
Happy reading guys π₯°
πππ
Erick mengusap bibirnya, setelah mengakhiri mencicipi bibir Jovanka yang belepotan coklat.
"Ih...!" kesal Jovanka, karena Erick main tarik tengkuknya dan mengemut bibirnya dengan paksa.
"Sepertinya, bibirmu ini ada pabrik coklat. Manis," untuk Erick.
"Coklat? mana ada." jemari Jovanka mengelap bibirnya, kemudian Jovanka melihat jemari tangannya berwarna coklat.
"Coklat? apa bibirku terlihat seperti habis makan coklat?" batin Jovanka.
"Mana coklatnya?" tanya Erick dengan berdiri tegak didepan Jovanka, matanya tajam menatap wanita yang sedang mengandung babies triplets hasil benihnya.
"Coklat? mana? aku tidak makan coklat." Jovanka tetap tidak mengakui baru saja makan coklat.
"Ini, buktinya." telunjuk Erick terarah pada baju Jovanka yang terkena coklat.
"Ini bukan coklat, mungkin tadi ada burung melintas. Yaa.. ini pasti kotoran burung, mana burung itu. Biar aku jadikan burung goreng.' Jovanka terus memberikan alasan.
"Burung? apa burung bisa melintas dari sini? ini ada atapnya," ucap Erick.
"Mungkin saja, apa yang tidak mungkin. Semua bisa terjadi, sudahlah. Aku ingin kekamar mandi." Jovanka berdiri, tangannya tetap berada didalam baju.
"Kenapa tanganmu didalam baju ?" tanya Erick dengan mata memicing menatap wajah Jovanka.
"Aku kebelet..!" Jovanka berjalan cepat meninggalkan Erick.
"Jo, jangan cepat-cepat jalannya..!" ingatkan Erick.
"Ya.."
Jovanka masuk kedalam kamar mandi, kemudian mengunci pintu kamar mandi.
"Selamat..!" Jovanka mengusap dadanya dengan perasaan yang lega, karena berhasil melarikan diri dari interogasi Erick.
"Aduh..! kotak es krim masih tertinggal, semoga dia tidak mengetahui kotak es krim. Coklat ini, di mana aku simpan. Saya jika dibuang, masih banyak. Nanti bisa aku makan lagi, sini saja.." Jovanka menyimpan coklat yang tersisa didalam lemari tempat alat makeup, karena Jovanka merasa. Erick tidak akan membuka lemari tempat makeup.
"Selesai, aku mandi saja. Lihatlah, gigi ku ada sisa-sisa coklat."
__ADS_1
Jovanka membuka seluruh bajunya, dan berdiri dibawah shower. Untuk membersihkan sisa-sisa coklat yang menempel di badannya.
Diluar, Erick mencari seluruh tempat. Untuk mencari cemilan tidak sehat yang dicurigai oleh Erick masih dikonsumsi Jovanka secara diam-diam.
"Tidak ada, dari mana dia mendapatkan coklat dan es krim. Aku harus tanyakan pada Miss Lin."
Erick keluar dari dalam kamar, mencari keberadaan Miss Lin.
"Miss Lin..!" panggil Erick, saat melihatnya baru keluar dari dalam kamar yang biasanya ditempati jika kedua orangtuanya mengunjungi pulau Saint Angel.
"Ya Tuan muda." Miss Lin bergegas menuju tempat Erick berdiri menunggunya.
"Apa kau memberikan Jovanka coklat dan es krim?" tanya Erick.
"Tidak Tuan, mana berani saya melanggar perintah Tuan muda," kata Miss Lin.
"Kalau tidak kau, siapa yang memberikan pada Jovanka coklat dan es krim?"
"Apa Miss Angelo," ucap Miss Lin.
"Di mana dia?"
"Saya lihat dia masuk kedalam kamarnya Tuan muda," kata Miss Lin.
Miss Lin mengikuti Erick dari belakangnya, dengan perasaan was-was, karena terlihat wajah Erick yang merah menahan marah.
Sampai didepan kamar Vannesa, tanpa mengatakan apapun juga. Kaki Erick menendang pintu kamar Vannesa, sehingga pintu terbuka.
Brakk....
Pintu terbuka, dan terbanting keras membentur nakas yang ada dibelakang pintu. Sehingga nakas tersebut tergeser dari tempatnya.
"What the hell...!" Vannesa yang sedang terbaring di ranjang kaget seketika, Vannesa spontan berdiri di atas ranjang. Matanya terbelalak menatap Erick yang masuk kedalam kamarnya dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dikatakan baik-baik saja.
