The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 106 - Kedewasaan Dalam Berfikir


__ADS_3

Setelah 1 bulan kemudian, harapanku untuk kabur dari sana menjadi semakin kecil karena penyiksaan yang kuterima semakin buruk dari hari ke hari.


Orang orang yang awalnya menyiksaku demi kesenangan dan tak berniat membunuhku, kini mulai terasa semakin parah dan seolah mereka tak perduli lagi dengan hidupku. Sehingga, membuat penyiksaan yang mereka lakukan padaku mulai semakin ekstrim dan berpotensi besar menghilangkan nyawaku.


Beruntungnya, mereka tidak sampai memotong atau menghilangakan bagian tubuh tertentu. Sehingga, membuatku masih punya sedikit harapan untuk bisa kabur dari sana dengan tubuh utuh.


"Aku harus kabur sekarang juga!" pikirku.


Malam itu, aku menetapkan tekat untuk melarikan diri dari sana. Karena jika lebih lama lagi, mungkin aku tidak akan punya kesempatan lagi.


Terlebih, kemampuanku dalam mengendalikan energi juga sudah jauh meningkat dari sebelumnya.


Saat aku hendak melarikan diri, tiba tiba ada seorang pria yang mulai membuka selku.


Dia adalah orang yang dulu telah menyelamatkanku dari tebasan orang yang sudah membunuh ayahku.


Aku mulai panik karena mengira bahwa pria itu mengetahui rencana pelarianku.


Aku pun melihat ke arahnya dengan tatapan takut, bukan karena aku takut, tapi untuk mengelabui orang tersebut.


"Cepat ikut aku!" kata pria itu sambil berdiri di depan pintu selku.


Tanpa berbicara satu kata pun, aku langsung menuruti perkataan pria tersebut.


Berbeda dengan orang orang yang selalu menyiksaku, pria itu tidak menjambak rambut dan menyeretku ke tempat tujuan. Dia hanya berjalan di belakangku sambil membiarkanku berjalan sendiri menuju ke tempat tujuan.


Sambil berjalan di belakangku, pria itu kemudian berkata, "Maafkan aku. Karena ulah kelompokku, kau harus mengalami penderitaan semacam ini."

__ADS_1


Aku tersentak kaget setelah mendengar ucapan pria itu karena tidak pernah terbayangkan bahwa pria tersebut akan mengatakan kalimat semacam itu padaku.


Tanpa membalas perkataannya, aku terus berjalan di depan pria tersebut.


Aku sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri sana. Akan tetapi, niatku batal ketika mendengar kalimat pria tersebut.


Walaupun aku tidak melihat raut wajahnya, tapi dari kata katanya aku bisa merasakan bahwa pria itu tengah merasakan penderitaan dan kesedihan mendalam saat mengutarakan kalimat itu padaku. Hal itulah yang membuatku langsung mengurungkan niat untuk kabur kala itu.


"Kita akan ke mana?" tanyaku pada pria tersebut sambil terus berjalan di depannya.


"Mulai saat ini, kau tidak perlu lagi mengalami siksaan seperti sebelumnya. Kau akan kutempatkan di kerangkeng besi bersama 1 bocah sebelumnya (maksudnya Akito)."


"Kenapa?" tanyaku sambil terus berjalan.


"Morlan telah mati! Jadi, saat ini tidak ada siapa pun yang bisa menentang perintahku!" jawab pria tersebut.


Sambil terus berjalan di depan pria itu, aku kembali bertanya, "Lalu, kenapa kau menghentikan siksaanku?"


"Aku hanya tidak mau terus terganggu dengan tawamu!" jawab pria tersebut.


Sesampainya di ruang tempatku dulu dikurung bersama Firli dan Akito, pria itu langsung memasukkanku ke dalam kerangkeng besi yang ada di sana.


Setelah itu, pria itu langsung pergi tanpa mengucapkan kalimat apa pun.


Saat aku sudah berada di dalam kerang besi itu, Akito langsung bertanya tanpa memandang ke arahku. "Bagaimana kondismu sekarang?"


Aku melihat ke arah Akito, kemudian menjawab, "Ya, kondisiku jauh lebih baik dari sebelumnya!"

