
Cerita hanyalah sebagai hiburan semata, tidak ada hubungannya dengan nama tokoh dan tempat.
Happy reading guys π₯°
***
Arisa mendelikkan matanya, menatap wajah Jovanka yang menertawakan dirinya.
"Aku berkata yang sebenarnya Jo...! kak Tian baik-baik saja.!" ucap Arisa dengan suara sedikit keras, karena jengkel. Jovanka tidak mempercayai apa yang dikatakannya.
"Baiklah, aku akan menutup mulutku" ujar Jovanka dengan menutup mulutnya dengan jemarinya, tetapi dibalik jemarinya. Tawa kecil masih mengembang dibibirnya.
"Terus! kalau kak Tian baik-baik saja, kenapa dia tidak menemui kita? sedangkan dia menyuruh aku untuk menemuinya di pulau Saint Angel" kata Jovanka, setelah berhasil menahan tawanya. Agar tidak terjadi lagi.
"Aku tidak tahu, tapi dia baik-baik saja" ujar Arisa.
Tok.. tok...
Pintu penginapan diketuk dari luar, Arisa membuang ampas teh yang dipegangnya kedalam bak sampah.
"Siapa malam-malam begini? apa Tuan Fred?" Jovanka ingin bangkit dari duduknya, ingin membuka pintu. Tetapi, Arisa mencegahnya.
"Biar aku saja" kata Arisa.
Ceklek..
Arisa membuka pintu, dia kaget. Melihat siapa yang berada dihadapannya, seorang pria yang berpakaian serba hitam. Dibelakang pria itu, berdiri dua pria yang memakai baju serba hitam juga dan membelakangi pintu, sehingga Arisa hanya bisa melihat punggung dua pria yang datang bersama dengan pria yang berhadapan dengan Arisa.
"Siapa kalian?" tanya Arisa heran, karena didatangi orang yang sangat aneh menurutnya.
"Kami utusan dari Tuan Erick Angelo Godfrey" kata pria tersebut dengan suara yang dingin dan datar.
"Tuan Erick Angelo Godfrey, bukankah nama ini yang diceritakan oleh Jovanka tadi" gumam Arisa.
"Dimana Miss Jovanka Lovata Reuel?" tanya pria yang berpakaian serba hitam.
"Jo..! Jovanka!" panggil Arisa.
Tidak ada sahutan dari orang yang dipanggilnya, Arisa mundur sedikit dari depan pintu, dan melihat Jovanka yang tadi duduk. Dan kini tidak ada lagi.
"Dimana dia? apa dia kabur? karena mengetahui kedatangan orang-orang Erick Godfrey?" dalam benak Arisa.
"Mana Miss Jovanka?" ulang pria yang berpakaian serba hitam itu lagi, kepada Arisa.
"Tunggu sebentar, diam disitu. Jangan masuk !" ucap Arisa kepada pria tersebut.
__ADS_1
"Jo!" teriak Arisa sekali lagi, seraya masuk kedalam kamar.
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Jovanka keluar dari dalam kamar mandi.
"Ada apa, perutku sakit. Aku baru melakukan panggilan alam. Kenapa kau berteriak? teriakan mu itu bisa membangkitkan orang yang sudah mati" ujar Jovanka.
"Ada orang yang mencarimu" kata Arisa.
"Tuan Fred?" tanya Jovanka.
"Bukan! utusan pria yang kau katakan tadi" kata Arisa.
"Siapa?" tanya Jovanka.
"Erick Angelo Godfrey" ucap Arisa.
"Siapa dia?" tanya Jovanka kepada Arisa, karena dia tidak mengenal nama yang dikatakan oleh Arisa.
"Apa kau sudah pikun! pria yang membuat kau melarikan diri ke pulau ini" kata Arisa, mengingatkan Jovanka tentang pria yang mendatangi rumahnya. Dan pria itu ada hubungannya dengan keberadaan kakaknya, Bastian Reuel.
"Pria itu Erick Godfrey, bukan Erick Angelo Godfrey" kata Jovanka.
"Aku tidak tahu, kau temui saja orang itu. Orang-orang itu sangat aneh dan menakutkan" kata Arisa.
Jovanka beranjak menuju pintu, Arisa mengekor dari belakang. tangannya memegang ujung baju Jovanka.
"Kau!" Jovanka kaget, melihat pria yang pernah datang kerumahnya. Kini berdiri dihadapannya.
"Kenapa dia tahu aku berada di pulau ini? apa mereka memata-matai aku?" dalam benak Jovanka.
"Kenapa kalian disini? dari mana kalian tahu keberadaan aku?" tanya Jovanka penasaran.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Jovanka.
