The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 55 - Boing-Boing dan Wow


__ADS_3

Di dalam markasnya, All Stars Nero sedang melakukan pertemuan dengan keempat eksekutifnya yang masih tersisa.


"Bagaimana?" tanya Nero pada para eksekutifnya.


"Fafnir, Eliot, dan Morgan telah tewas. Kelompok tak dikenal itu berhasil mengalahkan mereka bertiga dan menghancurkan wilayah barat," jawab eksekutif pertama Nero.


"Apa Anda tidak ingin turun tangan?" tanya eksekutif kedua.


"Aku ingin sekali bertarung dengan orang yang telah mengeluarkan aura intimidasi yang kurasakan sebelumnya. Tapi, aku tidak tertarik mencarinya. Jika dia datang ke sini, mungkin aku akan sedikit bersenang senang," jawab Nero, sang pemimpin kelompok.


"Lalu, apa Anda akan membiarkan mereka berbuat seenaknya?" tanya eksekutif pertama.


"Kuakui mereka adalah kelompok yang menarik karena bisa memporak porandakan wilayahku. Tapi, biarkan saja dulu. Jika mereka mulai bergerak lagi, kalian bebas melakukan apa pun," jawab Nero.


"Kenapa Anda malah membiarkan mereka begitu saja? Bukankah ini sama saja dengan mempermalukan nama kelompok kita?" tanya eksekutif ketiga.


"Haaahahahahahahahaha! Mempermalukan? Sudah sejak lama aku ingin membuang ketiga orang itu. Semakin lama, tingkah mereka semakin membuatku muak. Jika ada yang mau membersihkan sampah di rumahmu, apa kau akan membalasnya dengan pukulan?" tanya Nero.


"Apa itu soal penyiksaan, perbudakan, dan penjualan organ?" tanya eksekutif kedua.


"Benar. Aku sudah muak melihat tingkan mereka yang berbuat sesuka hati dengan memanfaatkan namaku. Aku ingin menyingkirkan mereka. Tapi, mereka adalah bagian kelompokku. Maka dari itu, aku sangat berterima kasih pada orang yang sudah membunuh 3 bajingan itu," jawab Nero.


"Apa boleh aku mencari kelompok itu? Walaupun Anda berniat membiarkan mereka membunuh ketiga eksekutif lain. Tapi, aku tidak mau jika nama kita tercoreng karena ulah mereka," kata eksekutif keempat.


"Lakukan sesukamu," jawab Nero singkat.


"Kalau begitu, aku juga ikut. Walupun Fafnir, Eliot, dan Morgan adalah anggota terlemah, kemampuan mereka tidak bisa diremehkan. Setelah merasakan aura mereka, aku jadi tertarik untuk bertarung melawan mereka," sahut eksekutif pertama.


"Aku juga ingin melihat sejauh mana kemampuan mereka," sahut eksekutif kedua.


"Cih ... kalian membuatku tidak punya pilihan lain," sahut eksekutif ketiga.


"Lakukan apa pun yang kalian inginkan. Tapi, jangan sampai mati," kata Nero.


"Haaahahahahahahahaha! Tenang saja, kami tidak selemah itu," sahut eksekutif ketiga.


Keempat eksekutif Nero mulai meninggalkan markas utama kelompok Nero untuk segera bersiap menghadapi sang kelompok penantang.


Di sisi lain, aku dan kelompokku tengah menyisir wilayah barat untuk membebaskan orang orang yang ditahan di sana.


Sampai pada akhirnya, kami sampai di markas Fafnir.


Di sana, kami melihat ada puluhan wanita dewasa yang sedang tel*nj*ng bulat.


"Oi! Apa apaan ini?" tanyaku dengan wajah memerah saat melihat pemandangan di depan mata.


"I-Ini ... ini ... inikah yang dinamakan kenikmatan dunia?" tanya Akito dengan wajah memerah.


Aku, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, dan Alvin mematung dengan wajah memerah saat melihat puluhan wanita tel*nj*ng yang ada di sana.


"Akito! Jangan tahan aku! Aku tidak sanggup menahan godaan ini!" teriakku pada Akito.


"Hoi, tidak ada siapa pun yang menahanmu," kata Akito.


"Sialan! Si bajingan itu memanfaatkan para wanita ini sebagai pemuas nafsunya," kata Akito jengkel.


"Apa ada cara membangkitkan orang mati? Aku benar benar ingin membunuh bajingan itu dengan tanganku sendiri!" kata Kageyama jengkel.


"Jika tau begini, seharusnya aku yang membunuhnya dengan tanganku sendiri!" kata Julius jengkel.

__ADS_1


"Tidak bisa dimaafkan! Aku juga ingin membunuh bajingan itu!" kata Yuta jengkel.


"Bagaimana kalau kita seret bajingan itu dari alam baka!" sahut Alvin.


Mereka sangat membenci Fafnir karena telah menjadikan puluhan wanita sebagai pemuas nafsunya.


"Halo, bocah! Apa kalian ingin bersenang senang dengan Kakak?" tanya salah satu wanita di sana sambil meraba raba seluruh tubuhku.


"Heh? Apa boleh?" tanyaku sambil berusaha terus menahan diri.


"Tentu saja boleh. Apa kau ingin mencoba menjelajah gunung kembar dan gua lembab?" tanya salah satu wanita di sana dengan nada penuh gairah.


