
"150.000 gale." Aku mulai menawar katana yang sedang dilelang.
"150.000 gale dari ruangan nomor 56. Apa ada yang ingin menawar lebih mahal lagi?" tanya sang pembawa acara lelang dari televisi.
"500.000 gale." Ada orang lain yang melakukan penawaran.
"Hoho ... 500.000 gale dari ruangan nomor 3. Apa ada yang ingin menawar lagi?" tanya sang pembawa acara lelang.
"550.000 gale." Aku tidak mau kehilangan katana itu.
"550.000 gale dari ruangan nomor 56," ucap sang pembawa acara lelang.
"1 juta gale."
"Wow! Ruangan nomor 3 menaikkan tawaran hingga 1 juta gale. Apa ada yang berani lebih tinggi lagi?" tanya sang pembawa acara.
"Cih ... siapa orang itu? Kenapa dia terus menaikkan tawarannya?" pikirku yang mulai cemas.
"1.050.000 gale." Aku terus saja melakukan penawarannya.
"1.050.000 gale dari ruangan nomor 56," ucap sang pembawa acara lelang.
"5 juta gale." Ruangan nomor 3 benar-benar tidak mau kalah.
Karena harganya yang semakin mahal, membuatku benar-benar frustasi. Aku tidak bisa menaikkan harga lebih tinggi lagi karena uangku akan terkuras terlalu banyak.
Melihat kegelisahan Rudi, membuat Kageyama angkat bicara.
"10 juta gale." Tidak tanggung-tanggung, Kageyama langsung menaikkan tawarannya hingga 2 kali lipat.
Mendengar hal itu, aku pun kaget dan spontan melihat ke arah Kageyama.
Kageyama hanya menanggapi dengan senyum tipis.
"Ruangan nomor 56 menawar sebesar 10 juta gale. Apa ada yang berani menawar lebih tinggi lagi?" tanya sang pembawa acara lelang.
"100 juta gale." Entah apa yang dipikirkan orang yang ada di ruangan nomor 3, ia dengan berani langsung meningkatkan tawarannya hingga 10 kali lipat.
"100 juta gale! Apa ada yang berani lebih tinggi lagi?" tanya sang pembawa acara dengan sangat antusias.
"1 milyar gale." Tanpa berfikir sedikit pun, Kageyama langsung menaikkan tawarannya hingga 10 kali lipat.
"Astaga! 1 milyar gale! Apa ada yang berani lebih tinggi lagi?" tanya heboh sang pembawa acara lelang.
"Oi, Kageyama! Apa kau gila? 1 milyar gale? Aku tau kalau kau itu bangsawan kelas atas. Tapi, itu bukan jumlah yang wajar!" kataku sambil menggebrak meja.
__ADS_1
"Kaaakakakakakakaka! Entah kenapa, aku merasa bahwa aku tidak boleh kalah," sahut Kageyama sambil terus melihat ke arah televisi.
Setelah hitungan ke-10, tidak ada satu pun yang berani menaikkan tawaran. Sehingga, katana itu dimenangkan oleh Kageyama.
Dug! Dug! Dug!
"Terjual. Katana pajangan ini terjual kepada ruangan nomor 56," ucap sang pembawa acara lelang.
"Apa tidak apa-apa mengeluarkan uang sebesar itu?" Julius bertanya pada Kageyama dengan wajah cemas.
"Kaaakakakakakakakaka! Tenang saja. Bukan masalah besar," jawab Kageyama.
Julius dan Yuta melihat Kageyama dengan wajah cemas.
Walupun Kageyama adalah bangsawan kelas atas, uang 1 milyar gale adalah jumlah yang sangat besar. Setidaknya, itu cukup untuk membeli sebuah negara kecil.
Aku benar-benar tidak tau bagaimana cara berterimakasih pada Kageyama. Sehingga, membuatku hanya tertunduk sambil menggengam tangan.
"Tenanglah, anggap saja ini sebagai hadiah dariku," kata Kageyama padaku yang tengah tentunduk.
"Terimakasih, Kageyama," balasku.
"Rudi, kenapa kau benar-benar menginginkan katana itu? Bukankah itu hanya katana pajangan?" tanya Akito.
"Entahlah, Akito. Seperti yang kukatakan sebelumnya, katana itu seperti memanggilku," jawabku.
"Tidak," jawabku singkat.
"Katana itu adalah senjata yang sangat aneh karena beratnya bervariasi tergantung siapa yang menggunakannya," jelas Julius.
"Apa maksudnya?" tanya Akito.
"Berat katana itu selalu berubah-ubah tergantung kemampuan masing-masing orang. Semakin kuat yang memegangnya, akan semakin berat katananya, begitu pula sebaliknya," jawab Julius.
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku.
