The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 101 - Kebencian yang Mengakar


__ADS_3

1 bulan kemudian, kondisiku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Luka luka di tubuhku juga mulai mengering berkat bantuan Firli dan Akito.


Selama 1 bulan terakhir, Firli dan Akito terus merawatku dengan penuh perhatian.


Akito yang awalnya tidak memperdulikanku, akhirnya mulai memasang perhatiannya setelah melihat ketegunahanku dalam memperjuangkan hidup.


Setelah 3 bulan berlalu, kondisiku sudah hampir sembuh sepenuhnya.


Karena kemampuan penyembuhan yang kumiliki, membuat Firli dan Akito terkejut. Mereka seolah tidak percaya bahwa aku bisa sembuh hanya dalam waktu 3 bulan saja.


"Rudi, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Firli.


"Aku sudah hampir sembuh sepenuhnya berkat bantuanmu. Terimakasih, Firli," kataku sambil tersenyum tipis.


Aku dan Firli kemudian saling pandang dengan senyum terukir di wajah kami berdua.


"Ahem!" Akito berusaha menunjukan keberadaannya.


Aku dan Firli kemudian mengalihkan pandangan dengan wajah memerah karena malu.


"Akito, terimakasih!" kataku dengan wajah yang masih memerah karena malu.


"Tidak masalah! Lagi pula, aku melakukannya bukan karena aku perduli padamu. Aku hanya tidak ingin terus mencium aroma busuk dari tubuhmu," sahut Akito.


"Apa pun itu, terimakasih!" kataku.


Kami bertiga pun mulai berbincang santai.


Saat kami masih asik berbincang, tiba tiba ada seorang pria yang datang ke ruangan tempat kami ditahan bersama 3 orang dari kelompok yang menahan kami.


Saat pertama kali memasuki ruangan tempat kami ditahan, pria itu langsung menutup hidung sambil bertanya, "Aroma apa ini?"


"Aroma ini berasal dari bocah itu!" jawab orang pertama dari kelompok yang menahan kami sambil menunjukku.


"Kenapa kalian tidak membuangnya saja?" tanya pria tersebut.


"Ketua melarang kami menyentuhnya," jawab orang pertama dari kelompok yang menahan kami.


Sambil terus menutup hidungnya, pria itu kembali bertanya, "Kenapa Pian melarang kalian menyentuh anak itu?"


"Ketua bilang, anak itu akan jadi dagangan mahal jika kondisinya sudah jauh lebih baik. Maka dari itu, ketua melarang kami menyentuhnya," jawab orang kedua dari kelompok yang menahan kami.


"Apa maksudnya, bocah seperti itu berharga mahal? Di mataku, dia tidak lebih dari sekedar kotoran!" sahut pria tersebut sambil terus menutup hidungnya.


Pria itu kemudian mulai mendekat ke arah kerangkeng besi yang mengurungku.


Pria itu membungkukkan badan sambil melihat seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Selesai melihatku, pria itu kembali berdiri dan mengatakan, "Buang saja! Dia tidak berharga sama sekali!"


"Tapi, bagaimana jika ketua marah?" tanya orang pertama dari kelompok yang menahan kami.

__ADS_1


"Katakan padanya kalau ini perintahku! Pian tidak akan berani menentang perintahku!" sahut pria tersebut.


Sambil menyeringai, pria ketiga dari kelompok yang menahan kami kemudian bertanya, "Tuan Marlon, apa saya boleh menyiksanya sebelum membuangnya?"


Marlon adalah pria yang datang bersama ketiga orang dari kelompok yang menahan kami.


"Menyiksanya?" tanya pria bernama Marlon.


"Benar. Kami sudah merawatnya selama 3 bulan. Karena dia sudah tidak berharga, maka dia harus membayar apa yang sudah kami berikan padanya!" jawab orang ketiga sambil menyeringai.


"Lakukan sesukamu!" sahut pria bernama Marlon.


Setelah mendengar percakapan keempat orang itu, Firli langsung berdiri sambil berteriak, "Jangan siksa Rudi lagi! Apa kalian tidak kasihan padanya? Di mana hati nurani kalian?"


Aku dan Akito sangat terkejut saat mendengar teriakan Firli.


Aku benar benar tidak menyangka bahwa Firli berani berteriak seperti itu di tengah kondisi semacam ini.


"Firli, tenanglah. Jangan membuat masalah. Jika kau membuat mereka marah, kau pasti akan mendapat hukuman," kataku dengan suara pelan sambil menarik lengan Firli, memintanya kembali duduk.


Firli terus berdiri sambil menatap keempat orang itu tanpa memperdulikan ucapanku.


"Hoho ... siapa gadis itu? Berani sekali budak sepertimu berbicara lancang di hadapanku!" kata pria bernama Morlan sambil melihat ke arah Firli.


"Bawa gadis itu kemari!" Morlan menyuruh ketiga orang dari kelompok yang menahan kami untuk mengeluarkan Firli dan membawanya ke hadapannya.


Salah satu dari ketiga orang itu pun mulai membuka karangkeng besi yang menahan kami dan berniat membawa Firli keluar dari sana.


Saat orang itu hendak membawa Firli keluar dari kerangkeng besi, aku terus mencoba melawan orang itu, berniat mempertahankan Firli.


"Jangan sentuh dia!" seruku sambil melayangkan pukulan ke arah pria yang menarik lengan Firli.


Saat aku dan Firli sibuk memberontak, Akito hanya terdiam di pojok kerangkeng besi sambil menundukkan pandangannya.


"Diamlah!" bentak orang itu sambil menampar wajahku.


Tamparan orang itu terasa sangat menyakitkan dan membuatku terpental hingga membentur salah satu sisi kerangkeng besi.


