
Duar! Duar! Duar!
Saat sudah berada di luar panti, aku mendengar banyak ledakan dari sana sini.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa malah kacau seperti ini? Apa ini ulah mereka?" pikirku yang sedang kebingungan karena melihat kota yang sedang kacau.
Aku kemudian melihat anak anak yang sedang kubawa. Sedangkan anak anak itu terus mencengkram baju dan celanaku seperti sedang ketakutan.
"Tenanglah. Kita akan pergi ke tempat aman." Aku berusaha menenangkan mereka semua.
Aku pun membawa anak anak itu ke wilayah pinggiran kota.
Aku berniat meninggalkan mereka di sana sementara waktu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di pinggiran kota lainnya.
"Kalian tunggu di sini, ok. Aku akan kembali lagi," kataku kepada anak anak itu.
Mereka hanya menganggukkan kepala tanpa berbicara sama sekali. Tapi, ada juga yang terus mencengkram bajuku seolah tidak ingin membiarkanku pergi meninggalkan mereka.
"Tenanglah. Aku akan kembali lagi. Kalian tunggu di sini sebentar," kataku kepada anak yang terus menarik bajuku.
Anak itu kemudian mulai tenang dan melepaskan cengkramannya.
Aku langsung berlari ke arah sumber ledakan besar yang muncul di pinggiran selatan kota.
Sesampainya di sana, aku melihat Kageyama yang sedang bersenang senang menghadapi 100 orang.
Aku pun mengabaikan pertarungan Kageyama dan langsung berlari ke arah sumber pertarungan lainnya.
Di sana, aku melihat Akito yang sedang bertarung melawan 20 prajurit kota.
Duar!
Aku mendengar ledakan kuat di arah yang berbeda.
Aku kemudian melesat cepat ke arah sumber ledakan itu. Dan di sana, aku melihat Julius dan Yuta yang sedang bertarung melawan 200 prajurit militer kota.
Karena tidak tau apa yang sedang terjadi, aku mulai bertanya tanya dalam benakku.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa mereka membuat masalah?" pikirku bingung.
Karena merasa bahwa mereka bisa mengatasi masalah itu sendiri, membuatku lebih memilih pergi menuju markas pusat kota untuk menemui para pentinggi yang ada di sana.
Sesampainya di gerbang masuk markas pusat militer kota, aku langsung mendobrak masuk.
"Siapa kau? Berani sekali memasuki maskas pusat militer tanpa izin!" seru prajurit yang berjaga di area depan markas.
"Aku? Aku adalah orang yang akan melampaui para Kaisar. Aku datang ke sini untuk menemui para petinggi kalian," jawabku.
"Ada urusan apa kau ingin menemui para petinggi? Saat ini, jendral sedang berada di ibukota untuk menghadiri pertemuan penting!" seru prajurit itu lagi.
__ADS_1
"Kalian terlalu banyak bicara," kataku sambil berjalan santai kemudian memukul punggung para prajurit di sana. Sehingga, membuat mereka semua pingsan.
Aku berjalan menelusuri markas pusat militer untuk mencari orang orang yang punya jabatan tinggi.
Di sepanjang jalan, aku dihadang banyak prajurit lemah. Dan aku pun bisa mengatasi mereka semua dengan mudah.
Sampai pada akhirnya, aku menemukan ruangan dengan pintu mewah.
"Sepertinya, ini ruangan mereka," pikirku.
Aku kemudian menendang pintu itu hingga hancur.
Di dalam ruangan itu, ada beberapa orang yang terlihat sedang rapat dalam satu meja.
"Apa kalian yang bertanggung jawab di kota ini?" tanyaku sambil melirik tajam ke arah mereka satu per satu.
"Apa kau pemimpin dari kelompok perusuh?" tanya salah seorang petinggi di sana.
"Ya, benar! Akulah pemimpin mereka. Aku datang ke sini untuk memerintahkan kalian menarik semua prajurit, sekarang juga!" kataku dengan tatapan tajam.
"Memangnya siapa kau? Apa kau pikir bisa memerintah kami seenaknya?" tanya salah seorang petinggi di sana.
"Aku hanya tidak ingin ada banyak korban berjatuhan hanya karena kepentingan kalian," jawabku.
"Haaahahahahahahaha! Memangnya apa urusanmu? Jika mereka mati, itu artinya mereka terlalu lemah untuk menjaga diri mereka sendiri," kata salah satu petinggi di sana.
"Jangan samakan kami dengan orang orang lemah itu. Kami ini adalah kaum elit yang sangat berharga. Nyawa kami punya harga yang jauh lebih mahal dan berharga jika dibandingkan dengan orang orang rendahan itu," jawab salah satu petinggi di sana.
Mendengar hal itu, membuatku benar benar marah.
"Bagiku, nyawa orang orang seperti kalian bahkan tidak lebih berharga dari batu di pinggir jalan," kataku pada semua petinggi di sana.
