The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 53 - Pembantaian


__ADS_3

Medan pertempuran Rudi melawan Fafnir, Eliot, dan 500 pasukan musuh yang tersisa.


Aku menatap Fafnir dan Eliot dengan lirikan tajam. Aku kemudian mengangkat tanganku ke depan sambil mengatakan, "Mati!"


Sesaat setelah aku mengatakan itu, tiba tiba muncul sebuah tekanan gravitasi yang membuat area sekitar hancur.


Orang orang di sana merasakan tubuh mereka seolah di tekan ke tanah. Bagi yang tidak sanggup menahannya, tubuh mereka langsung hancur seperti daging geprek.


"Haaaaaaa!"


Fafnir dan Eliot berteriak lantang utuk menahan tekanan gravitasi tersebut. Mereka berusaha kuat untuk melepaskan diri.


Aku berjalan pelan mendekati Fafnir dan Eliot.


Duar! Duar! Duar!


Setiap aku melangkah, tanah yang kupijak hancur seperti dihantam benda keras yang sangat berat.


Semakin Rudi mendekat, semakin kuat tekanan gravitasi yang dirasakan Fafnir dan Eliot.


Walaupun mata, hidung, telinga, hingga mulut mereka terus mengucurkan darah, Fafnir dan Eliot terus berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari tekanan gravitasi itu. Tapi, kaki mereka seolah dipaku ke tanah dan tidak dibiarkan kabur.


Aku telah berdiri tepat di depan Fafnir dan Eliot.


"Apa kalian punya kata kata terakhir?" tanyaku.


"Haaahahahahahaha! Lakukan saja!" jawab Fafnir.


Slash!


Aku memenggal kepala Fafnir dan Eliot dalam satu ayunan katana.


Aku sudah kembali normal. Dan sudah menonaktifkan mode penghancurku.


Aku berdiri sembari melihat langit dengan tubuh berlinang darah dari orang orang yang telah kubunuh.


Dengan begitu, aku telah berhasil mengalahkan Fafnir, Eliot, dan 2.000 pasukan mereka.


Saat melihat ke sekitar, aku melihat arena di sanah sudah berubah menjadi medan pembantaian.


Tubuh hancur, terpotong, darah menggenang di atas dataran es yang kuciptakan, membuat tempat itu terlihat sangat mengerikan.


"Sialan! Kenapa aku harus jadi seperti ini?" gumamku kesal sambil tetap melihat ke langit. Dan tanpa kusadari, air mataku mulai berlinang.


Akito, Kageyama, Julius, Yuta, dan Alvin, mulai mendekat ke arahku.

__ADS_1


"Apa sudah selesai?" Julius bertanya padaku.


"Bukankah kita masih punya banyak tugas?" tanyaku tanpa menoleh ke belakang.


"Rudi, apa kau sudah bisa mengendalikan mode penghancurmu?" tanya Akito.


"Enatahlah ... saat ini, aku merasakan ada yang aneh. Saat pertama kali mendapat katana ini, aku merasa lebih mudah dalam mengontrol force. Sehingga, membuatku bisa mengendalikan mode panghancur dengan lebih mudah," jawabku.


"Katana? Apa peningkatan kekuatanmu disebabkan oleh katana itu?" tanya Akito.


"Mungkin saja ... saat pertama kali memegangnya, perasaanku sangat damai. Dan saat aku menggunakannya, rasanya sangat nyaman. Sampai sampai, aku bisa mengendalikan force yang mengalir terlalu cepat dengan sangat mudah," jawabku.


Mendengar hal itu, membuat Kageyama kaget. Ia tau bahwa katana yang Rudi pegang bukanlah katana sembarangan. Tapi, bagaimana bisa kata itu membuat sang pengunanya bisa melakukan banyak hal tanpa batas.


"Rudi, ada yang ingin kutanyakan. Apakah sebelumnya kau sudah bisa menggunakan mode penghancur, atau kau baru bisa menggunakannya setelah mendapat katana itu?" tanya Kageyama.


"Aku sudah bisa menggunakannya sejak dulu. Hanya saja, aku baru bisa mengendalikan sepenuhnya, saat memiliki katana ini. Katana ini terasa seperti menghancurkan tembok yang selama ini menghalangiku. Aku tidak tau kenapa. Tapi satu hal yang pasti, katana ini benar benar luar biasa," jawabku sambil melihat katana di tanganku.


"Kaaakakakakakakaka! Jadi begitu rupanya," kata Kageyama sambil menyeringai tipis.


"Lalu, apa yang selanjutnya?" tanya Alvin.


"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja menggempur habis habisan. Dengan begini, jumlah kita sudah sesuai. Waktunya melakukan tahap penghabisan," jawab Kageyama.


