
Selamat membaca kakak-kakak reader π₯°π
ππ
Begitu tersadar dengan apa yang dilakukannya, Jovanka dengan cepat melepaskan rangkulan tangannya dari leher Erick, kemudian turun dari gendongan Erick. Wajah Jovanka merona merah menanggung malu, dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Aku benar-benar sudah tidak waras, kenapa aku seperti wanita murahan. Begitu melihatnya langsung ingin berada dalam pelukannya, apa itu tadi? aku menciumnya. Oh my God, aku sungguh-sungguh sudah kehilangan akal sehat." dalam batin Jovanka.
Ketika Jovanka ingin berlari, Erick secepatnya menangkap Jovanka dan mengangkatnya ala bridal style.
"Erick..! turunkan aku..!" seru Jovanka.
"Diam..! kau harus bertanggung jawab, kau sudah membangunkannya. Saat kau loncat keatas tubuhku ini" ujar Erick.
"Membangunkan apa?" Jovanka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Erick.
"Aset berhargaku, kau sudah membangunkannya"
Deg...
Jantung Jovanka berdetak kencang, dia tahu apa yang ingin dilakukan oleh Erick.
"Erick, apa kau tidak ingin menemui mommy dan Daddy. Mereka menunggumu ," ucap Jovanka.
"Aku sudah menemui mereka, mereka tidak butuh kita" ucap Erick seraya berjalan menyusuri tanjakan yang sedikit curam.
"Kita mau kemana? apa kau ingin melemparkan aku kedalam jurang itu?" Jovanka melihat, kiri dan kanan terlihat jurang yang sangat curam.
"Diamlah.." ucap Erick dengan suara yang datar.
Jovanka terdiam, saat menatap wajah Erick yang dingin.
"*Ada apa dengannya? apa dia marah, aku menghajar mantannya," ucap Jovanka dalam batinnya.
"Aku cepat-cepat pulang, khawatir dengannya. Dia bersenang-senang dengan pria lain." batin Erick yang kesal, melihat Jovanka pergi bersama dengan bodyguard.
Ja'far berdiri menatap punggung Erick yang semakin jauh dari tempatnya berdiri.
"Semoga aku tidak tidak kena imbas kenakalan istri Tuan muda," gumam Ja'far.
Erick membawa Jovanka menuju villa yang berada di tepi bukit yang langsung berbatasan langsung dengan lautan, hingga suara ombak terdengar dari villa.
Erick meletakkan Jovanka diatas ayunan, dan dia sendiri duduk disisi Jovanka.
"Untuk apa kita kesini? main ayunan? kau seperti anak kecil saja" ujar Jovanka, seraya melirik Erick yang duduk diam. Pandangan matanya lurus kedepan.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? kenapa dia diam." batin Jovanka.
Jovanka menggoyang-goyangkannya telapak tangannya didepan wajah Erick, tidak ada respon dari Erick.
"Fix, orang ini sudah gila.." gumam Jovanka kesal.
"Kenapa keluar dengan dia?" Erick membuka suaranya.
Jovanka menoleh kearah Erick.
"Dia siapa?"
"Ja'far..!" sebut Erick dengan suara yang datar, dan pandangannya terus lurus kedepan. Tidak sedikitpun, dia melirik Jovanka.
Erick sangat kesal, karena Jovanka sudah berani pergi dengan seorang pria tanpa izin darinya.
"Dia anak buahmu kan?" Jovanka tidak merasa bersalah, karena Ja'far orang Erick sendiri.
"Dia orangku, tapi dia seorang laki-laki..!" seru Erick sembari berdiri dari duduknya, dia berdiri didepan Jovanka yang duduk diatas ayunan.
"Aku tahu dia seorang laki-laki, tidak perlu kau katakan. Tapi aku sudah minta izin pada mommy" balas Jovanka.
"Mommy tidak mengatakan, kau pergi dengan seorang pria..!"
Jovanka mengigit bibir bawahnya, ketika menyadari kesalahannya. Dia minta izin hanya jalan-jalan disekitar mansion. Tapi kenyataannya, dia sampai sejauh ini meninggalkan mansion.
"Maaf ..." ulang Jovanka, setelah tidak ada reaksi dari Erick
"Kenapa kau sangat suka membuat aku marah?"
"Apa kau saat ini sedang marah?" Jovanka mengangkat wajahnya menatap wajah Erick.
"Menurutmu?" tanya Erick dengan wajah yang terlihat masih datar.
"Sepertinya marah, tapi. Aku bosan di rumah saja, kau itu. Enak-enak di kota Saint Lucia, aku di sini sendiri kesepian," ucap Jovanka.
