
Happy reading guys, tetap semangat selalu.π₯°π
ππππ
"Aduh..!" teriak Erick dengan keras, wajahnya meringis kesakitan. Karena iseng Jovanka mencabut bulu yang berada dibawah pusar.
"Kau mulai nakal lagi Mrs Godfrey.." ucap Erick dengan suara yang lembut, dan terdengar sangat sexual ditelinga Jovanka.
"Maaf..! hahaha.." ucap Jovanka sembari tertawa senang, seraya bergeser dari atas tubuh Erick. Tapi, tangan Erick menahan tubuh Jovanka agar tetap berada diatas tubuhnya.
"Sorry," ucap Jovanka.
""Tidak ada maaf..!"
"Terimalah pembalasanku..!" sambung Erick.
Erick membalikkan posisi, kini. Jovanka berada dibawah Kungkungan tubuhnya, Dan, Erick memasuki tubuh Jovanka kembali.
Dengan sekali tekan, tubuh Erick kembali berada didalam tubuh Jovanka. Kali ini Erick melakukannya dengan sedikit kasar, membuat Jovanka berkali-kali mengeluarkan lenguhan panjang dari dalam mulutnya.
"Cukup...cukup..!" seru Jovanka dengan suara yang lirih, karena tidak sanggup lagi meladeni napsu Erick.
Erick menghentakkan tubuhnya, sebelum mengakhiri pergulatan panas. Setelah membanjiri rahim Jovanka dengan benihnya, Erick akhirnya mengakhiri permainan panas.
Erick mencabut tubuhnya, dari dalam tubuh Jovanka. Keduanya tepat, setelah merasa tubuhnya kembali bertenaga. Erick mengangkat badan setengah, dengan bertumpu pada siku lengannya. Erick menatap Jovanka, jemari tangannya mengelus bibir Jovanka yang terlihat bengkak.
"Ingat, jangan nakal. Dengan pergi bersama laki-laki lain, selain aku" ucap Erick.
Jovanka membuka matanya, dan menatap wajah Erick yang berada dekat dengan wajahnya.
"Aku kau larang, bagaimana denganmu ?" tanya Jovanka seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai area dadanya.
"Aku pria, berbeda dengan wanita" ucap Erick.
"Oh..oi... Tuan muda, tidak bisa begitu. Wanita dan pria harus sama, aku tidak bisa keluar dengan laki-laki lain selain kau. Kau juga harus begitu..!" ucap Jovanka dengan tegas.
"Baiklah.." ucap Erick, karena sudah lelah berdebat dengan Jovanka yang sangat keras kepala.
***
Danny Liu ikut dengan rombongan polisi, mulai mendekati kapal pesiar mewah yang masih bersandar di tengah laut. Karena menunggu kedatangan William Doe.
Para penghuni kapal pesiar tidak ada yang mengetahui, bahwa William Doe sudah meninggal. Karena kedua orang terdekatnya, Arm dan Mark sudah di amankan oleh aparat kepolisian saint Lucia. Sehingga tidak ada yang bisa memberikan kabar mengenai keadaan William Doe.
Speed boat, yang membawa Danny Liu dan para polisi saint Lucia berhenti dan mesin speed boat mereka matikan. Karena mereka takukkan, suara mesin speed boat dapat terdengar oleh orang-orang yang berada di kapal pesiar.
Dengan mendayung, akhirnya speed boat mendekati kapal pesiar.
"Anda jangan ikut Tuan Liu, kemungkinan besar. Mereka mempunyai senjata api." kepala polisi melarang Danny Liu untuk ikut naik menangkap Andre Maurice.
__ADS_1
"Baiklah" sahut Danny Liu.
Tali dikaitkan keatas kapal, dan kemudian satu persatu polisi naik keatas kapal. Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dan tembakan.
Dan terlihat juga beberapa orang yang jatuh ke laut dalam keadaan tidak bernyawa.
Edward Alfonso, kepala polisi yang memimpin penangkapan Andre Maurice menyisir satu persatu kamar yang ada didalam kapal pesiar.
Dor...
Tetapi tembakan tersebut meleset dari sasarannya, yaitu kepala opsir polisi Edward Alfonso.
Dengan cepat, Edward Alfonso membalas dan memberikan tembakan beruntun kearah peluru yang ditembakkan.
Orang yang memberikan tembakan berlari dari persembunyiannya, Edward Alfonso mengejarnya dengan terus menembakkan senjatanya.
"Menyerah Tuan Maurice...!" titah Edward Alfonso.
"Tidak...!" balas Andre.
