The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 105 - Sorot Mata Penuh Harapan


__ADS_3

Aku terus tertawa lantang saat cambukan demi cambukan dari kesepuluh orang di sana mulai menyentuh kulitku.


Tapi, entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang aneh dan terasa berbeda dari sebelumnya. Aku merasakan ada energi aneh yang mengalir ke dalam cambuk yang dipegang kesepuluh orang tersebut.


Sambil terus teertawa lantang, aku berfikir, "Kenapa ini? Kenapa pikiranku rasanya sangat tenang dan ringan? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Lalu, kenapa aku bisa merasakan energi aneh pada cambuk orang orang ini? Sebelumnya, aku juga bisa merasakan energi yang mengalir di tubuh mereka! Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa hal ini bisa terjadi?"


Aku tidak tau kenapa, tapi setelah bangun dari tidur panjang, aku merasa bahwa akal sehatku kembali normal dan seolah telah direset kembali.


Saat ini, Rudi tidak mengingat apa pun tentang kejadian yang ia alami sebelumnya. Ia tidak ingat pernah berbincang dengan sosok misterus. Ia juga tidak ingat pernah bertemu dengan Firli dan orang tuanya. Yang ia ingat saat ini adalah ia telah mengalami tidur panjang yang terasa sangat nyaman, melebihi segala hal. Dan berkat itu, kesadaran dan akal sehatnya kembali seperti semula.


Hari demi hari terus kulalui dengan penyisaan tiada henti. Tapi entah kenapa, kebencian yang sebelumnya telah kupupuk dalam hati seolah hampir menghilang dan membuatku hampir melupakannya.


Aku tetap bertekat membalas orang orang yang sudah menyiksaku dan membunuh orang orang yang kusayangi dan mecoba kembali memupuk dendam tersebut. Akan tetapi, entah kenapa aku tidak benar benar bisa menyimpan dendam mendalam pada mereka semua, seolah seperti aku telah memafkan perbuatan mereka karena beberapa alasan yang tak kuketahui.


1 bulan kemudian, orang orang yang selalu menyiksaku nampak mulai kehilangan akal mereka. Mereka seperti telah putus asa untuk membuatku gila.


Di ruang penyiksaan itu, aku masih terus tertawa saat kulitku disayat sedikit demi sedikit.


"Apa apaan bocah ini? Kenapa dia tetap bisa tertawa seperti itu? Apa otaknya terlalu rusak hingga membuatnya mencapai tingkat melebihi orang gila?" tanya orang pertama sambil melihatku yang sedang mengeliat dan tertawa lantang.


"Jangan bodoh! Lihat matanya! Itu bukan mata orang gila! Mata itu terlihat seperti mata orang yang memiliki harapan besar!" jawab orang kedua.

__ADS_1


"Semakin lama menyiksanya, justru membuatku semakin kehilangan kesabaran! Bagaimana bisa bocah busuk seperti ini tetap teguh dengan sorot mata penuh harapan seperti itu?" tanya orang ketiga.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada bocah ini? Selain sorot matanya yang berubah, tingkat penyembuhan tubuhnya juga jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua luka yang kita berikan padanya bisa sembuh hanya dalam hitungan hari. Bagaimana itu mungkin terjadi? Aku yang bisa menggunakan force untuk meregenerasi luka bahkan tidak sanggup melakukan hal semacam itu. Apa jangan jangan, bocah ini bisa menggunakan force?" tanya orang keempat.


"Jangan bercanda! Bagaimana mungkin dia bisa menggunakan force?" jawab orang kelima sambil balik bertanya.


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, menurutku akan jauh lebih baik kalau kita membunuhnya saja! Bukannya senang, semakin lama aku bisa gila kalau harus terus mendengar tawanya!" kata orang keenam.


"Aku setuju!" sahut kesepuluh orang yang ada di sana.


Kesepuluh orang yang sering menyiksa Rudi mulai merasa frustasi karena semua usaha mereka untuk membuat Rudi gila sama sekali tak beguna. Bukannya kehilangan akal dan menjadi gila, semakin hari Rudi justru semakin memancarkan sorot mata penuh harapan yang membuat mereka muak.