Mendengar hal itu, semua petinggi di sana langsung melesat maju berniat membunuhku.
Di waktu yang seolah melambat, aku meniupkan asap dingin. Kemudian ...
Frezee!
Kratak! Suara benda membeku.
Seluruh bangunan dan area seluas 500 meter persegi, langsung membeku seketika, menjadikanku sebagai pusatnya.
Hawa dingin itu bahkan hampir menyelimuti seluruh kota Eden dan sekitarnya.
"Aku ingin mencincang tubuh kalian sedikit demi sedikit. Tapi, aku tidak punya waktu untuk itu," kataku sambil berjalan perlahan meninggalkan tubuh para petinggi yang sudah berubah menjadi es.
Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta yang sedang bertarung di perbatasan yang berbeda, bisa merasakan tekanan aura dan atribut yang Rudi lepaskan.
"Huuf ... apa ini ulahnya?" tanya Julius pada dirinya sendiri sambil menghembuskan nafas putih karena suhu udara yang menurun.
__ADS_1
"True elemen?" pikir Yuta saat merasakan udara dingin itu.
"Kaaakakakakakakaka! Akhirnya, dia bisa menggunakan true elemennya," pikir Kageyama sambil terus bersenang senang melawan 100 orang di hadapannya.
"Perasaan ini? Ini sama seperti waktu itu," pikir Akito sambil melihat ke arah markas pusat kota.
Walaupun mereka berada di jarak yang sangat jauh dari markas pusat kota, mereka tetap bisa merasakan hawa dingin menusuk tulang dan aura intimidasi yang Rudi pancarkan.
Aku pun mulai melangkah keluar dari markas pusat militer kota.
Saat melangkah keluar, aku melihat banyak prajurit militer yang sudah berubah menjadi patung es.
Aku tidak memperdulikan mereka sambil tetap melanjutkan langkahku.
Aku menilai bahwa orang orang di pemerintahan kota Eden hanyalah sampah yang tidak berguna. Karena semenjak memasuki kota, aku hanya melihat hal hal buruk yang ada di sana. Dan para anak anak yang tak berdosa harus menjadi korban kebiadaban orang orang serakah.
Aku berdiri di depan gerbang masuk markas pusat militer kota Eden sambil memandang ke langit.
Tidak lama kemudian, semua anggota kelompokku datang ke sana.
"Kaaakakakakakakaka! Apa kau bisa menggunakannya dengan baik?" tanya Kageyama yang baru saja datang ke sana.
"Entahlah ... aku sangat marah sampai sampai tidak sadar dengan apa yang baru saja kulakukan," jawabku sambil melihat kedua tanganku.
"Kau harus mengingat sensasinya agar bisa menggunakannya dengan bebas," kata Julius.
"Rudi, apa kau menemukan sesuatu? Kenapa kau bisa sampai semarah itu?" tanya Akito.
"Aku menemukan panti asuhan yang dijadikan tempat penyiksaan anak anak. Itu benar benar seperti pemicu yang membuat semua kemarahanku meledak," jawabku.
Sejak saat menghadiri pelelangan, aku sudah berusaha menahan semua emosiku. Tapi, saat melihat anak anak yang dirantai dan dikurung di bawah tanah, membuat semua emosi yang kutahan akhirnya meledak.
"Apa kalian menemukan sesuatu juga? Kenapa kalian bisa bertarung melawan orang orang itu?" tanyaku.
"Kaaakakakakakaka! Saat aku menjelajah kota, tiba tiba aku diserang sekelompok orang. Mereka berasal dari kelompok Nero. Mereka mencari kita karena sebelumnya kau menghajar bawahannya," jawab Kageyama.
"Aku menemukan laboratorium yang dijadikan tempat uji coba obat obatan terlarang. Saat aku ingin pergi dari sana, tiba tiba ada banyak prajurit yang mengepung dan menyerangku. Jadi, aku tidak punya pilihan selain bertarung," jawab Julius.
"Aku menemukan tempat yang dijadikan area pelacuran. Sama seperti Julius, aku juga langsung dikepung saat ingin pergi dari sana," jawab Akito.
"Aku tidak menemukan apa pun. Tapi saat merasakan force Tuan Julius, aku langsung bergegas untuk membantunya," jawab Yuta.
"Apa di dalam panti itu tidak ada yang menjaga?" Akito bertanya padaku.
"Saat berada di dalam ruang bawah tanah, aku sempat bertarung melawan orang yang sangat kuat. Dia bisa menahan semua seranganku dengan sangat mudah. Tapi, dia langsung pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak," jawabku.
Karena insiden yang tidak diharapkan, kami akhirnya memutuskan pergi dari kota itu untuk menyusun ulang strategi.
Tidak lupa, aku juga menjemput anak anak yang sebelumnya kutinggalkan di pinggiran kota.
__ADS_1