian, 100 prajurit militer di sana berusaha memanfaatkan jeda yang tercipta dengan menyerang ke arah pria misterius itu secara bersamaan.
Pria itu menghindar, menangkis, dan membalas serangan 100 prajurit militer di sana dengan mudah.
Dia pun menari indah bersama 100 prajurit di sana.
Duar! Duar! Duar!
Satu, lima, tujuh, sepuluh prajurit mulai terpental ke sana ke mari karena terkena tinju pria itu.
Jendral Besar Roland hanya diam saat melihat prajuritnya terlempar ke sana ke mari.
Pria itu bertarung menghajar 100 pasukan militer Roland dengan sangat mudah. Dia melompat ke sana ke mari, melesat cepat, dan menghindar sambil membalas serangan yang datang bertubi-tubi.
"Berhenti!" teriak Jendral Besar Roland.
Mendengar itu, semua prajurit langsung menghentikan serangan mereka.
Pria itu tersenyum tipis. Sedangkan sang jendral besar memasang wajah geram.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya sang jendral besar sambil berjalan perlahan mendekati pria misterius itu.
"Kaaakakakakakaka! Aku hanya orang yang kebetulan lewat," jawab pria itu.
"Jika kau tetap menghalangiku, aku tidak akan segan-segan lagi," kata sang jendral besar.
"Kaaakakakakakaka! Tatapanmu mengerikan, Jendral!" sahut pria itu.
Duar!
Sang jendral besar melesat ke arah pria misterius itu dengan kecepatan tinggi, hingga membuat tanah yang ia lewati hancur karena tekanan udara yang tercipta.
"Kaaakakakakakaka! Datanglah!" teriak pria itu.
Pria itu tertawa puas karena akhirnya sang jendral besar turun tangan.
Sang jendral besar melesat sambil bersiap memukul pria itu. Sedangkan pria itu bersiap memasang kuda-kuda untuk menahan pukulan sang jendral besar.
Duar!
Benturan tak dapat terelakkan.
Pria itu terlempar jauh ke belakang hingga menghantam apapun yang dilewatinya.
"Jika kau mau bermain, akan kutemani sebentar." Sang jendral besar berdiri tegap sambil memasang wajah serius.
__ADS_1
"Kaaakakakakakaka! Itu sangat menyakitkan." Pria itu bangkit dengan mulut berdarah.
Pria itu memulai bentrokan hebat dengan Jendral Besar Roland.
Para prajurit yang melihat bentrokan hebat itu, hanya bisa terdiam sambil menyadari kesenjangan kekuatan mereka dengan 2 individu hebat yang sedang bertarung di depan mereka.
"Jika dibandingkan dengan mereka, kita seperti semut yang sedang melihat pertarungan 2 singa dalam perebutan kekuasaan."
"Sial! Apa-apaan mereka itu? Apa mereka masih layak disebut manusia."
"Jadi seperti ini pertarungan kelas atas?"
Para prajurit militer hanya bisa terdiam saat melihat pertarungan kedua orang itu dari kejauhan sambil berusaha melindungi diri sendiri agar tidak terkena dampak bentrokan keduanya.
Duar! Boom! Duar!
Pukulan silih berganti dilesatkan.
Jendral besar melesatkan pukulan kerasnya, pria misterius menahannya.
Pria misterius melancarkan serangan atributnya, jendral besar menahannya.
Dari sudut pandang orang normal, pertarungan mereka tampak seperti parade ledakan yang terjadi terus menerus dan menghancurkan apapun yang ada di sekitar mereka.
Di sisi lain, saat ini aku sedang melesat cepat ke arah hutan barat.
"Sial, aku harus pergi ke mana dulu?" gumamku sambil terus melesat maju.
Dari kejauhan, aku mendengar banyak sekali ledakan di mana-mana. Ledakan-ledakan itu terlihat seperti karnaval akbar yang digelar di hutan belantara.
Tidak lama berselang, aku medengar sebuah ledakan kuat dari arah kiri.
"Bukankah itu ...," pikirku.
Saat sampai di sumber ledakan, aku melihat Jendral Besar Roland yang memegang kerah baju pria yang menolongku.
Pria itu terkapar setelah menjalani pertarungan hebat melawan sang jendral besar.
Saat sang jendral besar ingin menghabisi pria itu, tiba-tiba ...
Frezee!
Rudi langsung menurunkan suhu udara hingga melebihi titik beku.
Seluruh area pun membeku seketika. Tubuh jendral besar dan pria misterius itupun diselimuti es tebal hingga membuat pergerakan mereka terhenti.
"Siapa?" gumam sang jendral sambil melirik ke arah Rudi.