"Tuan mengharapkan kedatangan Miss Jovanka Lovata Reuel ke Mansion" ucap pria yang berpakaian serba hitam tersebut dengan suara yang datar, dengan wajah yang tanpa ekspresi.
"Tuan siapa?" tanya Jovanka.
"Penguasa pulau ini" kata pria tersebut.
"Penguasa pulau ini? Erick Godfrey?" tanya Jovanka dengan menyebutkan nama Erick Godfrey, nama yang sangat tabu diucapkan oleh para masyarakat di pulau Saint Angel.
"Iya, Tuan mengundang miss berdua. Untuk menjadi tamu kehormatan di mansion" beritahu pria tersebut kepada Jovanka.
__ADS_1
"Tapi kami tidak mengenal orang yang bernama Erick Godfrey, kau pasti salah orang" kata Jovanka.
"Miss, ini menyangkut keselamatan saudara anda. Bastian Reuel, itu nama saudara anda bukan?" pria tersebut menyebutkan nama Bastian, seperti yang dikatakannya. Saat dia bertemu pertama kali dengan Jovanka.
"Apa yang kalian lakukan pada Bastian? jangan macam-macam, aku akan mengadukan Erick Godfrey ke polisi?" Jovanka berusaha untuk berani, walaupun sebenarnya. Ada rasa takut menyerang dirinya, karena saat ini. Dia berada di wilayah kekuasaan orang yang ingin dihindarinya.
"Datanglah ke Mansion, jika anda ingin mengetahui kabar tentang keadaan Bastian Reuel. Besok, saya akan menjemput anda berdua" kata pria yang berpakaian serba hitam, kemudian pria tersebut meninggalkan Jovanka dan Arisa yang masih terpaku menatap punggung pria yang baru saja berbicara dengannya.
Baru beberapa langkah, pria tersebut berhenti. Dan berbalik menghadap Jovanka, dan berkata.
"Dan satu lagi, tidak akan ada polisi yang akan membantu miss Reuel. Karena, di pulau ini. Polisi tidak ada, semua keputusan menyangkut pulau ini. Tuan Erick Godfrey yang berkuasa" kata pria tersebut, dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Jovanka dan Arisa.
Arisa menarik tangan Jovanka, membawanya masuk. Dan kemudian Arisa menutup pintu dan menguncinya.
"Mereka siapa?" tanya Arisa pada Jovanka.
"Aku tidak tahu! aku juga kaget, orang itu yang membuat aku pergi dari rumah. Dan Kak Tian menyuruh aku untuk datang ke pulau ini, ternyata. Penguasa pulau ini, orang yang bernama Erick Godfrey." Jovanka mondar-mandir, bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? dimana sekarang Bastian Reuel.
"Kenapa kak Tian menyuruh aku ke pulau ini? kalau orang itu Penguasa pulau ini?" pertanyaan yang tidak tahu siapa yang bisa menjawabnya, berseliweran di dalam otak Jovanka.
"Apa mungkin, pesan itu bukan dari kak Tian?" Jovanka menatap kearah Arisa, menunggu. Apa yang akan dikatakan oleh Arisa.
"Jo, kita harus pergi dari pulau ini." bukan pertanyaan yang ditanyakan Jovanka yang keluar dari mulut Arisa, tapi perkataan yang mengajak Jovanka untuk meninggalkan pulau yang diucapkan oleh Arisa.
"Malam begini? kapal penyeberangan juga tidak jalan Ris, Tuan Fred juga melarang kita untuk keluar malam" kata Jovanka.
"Besok, pagi-pagi sekali. Kita pergi" kata Jovanka.
"Apa kita tidak beritahu kepada Tuan Fred, kepulangan kita besok" kata Arisa.
"Kita tulis surat saja, dan kita tinggalkan biaya penginapan ini" kata Jovanka.
"Apa itu bagus? Tuan Fred sudah mau membantu kita mencari kak Tian"
"Kalau kita pamitan pada Tuan Fred, kita akan kesiangan" kata Jovanka.
"Ayo kita bersiap-siap, biar besok pagi. Kita tinggal berangkat" kata Arisa.
Keduanya sibuk memasukkan barang-barang mereka kedalam tas ransel yang mereka bawa, dan mereka tidak menyadari ada sepasang mata dan telinga yang terus memperhatikan dan mendengarkan. Apa yang dilakukan oleh Jovanka dan Arisa.
Hemh..mata dan telinga siapa itu??π€π€
Next....
**Jangan lupa untuk meletakkan Like like like π
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya terhadap cerita iniπ₯°π₯°π₯°**