The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 26 - Mimpi


__ADS_3

"Apa kalian sudah selesai?" tanya Kageyama.


"Ya. Lihatlah ini. Aku menang banyak," jawabku sambil menunjukkan 20 juta chip yang kumenangkan.


"Kau benar-benar beruntung. Chipku hampir habis saat bermain di black jack. Untung aku berhasil jackpot di mesin slot dan memenangkan 3 juta gale. Jadi, kerugainku bisa tergantikan," ucap Akito.


Aku berhasil mendapatkan 20 juta gale dengan modal 5 juta. Sedangkan Akito berhasil mendapatkan 5,1 juta gale dengan modal 5 juta.


"Kaaakakakakakakaka! Cepat tukarkan chip kalian dan ayo pergi dari sini," kata Kageyama.


"Apa kita sudah harus pergi? Rasanya aku bisa bermain lebih lama lagi," sahutku.


"Ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian. Ini menyangkut pelelangan yang akan kita hadiri," ucap Kageyama.


"Apa kau sudah mendapat detail informasinya?" tanya Akito.


"Ya, aku sudah mendapatkan beberapa informasi tentang itu," jawab Kageyama.


"Yosh ... kalau begitu, kami tukarkan dulu chipnya."


Aku dan Akito menukarkan chip yang kami peroleh dan menyimpannya di kartu tabungan milik Kageyama.


Setelah selesai menukar chip, kami pun meninggalkan kasino dan kembali ke hotel tempat kami menginap.


Di kamar hotel tempat kami menginap, kami sedang berbincang membahas tentang pelelangan.


"Sebelum kita mambahas soal pelelangannya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," kata Kageyama.


"Oi, jangan buat ekspresi seperti itu," kataku dengan perasaan cemas karena melihat ekspresi serius Kageyama.


"Baiklah. Aku akan langsung pada intinya ... apa mimpi kalian berdua?" Kageyama bertanya padaki dan Akito dengan wajah serius.


Mendengar hal itu, membuatku dan Akito tersentak. Kami tidak menyangka bahwa Kageyama yang selama ini kami kenal, bisa terlihat sangat berbeda dari biasanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyaku dengan wajah serius.


"Aku hanya ingin memastikan saja. Jika jawabanmu memuaskanku, akan kulakukan apa pun untuk membantumu meraih mimpi. Tapi jika tidak, aku tidak bisa membantu kalian lebih dari ini," jawab Kageyama.

__ADS_1


Aku menatap tajam Kageyama. Kemudian mengatakan, "Aku ingin menjadi orang terkuat di dunia dan melampaui para Kaisar yang saat ini duduk di singgasana mereka."


"Untuk apa kau menginginkan hal semacam itu? Untuk kepuasan diri sendiri? Membuktikan dirimu? Atau mungkin menginjak yang lemah?" tanya Kageyama.


"Aku ingin merubah dunia menjadi tempat yang jauh lebih baik. Setidaknya hingga layak untuk bisa disebut rumah," jawabku.


"Dunia yang kita tinggali penuh dengan kekejaman dan kesadisan. Kalian yang tinggal di desa damai tidak akan mengerti seberapa busuknya dunia ini. Perbudakan, perdagangan manusia, uji coba manusia, rasisme, penindasan, bahkan pembunuhan adalah bumbu yang tersaji dalam dunia ini. Apa kau pikir dengan kemampuanmu saat ini, kau sanggup melakukannya?" tanya Kageyama.


Karena melihat suasana yang semakin tegang, Akito berusaha menghentikan pembicaraan itu.


"Hentikan. Kita tidak punya waktu untuk membahas hal konyol semacam ini," kata Akito yang mencoba menghentikan pembicaraanku dan Kageyama.


Sambil terus menatap tajam mata Kageyama, aku bertanya pada Akito. "Oi, Akito. Apa kau ingat semua penderitaan yang sudah kita lalui?"


"Jangan bodoh! Bagaimana bisa aku melupakannya!" jawab Akito.


"Lalu, apa kau pikir impianku hanya omong kosong belaka? Hingga kau bisa mengatakan bahwa pembahasan semacam ini adalah hal konyol?" tanyaku sambil tetap menatap tajam ke arah Kageyama.


"Soal itu ...." Akito tidak bisa menjawabnya dengan benar.


"Kalau begitu, jangan pernah lakukan itu lagi! Aku tidak suka jika ada yang meremehkan impianku. Bahkan jika itu sahabat terbaikku sekalipun," ucapku dengan nada marah.


