The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Kecelakaan


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


☘️☘️☘️


Bastian terlempar jauh dengan sepedanya.


"Bastian...!" pekik Sandra, saat melihat didepan mata. Bastian melayang dihadapannya.


Orang-orang yang melihat kejadian tersebut, sontak menghampiri Bastian. Dan ada yang mengejar mobil yang menabrak Bastian.


Sandra turun dari sepedanya dan langsung berlari menuju Bastian terbaring. Sandra menyeruak orang-orang yang mengelilingi Bastian.


"Panggil ambulance..!" seru Sandra sembari berlutut didepan Bastian.


"Tian... Tian...!" panggil Sandra sambil menangis, dia tidak tahan melihat sekujur tubuh Bastian berlumuran darah.


"Miss, jangan dibuka..!" cegah seorang pria, saat Sandra ingin membuka helm diatas kepala Bastian.


"Mungkin ada cedera di kepalanya miss, jika tidak hati-hati. Bisa membuat cederanya makin serius" ucap pria yang berdiri dibelakang Sandra.


"Semoga kepalanya tidak apa-apa, bagus juga dia naik sepeda memakai helm," ucap orang yang melihat keadaan Bastian.


"Mobil yang menabraknya berhasil kabur, tapi aku sudah mencatat plat kendaraannya" ucap pria yang mengejar mobil yang menabrak Bastian.


"Tian..! Sandra menggoyangkan lengan Bastian.


Mobil ambulance tiba, Sandra ikut naik kedalam ambulance dengan bercucuran air mata.


"Kak Tian...!" Jovanka yang sedang istirahat siang tiba-tiba tersentak, dan terbangun.


"Hanya mimpi.." gumam Jovanka.


Jovanka bangkit dan duduk dipinggir ranjang, tangannya meraih gelas diatas nakas dan meneguk habis isinya.


"Kenapa aku memimpikan kak Tian? ada apa ini ? perasaanku tidak tenang, apa Erick masih menahannya. Tapi Erick mengatakan akan membebaskan kak Tian"


"Aku harus menanyakan pada Erick." Jovanka memakai sendalnya dan berdiri, kemudian beranjak keluar dari dalam kamar.


Keluar dari dalam kamar, Jovanka melihat Miss Lin sedang memarahi seorang maid. Jovanka mendekatinya.


"Miss Lin, apakah Erick sudah kembali?" tanya Jovanka.


"Tuan muda berada didalam ruang kerjanya Mrs Godfrey, apa perlu saya memanggil Tuan muda Mrs Godfrey?" tanya Miss Lin.


"Tidak usah, biar aku sendiri kesana" ucap Jovanka.


Jovanka berjalan menuju ruang kerja Erick.

__ADS_1


"Erick sedang berbicara dengan siapa? aku tunggu dulu, dia sedang sibuk ?" gumam Jovanka, karena mendengar Erick sedang berbicara melalui sambungan telepon.


"Kau selidiki, mungkin ini bukan kecelakaan," ucap Erick kepada orang yang berbicara dengannya melalui sambungan telepon.


Erick memutuskan sambungan teleponnya.


"Marcio, kau pergi ke Valle." titah Erick pada Marcio.


"Baik Tuan" jawab Marcio.


"Jangan ada yang tahu, bahwa Bastian Reuel mengalami kecelakaan" ucap Erick.


Brakk...


Pintu ruang kerja Erick terbuka keras, hingga terbentur dinding. Terlihat Jovanka berdiri didepan pintu ruang kerja Erick dengan wajah yang pucat.


"Jo..!" Erick kaget melihat Jovanka berdiri depan pintu ruang kerjanya dengan wajah yang pucat.


Erick bergegas berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekati Jovanka.


"Stop...!" seru Jovanka, agar Erick tidak mendekatinya.


"Apa yang kau lakukan pada kak Tian..?" tanya Jovanka.


"Jo, duduk dulu," ucap Erick, saat melihat wajah Jovanka yang pucat.


Jemari Jovanka memegang kusen pintu, karena merasa. Tubuhnya tiba-tiba tidak bertenaga untuk berdiri tegak.


"Aku tidak melakukan apapun pada Bastian.." jawab Erick.


"Kalau kau tidak melakukan apapun pada kak Tian, kenapa dia kecelakaan? aku sudah berkorban dengan menikah dengan mu, tapi kau tidak melepaskan kak Tian juga. Kau menipuku..! aku membencimu Erick..!!" seru Jovanka dengan berteriak.


Jovanka terhuyung, setelah melampiaskan kemarahannya. kedua tangannya mencengkram kusen pintu, agar dia tidak Jatuh.