Ketika Andre ingin loncat dari atas kapal untuk menyelamatkan diri dari kejaran para polisi, satu tembakan mengenai area dadanya. Andre Maurice jatuh ke laut.
"Kejar..!" titah Edward Alfonso pada anak buahnya yang masih berada di atas speed boat.
Speed boat meluncur kearah tubuh Andre Maurice jatuh.
Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, pencarian kembali dilakukan. Kali ini pencarian dilakukan melalui udara, tidak lama kemudian. Terlihat jasad yang mengambang dihempaskan obat mendekati pelabuhan saint Lucia.
Setelah didekati, jasad tersebut adalah jasad Andre Maurice. Dan jasad tersebut sudah terlihat membengkak.
Ketika jasad Andre Maurice dibawa ke daratan, Danny Liu mendekatinya. Dan membuka kantung jenazah.
"Akhirnya tamat riwayatnya mu.." gumam Danny Liu.
"Andre Maurice, adalah orang yang masuk kedalam DPO kepolisian China. Dia terlibat dengan pembunuhan dalam perkelahian antar Mafia" beritahu Edward Alfonso pada Danny Liu.
"Ternyata, dia kembali kesini melarikan diri," ucap Danny Liu.
"Dia mau meninggal dikampung halamannya" ucap Edward Alfonso.
***
Bastian tiba didepan rumahnya, dia berdiri termangu. Biasanya, jika dia tiba. Jovanka langsung berhambur menubruk tubuhnya, tetapi kini. Tidak ada bayangan Jovanka, bahkan rumah terasa sangat sepi. Dan halaman rumah, terlihat sangat kotor. Dedaunan berserakan, rumput juga sudah tinggi. Menandakan, siempunya rumah sudah lama meninggalkan rumah.
"Kenapa sepi..?" Erick bergegas menuju pintu rumahnya, dia mengeluarkan kunci dari ransel yang dibawanya.
Kritt...
Bastian membuka pintu, begitu pintu terbuka. Suasana sepi dan gelap menyambut kedatangan Bastian Reuel.
__ADS_1
"Kemana Jovanka?'
Bastian melangkah menuju dapur, dan dilihatnya dapur dalam keadaan bersih dan diatas meja makan ada roti yang sudah berjamur.
"Dilihat dari roti ini, Jovanka sudah lama meninggalkan rumah," gumam Bastian.
"Kenapa dia tidak menghubungi jika ingin pergi?"
Bastian membuka pintu belakang, dan melihat ada tangga menuju rumah tetangga dibelakang rumah mereka.
"Belakang rumah Arisa" Bastian berjalan menuju tangga, dan naik keatas tangga.
"Sepi juga" gumam Bastian, saat melihat rumah Arisa. Terlihat sama dengan kondisi rumahnya.
Bastian turun dari tangga, kembali masuk kedalam rumahnya.
"Kemana semua orang?" Bastian menuju ke halaman depan, dan melihat kearah tetangga kiri dan kanan.
"Kemana semua orang? apa mereka telah diculik oleh alien?"
Bastian mengeluarkan ponselnya.
Bastian menghubungi nomor ponsel Jovanka, tetapi tidak ada yang mengangkat. Hanya operator yang menjawab.
"Kemana dia? apa mungkin dia liburan? tetapi kenapa dia tidak menghubungi? apa mungkin dia menghubungi ke nomor yang lama, mungkin juga," ucap Bastian.
"Sial, kenapa aku tidak pulang terlebih dahulu. Ketika aku dibebaskan" Bastian mengungkapkan penyesalannya.
Bastian mengambil ranselnya, dan keluar dari dalam rumahnya. Begitu dia meninggalkan depan rumahnya. Tetangganya menyapanya.
"Bastian, sudah lama kau tidak kelihatan?"
"Saya sibuk aunt Jane, aunt. Apa aunt tahu, kemana Jo pergi?" tanya Bastian.
"Aunt juga tidak tahu, aunt baru pulang seminggu yang lalu. Dan aunt tidak pernah melihat keberadaan jo" jawab aunt Jane.
"Apa kalian tidak pernah saling kirim berita?"
"Saya kehilangan ponsel, mungkin saja. Jovanka menghubungi nomor yang lama" kata Bastian.
"Sekarang, kau mau kemana?"
"Saya akan kembali ketempat kerja aunt Jane, dan tolong berikan nomor ini. Jika aunt bertemu dengan Jovanka" Bastian memberikan kartu namanya pada Jane.
"Oke"
"Terima kasih Aunt Jane" ucap Bastian, sebelum berlalu dari hadapan Jane.
π Nextπ
__ADS_1