"Dengar, Kageyama. Aku tidak tau apa pun tentangmu. Aku tidak tau dari mana kau berasal. Aku juga tidak tau kenapa kau mau membantu kami. Aku tidak berniat menjadi yang terkuat hanya untuk pamer. Aku telah mengetahui sisi kelam dunia ini sejak dulu. Aku bukan anak yang tinggal dan dibesarkan di pedalaman karena keinginanku sendiri. Aku ingin namaku diukir dalam sejarah. Aku ingin kisah hidupku dikenang. Aku ingin menjadi inspirasi untuk orang-orang yang bernasib sama denganku. Aku ingin orang-orang melupakan batasan mereka dan berusaha melampauinya. Aku tidak ingin manusia terpenjara oleh sesuatu yang disebut kasta. Aku ingin merubah dunia yang busuk ini menjadi tempat yang jauh lebih baik suatu saat nanti," jelasku dengan nada serius.


"Bagaimana jika kau gagal?" tanya Kageyama.


"Gagal? Apa itu gagal? Aku tidak mengenal kata gagal! Yang kuketahui hanya kata berhasil!" jawabku tegas.


Dengan tegas, Rudi mengatakan bahwa mimpinya adalah untuk membawa angin perubahan pada dunia yang sudah mulai membusuk. Dunia di mana dekriminasi menjadi jurang pemisah yang membatasi seseorang mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


"Kaaakakakakakakaka! Maaf karena mengatakan hal semacam itu. Aku tidak bermaksud untuk meremehkan impianmu. Justru, aku sangat menghormati impianmu itu. Jika kau tidak keberatan ... aku, Kageyama Arinto, meminta dengan hormat untuk bergabung dengan kelompokmu," ucap Kageyama sambil menundukkan kepala.


Melihat hal itu, membuatku dan Akito pun kaget.


"Apa kau hanya mengetesku?" tanyaku binggung.


"Kaaakakakakakakaka! Tidak. Bukankah sudah kukatakan dari awal? Aku hanya ingin memastikan impianmu. Aku tidak ingin bergabung dengan kelompok yang hanya mengincar nama besar. Aku punya mimpi yang hampir sama denganmu. Maka dari itu, aku ingin bergabung dengan kelompokmu dan mewujutkan mimpi bersama kalian," kata Kageyama.

__ADS_1


Karena merasa bersalah, aku pun menundukkan kepala sambil meminta maaf. "Kalau begitu, maafkan aku karena sudah terpancing emosi! Aku benar-benar telah salah menilai pertanyaanmu!"


"Kaaakakakakakakakaka! Tenang saja. Aku memang sengaja memancing emosimu. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana tekatmu untuk mewujutkan mimpi," kata Kageyama santai.


"Haha ... haha ... haha ... jadi begitu, ya?" Aku pun dibuat malu karena telah salah menilai pertanyaan Kageyama.


"Lalu bagaimana denganku? Bukankah kau juga seharusnya minta maaf padaku?" tanya Akito yang keberadaanya seolah tak dianggap.


"Diamlah, Akito! Itu salahmu sendiri karena berani mengatakan hal itu!" bentakku.


"Apa katamu? Aku hanya berniat menghentikan ketegangan diantara kalian. Maaf jika aku menyinggungmu!" bentak Akito balik.


"Kenapa malah jadi kau yang marah, hah?" bentakku.


"Memangnya salah, hah?" bentak balik Akito.


Kami berdua pun beradu kepala sambil mendengus marah.


"Cih ...."


Kami menggerutu di saat yang bersamaan sambil mengalihkan pandangan, juga di waktu yang sama.


"Kaaakakakakakakakaka! Ada satu hal lagi yang ingin kuberitahu padamu," kata Kageyama.


"Apa itu?" tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan dari Akito.


"Ada seseorang yang ingin menantangmu. Jika kau mau, dia akan menunggumu di training center besok jam 10 pagi," jawab Kageyama.


"Memangnya siapa?" tanyaku.


"Dia adalah sahabat sekaligus rivalku. Namanya Julius Aubert. Dia adalah salah satu bangsawan kelas atas dan juga petarung yang diakui masuk dalam jajaran Top 1 Persen Elit Dunia," jawab Kageyama.


"Eh, Benarkah? Top 1 Persen Elite Dunia? Haaahahahahahaha! Dengan senang hati kuterima tantangannya," sahutku.


"Lalu, bagaimana dengan pelelangannya, Kageyama? Bukankah kita juga akan membahasnya?" tanya Akito.


"Pelelangannya akan digelar 25 hari lagi di tempat yang dirahasiakan. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Kageyama.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kita tau tempatnya, jika lokasinya dirahasiakan?" tanya Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Kita akan tau saat waktunya tiba. Jadi, kesampingkan dulu soal pelelangannya," jawab Kageyama.


__ADS_2