
Sesampainya di area dekat stadion, mereka bertiga cukup terkejut saat melihat antrian panjang orang-orang yang ingin menonton pertandingan para Ranker.
"Apa ada pertardingan di sana?" tanyaku sambil melihat antrian panjang di depan stadion.
"Sepertinya begitu," jawab Akito.
"Ayo nonton," kataku.
"Bukannya tadi kau bilang tidak suka dengan Ranker? Kenapa sekarang mau nonton pertandingan mereka?" tanyan Akito.
"Ckckckck ... kau tidak menyimaknya dengan benar, Akito!" kataku sambil mengelengkan kepala.
"Eh? Apa maksudmu?" tanya Akito binggung.
"Aku memang tidak suka menjadi badut. Tapi, aku sangat suka menonton para badut. Haaahahahahah! Ayo ke sana!" kataku dengan nada penuh percaya diri sambil berlari menuju antrian masuk.
"Kaaakakakakakakaka! Leluconmu boleh juga," kata Kageyama sambil berjalan di sampingku, dan meninggalkan Akito sendirian di belakang.
"Eh? Tunggu aku, sialan!" Akito geram karena ditinggal sendirian.
Kami pun membeli tiket untuk menonton pertandingan itu.
Saat masih di antrian, kami bertiga mendengar banyak orang sedang sibuk membicarakan pertandingan yang akan segera digelar sebentar lagi.
"Aku tidak sabar melihat pertadingan ini."
"Ya, Aku juga. Aku ingin melihat penampilan tim Javier. Mereka sudah memenangkan 9 pertandingan berturut-turut. Kalau mereka memenangkan pertandingan ini, mereka akan naik ke Tier 3 Class A."
"Sialan! Antriannya pajang sekali. Aku ingin cepat masuk stadion."
Saat mendengar banyak orang yang membicarakan tentang team Javier, membuatku sedikit tertarik untuk melihat sekuat apa kelompok yang mereka maksudkan.
"Oi, apa kalian pernah dengar tentang tim Javier?" tanya Rudi.
"Hmm ... entahlah. Aku tidak pernah dengar apapun tentang mereka. Bagaimana denganmu, Kageyama?" tanya Akito.
"Javier? Yang kutahu, mereka tim yang hebat," jawab Kageyama.
"Itu saja?" tanyaku.
"Kaaakakakakakaka! Aku tidak terlalu mengikuti soal ini. Jadi, aku tidak tau banyak. Lagi pula, tim Tier 3 itu hanya skala lokal. Jika itu adalah tim Tier 5 atau 7, mungkin aku tau beberapa," jawab Kageyama.
"Memangnya ada berapa tier?" tanya Rudi.
"Ada 7. Masing-masing dikelompokkan menjadi 3 Class. Misalnya Tier 1 Class A, B, dan C. Tier 1 Class C adalah yang terendah. Sedangkan Tier 7 Class A adalah yang tertinggi," jawab Kageyama.
"Hmm ... sepertinya menarik," kataku.
"Sepertinya kau tau banyak hal, ya?" kata Akito.
"Kaaakakakakakakaka! Itu hanya pengetahuan umum. Justru, aku heran pada kalian, kenapa kalian bisa tidak tau tentang itu. Bukankah pertandingan para Ranker selalu disiarkan di televisi?" tanya Kageyama.
__ADS_1
"Yah ... soal itu ...," kataku dengan sedikit ragu.
"Kami tidak punya televisi. Jadi, kami tidak tau banyak soal itu," jawab Akito.
"Oi, jangan buka-bukaan begitulah," ucapku kesal.
"Ya, itu kan memang kenyataanya," sahut Akito.
"Kaaakakakakakakaka! Ternyata, kalian benar-benar berasal dari pedalaman. Kaaakakakakakaka!" sindir Kageyama.
Setelah mengantri 1 jam lamanya, kami bertiga akhirnya bisa masuk ke dalam stadion.
Tidak lama berselang, suara sang komentator mulai menggema ke seluruh stadion.
"Selamat datang di pertandingan battle royal yang melibatkan 10 tim terbaik di kota Alinstone. Kesepuluh tim akan saling bersaing untuk memperebutkan 1 kemenangan mutlak," ucap sang komentator.
Mendengar hal itu, semua penonton yang hadir di stadion langsung bersorak.
"Yeah! Cepat mulai pertandingannya."
"Javier!"
"Kyaa! Aku ingin melihat Tuan Javier!"
Di sisi lain, Rudi, Akito, dan Kageyama yang mendengar sorak-sorai penonton, dibuat sangat terkejut.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka sampai histeris seperti itu?" tanyaku dengan perasaan heran.
"Bukankah pertarungan adalah hal biasa?" tanya Akito.