"Ya, ya, ya. Aku ingin berpetualang di sana. Akito, maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan menjadi penjelajah gunung dan gua," kataku.


"Tahanlah, bodoh! Jangan sampai tergoda!" bentak Akito.


Dengan berat hati, kami pun meninggalkan tempat itu untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan.


.


.


"Sialan! Rasanya mubazir!" kataku dengan penuh penyesalan.


"Mereka itu berada di bawah pengaruh obat obatan. Jadi, kita tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan," sahut Akito.


"Cih ... kau membosankan, Akito. Para pembaca biasanya sangat menyukai hal semacam itu," balasku.


"Kaaakakakakakakakaka! Pembaca? Memangnya ada yang mau membaca cerita sampah seperti ini?" tanya Kageyama.


"Tentu saja ada!" jawab Julius.


"Author dan keluarganya. Haaahahahahahaha!" jawab Julius.


"Kaaakakakakakakakaka!"


"Haaahahahahahahahaha!"


"Pfttt ...."


"Diamlah, kalian semua!" bentakku pada mereka.


.


.


Kami pun mulai melanjutkan pencarian.


Sesampainya di salah satu ruangan, kami melihat ada banyak gadis muda yang diikat dan disumpal mulutnya.


"Dian!" teriak Alvin sambil melihat ke arah salah satu gadis yang ditahan di sana.


Alvin berlari menghampiri salah satu gadis di sana. Kemudian, melepaskan tali serta sumpalan mulutnya.


"Kakak! Aku takut!" Dian menangis di pelukan Alvin.


Aku, Akito, Kegayama, Julius, dan Yuta yang melihat Dian, hanya bisa terdiam sambil terus memandanginya.


"Oi, Alvin. Apa dia benar benar adikmu?" tanyaku dengan wajah tercengang.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" Alvin bertanya balik sambil memeluk adik perempuannya.


"Tidak ... tidak ada," jawabku dengan wajah syok.


Di mata Rudi dan anggotanya, Dian itu terlihat seperti boing boing dan wow.


Tubunya langsing, kulitnya putih bersih, wajahnya imut, rambut hitam panjang, pipi merah merona, bibir mengkilap, dan bemper depan belakang berisi.


"Sialan! Kenapa kau tidak mengatakan dari awal kalau adikmu itu perempuan, hah?" bentakku pada Alvin.


"Heh? Bukankah kalian tidak pernah menayakan soal itu? Memangnya, kenapa kalau adikku perempuan?" tanya Alvin dengan wajah polosnya.


Aku kemudian menarik semua anggota lainnya untuk berunding.


"Oi, kita harus merekrutnya. Aku sudah bosan terus bersama laki laki seperti kalian," bisikku.


"Hoi, apa maksud dari ucapan 'aku sudah bosan dengan laki-laki seperti kalian?' Apa kau tidak suka bersama kami?" tanya Yuta.


"Diamlah, Yuta! Aku setuju dengan ide Rudi," bisik Julius.


"Heh? Tuan Julius ...." kata Yuta.


"Kaaakakakakakakakaka! Aku juga setuju. Setidaknya, kita harus punya penyegar mata di kelompok kita. Aku tidak mau hanya bersama batang seperti kalian. Kita butuh sesuatu yang boing boing," bisik Kageyama.


"Aku tidak tau apa arti 'batang' dan 'boing-boing'. Tapi, aku setuju jika harus merekrutnya," bisik Akito.


"Heeehehehehehehehehe."


"Haaahahahahahahahaha."


"Kaaakakakakakakakakak."


Aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta tersenyum licik.


Kami berniat merayu Alvin untuk bergabung dalam kelompok. Dengan begitu, Dian juga pasti akan ikut bergabung.


"Hoi, hentikan tatapan aneh kalian," kata Alvin yang mulai terganggu dengan tatapan aneh Rudi dan kelompoknya.


"Kakak, apa mereka temanmu?" tanya Dian dengan suara lembutnya.


"Mere ...." Belum selesai Alvin menjawab, aku langsung memotongnya.


"Benar, kami adalah teman kakakmu. Saat ini, kakakmu adalah bagian anggota kelompok kami," potongku dengan senyum aneh.


"Hoi, ka ...." Belum selesai Alvin menjawab, Kageyama dan Julius langsung membungkam mulutnya.


"Dian, apa kau juga mau bergabung dengan kami?" tanya Kageyama sambil terus membungkam mulut Alvin.


"Mmmmmm ...." Alvin terus memberontak. Tapi, Kageyama dan Julius terus membungkam mulutnya dengan sangat kuat.


Dian mulai takut karena melihat tatapan aneh Rudi dan kelompoknya.


"Kakak," Dian memeluk lengan kakaknya.


"Huah .... apa apaan kalian ini? Apa kalian berniat aneh aneh pada adikku?" Alvin berhasil lepas dari bungkaman Kageyama dan Julius.


Aku kemudian merangkul leher Alvin. Lalu mengatakan, "Begini, sobat. Kami tidak berniat aneh aneh. Kami hanya ...." Aku menghentikan ucapanku sambil memasang tatapan mes*m ke arah Dian.


Alvin dan Dian pun hanya bisa meringkuk ketakutan saat melihat tatapan aneh Rudi dan kelompoknya.

__ADS_1


__ADS_2