Jovanka mengurai pelukan tangannya, tapi Erick menahannya.
"Kau ini tidak bisa diatur, kau harus menerima hukuman" Erick mengangkat Jovanka dan membawanya masuk kedalam villa.
"Erick...!"
"Diam...!" titah Erick.
Jovanka spontan mengatupkan bibirnya, matanya kesal menatap wajah Erick.
__ADS_1
Dengan sekali tendangan yang lembut, pintu villa yang tidak dikunci terbuka lebar. Seperti saat membukanya, menutup pintu villa. Kaki Erick yang menutup pintu itu.
Erick masuk dan membawa Jovanka kedalam kamar, Erick meletakkan Jovanka diatas ranjang yang ada di dalam villa. Dan langsung menindihnya, dan menakutkan bibirnya ke bibir Jovanka.
"Heem..hem...!" Jovanka memukul dan mendorong tubuh Erick yang menindih tubuhnya, dan meraup bibirnya dengan rakus. Dengan penuh penekanan, bibir Erick mengekplorasi bibir Jovanka hingga sampai kedalam rongga mulutnya. Membuat paru-paru Jovanka seakan-akan sudah kehilangan pasokan energi.
Erick melepaskan tautan bibirnya, ketika merasa Bahwa Jovanka kehilangan napasnya.
Jovanka megap, mulutnya terbuka menghirup udara untuk mengisi udara masuk kedalam paru-parunya.
Setelah merasakan napasnya stabil, Jovanka melotot menatap Erick.
"Kau ingin membunuhku..?"
"Tidak ada orang meninggal karena ciuman" ucap Erick, senyuman terukir di bibirnya.
"Aku yang pertama kali mengalaminya, jika kau melakukan itu lagi .!"
"Kalau kau tidak ingin mengalami itu semua, jangan lakukan lagi. Apa yang akan membuat aku marah"
Erick mendekatkan bibirnya kembali, kali ini Erick melakukannya dengan sangat lembut. Bibirnya menguasai bibir Jovanka, sehingga Jovanka tidak berdaya. Jovanka membalas apa yang dilakukan Erick.
Mendapatkan balasan dari Jovanka, Erick semakin bernapsu menguasai tubuh Jovanka. Tangan Erick dengan terampil dan cekatan berhasil meloloskan benang yang ada di seluruh tubuh Jovanka, begitu juga dengan tubuh Erick. Disela-sela tautan bibirnya dan belaian tangannya, dia berhasil membuka benang yang menempel ditubuhnya. Sehingga keduanya kini dalam keadaan polos, tanpa ditutupi sehelai kain ditubuhnya.
Erick merenggangkan kedua paha Jovanka, sehingga pulau kenikmatan Jovanka terbuka lebar. Membuat napsu Erick semakin naik, dengan sekali hentakan. Akhirnya, Erick berhasil bersemayam didalam pulau kenikmatan milik Jovanka.
Jovanka mendesis dan mengerang kenikmatan, saat Erick melakukan goncangan naik turun diatas tubuhnya.
Entah kenapa, Jovanka yang biasanya hanya pasif menerima. Kini Jovanka mengambil alih permainan dewasa yang dilakukan oleh Erick, kini. Jovanka berada diatas tubuh Erick, dengan sexual. Jovanka menjulurkan lidahnya menyapu dada Erick, dan mengisap dada Erick secara bergantian.
Tangannya juga bermain-main diatas pusar Erick, dan semakin turun kebawah. Di mana ada bulu-bulu halus.
"Aduh...!" Erick tiba-tiba berteriak, saat tiba-tiba. Jovanka yang kumat isengnya, menarik bulu-bulu yang ada dibawah pusarnya.
Melihat Erick menunjukkan ekspresi wajah kesakitan, Jovanka nyengir.
Erick langsung memutar badannya, dan kini. Tubuh Jovanka berada dibawah Kungkungan tubuh besarnya.
"Kau mulai nakal lagi Mrs Godfrey.." ucap Erick dengan suara yang lembut, dan terdengar sangat **** ditelinga Jovanka.
"Maaf..! hahaha.." ucap Jovanka sembari tertawa senang.
"Terimalah pembalasanku..!"
Dengan sekali tekan, tubuh Erick kembali berada didalam tubuh Jovanka. Kali ini Erick melakukannya dengan sedikit kasar, membuat Jovanka berkali-kali mengeluarkan lenguhan panjang dari dalam mulutnya.
__ADS_1
"Cukup...cukup..!" seru Jovanka dengan suara yang lirih, karena tidak sanggup lagi meladeni napsu Erick.
π Nextπ