
Happy reading guys π₯°π
πππ
Orang-orang berusaha untuk mengeluarkan pengemudi mobil, sedangkan bagian depan mobil asap dan percikan api terlihat makin besar.
"Cepat...!" teriak orang yang berusaha mengeluarkan pengemudi mobil, dari dalam mobil yang mulai berasap. Dan tercium bau bensin.
Erick dan Ardan berdiri, Erick ingin mendekati mobil yang ringsek dan terbalik. Tapi Ardan menahannya, agar tidak mendekati mobil.
"Jangan ke sana Rick, lihat. Sepertinya mobil itu akan terbakar" kata Ardan.
"Siapa orang itu?" tanya Erick.
"Aku syak, apa William Doe," ucap Ardan.
Setelah berhasil mengeluarkan korban yang ada dalam mobil, mereka membawa korban menjauh dari mobil yang mulai terbakar.
Erick menyeruak orang-orang yang mengelilingi sopir yang ingin menabrak Erick dan Ardan.
"Apa yang aku katakan, orang itu pasti tidak terima. Dengan hasil tes DNA, yang membuktikan. Dia tidak ada hubungan darah dengan keluarga Godfrey" kata Ardan setelah melihat, siapa orang yang ingin menabrak mereka.
"Sudah meninggal" ucap orang yang memeriksa William Doe.
"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya seorang pria pada Erick dan Ardan, karena dia melihat. Saat Erick dan Ardan ingin ditabrak mobil yang menewaskan sang pengemudi.
Tidak," sahut Erick dan Ardan.
"Tangan anda berdarah Tuan," ucap pria tersebut kepada Erick.
Erick melihat kearah sikunya yang terasa perih, Erick melihat luka gores.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil" Erick mengeluarkan sapu tangan dari kantong saku jasnya, kemudian menggelap lukanya.
Jenazah William Doe dibawa ke rumah sakit, sedangkan Erick dan Ardan berangkat ke kantor polisi.
Setelah memberikan semua urusan kepada Danny Liu, Erick dan Ardan bergegas menuju Bandara untuk kembali ke pulau Saint Angel.
Karena laporan Marcio, Rachel mengatakan ia hamil anak Axelo. Membuat Erick secepatnya ingin membungkam mulut iblis Rachel.
***
Jovanka berdiri didepan pintu kamar, dia tidak berani masuk kedalam kamar. Ada perasaan bersalah, karena Rachel pingsan. Dan mendengar pengakuan Rachel, saat ini dia sedang mengandung. Walaupun bayi itu beli bisa dipastikan, Axelo Godfrey ayah biologisnya.
"Kenapa di sini ?" tanya Miss Lin, saat melihat Jovanka seperti setrika. Jalan ulang-alik, kedua tangannya saling bertaut.
"Miss Lin, apa aku ini seorang yang menyebalkan? kenapa setiap melihat orang itu, aku ingin sekali berkelahi?" Jovanka mengutarakan kebimbangannya, tentang perasaannya pada Rachel.
"Saat berkelahi tadi, aku sudah berusaha untuk melawan isi otakku. Tapi, tiba-tiba ada yang mendorong aku untuk melindungi keluargaku dari gangguan pengacau itu. Apa aku sudah gila Miss Lin?" tanya Jovanka dengan tatapan mata yang sedih, menunggu jawaban dari Miss Lin atas pertanyaannya.
"Tidak mungkin anda gila Mrs Godfrey, tenanglah. Aku syak, perempuan itu tidak hamil Mrs Godfrey," ujar Miss Lin.
__ADS_1
"Tidak hamil..! maksudnya, Dia berbohong..?" tanya Jovanka dengan suara yang pelan .
"Iya, kita dengar saja. Apa yang akan dikatakan oleh dokter," ucap Miss Lin.
Dokter keluar dari dalam kamar, tempat Rachel terbaring pingsan. Diikuti oleh Maria.
"Lin, kau jaga dia.." titah Maria pada Miss Lin.
"Baik" sahut Miss Lin.
"Jo, ayo. kita dengarkan apa kata dokter mengenai wanita itu," ucap Maria pada Jovanka.
"Anaknya tidak apa-apa kan mom?" tanya Jovanka.
"Jangan khawatir, dia tidak apa-apa" kata Maria.
"Mari dokter" Maria mengajak dokter dan Jovanka ke ruang keluarga, di mana Axelo dan Marcio berada.
"Jo, tolong temani dokter. Mommy mau membawa Daddy kesini" ucap Maria.
"Iya mom" sahut Jovanka.
