The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 82 - Pembantaian Warga Desa


__ADS_3

Setelan mendapat surat dari anggota kelompoknya, Kageyama langsung menghubungi para pengawal pribadinya yang ditugaskan untuk mengawasi Rudi dan yang lainnya.


"Di mana mereka sekarang?" tanya Kageyama.


"Mereka saat ini berada di bandara Ibukota Kansas," jawab salah satu pengawalnya.


Kageyama berkomunikasi dengan pengawalnya menggunakan alat komunikasi jarak jauh mirip Walkie Talkie.


Setelah mengetahui lokasi teman-temannya berada, Kageyama langsung bergegas ke bandara Ibukota Kansas bersama 10 pengawal pribadinya untuk menyusul Rudi dan yang lainnya.


...*** ...


Bandara Ibukota Kansas.


"Hoi, apa maksud surat yang kalian kirimkan padaku?" tanya Kageyama yang baru saja bertemu Rudi dan yang lainnya.


"Kageyama, kenapa kau bisa ada di sini? Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Dian.


"Lupakan itu dulu. Yang lebih penting, jelaskan padaku maksud dari surat yang kalian kirim padaku," kata Kageyama.


"Lihat ini." Julius memberikan surat yang berisi gambar-gambar penyiksaan yang mereka terima sebelumnya, kepada Kageyama.


"Ini ... apa maksudnya?" tanya Kageyama bingung.


"Itu adalah warga desa Alpen," jawab Julius.


Kageyama sangat terkejut. Ia langsung mengerti situasinya tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.


"Siapa yang sudah melakukan ini semua?" tanya Kageyama dengan wajah penuh amarah.


"Kami juga belum tau," jawab Julius.


Kageyama kemudian memanggil 10 pengawal pribadi yang menemaninya ke bandara itu.


"Kalian semua, cepat cari tau siapa yang sudah mengirim surat ini. Cari secepatnya dan jangan buat aku menunggu," kata Kageyama pada semua pengawal pribadinya.


"Baik, Tuan Muda," sahut kesepuluh pengawal Kageyama serempak.


Kesepuluh pengawal itu langsung pergi meninggalkan bandara untuk menyelidiki tentang asal surat itu.


Kageyama kemudian bertanya pada teman-temannya.


"Lalu, mau ke mana kita?" tanya Kageyama.

__ADS_1


"Desa Alpen. Aku ingin melihat keadaan di sana," jawab Rudi dengan ekspresi serius.


Rudi, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, bersiap pergi menuju negara Roland, Benua Timur, menggunakan pesawat terbang.


Negara Roland adalah negara terdekat dengan desa Alpen.


...*** ...


Setelah 2 hari perjalanan, Rudi dan kelompoknya akhirnya sampai di bandara Ibukota Roland, Benua Timur.


Saat pertama kali Rudi dan kelompoknya keluar dari bandara, ada beberapa warga sipil yang mencaci Rudi dan Akito karena mereka berdua dianggap telah menyebabkan kekacauan di negara Roland dan seluruh Benua Timur.


"Kenapa kalian ke sini lagi, bajingan!"


"Jangan pernah menginjakkan kaki kotor kalian di sini lagi, keparat!"


"Dasar kelompok sampah!"


Orang-orang yang merasa dirugikan oleh tindak-tanduk kelompok Rudi, tidak henti-tentinya melemparkan caci-maki kepada Rudi dan kelompoknya.


Di sisi lain, beberapa anak buah kelompok Hendri yang melihat keramain di depan bandara, mulai mendekat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Bukankah itu bocah yang sudah mengalahkan Bos Hendri? Mau apa mereka ke sini? Aku harus segera melaporkannya pada Bos Hendri," gumam salah satu bawahan Hendri saat melihat Rudi dan kelompoknya yang baru saja keluar dari bandara Berlin, Ibukota Roland.


Rudi dan kelompoknya tidak memperdulikan semua cacian itu karena tujuan utama mereka adalah desa Alpen.


Normalnya, perjalanan dari Ibukota Roland menuju desa Alpen membutuhkan waktu sekitar 11 hari.


Karena tidak mau membuang banyak waktu, mereka memilih berlari secepat mungkin untuk memangkas waktu tempuh.


Dengan kecepatan mereka saat ini, setidaknya, mereka bisa sampai ke desa Alpen dalam waktu 2 hari perjalanan.