Di sisi lain, aku langsung meluncur cepat di atas es untuk menghajar sang jendral besar. Tapi, sang jendral besar berhasil menghancurkan es yang menyelimuti tubuhnya dan melompat menjauh.
"Hoi? Apa kau baik-baik saja?" tanyaku pada pria misterius itu.
"Kaaakakakakakakaka! Apa aku terlihat seperti itu?" jawab pria itu.
Tubuh pria itu babak belur dan penuh luka. Darah segar juga terlihat mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.
"Terimakasih karena sudah membantuku," kataku pada pria itu.
"Kaaakakakakakaka! Aku tidak berniat begitu," sahut pria itu.
__ADS_1
Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah jendral besar yang ada di hadapanku.
Tubuh jendral itu telah babak belur. Darah segar juga terlihat mengalir dari lengan, kaki, dan pelipisnya.
"Maafkan aku karena mengambil alih pertarunganmu ... tapi, dia sekarang adalah mangsaku," kataku sambil menatap Jendral Besar Roland dengan seringai tipis.
"Kaaakakakakakaka! Terserahlah," balas pria itu.
"Kenapa kau kembali? Bukankah kau berniat kabur?" tanya sang jendral besar padaku.
"Maafkan aku, tapi ... sejak awal aku tidak berniat kabur ... aku hanya ingin sedikit menunda pertarungan," jawabku dengan seringai tipis.
"Begitukah?" tanya sang jendral besar.
Saat aku dan Jendral Besar Roland masih sibuk berbincang, aku mendengar teriakan dari sisi lain.
"Kita tidak boleh membiarkan pria itu menyentuh Jendral Besar Hans! Ayo habisi dia!" teriak salah seorang prajurit di sana.
"Yoo!"
Semua prajurit bersorak seolah tekat mereka sudah kembali.
80 prajurit yang masih berdiri, serentak melesat ke arah Rudi.
"Maafkan aku, tapi ... aku tidak berniat melawan kalian semua," kataku santai.
Aku pun mulai memejamkan matanya sambil berkonsentrasi.
Di waktu yang seolah melambat, pancaran cahaya tipis berwarna biru mulai terpancar dari matanya. Sambil menggerakkan tangannya ke atas, tiba-tiba ...
Ice Age!
Rudi menurunkan suhu udara di sekitarnya hingga mencapai titik -1000 derajat celsius, menjadikan apapun yang ada di sekitanya membeku. Bahkan udara pun mengkristal karena suhu dingin yang melebihi batas beku.
Dalam sekejap mata, tubuh 80 prajurit yang ingin menyerangnya langsung berubah menjadi patung es mengkilap di bawah sinar matahari.
Saat menyadari kemampuan Rudi yang sebenarnya, Jendral Besar Negara Roland dibuat terkejut hingga terbelalak karenanya.
"Dia ...," gumam sang jendral besar sesaat sebelum tubuhnya membeku.
Pria misterius yang menyadari perubahan suhu tersebut, langsung membuat barier api untuk melindunginya dari tekanan suhu dingin yang sanggup membekukan segalanya. Tapi, barier api yang ia buat hampir tidak sanggup melindunginya dari tekanan dingin yang Rudi pancarkan.
Aku berdiri sambil menatap tajam tubuh sang jendral besar yang sudah berubah menjadi patung es.
Tubuhnya menguapkan asap dingin, nafasnya berbubah menjadi asap putih, matanya memancarkan cahaya tipis berwarna biru. Sehingga membuat Rudi benar-benar tampak seperti monster mengerikan di mata setiap orang yang memandangnya.
Aku pun mulai menghilangkan tekanan suhu dingin dan berjalan perlahan mendekati tubuh sang jendral besar yang sudah berubah menjadi patung es. Setiap aku melangkah, es di kakiku retak dan hancur seperti kaca.
Di sisi lain, Pria misterius itu mulai menghilangkan barier api hitamnya karena suhu udara yang mulai kembali normal.
"Huuf ...." Hembusan nafas pria itu berubah menjadi asap putih karena udara dingin yang masih tersisa.
"Dia benar-benar monster. Bahkan, apiku tidak cukup panas untuk menahan tekanan suhu dinginnya," pikir pria itu sambil melihat kakinya yang hampir membeku.
Aku pun menatap patung es sang jendral besar yang berada tepat di hadapanku.
"Apa kau sudah selesai?" tanyaku pada sang jendral besar.
Tidak lama berselang, es yang melapisi tubuh sang jendral mulai retak dan hancur.
__ADS_1
Tubuh sang jendral tidak sampai membeku sepenuhnya karena ia berhasil melapisi tubuhnya dengan force sesaat sebelum udara dingin mulai terasa.
Tapi bagaimanapun juga, tekanan suhu dingin yang Rudi lepaskan telah memberikan banyak kerusakan di tubuh sang jendral besar.