The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 24 - Kasino


__ADS_3

Setelah semua persiapan selesai, kami pun mulai berangkat menuju bandara. Dan saat pertama kali sampai di sana, aku sangat terpukau dengan bangunan megah bandara tersebut.


"Jadi ini yang namanya bandara?" tanyaku yang kagum dengan bagunan besar nan megah di hadapanku.


"Yap, bagaimana menurutmu?" Kageyama bertanya balik.


"Ini lebih menakjubkan dari yang kubayangkan," jawabku.


"Apa kita bisa langsung berangkat sekarang?" tanya Akito.


"Hmm ... setidaknya butuh persiapan sebelum siap berangkat. Mungkin akan makan waktu beberapa jam," jawab Kageyama.


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena aku harus menyelesaikan beberapa prosedur pembayaran dan yang lainnya," jawab Kageyama.


Kami bertiga pun mulai memasuki bandara untuk menyewa pesawat jet pribadi.


"Fouyoo ... keren! Udara di sini sangat dingin," kataku sambil melihat interior bandara.


"Kaaakakakakakakaka! Bukankah seharusnya kau terbiasa dengan udara dingin? Kau kan pemilik atribut es," kata Kageyama.


"Ya, soal itu ...," kataku dengan wajah gugup.


"Dasar bodoh!" sindir Akito.


"Apa katamu, hah?" bentakku.


"Bodoh!" sindir Akito lagi.


"Katakan lagi bajingan!"


"Bo-doh. Apa kurang jelas?"


"Sialan! Kenapa kau selalu membuatku emosi, hah?"


"Kau saja yang emosian!"


"Apa?"


"Kaaakakakakakakaka! Nikmati pertengkaran kalian. Aku pergi dulu. Kalian bisa menungguku di sini," kata Kageyama sambil beranjak meninggalkanku dan Akito.


"Tunggu, Kageyama! Bawa ini. Kami tidak mau terus merepotkamu," kataku sambil memberikan kartu tabunganku.


"Tenanglah. Gunakan itu untuk membeli senjata yang kalian inginkan. Satu saran dariku, uang yang kalian miliki saat ini mungkin saja tidak akan cukup untuk membeli apapun di pelelangan nanti. Kaaakakakakakakaka!" kata Kageyama sambil berjalan menjauh.


Kageyama pun pergi meninggalkanku dan Akito di ruang tunggu bandara.


Setelah 5 jam, Kageyama akhirnya kembali.


"Bangunlah." Kageyama membangunkan Rudi dan Akito yang tertidur di bangku ruang tunggu.


"A-Apa sudah selesai?" tanyaku sambil mengusap mata.


"Huah ... apa kita sudah bisa berangkat?" tanya Akito sambil menguap.


"Kaaakakakakakakaka! Apa tidur kalian nyeyak? Kita sudah bisa berangkat sekarang," kata Kageyama.


"Ya, ayo berangkat."

__ADS_1


Dengan tubuh lemas, kami berdua mengikuti Kageyama dari belakang.


Kami segera boarding dan pergi menuju pesawat jet pribadi yang telah disewa.


Sesampainya di dalam pesawat, kami disambut beberapa pramugari cantik beserta pilotnya.


"Selamat datang di penerbangan kami. Silakan duduk dan menikmati perjalanan," kata para pramugari dengan kompak.


"Ya, terimakasih," balasku.


Mereka harus menempuh perjalanan selama 1 hari penuh untuk sampai di tempat tujuan. Mereka juga transit di beberapa negara untuk mengisi bahan bakar pesawat.


Setelah menempuh perjalanan panjang, kami akhirnya sampai di Ibukota Negara Neverland.


"Oi, Akito. Apa aku tidak sedang bermimpi?" tanyaku dengan ekspresi terkejut.


"Entahlah. Mungkin saja pesawat kita jatuh dan kita sekarang ada di surga," jawab Akito dengan ekpresi yang sama denganku.


"Kaaakakakakakakaka! Selamat datang di Ibukota Neverland," kata Kageyama sambil mengangkat kedua tangan seolah ingin mempersembahkan pertunjukan akbar.


Aku dan Akito benar-benar terpukau dengan keindahan Ibukota Neverland.


Di sana, kami melihat banyak bangunan tinggi pencakar langit. Mobil sport mewah lalu-lalang seperti kendaraan umum. Pria dan wanita di sana berpakaian stylelist seperti model yang berlenggok di cat walk. Semerbak aroma wangi tercium dari segala penjuru. Di mata kami berdua, Ibukota Neverland benar-benar seperti surga dunia.


"Ayo pergi. Kita harus segara mencari hotel untuk menginap," kata Kageyama sambil mulai melangkah.


"Ya," jawabku dan Akito sambil berjalan di belakang Kageyama.


Kami berdua terus melihat ke kiri dan ke kanan karena merasa tidak percaya dengan pemandangan kota yang kami lihat saat ini.


"Oi, Kageyama. Apa kau pernah ke sini sebelumnya?" tanyaku sambil berjalan di belakang Kageyama.


"Eh? Kau punya sahabat yang tinggal di sini? Bukankah itu artinya sahabatmu adalah bangsawan kelas atas?" tanyaku dengan wajah terkejut.