"Kaaakakakakakakaka! Banyak orang yang mengatakan bahwa katana itu memiliki jiwa. Dan dia sedang menunggu orang yang tepat untuk mengunakannya. Mungkin saja, kaulah orang yang selama ini ditunggu katana itu," jawab Kageyama.
"Lalu, bagaimana jika itu bukan aku?" tanyaku.
"Maka, kau membuang 1 milyarku percuma," jawab Kageyama.
"10 milyar!" Di saat kami sedang berbincang, lelang terus berjalan. Dan saat itu, ada yang menawar 10 milyar gale untuk sebuah lukisan aneh.
"Wow! Ruangan nomor 7 menawar 10 milyar gale untuk lukisan grade bintang 5 karya Adam," kata sang pembawa acara.
__ADS_1
"15 milyar."
"15 milyar gale! Ruangan nomor 10 menawar 15 milyar gale! Apa ada yang berani lebih tinggi lagi?" tanya sang pembawa acara dengan nada antusias.
"15 milyar?"
Aku dan Akito terkejut setengah mati saat mendengar penawaran itu. Untuk pertama kalinya, kami memahami arti dari kekuatan uang.
Aku dan Akito telah belajar menghitung, membaca, dan menulis sejak tinggal di rumah Julius.
"Oi, A-A-Akito. 15 mi-mi-milyar." Aku gemetar karena tidak bisa membayangkan seberapa banyak uang 15 milyar itu.
"Y-y-ya ... a-a-aku juga tau." Akito juga terus gemetar saat mendengar ada yang mau membeli lukisan aneh seharga 15 milyar gale.
"Kaaakakakakakakakaka! Ekspresi wajah kalian benar-benar aneh." Kageyama mengomentari wajah pucatku dan Akito.
"Apa kalian tidak tau apa pun soal lukisan grade bintang 5 karya Adam?" tanya Yuta acuh.
"A-apa ada yang spesial dari lukisan itu?" tanyaku dengan wajah pucat.
"Lukisan itu sangat istimewa karena memiliki grade bintang 5. Sejauh yang diketahui dunia, Adam hanya meninggalkan karya grade bintang 1, 2, 3, dan 5. Banyak yang mengatakan bahwa adanya kemungkinan grade bintang 4. Hanya saja, itu belum ditemukan hingga saat ini," jawab Yuta.
"A-aku masih belum mengerti," sahutku.
"30 milyar!" Penawaran terus meningkat.
Mendengar hal itu, membuatku dan Akito hampir pingsan karena tidak percaya bahwa lukisan semacam itu bisa dijual hingga semahal itu.
Saat melihat ekspresi kami berdua, Yuta pun mulai menjelaskan tentang keistimewaan lukisan itu.
"Haah ... kalian itu benar-benar anak pedalaman yang tidak tau apa pun, ya? Jadi begini. Dari semua karya Adam, hanya ada 1 karya yang memiliki grade bintang 5. Dan itu adalah lukisan yang sedang kalian lihat di layar," jelas Yuta.
"Hmm ... aku benar-benar tidak tau letak keistimewaanya," sahutku.
"Apa kau tau siapa itu Adam?" tanya Yuta.
"Tentu. Aku pernah mendengar namanya beberapa kali. Jika tidak salah, Adam sering dijuluki sebagai leluhur manusia. Dia jugalah yang telah membantu manusia mencapai teknologi, kekuatan, pengetahuan, hingga pengobatan di masa sekarang," jawabku.
"Benar sekali. Berkat buku-buku dan seni yang ia tinggalkan, membuat manusia bisa mencapai peradaban maju seperti sekarang. Itulah kenapa, karya Adam sangat berharga di mata dunia. Karyanya yang memiliki grade bintang 1 saja mengandung banyak hal yang sangat berharga. Apalagi, grade bintang 5. Apa kau tau? Kemampuan metode kontrol hanya dilabeli grade bintang 1. Apa kau sekarang bisa mengerti seberharga apa karya Adam?" tanya Yuta.
"Tapi, bukankah lukisan itu hanya terlihat seperti lukisan biasa?" Aku bertanya balik.
"Kaaakakakakakakakaka! Orang-orang mengganggap bahwa kemampuan manusia saat ini belum cukup pintar untuk menerjemahkan maksud dari lukisan itu. Mengingat, itu adalah karya grade bintang 5 satu-satunya di dunia," jawab Kageyama.
"Ah, begitu rupanya," kataku sambil melihat lukisan itu dengan lebih teliti.
__ADS_1
Jika dilihat dengan seksama, lukisan itu tampak seperti dua mahluk raksasa mirip monster bersayap dan mahluk mirip manusia yang sedang bertarung satu sama lain hingga menimbulkan kerusakan yang amat dahsyat.