Saat menunggu kedatangan, Maria dan Axelo. Arisa masuk kedalam mansion dengan tergesa-gesa.
"Jo, kau tidak apa-apa?" tanya Arisa seraya duduk disisi Jovanka.
"Aku tidak apa-apa, kenapa kau cepat pulang?" tanya Jovanka, karena Arisa selalu pulang ke mansion saat matahari mulai terbenam.
"Aku mendengar terjadi perkelahian di Mansion, hei.. kenapa wajahmu?" Arisa heran melihat wajah Jovanka, terlihat bekas cakaran.
Jovanka menganggukkan kepalanya.
"Kau...!" Arisa menganggukkan kepalanya.
"Ada apa denganmu Jo ? kenapa kau sangat suka berkelahi?" tanya Arisa dengan suara yang setengah berbisik.
"Nanti aku ceritakan." balas Jovanka.
"Bagaimana Dok?" tanya Maria.
"Dok, apa bayinya tidak apa-apa?" tanya Jovanka to the point, langsung pada hal yang membuat jantungnya tidak tenang.
"Bayi? tanya dokter.
"Wanita itu dokter, bagaimana bayinya. Tidak apa-apa kan? masalahnya, tadi kami berkelahi. Dan saya duduk diatas perutnya.." ucap Jovanka dengan perasaan yang bersalah.
"Dia tidak hamil." beritahu dokter.
"Tidak hamil..!" seru Jovanka dengan mata mendelik.
Axelo tersenyum, begitu juga dengan Maria. Karena dia sudah syak, Rachel hanya berbohong. Terlebih lagi, Axelo mengatakan yang membuat Maria kaget dan juga sangat terharu dengan pengorbanan Axelo. Sepeninggalnya.
__ADS_1
πFlashback π
Saat Rachel dibawa kedalam mansion, Axelo memegang tangan Maria.
"Ada apa?" tanya Maria.
"Bukan anakku" ucap Axelo dengan suara yang pelan dan serak.
"Kita lihat saja, apa benar dia hamil," kata Maria.
" Vasektomi ," ucap Axelo.
"Vasektomi ?" Maria belum mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Axelo.
Axelo menganggukkan kepalanya.
"Kau vasektomi Axelo?" tanya Maria dengan ekspresi wajah yang kaget, dan setengah tidak percaya. Dengan apa yang dikatakan oleh Axelo.
"Axelo, kenapa kau lakukan?"
Axelo meminta selembar kertas dan pena, karena sangat sulit dia untuk mengatakannya langsung.
Maria mengambil kertas dan pena, kemudian memberikannya pada Axelo.
Axelo menulis dengan tangan kirinya, walaupun masih terasa sakit. Axelo menulis, apa yang ingin dikatakannya.
"Aku vasektomi, setelah Rachel masuk kedalam hidupku. Aku takut, dia akan membuat aku mabuk. Dan melakukan perbuatan yang akan membuat penyesalan seumur hidupku, aku bersumpah. Tidak pernah tidur dengan seorang wanita manapun, selain denganmu. istriku satu-satunya." tulis Axelo di selembar kertas.
"Axelo." Maria memeluk Axelo, matanya berembun.
Maria mengurai pelukannya, dan menatap wajah Axelo.
"Maafkan aku, aku terlalu emosional. Seharusnya, saat melihatmu diatas ranjang dengan wanita itu. Seharusnya saat itu juga aku menghajarmu dan wanita itu," ucap Maria.
"Maaf." tulis Axelo.
Sudah, kita lupakan semua" ucap Maria, dan kembali memeluk Axelo.
π Flashback endπ
"Kurang ajar, dasar penipu..! perempuan iblis..!" umpat Jovanka yang emosional.
Jovanka berdiri.
"Aku akan meninju mulutnya yang sudah mengatakan kebohongan, mulutnya itu sudah membuat aku merasa sangat bersalah. Karena aku merasa telah membuat bayinya tidak nyaman berada dalam kandungan Rachel, Ternyata. Dia tidak hamil...!" seru Jovanka kesal.
Semua orang yang berada ditempat, menatap Jovanka dengan heran. Karena emosi Jovanka yang meledak-ledak.
"Jo, tenang dulu," ucap Arisa, seraya menarik lengan Jovanka untuk duduk kembali.
Jovanka duduk, kemudian berdiri kembali.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tenang, aku ingin meraup mulutnya. Aku mau ubek-ubek mulutnya..!" seru Jovanka sambil meremas jemari tangannya, karena terlalu kesal.
π Nextπ