__ADS_1


Sambil menundukkan pandangan, Akito kembali bertanya, "Kenapa? Kenapa tau tetap kuat menjalani semua siksaan itu? Apa mentalmu tidak hancur? Apa kau tidak memendam kebencian lagi? Ke mana perginya kebencianmu yang sebelumnya? Apa kau jadi terlalu gila hingga melupakan semua itu?"


Sambil melihat ke langi langit, aku kemudian menjawab, "Aku sendiri tidak tau kenapa hal ini bisa terjadi. Setelah mengalami tidur yang aneh, aku merasa bahwa ada sesuatu yang berubah dari dalam diriku. Selain itu, setiap malam, aku juga selalu bermimpi hal yang sama terus menerus, yaitu mimpi bertemu seseorang yang menyuruhku untuk tetap kuat menjalani semua siksaan yang kualami saat ini. Dengan begitu, mungkin saja suatu saat nasibku akan berubah. Dan aku percaya akan hal itu. Aku percaya suatu saat nanti kehidupanku akan berubah. Karena menurutku, hidup bagaikan roda yang terus berputar. Kita tidak akan selamanya di bawah. Tapi, kita juga tidak akan selamanya di atas. Dan semakin lambat perputarannya, maka akan semakin berat cobaan yang harus ditahan. Saat di bawah, itu akan terasa sangat menyakitkan. Tapi saat di atas, itu akan terasa sangat menyenangkan. Aku percaya bahwa suatu saat nanti, roda kehidupanku akan berputar. Saat ini aku memang berada di titik terbawah. Tapi saat aku berada di atas, aku akan benar benar bisa menikmatinya karena aku percaya bahwa keberhasilan tidak akan bisa terasa nikmat jika seseorang tidak pernah gagal. Yah, itu mungkin mirip seperi ungkapan seseorang tidak akan tau manisnya gula jika tidak pernah merasakan pahitnya pare. Seperti itulah kurang lebih. Haaahahahahahahahaha!"


Akito langsung terseentak saat mendengar jawaban yang Rudi ucapkan. Dia tidak menyangka bahwa ada anak berusia 11 tahun, sama seperti dirinya, yang telah mampu berfikir layaknya orang dewasa.


Akito sepenuhnya tau bahwa umur tidak bisa menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, bagaimana cara seorang bocah berusia 11 tahun bisa memiliki pemikiran matang di tengah segala penderitaan yang tak mungkin bisa ditahan sebagian besar manusia? Bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?


Sambil melihat Rudi yang sedang tertawa lepas, Akito pun mulai menguntai senyum tipis, kemudian bertanya, "Lalu, bagaimana caramu mengubah nasibmu? Apa kau hanya akan berbicara omong kosong sambil berharap ada orang yang menyelamatkamu?"


"Tentu saja tidak! Aku sudah memikirkannya sejak lama! Saat ini, aku bisa mengendalikan sebuah energi aneh yang mengalir di tubuhku! Jika aku terus mengasahnya, aku pasti bisa kabur dari sini dengan mudah!" jawabku sambil mengepalkan tangan.


"Force!" kata Akito sesaat setelah aku selesai menjawab.


"Force? Apa itu?" tanyaku dengan nada bingung.


Akito kemudian melihatku dengan wajah syok. Ia kemudian mencengkram kedua pundakku sambil mengatakan, "Apa kau benar benar bisa menggunakan force?"


Aku sedikit kesakitan saat Akito mencengkram kedua pundakku. Tapi, aku tidak mengeluh. Dan kemudian menjawab sambil sedikit meringis kesakitan. "Aku tidak tau apa yang kau maksud. Tapi, jika yang kau maksud adalah energi aneh di dalam tubuhku, aku bisa! Aku bisa mengendalikannya, walaupun masih sangat lemah jika dibandingkan dengan orang orang yang sering menyiksanku!"


Mendengar hal itu, membuat ekspresi Akito nampak berubah. Ia memasang ekspresi bahagia, seolah mendapat harapan baru. "Rudi, jika kau benar benar bisa menggunakannya, maka kau bisa bebas dari sini!"


"Aku tau, aku tau! Sekarang lepaskan cengkramanmu dan berhenti menggoyangkan tubuhku! Rasanya menyakitkan kalau kau terus mencengkram dan mengoyangkannya seperti ini!" kataku.


"Oh, maafkan aku! Aku terlalu senang saat mendengar bahwa kau bisa menggunakan force!" kata Akito sambil melepaskan cengkramannya.


"Memangnya, force itu apa?" tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2