Dengan cepat Erick mengangkat Jovanka, saat melihat Jovanka hampir Jatuh.


"Lepaskan aku..! aku membencimu...!" pekik Jovanka seraya meronta dari gendongan Erick.


Erick tidak menanggapi kemarahan Jovanka, dia membawa Jovanka menuju kamar. Terlihat dari garis rahang Erick yang mengetat, Erick dalam keadaan emosi.


Sampai didalam kamar, Erick merebahkan tubuh Jovanka.


"Pergi kau..! kau pembunuh..!" Jovanka mendorong tubuh Erick dari dekatnya.


Erick menekan kedua bahu Jovanka, agar Jovanka tidak bangun. Erick menatap wajah Jovanka dengan tajam.


"Dengar..! aku tidak mencelakai Bastian, aku tidak serendah itu. Hingga mau mencelakai saudaramu..!" ucap Erick dengan suara yang dingin.

__ADS_1


"Kau rendah...! kau manusia rendah..! kau menjebak ku dengan nyawa kakakku, tapi. Kau tetap menahannya, walaupun aku sudah bersedia menikah dengan mu...!" ucap Jovanka dengan berteriak.


"Sudah aku katakan, aku tidak menyentuh Bastian..!" ucap Erick sembari memegang dagu Jovanka, agar melihat Erick.


"Bersiaplah, kita akan menemui saudaramu..!" ucap Erick dengan datar, kemudian keluar dari dalam kamar.


Jovanka bergegas mengambil bajunya, dan masuk kedalam kamar mandi. Dengan masih tersedu-sedu, Jovanka mandi seadanya. Dia ingin secepatnya bertemu dengan Bastian.


Dalam perjalanan menuju kota Valle, Erick menerbangkan sendiri helikopternya. Jovanka duduk dibelakang bersama dengan Arisa.


"Jo, tenanglah. Jangan menangis lagi, kasihan baby. Dia akan terpengaruh dengan keadaanmu yang sedih begini, kak Tian tidak apa-apa." bujuk Arisa.


"Hanya kak Tian yang aku punya, jika kak Tian tiada. Aku tinggal sendiri," ucap Jovanka dengan sedih.


"Kau tidak sendiri Jo, ada aku. Ada suamimu, dan baby yang ada didalam perutmu ini," ucap Arisa.


"Aku membencinya, dia berkata. Jika aku menikah dengannya, kak Tian akan bebas. Ternyata, kak Tian masih berada dalam genggaman tangannya.." ucap Jovanka dengan suara yang keras, sehingga Erick yang berada didepan mendengarnya.


"Jo, jangan berkata begitu. Mungkin saja kau salah paham," ucap Arisa.


"Kau membelanya ? ternyata pekerjaan yang diberikannya padamu, telah membuat kau berpaling dari sahabatku menjadi kaki tangannya.." sindir Jovanka pada Arisa.


"Jo, aku tidak memihak. Tapi kau harus berpikir dengan jernih, kau harus mendengarkan apa yang dikatakan suamimu. Mungkin saja kau salah paham," kata Arisa.


"Cukup..! aku tidak mau mendengar pembelaanmu lagi terhadap orang itu." Jovanka mengalihkan pandangannya kesisinya, matanya menatap keluar jendela helikopter.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di rumah sakit, Sandra bersama dengan Danny Liu yang dititahkan Erick untuk mengurus Bastian menunggu didepan ruangan operasi.


"Anda apanya Bastian Reuel?" tanya Danny Liu memecah keheningan diantara keduanya.


"Saya rekan kerjanya," jawab Sandra.


"Apa Bastian Reuel ada musuh?" selidik Danny Liu.


"Tidak ada, Bastian orang yang sangat disukai di tempat kerja. Walaupun aku belum cukup lama mengenalnya, Bastian orang yang sangat friendly pada setiap rekan kerja," ucap Sandra.


Pintu ruang operasi terbuka, membuat percakapan antara Danny dan Sandra terhenti.


"Bagaimana dokter?" tanya Sandra.


"Bagian kepala tidak ada yang serius, hanya ada cedera pada tulang punggungnya. Tapi tidak cukup patal, hanya tergeser" ucap dokter.


"Kakinya patah" sambung dokter.


"Kondisinya saat ini bagaimana dokter?" tanya Danny.

__ADS_1


"Saat ini belum sadar, tapi bukan koma. Karena pengaruh obat bius saat dilakukan tindakan operasi, besok sudah bisa pindah keruangan. Jika tidak ada keluhan yang harus dipantau khusus" ucap dokter.


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2