Erick masuk kedalam kamar Vanessa, berdiri tegak menatap Vannesa. Kaki sedikit terbuka. Wajah keras, garis rahangnya mengetat.
Miss Lin yang mengikutinya, berdiri didepan pintu. Dengan jantung yang berdetak kencang.
"Tamat riwayatmu Vanessa, jika benar kau yang memberi coklat dan es krim pada Jovanka." batin Miss Lin.
Erick menatap wajah Vannessa yang berdiri di atas ranjang dengan pandangan mata yang tajam.
__ADS_1
"Turun..!" Suara Erick terdengar dingin dan datar.
" Kenapa kau menendang pintu kamar? Apa kau ingin membuat aku terkena serangan jantung? apa kau juga sudah kehilangan akal?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Vannessa, seraya turun dari ranjang, Vanessa beranjak mendekati Erick yang berdiri tidak jauh dari ranjang.
"Kau yang sudah kehilangan akal..! Apa yang kau berikan pada Jovanka? sudah aku katakan, Jovanka tidak boleh makan-makanan yang mengandung gula. Apa kau ingin membunuh anak-anakku ?" sergang Erick, sehingga Vannessa sontak terkejut.
"Makanan manis? Kapan aku memberikan Jovanka makanan manis? Aku tidak ada memberikan Jovanka makanan yang mengandung gula yang berlebihan." Vannessa tidak terima, dituduh telah memberikan Jovanka makanan manis.
"Kau jangan bohong! Jovanka makan coklat dan es krim didalam kamar, kalau tidak kau yang memberikannya. Siapa lagi? Miss Lin mengatakan, di dapur tidak ada persediaan coklat dan juga es krim," kata Erick.
"Aku bersumpah, aku tidak ada memberikan Jovanka coklat dan es krim. Ya, tadi Jovanka meminta aku untuk membelikannya coklat dan es krim. Tapi aku menolaknya," kata vannesa.
"Rick, aku tahu. Betapa berartinya anak yang ada dalam kandungan Jovanka bagimu, tidak mungkin aku ingin mencelakakan anakmu dan Jovanka. Aku akui, aku menyukaimu. Tapi aku tidak akan menggunakan cara licik untuk mendapatkan seorang pria," ucap vannesa.
"Awas jika kau terbukti ingin menyakiti Jovanka dan anak-anakku, aku tidak perduli. Walaupun kau saudaraku..!" ancam Erick sebelum berlalu dari dalam kamar Vannesa.
Sepeninggal Erick, Vannesa meneriaki Erick dengan sumpah serapah.
"Dasar Erick gila..! bajingan..! kau kira, aku seperti kau yang tidak waras. Marah tanpa berpikir, bahwa orang yang kau tuduh tidak bersalah..!" teriak Vannesa dengan teramat kesal.
"Siapa yang menuding aku yang memberikan Jovanka coklat dan es krim, sepertinya ada yang ingin mengkambinghitamkan aku. Emh.. jangan main-main denganku, aku harus menyelidiki ini semua. Aku tidak mau menjadi sasaran empuk kemarahan Erick." Vannesa keluar dari dalam kamar.
Keluar dari dalam kamar Vannesa, Erick menuju pintu gerbang utama. Miss Lin masih mengikutinya dari belakang dengan perasaan yang campur aduk.
"*Gawat..! Tuan muda marah sekali, setelah tidak pernah melihat Tuan muda marah lagi. Kini, sifatnya beberapa tahun yang lalu muncul kembali." batin Miss Lin.
"Aku harus memanggil Marcio, aku takut pada penjaga akan menjadi korban kemarahannya*."
Miss Lin mengeluarkan ponselnya, dan menekan tombol darurat yang terhubung langsung dengan ponsel Marcio.
Tit..tit..
Marcio yang sedang duduk didalam ruangan kerjanya, melihat ponselnya berkedip-kedip warna merah. Yang menandakan ada keadaan darurat.
"Tuan muda..!" seru Marcio berdiri dari duduknya, sampai kursi yang didudukinya terjengkang jatuh kebelakang. Marcio berlari cepat keluar dari dalam ruang kerjanya.
Pintu gerbang utama.
Erick berdiri dengan tatapan mata yang tajam dan dingin, di hadapannya . Para petugas keamanan, berdiri dengan perasaan yang cemas. Mereka khawatir, karena tidak pernah melihat wajah Erick Godfrey seperti sekarang ini. Bagi orang yang baru bergabung, sedangkan orang lama. Perasaan mereka juga sangat khawatir, pasti mereka akan mendapatkan kemarahan dan mungkin sampai kehilangan nyawa.
π Nextπ
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini, dan tetap tekan tombol like like ππ₯°