The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 41 - Mendapat Umpan Besar


__ADS_3

Di hutan belantara, luar perbatasan negara Rosso.


"Lalu, mau kita apakan mereka?" tanya Akito sambil melihat anak anak yang kubawa.


"Aku tidak tau. Untuk sementara, kita biarkan saja mereka di sini sampai kita menyelesaikan misi. Aku yakin ini akan menjadi misi panjang dan berat. Kita tidak bisa melibatkan anak anak kecil seperti mereka dalam bahaya," jawabku.


"Kaaalakakakakakakakak! Aku paham maksudmu. Tapi, siapa yang akan menjaga mereka? Tidak mungkin kita membiarkan mereka sendirian, bukan?" tanya Kageyama.


Saat mereka masih sibuk membicarakan nasib 15 anak yang kubawa, tiba tiba kami bisa merasakan ada hawa keberadaan beberapa orang di sekitar.


"Keluarlah!" Aku berteriak meminta orang orang itu untuk keluar dari persembunyian.


"Baik, baik. Kami menyerah," kata salah satu dari orang orang yang mengintai kelompokku dari kejauhan.


Orang orang yang mengintaiku dan kelompokku berjumlah 3 orang.


"Apa mau kalian?" tanyaku sambil duduk dan melirik tajam ke arah mereka.


"Hoho ... ekspresimu sangat menakutkan. Aku benar-benar tidak bermaksud menggangu kelompokmu. Justu, aku ke sini karena ingin menawarkan aliansi," kata salah satu pria yang mewakili teman temannya.


"...." Aku hanya diam dan menatap tajam pria itu.


"Bukankah kalian ingin menghancurkan negara Rosso?" tanya pria itu.


"Tidak. Kami tidak punya niat menghancurkan negara Rosso," jawabku dengan nada tajam.


"Lalu, kenapa kalian menghajar para petinggi dan pasukan kota Eden?" tanya pria itu bingung.


"Itu hanya insiden kebetulan," jawabku dengan nada tajam.


"Aku sudah mencari tau tentangmu. Kau dan temanmu itu, adalah orang yang sudah memporak porandakan Ibukota Roland, bukan?" tanya pria itu sambil menunjukku dan Akito.


"Tidak usah basa basi. Perasaanku sedang jelek. Jika kau kemari hanya ingin main main, aku tidak punya urusan untuk meladeni omonganmu," jawabku dengan nada tajam.


"Haaahahahahahahahaha! Kau benar-benar terlihat seperti pemimpin yang dingin dan haus darah," kata pria itu sambil terus tertawa.


Pria itu kemudian melanjutkan ucapannya. "Namaku Andre. Jika kau mau, aku ingin mengajakmu berkerjasama menghancurkan negara Rosso."


"Kenapa?" tanya Akito pada pria itu.


"Kenapa? Tentu saja karena Nero. Negara Rosso telah sepenuhnya berada di bawah kendali kelompok Nero. Aku ingin menghancurkan negara itu dan mengungkap semua kebusukan mereka pada dunia," jawab Andre, si pria misterius.


"Kaaakakakakakakakaka! Aku tidak tau siapa kau, tapi tekatmu boleh juga," sahut Kageyama.

__ADS_1


"Bagaimana, Rudi? Semuanya ada di tanganmu," kata Akito.


"Menurutku, itu bukan aliansi yang buruk. Jika kita bisa menumbangkan negara Rosso, kita bisa mengurangi jumlah dan kekuatan musuh yang harus kita hadapi," kata Julius.


"Kupikir, Tuan Julius ada benarnya. Jarak antara negara Rosso dengan wilayah kelompok Nero tidak terlalu jauh. Mungkin itu bisa kita manfaatkan untuk memancing sebagian anggota Nero dan menghabisinya tanpa masuk ke wilayah mereka," kata Yuta.


"...." Aku hanya terdiam sambil berfikir.


"Tunggu dulu! Apa kalian berniat menargetkan kelompok Nero?" tanya Andre dengan wajah bingung.


Aku dan kelompokku hanya diam seolah mengiyakan pertanyaan itu.


"Jangan bercanda! Yang kalian maksud itu Nero salah satu All Stars? Apa kalian benar benar sanggup menumbangkan mereka dengan jumlah segini?" tanya Andre dengan heboh.


"Haaahahahahahahaha! Mungkin mengajak mereka beraliansi adalah hal konyol," kata salah satu orang yang bersama Andre.


Mendengar hal itu, membuatku langsung mengeluarkan aura mencekam.


Tekanan aura yang kukeluarkan bahkan membuat burung burung dan binatang di sekitar pergi menjauh. Orang orang di sana juga langsung jatuh ke tanah karena kesulitan menahan tekanan aura tersebut.


"Oi, sudah kubilang! Perasaanku sedang buruk! Aku tidak punya waktu meladeni omongan kalian," kataku sambil menatap tajam orang orang itu dan terus memancarkan aura.


Melihat ekspresi dan tekanan aura milik Rudi, membuat orang orang di sana langsung berkeringat dingin. Mereka merasa seperti sedang berdiri tepat di depan predator ganas yang haus darah.