"Kaaakakakakakakaka! Benar. Dia adalah salah satu bangsawan kelas," jawab Kageyama.


"Aku tidak tau sekaya apa dirimu. Tapi, kupikir kau benar-benar bukan bangsawan biasa, Kageyama," kata Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Mungkin kalian akan terkejut setengah mati saat mengetahui seberapa kayanya diriku," sahut Kageyama.


"Heh, Benarkah? Apa jangan-jangan kau ini salah satu dari 12 keluarga Bangsawan Elite Global?" tanyaku.


"Kaaakakakakakakaka! Aku tidak ingin menjawabnya sekarang," jawab Kageyama.


Kami terus berbincang sambil berjalan menuju hotel terdekat.


Sesampainya di salah satu hotel di pusat kota, kami langsung memesan 1 kamar VVIP.


Kageyamalah yang membayar semua biaya menginap di hotel tersebut. Jadi, kami tidak perlu khawatir walaupun harus mengeluarkan banyak uang..


Di dalam kamar yang kami sewa, kami sedang berbincang santai.


"Apa kalian tertarik bermain di kasino?" tanya Kageyama yang sedang duduk di kursi dekat kasur.


"Kasino?" tanyaku yang sedang duduk di atas kasur.


"Kasino adalah tempatnya orang-orang kaya menghabiskan uang mereka," jawab Kageyama.


"Menghabiskan uang? Kenapa mereka melakukannya?" tanya Akito sambil berbaring di atas kasur.

__ADS_1


"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja untuk kesenangan. Wanita, alkohol, perjudian, apapun yang kalian inginkan ada di sana," jawab Kageyama.


"Aku ingin mencobanya," kataku dengan wajah berbinar.


"Hoi, apa kau ingin menghabiskan semua uang kita?" tanya Akito dengan nada geram.


"Tenanglah, tenanglah. Jika soal judi, aku adalah ahlinya. Bukankah kau tau sendiri?" tanyaku dengan percaya diri.


"Ya, soal itu ...." Akito tidak bisa menjawabnya dengan benar.


Saat masih di desa Alpen, aku, Akito, dan orang-orang di sana sering bermain poker sebagai hiburan. Dan orang-orang desa menjulukiku sebagai Dewa Judi karena aku selalu menenangkan banyak permainan.


"Kaaakakakakakakaka! Kalau begitu, ayo pergi," kata Kageyama.


Kageyama mengajakku dan Akito pergi ke kasino paling megah di distrik perjudian yang berada di salah satu sudut Ibukota Neverland.


Sesampainya di dalam kasino, aku melihat pemandangan yang luar biasa.


Wanita berpakaian minim, pria menggunakan setelan lengkap, meja poker, meja black jack, mesin slot, sampai segala macam perjuan seakan menghipnotis semua orang di sana.


"Fouyooo ... apa-apaan ini?" Sekali lagi, aku dibuat terpana oleh gemerlap dunia yang belum pernah kulihat sebelumnya.


"Kaaakakakakakakaka! Gunakan ini untuk menukar chip di sana!" Kageyama memberikan kartu tabungan padaku.


"Apa ini?" tanyaku.


"Itu kartu tabungan. Di dalamnnya, ada uang sebesar 10 juta gale. Kau bisa menukarkannya dengan chip untuk bermain di sini," kata Kageyama.


"Apa? Se-sepulu juta gale? Apa aku benar-benar boleh menggunakannya?" tanyaku dengan wajah tercengang.


"Kaaakakakakakakaka! Gunakan sesuka kalian," jawab Kageyama.


"Oi, Akito. A-aku ... aku sedang memegang tabungan bernilai 10 juta gale," kataku sambil gemetar.


"Tenanglah, bodoh! Kita juga punya banya uang di tabungan kita, jadi biasa saja!" kata Akito sambil memukul kepalaku.


"Ya, aku tau. Hanya saja ... kita bisa menggunakan semua uang ini untuk berjudi," kataku yang masih gemetar.


"Kaaakakakakakakaka! Kalau begitu, aku pergi dulu. Jika kalian sudah selesai, kalian bisa mencariku di bar itu," kata Kageyama sambil menunjuk bar di dalam kasino.


Dengan tangan gemetar, aku membawa kartu tabungan di tanganku dengan hati-hati menuju tempat penukaran chip.


"Kami ingin menukarkan ini dengan chip," ucapku sambil menyodorkan kartu tabungan tersebut.


"Berapa banyak?" tanya petugas di sana.


"10 juta gale," jawabku.


"Baik. Tunggu sebentar."


Setelah menukar chip, aku pergi ke meja poker. Sedangkan Akito bermain di meja black jack.


Masing-masing dari kami membawa 5 juta chip.


"Permisi, saya ingin ikut bermain," kataku sambil bersiap duduk di salah satu kursi meja poker di sana.


"Hoi, bocah. Apa ini pertama kalinya kau main poker?" tanya salah seorang di sana.


"Tidak juga. Aku sering memainkannya saat masih di desa," jawabku sambil menata chipku di meja.

__ADS_1


"Haaahahahahahaha! Mangsa empuk!" pikir orang-orang di sana sambil melihat Rudi yang sedang menata chinya di meja poker tersebut.


__ADS_2