Walaupun sudah berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi apalah daya. Kami berdua hanyalah anak kecil yang bahkan tidak sanggup memberikan rasa sakit pada orang tersebut.


Orang itu kemudian membawa Firli keluar dan kembali mengunci kerangkeng besi tempatku dikurung.


Kedua orang lainnya menertawakan perlawananku dan Firli.


Morlan kemudian menyuruh orang kedua untuk mengambil air.


Setelah itu, Morlan menyiramkan air tersebut pada Firli.


"Ternyata, dia jauh lebih cantik dari yang kukira," kata Morlan saat melihat penampilan Firli yang telah diguyur air.


Sambil memegang dan menghentak jeruji besi yang menahanku, aku berteriak histeris. "Lepaskan dia! Siksa aku hingga kalian puas! Tapi, jangan sentuh dia!"

__ADS_1


Sambil terkekeh dan menekan kedua pipi Firli menggunakan jari jarinya, Morlan bertanya padaku. "Apa dia kekasihmu?"


Sambil berderai air mata, aku terus memohon, "Siksa aku sesukamu. Tapi, kumohon ... lepaskan dia."


Sambil melihat wajah cantik Firli, Morlan mulai menyeringai dan mengatakan, "Jika saja gadis ini 10 tahun lebih tua, mungkin aku akan menjadikannya budakku."


Morlan kemudian mengambil sebuah pisau di meja yang berada di pojok ruangan.


Setelah itu, Morlan mulai memotong baju yang Firli kenakan hingga membuat Firli tel*nj*ng bulat.


Melihat hal itu, membuatku semakin histeris dan berteriak lantang. "Apa yang akan kau lakukan? Cepat lepaskan dia! Kumohon ... lepaskan dia! Siksa aku saja! Jangan siksa dia!"


Sambil menyeringai, Morlan mulai menempelkan pisau yang ia pegang ke area vital (kewanitaan) Firli, kemudian mengatakan, "Aku memang berniat menyiksamu (Rudi). Tapi, aku tidak akan menyiksa fisikmu, melainkan mentalmu!"


"Tidak! Tolong ... jangan lakukan itu ... kumohon ... jangan!" teriakku sambil dibanjiri air mata.


Sambil tertawa puas, Morlan kemudian mulai menusukkan pisaunya ke dalam area vital Firli secara perlahan.


Firli langsung kejang kejang saat pisau tersebut melukai area vitalnya. Ia seperti ingin menjerit, tapi ia tidak bisa melakukannya karena kedua pipinya sedang dicengkram oleh Morlan.


Sambil terus menguncang jeruji besi yang mengurungku, Aku berteriak histeris hingga membuat tenggorokanku tercekik. "Hentikan! Hentikan! Jangan buat dia menderita lebih dari ini! Kuliti saja aku hidup hidup! Jangan siksa dia! Hentikan!"


"Haaahahahahahahahahahahahahahahahahahaha!" Morlan tertawa puas sambil terus menusukkan pisaunya ke area vital Firli.


Sedangkan di sisi lain, Firli terus mengeliat dan kejang kejang saat pisau itu mulai merobek robek area vitalnya.


Di sisi lain, Akito hanya duduk di pojok kerangkeng besi tanpa berani melihat penyiksaan itu. Sedangakan ketiga orang dari kelompok yang menahan kami, ikut tertawa puas saat melihat penderitaan yang Firli alami.


Aku terus berteriak histeris sambil mencoba menghancurkan jeruji besi yang mengurungku. Tapi, semua usahaku sia sia. Dan pada akhirnya, aku harus dipaksa melihat gadis yang kucintai menderita di depan mata kepalaku sendiri.


Firli terus meberontak sambil kejang kejang hingga pada akhirnya dia tak lagi bisa memberontak.


Melihat area vital Firli yang dibanjir darah dan sorot mata yang mulai memudar, membuat hati dan pikiranku benar benar hancur.


Aku terdiam beberapa saat sambil melihat tubuh Firli yang tergulai lemas dalam genggaman Morlan.


Karena Firli tak lagi melawan, Morgan kemudian melempar tubuh Firli hingga menghantam kerangkeng besi tempatku dikurung.


Aku kemudian menggoyangkan tubuh Firli perlahan sambil mengatakan, "Firli ... bangunlah ... Firli ...," kataku dengan nada lembut.


Aku berharap Firli masih hidup. Walaupun hal itu rasanya hampir mustahil karena sorot matanya sudah sepenuhnya memudar, menandakan kematian.


"Nikmati gadismu!" kata Morlan dengan tubuh penuh cipratan darah.


Aku pun menatam tajam ke arah Morlan dengan mata berlinang air mata darah. "Aku pasti akan membunuhmu! Apa pun yang terjadi, aku akan membuatmu dan membuatmu membayar atas apa yang sudah kau lakukan!" kataku dengan penuh kemarahan.


Morlan seperti tersentak saat melihat tatapan tajam yang kuarahkan padanya. Ia kemudian mulai membersihkan ciptran darah yang menempel di tubuhnya.


"Siksa bocah itu! Siksa dan siksa! Jangan biarkan dia mati apa pun yang terjadi!" kata Morlan sambil membersihkan cipratan darah yang menempel di tubuhnya.


"Laksanakan, Bos!" sahut ketiga orang dari kelompok yang menahanku.

__ADS_1


Aku terus mentap Morlan dengan perasaan penuh amarah.


Aku tidak gentar atau pun takut saat mendengar bahwa diriku akan mendapatkan siksaan tiada akhir. Karena yang kuperdulikan saat ini adalah bagaimana cara membalas perbuatan yang Morlan lakukan pada gadis yang kucintai.


__ADS_2