Rudi, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin,  dan Dian, terus berlari sekuat tenaga agar bisa segera sampai ke tempat tujuan.


...*** ...


Setelah 2 hari berlari tanpa henti, mereka akhirnya sampai di perbatasan desa Alpen.


Saat pertama kali sampai di perbatasan desa, Rudi dan Akito sangat terkejut karena melihat ada sebuah plang besar bertuliskan, selamat datang di desa Alpen, desa asal dari Rudi dan Akito. Tulisan itu juga dihias dengan beberapa gambar agar terlihat menarik.


Rudi dan Akito tak menyangka bahwa warga desa sampai membuat plang semacam itu.


"Sialan! Mereka bahkan sampai membuat plang besar tanda selamat datang!" kata Rudi sambil melihat pemandangan miris di depannya.

__ADS_1


Selain plang besar itu, di perbatasan desa juga ada sesuatu yang membuat Rudi tak kuasa menahan kesedihannya.


Di perbatasan desa Alpen, ada banyak sekali manusia yang ditusuk sate dan dipajang di sepanjang perbatasan desa.


Orang-orang itu ditusuk dari ***** hingga tembus ke kepala.


"Kejam sekali. Siapa yang bisa melakukan hal semacam ini?" tanya Dian dengan perasaan miris saat melihat orang-orang yang ditusuk sate dan diberdirikan di tiang kayu.


Akito terpaku dengan wajah tercengang melihat pemandangan itu.


Kageyama mengalihkan pandangannya karena tak sanggup melihatnya.


Julius menatap langit dengan wajah penuh kesedihan.


Alvin menggigit bibirnya hingga berdarah karena merasa sangat marah kepada orang-orang yang sudah melakukan tindakan sekejam itu.


Dian menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan karena tak sanggup melihat pemandangan di depannya.


Rudi tersenyum dengan mata berkaca-kaca sambil melihat plang bertuliskan selamat datang.


"Orang macam apa yang bisa berbuat setega ini?" tanya Kageyama.


"Rudi, Akito, apa kalian baik-baik saja?" tanya Julius.


"Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja, hatiku tidak," jawab Rudi.


Rudi kembali berbicara.


"Bukankah mereka itu orang-orang yang kita selamatkan dari wilayah kekuasaan kelompok Nero? Aku mengirim mereka ke sini agar mereka bisa mendapat hidup yang lebih baik. Tapi, nyatanya, aku justru mengirim mereka pada kematian," kata Rudi dengan ekspresi yang tidak singkron dengan perasaanya.


"Itu bukan salahmu, kau sudah mencoba yang terbaik untuk mereka. Seharusnya, yang disalahkan adalah orang-orang yang telah melakukan tindakan kejam ini," sahut Alvin.


Selain warga desa Alpen, para budak yang mereka beli dari pelelangan dunia bawah, dan orang-orang yang pernah mereka selamatkan dari kelompok Nero, juga menjadi korban pembantaian itu.


Rudi dan kelompoknya mulai memasuki desa.


Saat mereka masuk lebih dalam, Rudi melihat mayat orang-orang yang ia kenal. Mayat sahabatnya, teman-temannya, dan para warga desa yang sudah ia anggap sebagai keluarga, berserakan di mana-mana. Ada yang kehilangan kepala, tubuhnya hancur, organnya dikeluarkan, digantung di tiang salib, ditusuk sate menggunakan tiang kayu, hingga digantung terbalik di atap rumah. Keadaan di sana benar-benar menggambarkan penyiksaan yang tidak manusiawi.


Bagi Rudi dan Akito, hal semacam itu bukanlah yang pertama. Sehingga, membuat mereka bisa tetap tenang. Walaupun perasaan mereka sedang bergejolak, seperti ingin menjerit sekeras-kerasnya.


Saat menelusuri segala penjuru desa, Kageyama menemukan potongan kain yang memiliki lambang kelompok All Stars Nero.


Kageyama kemudian menghampiri Rudi yang sedang terpaku di depan mayat Yami, sahabatnya sejak kecil, yang digantung terbalik tanpa kepala.

__ADS_1


"Rudi, lihat ini," kata Kageyama sambil menyodorkan potongan kain yang ia temukan.


"Bukankah ini ...." Rudi menghentikan ucapannya.


__ADS_2