"Apa apaan tekanan ini? Apa ini benar-benar auranya?" pikir Andre sambil terus menahan tubuhnya agar tidak tumbang.


Saat tengah fokus pada 3 orang di hadapannku, tiba tiba aku mendengar kata kata lirih dan lembut dari salah satu anak yang kubawa.


Karena terlalu fokus kepada orang orang asing yang tiba tiba menghampiriku, membuatku benar benar lupa kalau ada anak anak kecil yang juga ada di sana.


Aku pun langsung tersadar dan secepatnya menghilangkan tekanan auraku saat melihat anak anak di sana mulai pingsan karena tidak sanggup bertahan di bawah tekanan auraku.


"Sialan! Aku lupa kalau ada anak-anak di sini," pikirku.


"Akito, Kageyama, tolong bantu aku merawat mereka. Aku benar benar lupa kalau ada mereka di sini," teriakku dengan nada khawatir.


"Kau yang berbuat, tapi kami yang harus bertanggung jawab?" tanya Akito berniat mengejek.


"Kaaakakakakakakakaka! Mungkin saat marah, telinganya tidak berfungsi," ejek Kageyama.


"Apa maksudmu, Kageyama?" tanyaku.


"Haah ... kami sudah memintamu menghilangkan tekanan auramu. Tapi, kau malah membuatnya semakin kuat. Apa kau tidak sadar, hah?" tanya Yuta sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Mungkin dia terlalu fokus hingga indera pendengarannya tumpul," sahut Julius.


"Eh, benarkah?" tanyaku.


Beberapa saat sebelumnya, saat Rudi masih memasang ekspresi dingin dan memancarkan auranya, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, berteriak padanya untuk menghilangkan auranya karena anak anak di sana hampir pingsan karena tidak sanggup bertahan di bawah tekanan itu.


"To-Tolong maafkan aku! Aku benar-benar tidak bermaksud begitu." Aku terus menyesali perbuatanku dan meminta maaf pada anak anak di sana.


Saat melihat perubahan sikap drastis yang Rudi tunjukkan, membuat orang orang asing itu merasa sangat terkejut. Kesan pertama mereka pada Rudi, ia terlihat seperti pemimpin dingin dan haus darah. Tapi, saat ini mereka melihatnya seperti seorang kakak yang mengkhawatirkan adik adiknya.


"Haaahahahahahahaha! Orang ini sungguh menarik! Aku belum pernah bertemu dengan orang sepertinya sebelumnya. Mungkin dia bisa jadi bantuan besar untuk menjatuhkan para bajingan itu," pikir Andre sambil terus melihat Rudi yang sedang panik karena melihat keadaan anak anak yang sedang pingsan.


"Maaf, kalau sebelumnya aku meremehkan kemampuamu. Tapi setelah merasakan auramu, aku jadi yakin kalau kau bukan orang sembarangan. Jika kau mau menumbangkan kelompok All Stars Nero, izinkan kami membatumu. Kami juga punya urusan dengan mereka," kata Andre padaku.


"Apa kau kuat?" tanyaku.


Mendengar pertanyaan itu, Andre dan orang orang di sana pun dibuat sangat terkejut.


"Haaahahahahahahaha! Aku tidak sekuat kau. Tapi, setidaknya aku bisa mengatasi satu atau dua eksekutif Nero," jawab Andre.


Aku melihat ke arah teman temanku. Sedangkan mereka hanya mengangkat bahu seperti ingin mengatakan, "Terserah."


"Berapa jumlah kelompokmu?" tanyaku pada Andre.


"100 orang! Aku punya 100 anggota. Walaupun kebanyakan dari mereka hanyalah orang orang lemah, setidaknya mereka punya tekat kuat untuk menghabisi Nero dan kelompoknya," jawab Andre.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan beraliansi sampai menjatuhkan kelompok All Stars Nero," jawabku.


"Hoi, bukankah kau tidak ingin berbagi prestasi dengan kelompok lain? Kenapa sekarang kau mau menerima tawarannya?" Akito bertanya padaku dengan nada datar.


"Diamlah, Akito! Setidaknya mereka bisa jadi umpan yang bagus," jawabku.


"Kaaakakakakakakakaka! Aku setuju dengan itu," sahut Kageyama.


"Ya, tidak buruk," sahut Julius.


"Cih ... aku benci dengan ucapan plin planmu itu." Yuta menyindirku.


"Diamlah, Yuta! Jika kau tidak setuju, maka kau yang akan mengantikan peran mereka sebagai umpan!" bentakku dengan nada kesal.


"Cih ...." Yuta menanggapi dengan mengerutu dan mengalihkan pandangan.


"Tunggu sebentar! Apa kalian berniat menjadikan kami sebagai umpan?" tanya Andre.

__ADS_1


"Apa kau punya masalah dengan itu?" tanyaku dan teman temanku dengan kompak sambil menatap datar ke arah Andre dan bawahannya.


Hal itupun membuat Andre dan bawahnnya merinding disko.


__ADS_2