Hari itu, keesepuluh orang tersebut berniat mengakhiri penyiksaan lebih cepat dari biasanya dan mengembalikannya ke dalam sel.


Akito sudah lama mengamati Rudi dari kerangkeng besi yang mengurungnya.


Akito tetap berada di sana karena belum laku terjual sebagai budak.


Budak laki laki biasanya sangat sulit dijual karena kurang diminati orang. Dari pada budak laki laki, budak perempuan punya kegunaan yang lebih banyak. Mereka (budak perempuan) bisa digunakan dalam banyak hal, mulai dari pelampiasan nafsu, pembantu, mainan, hingga pajangan. Semua hal itu tergantung dari si majikan. Sedangkan budak laki laki, biasanya hanya dibeli oleh orang orang dengan kepribadian menyimpang dan lebih sering digunakan untuk disiksa hingga mati.


Selain kegunaan, budak perempuan juga lebih menarik. Karena jika mereka disiksa atau semacamnya, mereka (budak perempuan) lebih mudah menjerit dan memasang ekspresi memuaskan dari pada budak laki laki.

__ADS_1


Ruang tempat Akito dikurung berada di antara ruang penyiksaan dan sel tempat Rudi dikurung. Sehingga, membuatnya bisa melihat Rudi setiap hendak dibawa ke ruang penyiksaan.


Sambil melihat Rudi yang sedang diseret melewati ruangan tempatnya dikurung, Akito bergumam, "Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia berbeda dari biasanya? Apa akal dan pikirannya telah kembali normal? Tidak! Kupikir, akal dan pikirannya terasa jauh lebih baik dari sebelumnya! Tapi, kenapa hal semacam itu bisa terjadi? Bagaimana bisa dia menahan segala macam penderitaan itu? Apa dia benar benar manusia?"


Akito benar benar tidak habis pikir dengan perubahan yang Rudi tunjukkan selama satu bulan terakhir. Ia tak henti hentinya memikirkan tentang bagaimana cara seorang bocah berusia 11 tahun bisa tetap tegar dan kuat menjalani kehidupan mengerikan semacam itu. Jika itu Akito, dia mungkin akan memilih bunuh diri dari pada terus hidup dalam penderitaan tiada akhir.


Di dalam selku, aku terus mencoba mengendalikan energi yang terasa mengalir di tubuhku.


Aku tidak tau kenapa dan bagaimana aku bisa merasakan energi tersebut. Tapi satu hal yang pasti, jika aku bisa mengendalikannya dengan baik, mungkin aku bisa kabur dari tempat itu dan melatih diri sebelum mulai menghabisi orang orang incaranku.


Saat berhasil mengontrol sebagian kecil dari energi tersebut, aku bisa merasakan bahwa ada kekuatan yang meluap dari tubuhku, seolah aku bisa menghancurkan batu kerikil kecil dengan mudah.


Aku kemudian mencoba melakukan hal yang kupikirkan, yaitu mencoba menghancurkan kerikil kecil yang ada di sekitarku.


Aku pun mengambil satu kerikil kecil di sampingku dan mulai menggenggam kerikil tersebut dengan sekuat tenaga. Dan tanpa diduga, aku berhasil menghancurkannya dengan kekuatan cengkramanku.


"Aku berhasil! Aku berhasil! Dengan begini, aku pasti bisa kabur dari sini!" pikirku sambil melihat kerikil yang sudah hancur berkeping keping.


Walaupun aku bisa menghancurkan kerikil tersebut dengan bantuan energi yang tak kuketahui, tapi aku belum berniat menggunakannya untuk melarikan diri dalam waktu dekat.


Aku hanya punya satu kesempatan. Jika sampai gagal, mungkin nyawaku akan menjadi taruhannya. Oleh karena itu, aku harus terus bersabar sambil terus melatih energi tersebut dan mencari kesempatan yang tepat.

__ADS_1


Lagi pula, karena terlalu sering disiksa, membuatku mulai terbiasa dengan rasa sakit yang kualami. Walaupun sudah terbiasa, aku tetap tidak ingin mengalaminya. Karena bagaimana juga, penyiksaan tetaplah penyiksaan.


__ADS_2