"Apa kalian ingat bagaimana reaksi orang-orang yang melihat pertempuran kalian di Ibukota Roland? Mereka yang berada di tengah pertempuran pasti akan sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Sehingga, mereka tidak bisa menikmati pertempuran sengit kalian. Sedangkan di sini, mereka bisa melihat orang-orang saling bertarung tanpa khawatir," jawab Kageyama.
"Ya, benar juga," sahut Akito.
"Apapun itu, ayo nikmati saja pertarungannya," kataku santai.
"Hallo semuanya! Saya adalah komentator untuk pertandingan hari ini." Suara keras mulai terdengar ke seluruh stadion.
Mendengar suara sang komentator, semua penonton mulai bersorak mengetahui bahwa pertandingan akan segera dimulai.
"Woah!" Aku berteriak dengan lantang. Akan tetapi, suaraku hampir tidak terdengar karena tenggelam di antara riuh ribuan penonton lain.
"Hari ini, pertadingan antara 10 tim Ranker yang sedang hangat dibicarakan akan segera berlangsung." Suara sang komentator kembali menggema ke seluruh sudut stadion.
"Woah!"
Teriakan para penonton semakin menjadi-jadi.
"Orang yang bisa menghabisi semua lawannya dengan brutal dan sanggup merangkak naik menjadi Ranker hanya dalam waktu 1 tahun. Mari kita sambut. Tim Javier!" ucap sang komentator.
Javier dan seluruh anggota timnya mulai memasuki arena.
__ADS_1
"Javier!"
"Tuan Javier!"
"Bantai tim lainnya, Javier!"
Para penonton tidak henti-hentinya berteriak histeris .
"Lalu, ini dia tim yang dikenal sebagai The Mister. Jika kau menantangnya, maka kau harus siap mempertaruhkan nyawamu. Mari kita sambut. The Mister! Jack Swan!" ucap sang komentator.
"Jack! ayo habisi bajingan itu!"
"Bantai dia Jack!"
Teriak para penonton terdengar saling saut menyaut.
Kedua tim unggulan sudah berada di atas arena. Aura yang mereka pancarkan benar-benar luar biasa.
"Menarik ... Sungguh menarik. Aku tidak menyangka, ternyata para badut itu tidak hanya omong kosong belaka," gumamku dalam hati.
Aku tersenyum menyeringai saat melihat dua tim unggulan yang berada di atas arena. Tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Dan seringai tipis juga mulai terlihat.
Kageyama yang melihat ekspresi itu, langsung bertanya, "Apa kau ingin mencobanya sesekali?"
Mendengar pertanyaan Kageyama, membuat tubuhku merinding, tanganku berkeringat, dan adrenalinku mulai terpacu.
"Haha ... haha ... aku tidak tertarik dengan mereka. Aku lebih tertarik dengan orang-orang yang ada di Tier atas?" Senyum tipis mulai terukir di wajahku dan membuatku tampak menakutkan.
Selesai menonton pertandingan, aku dan teman-temanku melanjutkan jalan-jalan kami di kota Alinstone.
Kami berencana menghabiskan waktu istirahat di kota Alinstone, sekalian berlibur.
"Oi, ayo berlibur di sini untuk sementara waktu. Lagi pula, kondisi kita sedang tidak memungkinkan untuk memulai perjalanan," kataku sambil berjalan menelusuri kota.
"Ya, aku setuju. Tubuhku juga masih sangat lelah akibat pertempuran tempo hari," sahut Akito.
"Kaaakakakakakaka! Kalau begitu, ayo nikmati kota ini," kata Kageyama.
Suasana di kota Alinstone benar-benar berbeda dengan kota-kota yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Banyak bangsawan kelas atas yang tinggal di sana. Kendaraan mewah, pakaian mewah, hingga rumah bak istana seperti hal yang biasa di sana.
Aku melihat banyak kendaraan mewah lalu lalang di jalanan kota. Orang-orang yang kutemui di sepanjang jalan juga tampak bahagia. Di mataku, kota itu benar-benar seperti kota impian.
Melihat semua kemewahan yang bertaburan di kota itu, aku akhirnya sadar bahwa kehidupan para bangsawan benar-benar berbanding terbalik dengan rakyak jelata.
Mungkin itulah sebabnya para bangsawan memandang rendah rakyak jelata. Perbedaan kehidupan antara keduanya bagaikan langit dan bumi.
Aku tau betul bahwa ada sebuah jurang besar yang memisahkan antara kaum rakyat jelata dan para bangsawan.
Karena itulah, aku ingin menjadi yang terkuat dan membuat orang-orang mengikuti jalanku. Agar suatu saat nanti, setiap orang bisa memilih jalan mereka masing-masing tanpa memikirkan status mereka. Aku ingin menjadi tonggak bagi mereka yang tidak sanggup berdiri. Aku ingin menjadi inspirasi bagi mereka yang merasa frustasi.
Aku ingin membawa angin perubahan untuk dunia yang sudah mulai membusuk. Dunia di mana dekriminasi menjadi jurang pemisah yang membatasi seseorang mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
__ADS_1