"Apa ada pilihan lain? Rudi sudah menunjukkan full powernya. Kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk sebuah deklarasi perang habis habisan. Aku yakin, Nero pasti tidak akan tinggal diam setelah ini. Jadi, sekarang adalah waktunya menyerang habis habisan," jawab Akito.


"Apa kalian serius dengan ini?" tanya Alvin.


Aku, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Alvin.


"Haah ... kalian benar benar kelompok nekat," kata Alvin sambil mengehela nafas.


"Kalau begitu, aku ikut dalam rencana kalian," imbuh Alvin.


"Tunggu ... sebelum itu ... apa kalian punya makanan atau minuman? Tenggorokanku rasanya sangat kering dan perutku mulai keroncongan," kataku yang memecah suasana.


"Kaaakakakakakakakaka! Apa kau masih bisa makan sesuatu di sini?" tanya Kageyama sambil menunjuk lautan mayat di depan kami.


"Huek ...." Aku langsung muntah karena baru menyadarinya.


Kami semua pun pergi dari sana untuk mencari tempat yang lebih baik.


Aku juga ingin sedikit mengisi tenagaku agar bisa bertarung maksimal saat menghadapi All Stars Nero nantinya.


Di sisi lain, ada seseorang dari pasukan Fafnir yang bersembunyi sejak pertempuran dimulai.

__ADS_1


Dia adalah Aldo. Ia merupakan komandan satuan kelompok Nero yang pernah dihajar Kageyama saat di kota Eden beberapa waktu lalu.


Aldo bersembunyi dan melihat pertempuran. Ah, tidak. Aldo bersembunyi dan melihat pembantaian itu dari kejauhan. Ia melarikan diri dari medan pembantaian karena terlalu takut untuk ikut bertempur di sana.


"Si-Sialan. Si-Siapa bocah itu sebenarnya? Ke-Kenapa dia bisa sekuat itu? Untungnya aku sempat melarikan diri sesaat setelah pertempuran dimulai. Jika tidak, aku pasti akan bernasib sama dengan mereka semua," kata Aldo sambil melihat medan pembantain dari kejauhan.


.


.


Di dalam markas militer kota Eden.


"Jendral, penyerangan terhadap kelompok Nero semakin mengerikan. Menurut laporan, 3 eksekutif berserta 3.000 anggota mereka telah dibantai habis," ucap salah satu prajurit militer di sana.


"Apa? 3 eksekutif sudah dikalahkan? Lalu, apa Tuan Nero meminta bantuan?" tanya sang jendral.


"So-Soal itu ...."


"Katakan dengan jelas!" bentak sang jendral.


"Soal itu ... tidak ada permintaan apa pun. Tuan Nero tidak meminta bantuan sama sekali," sahut si bawahan.


"Lupakan saja. Ayo pergi ke sana, kita harus membantu. Dan jangan lupa, minta bantuan ke pusat. Katakan pada mereka bahwa Tuan Nero meminta kita menerjunkan pasukan terbaik untuk meringkus para perusuh," kata sang jendral.


"Ta-Tapi, Jendral. Jika Anda melakukannya tanpa perintah Tuan Nero, Tuan Nero pasti akan sangat marah," sahut si bawahan.


"Tidak perlu khawatir. Jika Tuan Nero menanyakan alasannya, kita bisa mengatakan bahwa kelompok yang menyerang wilayah mereka adalah kelompok yang sama dengan kelompok yang sudah membunuh para petinggi kita dan menghancurkan markas pusat militer kota," sahut sang jendral dengan senyum liciknya.


"Baik, Jendral! Saya akan meminta bantuan dari pusat! Kalau begitu, saya permisi dulu," kata si bawahan kemudian pergi dari ruangan sang jendral.


"Jika aku berhasil mengalahkan orang-orang yang telah mengalahkan 3 eksekutif Tuan Nero, aku bisa mendapat posisi bagus di kelompok Nero. Haaahahahahahahaha!" pikir sang jendral sambil melihat ke luar jendela.


.


.


Di dalam markas salah satu eksekutif Nero.


"Apa? Fafnir, Eliot, dan Morgan tewas? Siapa yang sudah melakukannya?" tanya salah satu eksekutif Nero.


"Kami tidak tau, Tuan. Nama kelompok mereka tidak pernah kami dengar sebelumnya. Tapi, kami mengenali ada beberapa wajah yang tidak asing," jawab bawahan eksekutif itu sambil menyodorkan gambar.


Eksekutif itu kemudian mengambil dan melihat gambar tersebut.


"Kenapa dia ada di sini?" Eksekutif itu sangat terkejut setelah melihat beberapa gambar yang berhasil diambil bawahannya.

__ADS_1


__ADS_2